Halo!

Kaki Tiga Menjangan Chapter 111

Memuat...

Nona itu tampak menyesal Siau Po merasa lukanya perih, tapi dia toh merasa senang .

"lstri tuaku telah menimpuk aku dengan cawan arak, karena itu, kalau istriku yang muda tidak diijinkan menyambit juga, namanya tidak adil." Diapun berjalan mendekati Kiam Peng kemudian melanjutkan kembali .

"Nah, istri mudaku, kau juga boleh menyambit aku sekarang!" "Baik!" seru Kiam Peng .

ia segera menyiram arak di cawannya yang masih sisa setengah ke arah Siau Po! Si bocah berusaha mengelak, tapi wajahnya basah juga tersembur air arak yang disiramkan itu, Namun dasar bocah nakal, dia malah mengulurkan lidahnya mencicipi arak yang manis itu .

"Sedap .

Sedap!" katanya berulang kali, "lstri tua menghajar aku sehingga dahiku mengucurkan darah .

sekarang istri mudaku malah menyiram arak ke wajahku, Darah dan arak bercampur menjadi satu, aih! Lama-lama aku bisa mati juga!" Mendengar kata-katanya lucu, Kiam Peng dan Pui Ie jadi tertawa juga .

"Dasar manusia tidak punya guna!" maki Pui Ie sembari mengeluarkan sapu tangan yang kemudian diangsurkan kepada Kiam Peng .

"Kau bersihkan darahnya!" Kiam Peng tertawa .

"Kau yang menghajarnya sehingga terluka, mengapa aku yang harus membersihkan darahnya?" tanyanya .

Pui Ie membekap mulut Kiam Peng .

"Kau toh istri mudanya?" katanya menggoda .

Sekali lagi Kiam Peng tertawa .

"Cis! Barusan kaulah yang menerima baik syarat yang diajukannya, Bukan aku!" "Siapa bilang kau tidak menerima?" kata Pui Ie tidak mau kalah, "Bukankah dia menantang istri mudanya menyambit juga" Dan kau telah menyiram wajahnya dengan arak! Hal ini kan berarti kau bersedia menjadi istri mudanya?" Sekarang giliran Siau Po yang tertawa .

"Tepat! Tepat!" katanya lantang, "istri tuaku sungguh cinta dan sayang sekali kepadaku, Baiklah Kalian berdua boleh menenteramkan hati .

Tidak mungkin aku main gila dengan perempuan lain!" Diam-diam Pui Ie berpikir dalam hatinya .

"Dia seorang thay-kam, tidak mungkin bisa menjadi suami yang sebenarnya, Tentunya dia hanya bergurau, Lidahnya memang tajam!" Pui Ie sudah mempunyai kesan baik terhada Siau Po .

Mengenai ucapannya tentang istri tua dan istri muda, tentunya dia hanya iseng, Bukankah thay-kam cilik itu jenaka sekali" Demikianlah mereka bertiga terus bersenda gurau, sampai akhirnya Pui Ie berkata: "Kemari kau!" dia memeriksa luka di dahi Si Po .

Dia khawatir masih ada sisa beling yang menancap di dalam dagingnya, sementara itu dia juga membersihkan darahnya dan ditaburi obat agar darahnya tidak mengalir terus .

Ketiga-tiganya tidak suka minum arak, Karena itu sampai selesai makan, arak yang disajikan masih utuh, Tidak ada seorang pun yang menyentuhnya .

Habis bersantap, Siau Po menguap .

"Bagaimana malam ini" Apakah aku tidur dengan istri tuaku atau istri mudaku?" tanyanya .

Pui Ie memperlihatkan mimik serius, "Kalau bergurau, kau harus tahu batasnya" katanya garang, "Apabila kau naik lagi ke atas tempat tidur, awas! Aku akan membunuhmu dengan bacokan golok ini!" Siau Po tertawa, Dia meleletkan lidahnya .

