Halo!

Kaki Tiga Menjangan Chapter 109

Memuat...

Ada seorang lagi yang bernama Pek Han-hong, yakni saudara Pek Han-siong yang belum lama ini mati dihajar orang, Kalian tahu, Pek Han-hong ini miskin sekali, sehingga untuk memakamkan saudaranya dia terpaksa menjadi comblang demi mendapatkan sedikit uang!" Mendengar ucapannya, si anak muda itu semakin gusar .

"Kau.. .

kau!" saking kesalnya dia tidak sanggup mengatakan apa-apa .

"Saudara, bersabarlah," kata si bewok menenangkan rekannya, Kemudian dia menoleh kepada Siau Po .

"Sahabat, tampaknya kau banyak tahu tentang keluarga Bhok?" "Aku toh termasuk menantu dari keluarga Bhok," sahut Siau Po .

"Sebagai seorang menantu, mana mungkin aku tidak tahu segala sesuatu yang menyangkut keluarga mertuaku" Nona Pui Ie itu tadinya tidak sudi menikah denganku, Katanya dia sudah berjanji akan menikah dengan kakak seperguruannya, Lau It cou .

sekarang pikirannya berubah karena dia mendengar kekasihnya itu manusia yang tidak berguna sebab dia datang ke Go Sam-kui si pengkhianat bangsa itu dan sudi menjadi bawahannya, bahkan mau saja disuruh menyerbu istana untuk membunuh kaisar Kong Hi .

Nah, coba kau pikir, setiap bangsa Han toh benci sekali kepada Go Sam-kui yang telah menjual negaranya sendiri..." Bicara sampai di situ, Siau Po merendahkan suaranya, Kemudian dia melanjutkan kembali: "Go Sam-kui sudah berpihak pada orang Tatcu, bangsa yang menjadi musuh negara kita, Dia takluk dan bersedia bekerja bagi musuh kita itu .

Go Sam-kui berpihak pada Tatcu dengan mempersembahkan negara kita yang indah dan permai, Siapa saja orang Han, membenci Go Sam-kui sehingga ingin sekali membeset kulitnya dan makan dagingnya, sedangkan It Cou, si bocah busuk itu, dia boleh menghamba pada siapa saja, tapi mengapa dia justru memilih Go Sam-kui sebagai tuannya" Tentu saja karena hal ini nona Pui marah sekali, di mana dia harus menaruh mukanya bila bertemu dengan orang-orang gagah se tanah air" itulah sebabnya dia mengambil keputusan untuk tidak menikah dengan kakak seperguruannya itu!" Mendengar sampai di sini, tiba-tiba anak muda itu berteriak .

"Aku.. .

aku.. .

aku.,.!" tapi lagi-lagi dia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya karena emosinya yang berlebihan "Sabar!" seru si bewok, Dia menatap Siau Po lekat-lekat lalu berkata: "Tuan, setiap orang mempunyai cita-cita tersendiri .

Kau telah menjadi thay-kam dalam istana Ceng, bukankah itu suatu pekerjaan yang merendahkan dirimu sendiri?" "Tepat! Tepat!" sahut Siau Po tanpa merasa malu sedikit pun .

"Memang pekerjaan ini membuat pamorku jatuh .

Tapi sekarang, mari kita bicarakan saja urusan ini .

istriku teringat akan bekas kekasihnya, dia meminta aku mencari tahu tentangnya, Dia ingin mendapat kepastian apakah kekasihnya itu sudah mati atau belum, Dia berkata begini, kalau benar Lau It-cou itu sudah mati, maka dia dapat menikah denganku tanpa merasakan susah, Nah, sahabat bertiga, benarkah di antara kalian tidak ada yang bernama Lau It-cou" Kalau benar, aku akan pergi sekarang, Nanti malam kami akan mengadakan upacara pernikahan dengan bersembahyang pada langit dan bumi!" Begitu selesai berkata, Siau Po segera membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan tempat itu, "Aku...lah!" kata si anak muda berkulit bersih dengan penuh semangat .

"Sabar!" lagi-lagi si bewok mencegah rekannya berbicara lebih jauh, "Jangan sampai kena terpedaya!" Si anak muda itu meronta-ronta .

"Dia.. .

dia.,.!" serunya tersendat-sendat, kemudian dia meludahi Siau Po .

Si bocah cilik sempat melihat hal itu, dia sege mengelakkan diri, Dia juga melihat para tawana nya itu diikat dengan tali yang terbuat dari urat kerbau, Meskipun meronta dengan sekuat tenaga tidak mungkin mereka sanggup meloloskan diri .

