Halo!

Kaki Tiga Menjangan Chapter 110

Memuat...

keselamatan Lau suko, a.. .

ku akan melakukan apa saja, seandainya kau.. .

berhasil membebas.,.kannya, apabila kau ingin aku melayanimu, se.,, umur hidup, sebetul.,.nya bukan tidak bi.. .

sa, tapi...." Tiba-tiba Pui Ie menghentikan kata, karena di saat itu juga terdengar suara dari luar kamar .

"Kui kongkong, barang hidangan sudah siap!" "Bagus!" sahut Siau Po yang langsung membuka pintu kamarnya dan merapatkannya kembali Dia membiarkan empat orang thay-kam mengantarkan barang hidangan ke dalam ruang tamu, semuanya diatur dengan rapi di atas meja .

"Sekarang pergilah kalian, kalian tidak perlu melayani aku," kata Siau Po kemudian .

"Baiklah, kongkong!" sahut salah satu thay-kam, "Apakah masih ada yang kurang?" "Sudah cukup!" kata Siau Po .

Dia melihat barang hidangan itu cukup untuk delapan orang "lngat! Kalau aku tidak panggil, jangan ada yang datang kemari!" Dia memberi persen kepada mereka itu masing masing lima tail perak, Tentu saja para thay-kam itu kegirangan menerimanya .

Begitu para thay-kam itu berlalu, Siau Po mengunci pintu kembali Setelah itu dia menggeser meja yang penuh hidangan itu ke dalam kamar .

Dia mengisi tiga mangkok nasi dan juga menuangkan tiga cawan arak .

"Nona Pui," panggilnya seraya tertawa, Hidangan semua sudah tersedia dan tinggal menyantapnya saja, Tadi nona mengatakan tapi, apa maksudnya?" Saat itu Pui Ie sedang dibantu bangun oleh Kiam Peng, Mendengar pertanyaan Siau Po, wajahnya jadi merah jengah sehingga cepat-cepat dia menundukkan kepalanya, Untuk sekian lama dia berdiam diri .

"Sebetulnya, aku ingin mengatakan," akhirnya dia menyahut juga, "Kau bekerja sebagai thay-kam di istana, mana.. .

mungkin kau bi.,.sa mempunyai istri" Tapi, tak perduli bagaimana caranya, asal kau bisa menolong Lau suko meloloskan diri dari tempat tahanan, untuk seumur hidup, aku akan melayanimu...." Sinar lilin menerangi wajah si nona, kecantikannya semakin kentara ketika tersipusipu .

Siau Po masih anak bau kencur, tapi dia juga merasa tertarik dengan kecantikan gadis itu .

"Oh, rupanya karena kau mengetahui aku seorang thay-kam?" kata si bocah sembari tertawa, "Karena aku orang kebiri, jadi aku tidak bisa mempunyai istri! Ah.. .

itu urusanku sendiri, tidak perlu kau khawatirkan .

Sekarang aku tanya dulu, bersediakah kau menjadi istriku?" Sepasang alis Pui Ie mengernyit, wajahnya merah kembali, Namun sekarang emosinya meluap Dia merasa gusar, tapi beberapa saat kemudian pikirannya jernih kembali .

"Jangan kata hanya menjadi istrimu, meskipun kau jual aku ke rumah pelesiran menjadi perempuan penghibur atau pun perempuan jalang, aku rela!" Ucapan itu hebat sekali, Apabila orang lain yang mendengarnya, pasti akan marah karena tersinggung, Tidak demikian halnya dengan Siau Po .

Sejak kecil dia dibesarkan dalam rumah pelesiran Baginya kata-kata itu biasa-biasa saja .

"Baiklah!" sahutnya .

"Dengan demikian kita sudah mengadakan perjanjian Nah, istri dan adikku yang manis, mari kita keringkan cawan kita!" Sejak melihat gerak-geriknya Siau Po dua hari ini, Pui Ie tidak menganggapnya sebagai thay-kam lagi, Dalam pandangannya, Siau Po sangat cekatan dan cerdik, Dengan mudah dia berhasil membunuh Sui Tong dan membuat tubuhnya lumer tinggal cairan .

Dia juga mendapat kenyataan bahwa para thay-kam lainnya di istana ini sangat menghormati bocah, dia masih sangat muda, dan mulai timbul kesan baik dalam hatinya .

Diam-diam Pui Ie juga mengaguminya .