"Hebat!" serunya, "Pada suatu hari nanti, mungkin nyawaku bisa melayang di tanganmu!" Kedua gadis itu jadi tertawa lagi mendengar perkataannya, Siau Po segera menelan sebutir pil yang dihadiahkan ibu suri, Setelah itu dia membuka pintu kamarnya untuk mengeluarkan meja hidangan Selesai bekerja dia menggelar tikar di atas lantai lalu tanpa mengganti pakaiannya lagi, dia berbaring di sana .

Rupanya dia sudah letih sekali, Dalam sekejap mata dia sudah tertidur dengan pulas .

Ketika keesokan paginya dia terbangun dari tidur, Dia merasa tubuhnya hangat Di saat dia membuka matanya, ternyata tubuhnya telah ditutupi sehelai selimut .

Kepalanya juga beralas bantal Kemudian dia bangkit duduk dan mengawasi tempat tidurnya .

Di balik kelambu yang tipis, tampak secara samar-samar Pui Ie dan Kiam Peng tidur berdampingan Siau Po berdiri, dengan mengendap-endap dia menghampiri tempat tidur itu .

Dengan perlahan dan hati-hati dia menyingkapkan kelambunya kemudian melongok ke dalamnya .

Tampak olehnya Pui Ie dan Kiam Peng sama-sama ayu dan anggun Kedua gadis cantik itu tidur dengan hampir berdempetan Sungguh mempesona pemandangan yang ada di hadapannya, Tanpa sadar dia mendekati wajahnya untuk mencium kedua nona itu, tapi tiba-tiba saja timbul perasaan khawatir mereka akan terjaga karenanya .

"Oh!" serunya dalam hati, "Seandainya kedua gadis cantik ini bisa menjadi istriku, tentu hidupku akan menyenangkan sekali, Di rumah pelesiran seperti Li Cun-wan, mana ada gadis-gadis yang secantik dan seayu mereka?" Perlahan-lahan Siau Po berjalan mendekat pintu, tapi baru saja dia membukanya, suara gerakan pintu itu ternyata membangunkan Pui Ie Gadis itu langsung membuka matanya dan memperhatikan Siau Po .

Bibirnya menyunggingkan senyuman .

"Kui.. .

Kui.. .

Oh, kau sudah bangun?" sapany dengan suara halus .

"Kui.. .

Kui apa?" sahut Siau Po sembari tertawa "Apa kau keberatan memanggilku suami yang baik?" "lngat!" sahut Pui Ie, "Kau toh belum menolong orang yang kau janjikan itu!" "Jangan khawatir!" kata Siau Po .

"Sekarang juga aku akan membebaskan mereka !" Tepat pada saat itu terdengar suara bersin Kiam Peng .

"Hei, pagi-pagi begini apa yang kalian bicarakan?" tanyanya .

"Kami berdua tidak tidur sepanjang malam" sahut Siau Po .

Banyak sekali yang kami bicarakan." Kemudian dia menguap dan menambahkan "Oh, aku mengantuk sekali,. .

aku ingin tidur...!" Wajah Pui Ie jadi merah padam .

"Orang memang tidak bisa bicara baik-baik denganmu," katanya, "kenapa kau mengatakan kita tidak tidur sepanjang malam?" Siau Po tidak memberikan komentar, dia hanya tertawa .

"Nah, istriku yang baik," katanya kemudian "Sekarang mari kita bicara serius, Kau tulislah sepucuk surat, nanti aku bawa kepada Lau sukomu itu agar dia percaya kepadaku dan bersedia mengikut aku keluar dari istana ini .

Tanpa surat darimu, aku khawatir dia akan curiga dan takut dirinya ditipu, Kemungkinan dia berkeras mengatakan bahwa dirinya adalah orangnya Go Sam-kui!" "Kau benar," kata Pui Ie .

"Tapi, apa yang harus kutulis?" "Kau boleh tulis apa saja!" sahut Siau Po .