Diam-diam dia berpikir dalam hati .

"Sudah pasti dialah Lau It-cou .

Dia sudah mau mengaku, tapi sayangnya selalu dicegah oleh temannya, si bewok, Bagaimana baiknya sekarang?" Setelah berpikir sejenak, bocah yang cerdik ini segera menemukan akal yang bagus .

"Kalian di sini dulu untuk sementara, aku aka pulang dan meminta keterangan dari istriku!" Memang luar biasa watak bocah yang satu ini .

Dia menyebut Pui Ie sebagai istri .

Dia juga mengatakan akan mengadakan upacara pernikahan dengan bersembahyang pada langit dan bumi, Kali ini dia benar-benar meninggalkan tempat para tahanan itu, sesampainya di pelataran depan, dia berbisik kepada Ci Hian yang sedang menunggunya .

"Aku telah mendapat suatu keterangan .

Mulai sekarang, jangan kau siksa lagi mereka .

Sebentar aku akan kembali lagi!" Tio Ci-hian mengangguk dan Siau Po pun segera melangkah pergi .

Ketika Siau Po kembali ke kamarnya, hari su dah gelap, Dia ingat kedua nona yang terseka dalam kamarnya, Pasti mereka sudah lapar, Karena itu dia tidak langsung masuk ke dalam kamarnya tapi berjalan menuju Siang-sian tong untuk memesan barang hidangan, Dia mengatakan ingin menjamu para siwi yang malam sebelumnya telah berjasa meringkus para penyerbu, Dia juga berpesan bahwa perjamuannya nanti tidak perlu dilayani para thay-kam, karena sembari bersantap, dia ingin membicarakan urusan rahasia .

Ketika kembali ke kamarnya, Siau Po disambut oleh Kiam Peng, "Kenapa kau baru pulang?" "Kau tentunya kebingungan setengah mati menantikan aku, bukan?" sahut Siau Po sambil tertawa "Kau tahu, aku telah menyelidiki dan aku memperoleh kabar gembira!" Pui Ie yang berbaring di atas tempat tidur segera mengangkat kepalanya .

"Kabar apa?" tanyanya cepat .

Siau Po menyalakan lilin agar kamar menjadi terang dan dia dapat melihat wajah si nona yang bersemu dadu, matanya membengkak sebagai tanda bahwa dia baru saja menangis .

Pasti hatinya sedih sekali memikirkan kekasihnya, Lau It-cou .

Siau Po menarik nafas panjang .

"Kabar yang aku bawa itu pasti membuat hatimu gembira namun sayangnya merupakan malapetaka untukku!" sahutnya, "Karena istri yang baru aku dapatkan akan melayang lagi! Benar, budak Lau It-cou itu memang belum mati!" "Ah!" Pui Ie mengeluarkan seruan tertahan .

Untuk sesaat dia tidak dapat menahan keguncang" hatinya yang gembira sekali mendengar berita d Siau Po .

Kiam Peng juga senang sekali .

"Oh!" serunya, "Jadi, Lau suko selamat dia tidak kurang apa pun?" "Mati sih belum," sahut Siau Po .

"Tapi untuk hidup terus, sukarnya bukan main .

Dia sudah tertawan oleh para siwi dan sekarang sedang diperiksa .

Dia kukuh mengaku sebagai orangnya Go Sam-kui dan mengatakan bahwa ia mendapat perintah untuk membunuh kaisar Kong Hi .

Begitulah, dia masih hidup sekarang, tapi sedang menantikan hukum kematiannya! Kalau perbuatannya ini tersiar diluaran, pasti namanya akan busuk dan dicela oleh para orang gagah karena dikenal sebagai anjing pengkhianat Go Sam-kui .

Apalagi setelah dia menjalankan hukuman mati, Namanya akan semakin bau!" Pui Ie berusaha bergerak bangun Saat ini dia sudah dapat mengendalikan perasaannya .

"Sebelum datang menyerbu ke istana ini, kami sudah mempertimbangkan bahwa kami bisa ditahan dan dihukum mati, Kami tidak memperdulikan hal itu, asal dapat merobohkan Go Sam-kui, pengkhianat bangsa! Cita-cita kami hanya membalaskan sakit hati raja kami!" Siau Po mengacungkan jempolnya .