Di lain pihak, Pui Ie juga ingat akan Lau It-cou kakak seperguruan yang dikenalnya sejak kecil .

Mereka berlatih silat bersama-sama, Hubungan mereka sudah erat sekali, Meskipun keduanya tidak pernah mengatakan apa-apa, namun jauh di dasar lubuk hati, mereka telah sepakat untuk menikah kelak .

Malam itu mereka bekerja sama menyerbu istana kerajaan Ceng ini, Bahkan dia menyaksikan Lau It-cou tertawan Dia ingin memberikan bantuan tetapi kondisinya tidak memungkinkan, sebab dia sendiri sudah terluka .

Dia menduga, karena tertawan oleh pihak musuh, nyawa Lau It-cou tidak mungkin dipertahankan lagi .

Di luar dugaannya, si thay-kam cilik ini mengatakan kekasih hatinya belum mati, Bahkan Siau Po juga berjanji untuk menolongnya meloloskan diri .

Karena itu pula, benaknya segera berputar .

"Biarlah Lau suko bebas dan selamat," demikian pikirnya dalam hati, Tidak apa-apa kalau hidupku selanjutnya akan menderita, malah aku bersyukur kepada Thian yang maha kuasa, Apakah thay-kam cilik ini mempunyai maksud tertentu" Ah! Mungkin dia hanya mengoceh sembarangan Mustahil seorang thay-kam bisa beristri! Ya, dia tentu bicara seenaknya untuk menggoda aku! Biarlah, aku menerima baik saja permintaannya...!" Demikianlah dia mengambil keputusannya .

Karena itu dia langsung mengembangkan seulas senyuman Dia mengangkat cawan araknya dan dibawa ke bibirnya .

"Sekarang aku minum arak bersamamu, tapi kau harus ingat baik-baik .

Kalau kau tidak mamp menolongi Lau suko, maka kau tidak akan lolos dari goIokku!" Siau Po tersenyum, senang hatinya meliha wajah si nona berseri-seri, wajahnya tampak semakin manis kalau tersenyum .

Dia mengangka cawannya dan berkata: "Janji kita merupakan kepastian yang tidak dapat diingkari lagi .

Karena itu aku juga ingi bertanya, seandainya aku sudah berhasil menolong Lau sukomu, lalu kau merasa menyesal, bagaimana" Mungkin saja kau mengingkari kata-katamu sendiri dan tetap ingin menikah dengannya, Kalau kalia bekerja sama mengepung aku seorang diri, lalu di menbacok aku satu kali dan kau pun menebas aku satu kali, bukankah tubuh aku, si Kui kongkong akan terbelah menjadi dua bagian" Nah, inilah yan harus aku jaga!" Pui Ie memperlihatkan tampang serius .

"Raja langit di atas, Ratu bumi di bawah, seandainya Kui kongkong benar-benar berhasil menolong Lau suko meloloskan diri dengan selamat maka Siauli (sebutan untuk diri sendiri bagi anak perempuan) Pui Ie bersedia menikah dengan Kui kongkong dan menjadi istrinya serta melayaninya seumur hidup, Siauli akan setia dan tidak nanti berhati dua .

Apabila Siauli mengingkarinya, biarlah siauli tersiksa di alam baka nanti dan tidak akan menjelma lagi untuk selama-lamanya!" Selesai berkata dia menunjuk kepada Siau kuncu, "Nah, Siau kuncu menjadi saksinya!" Bukan main senangnya hati Siau Po mendengar nona itu bersumpah berat, Dia segera menoleh kepada Kiam Peng dan bertanya .

"Adikku yang baik, apakah kau mempunyai kekasih hati yang harus kutolong?" "Tidak!" sahut nona Bhok .

"Sayang! Sayang!" kata Siau Po .

"Kalau kau juga mempunyai kekasih hati, aku akan menolongnya sekalian .

Dengan demikian, kau juga akan bersumpah menikah denganku, bukan?" "Fui!" Kiam Peng pura-pura meludah .

"Sudah mendapatkan seorang istri, masih belum merasa puas! Rupanya dikasih hati, kau malah minta ampela!" Siau Po tertawa .