"Umpamanya kau bisa mengatakan bahwa aku adalah suamimu, suami yang paling baik di kolong langit ini! Ada baiknya kau juga menyebut kebaikanku karena menikahi dirimu, aku bersedia menolongnya membebaskan diri dari tempat tahanan!" Sembari berbicara, Siau Po mengambil alat tulis milik Hay kongkong .

semuanya dipindahkan ke depan tempat tidur, kemudian dia juga menggosok bak tinta nya agar menjadi kental .

Tidak kepalang tanggung, dia juga mengambil sehelai kertas lalu dibeberkannya di atas meja, dan pitnya disediakan Pui le bergerak bangun untuk duduk, Ketika menerima pit dari tangan Siau Po, tibatiba dia menangis terisak-isak .

Air matanya mengucur dengan deras .

"Apa yang harus kutulis?" tanyanya denga tersengguk-sengguk, "Apa pun boleh," kata Siau Po .

Dia merasa kasihan juga melihat kesedihan gadis itu .

"Aku toh buta huruf, apa pun yang kau tulis, aku tidak bisa membacanya .

Karena itu kau tidak perlu khawatir Tapi sebaiknya jangan kau katakan bahwa kau telah menikah denganku, nanti Lau sukomu menjad gusar dan tidak sudi ditolong olehku!" "Kau buta huruf?" tanya Pui le menegaskan "Kau tidak membohongi aku?" "Kalau aku mengerti membaca, biarlah aku menjadi si anak kura-kura!" sahut Siau Po .

"Aku bukan suamimu, akulah anakmu, akulah cucumu!" Pui le dapat melihat kesungguhan Siau Po dan dia mempercayainya .

Sembari mengangkat pit, dia terus berpikir Tapi sampai sekian lama dia masih tidak tahu apa yang harus ditulisnya .

"Sudah, sudah!" seru Siau Po yang mulai kehabisan sabar, "Baik, nanti kalau aku sudah berhasil membebaskan Lau It-cou, kau boleh menikah dengannya, Aku tidak akan merebutmu! Lagipula, kau tidak bersungguh hati ingin menikah denganku dengan demikian kelak di kemudian hari aku juga tidak perlu merasakan dikhianati .

Lebih baik sejak sekarang aku mengalah, Biar kau senang dapat menikah dengan Lau It-cou! Apa pun yang ingin kau tulis, tulislah! jangan khawatir, aku tidak takut!" Pui le memperhatikan Siau Po lekat-lekat .

Air matanya masih mengambang, kemudian dia menundukkan kepalanya, Kali ini tampaknya dia bersyukur dan senang, dia juga langsung menggerakkan pit nya .

Beberapa kali dia menambahkan air di bak tintanya, akhirnya selesai juga pekerjaannya .

"Nah, ini!" katanya, Dia menyodorkan surat itu kepada Siau Po .

"Tolong kau sampaikan kepadanya !" "Hm! Kau...!" maki Siau Po dalam hati .

"Mengapa kau tidak memanggil aku toako, tapi membahasakan kau saja?" Hatinya memang mendongkol juga, tapi dia ingin bersikap sebagai seorang laki-laki sejati, Karenanya dia menahan kekesalan hatinya dan tidak mengatakan apa-apa lagi .

Dia mengulurkan tangannya untuk menyambut surat yang disodorkan si nona kemudian ia masukkan ke dalam sakunya, namun dalam hatinya dia masih berkata juga .

"lstri yang cantik dan baik malah diserahkan kepada orang lain..." Setelah menutup pintu kamarnya, Siau Po berjalan menuju tempat para siwi, Kali ini yang mendapat bagian meronda adalah Tio Kong-lian .

Dia sudah mendapat kisikan dari To Lung, atasannya untuk membantu Kui kongkong membebaskan ke tiga orang tahanan, namun dia juga mendapat pes untuk berhati-hati agar ketiga tawanan itu tidak menjadi curiga atau mempunyai dugaan bahwa mereka dilepaskan dengan sengaja .

Begitu melihat Siau Po, Kong Lian segera menghampiri untuk menyambutnya .

Sembari tertawa dia mengedipkan matanya, setelah itu dia mengajak thay-kam cilik itu ke samping gunung buatan .

Post a Comment