"Bagus! Penuh semangat!" katanya memuji, "Aku si Kui kongkong merasa kagum sekali! Sekarang, nona Pui, ada satu urusan penting yang harus kita rundingkan Mari aku tanya dulu, seandainya aku bisa membebaskan kakak seperguruanmu itu, apa yang akan kau lakukan" Bagaimana dengan engkau sendiri?" Mata Pui Ie menyorotkan sinar berkilauan wajahnya merah padam .

"Apakah kau benar-benar sanggup menolong kakak seperguruanku itu?" tanyanya menegaskan "Kalau benar, bi.,.arlah a.,.ku menjadi budakmu seumur hidup! Dengan kata lain, pekerjaan apa pun dan sesulit apa pun, asal kau perintahkan aku Pui Ie, akan melakukannya tanpa mengerutkan sepasang alisku!" "Bagaimana kalau kita membuat perjanjian?" tanya Siau Po .

"Bisa" Dalam hal ini, biar Siau kuncu menjadi saksinya! Kalau aku berhasil menolong Lau sukomu itu, akan kuserahkan dia kepada Siau ongya Bhok Kiam seng dan Tiat Pwe-cong Liong Liu loyacu...." "Eh, kau tahu tentang kokoku dan Liu suhu?" tukas Kiam Peng keheranan .

"Siau ongya dari Bhok onghu serta Tiat Pwe-cong Liong Liu Tay-hong merupakan orang-orang yang sudah terkenal sekali, Siapa yang tidak pernah mendengar nama mereka?" "Kau memang orang baik .

Setelah kau berhasil membebaskan Lau suko, kami semua pasti berterima kasih dan bersyukur atas jasa-jasamu itu! kata Kiam Peng .

Siau Po menggelengkan kepalanya, "Aku bukan orang baik," sahuthya .

"Sekarang aku sedang mengadakan transaksi jual-beli dengan kalian, Lau It-cau merupakan orang yang luar biasa .

Dia telah melanggar undang-undang negara sehingga dosanya berat sekali, Kalau aku hendak menolongnya, aku juga harus berani mengorbankan diri, Aku bisa menghadapi bencana besar .

Kalau perbuatanku itu sampai ketahuan, seluruh keluagaku, termasuk nenek, kakek, paman tua, pam muda, bibi tua, bibi muda, kakak adikku yang jumlahnya sepuluh orang bisa terancam hukuman penggal kepala, Setelah itu, rumahku, harta benda berupa emas, perak, tembaga, uang, barang-bara antik semuanya akan disita oleh negara, Nah, coba kau bayangkan beratnya tanggung jawab yang harus kupikul!" Setiap kali Siau Po berkata sampai pada bagi tertentu, Kiam Peng selalu menganggukkan kepalanya .

Ucapan Siau Po memang berlebihan, tapi bukan berarti tidak mengandung kebenaran Perbuatannya mengandung resiko yang besar Katakatanya memang harus dibenarkan, meskipun Siau Po sampai membawa nama kakek dan neneknya .

Pui Ie juga membenarkan kata-kata Siau Po .

"Memang benar! perbuatan ini memerlukan tanggungjawab yang tidak kepalang besarnya, Baiklah, aku tidak jadi meminta bantuanmu! Bagiku, kalau Lau suko diancam hukuman mati, aku juga tidak sudi hidup lebih lama lagi .

Terpaksa kita menyerah pada suratan nasib saja...." Selesai berkata, Pui Ie langsung menangis .

Air matanya mengucur deras .

"Jangan mudah bersedih, jangan asal mengalirkan air mata saja!" kata Siau Po .

"Kau begitu cantik dan manis, Begitu indahnya sehingga mirip batu kumala dan bunga bermekaran, Melihat air matamu mengalir, hatiku pun ikut hancur luluh .

Nona Pui, demi engkau, aku akan melakukan apa saja, Aku akan menolong kakak seperguruannya Dan aku pasti akan berhasil! Nona Pui, mari kita mengadakan perjanjian Kalau aku gagal menolong Lau sukomu itu, biarlah seumur hidupku aku menjadi budakmu, Sebaliknya, andaikata aku berhasil menolong Lau sukomu keluar dengan selamat dari istana ini, maka untuk seumur hidup, kau harus menjadi istriku, Seorang laki-laki sejati, asal katakatanya sudah tercetus keluar, entah empat kuda apa pun sukar mengejarnya! Nah, demikianlah janji kita!" Pui Ie memandangi Siau Po dengan pandangan tertegun wajahnya sebentar merah sebentar pucat, Kemudian dengan perlahan dia berkata .

"Kui toako, demi.. .

Post a Comment