"Jangan heran!" katanya, "Bukankah ada pepatah yang mengatakan "si katak buduk berkhayal ingin makan daging angsa khayangan! Eh, iya, istriku.. .

bersama-sama dengan Lau sukomu itu, ada tertawan dua orang lainnya, Yang satunya berewokan, siapakah dia?" "ltu Gouw susiok!" sahut Kiam Peng, Susiok artinya paman guru, "Siapakah yang lainnya?" tanya Siau Po kembali "Di dadanya ada tato harimau yang buas." "Dia berjuluk Chi Mo houw (Si harimau hijau) Go piu," sahut Bhok Kiam-peng kembali "Di murid Gouw susiok!" "Siapa nama lengkap Gouw susiok itu?" tany Siau Po .

"Nama lengkap Gouw susiok ialah Gouw Lip sin," sahut Kiam Peng, "Julukannya Yau Tau Say (Singa menggoyangkan kepala)." Siau Po tertawa .

"Julukannya bagus sekali," kata Siau Po .

"Apa pun yang dikatakan orang, dia pasti selalu menggelengkan kepalanya." "Kui toako," kata Bhok Kiam-peng sambil tersenyum, Dia merasa thay-kam cilik ini jenaka sekali "Kau toh ingin menolong Lau suko, sekalian saja kau tolong Gouw susiok dan Go Piu meloloskan diri dari tempat tahanan!" "Gouw susiok dan Go Piu itu apakah mempunyai puteri atau kenalan gadis-gadis cantik?" tanya Siau Po .

"Aku tidak tahu," sahut Kiam Peng .

"Untuk apa kau menanyakan hal itu?"

"Aku ingin menanyakan dulu tentang kenal gadis mereka yang manis-manis itu .

ingin kutegaskan, apabila aku menolong Gouw susiok dan Piu, apakah mereka juga bersedia menjadi istriku .

Coba bayangkan saja, aku akan menghadapi bahaya besar untuk menolong orang, masa aku harus kerja bakti tanpa pamrih apa-apa?" Selesai Siau Po berbicara, sebuah benda dengan bayangan kehitaman melayang ke arah kepalanya, Siau Po sempat melihat dan berusaha menghindarkan diri, tapi dia kalah cepat .

Begitu dia menundukkan kepalanya, benda itu dengan telak menghajar dahinya .

"Aduh!" jerit Siau Po .

Disusut dengan sebuah cawan yang jatuh di atas tanah dan hancur dengan menerbitkan suara nyaring, sedangkan dahinya mengucurkan darah yang terus mengalir sampai matanya dan membuat pandangannya menjadi samar .

"Pergi kau, bunuh saja Lau It-cou!" Terdengar suara teriakan Pui Ie .

"Nonamu juga tidak mau memikirkannya lagi, Tidak nanti aku sudi dihina sedemikian rupa selamanya olehmu!" Ternyata Pui Ie yang menyambit cawan arak ke kepala Siau Po .

Dia kehilangan sabarnya mendengar ocehan si bocah, hatinya panas sekali, Untung saja luka Pui Ie belum sembuh sehingga tenaganya jauh berkurang dibandingkan biasanya, Kalau tidak, serangannya itu pasti luar biasa dan Siau Po bisa celaka karenanya .

Mula-mula Kiam Peng juga ikut terkejut, namun akhirnya perasaannya lebih tenang setelah tahu apa yang terjadi .

"Kui toako!" katanya, "Ke sini! Aku periksa lukamu, jangan sampai ada pecahan beling yang menancap di dalam dagingmu!" "Aku tidak mau mendekatimu!" teriak Siau Po .

"lstriku saja sudah berusaha membunuh suaminya sendiri!" "Siapa suruh kau mengoceh yang bukan-bukan?" kata Kiam Peng .

"Kenapa kau ingin mengganggu anak istri orang" Aku sendiri merasa panas mendengar kata-katamu tadi!" Siau Po tertawa .

"Oh, aku mengerti sekarang!" katanya, "Rupanya kalian cemburu dan iri .

Iya, baru mendengar aku akan mencari perempuan lain saja, istriku yang tua dan istri yang muda sudah lantas cemburu!" Kiam Peng menyambar lagi sebuah cawan arak .

"Kau panggil aku apa?" bentaknya dengan nada keras, "Awas kalau kuhajar sekali lagi kau denga cangkir ini!" Siau Po mengusap darah yang mengalir di matanya .

Dia dapat melihat wajah si nona yang sedang marah .

wajahnya semakin manis dan cantik, Karena itu dia malah tersenyum, Setelah itu, dia melirik ke arah Pui Ie .

Post a Comment