"Siau Kui cu, seandainya kau bisa melakukan tugas itu dengan baik, Hadiah apakah yang kau inginkan dariku?" Nada suara raja menunjukkan hatinya sedang gembira .
"Kalau tugas itu dapat hamba selesaikan dengan baik, pastilah Sri Baginda akan senang," sahutnya, "Asal Sri Baginda senang, hal itu jauh lebih besar artinya dari apa pun di dunia ini, kegembiraan Sri Baginda tidak dapat dibandingkan dengan hadiah apa pun .
Sri Baginda, kalau nanti ada tugas lain yang lebih menarik dan penuh bahaya, harap Sri Baginda menugaskan hamba yang menyelesaikannya .
itulah hadiah yang hamba minta pada Sri Baginda!" Hati kaisar Kong Hi semakin senang mendengar ucapan Siau Po .
"Pasti! Pasti!" katanya berulang-ulang .
"Siau Kui cu, sayang kau seorang thay-kam kalau tidak, aku akan memberi pangkat kepadamu!" Hati Siau Po tercekat, ada sesuatu yang melintas dalam benaknya .
"Banyak-banyak terima kasih, Sri Baginda!" Tapi dalam hatinya dia justru berpikir: "Suatu hari nanti kau pasti tahu aku seorang thay-kam gadungan mungkin waktu itu kau akan marah sekali terhadapku!" Karena itu, dia menambahkan: "Sri Baginda, hamba ada sedikit permohonan!" Raja tertawa .
"Kau ingin mendapat pangkat?" tanyanya .
"Bukan!" sahut Siau Po .
"Hamba sudah lama bekerja pada Sri Baginda, Selama ini hamba setia dan bersedia melakukan tugas apa saja, Karena itu hamba mohon, bila kelak hamba melakukan suatu yang menimbulkan bencana, Hamba mohon, sudilah kiranya Sri Baginda mengampuni jiwa hamba supaya hamba jangan sampai mendapat hukuma penggal kepala." "Asal kau tetap setia padaku, asal kau bekerja dengan kesungguhan hati, maka kepalamu akan tetap kokoh di atas batang lehermu!" kata Kaisar Kong Hi sambil tertawa terbahak-bahak .
"Terima kasih, Sri Baginda!" kata Siau Po kembali, Setelah itu dia memberi hormat dan memohon diri dari hadapan raja .
Sekeluarnya dari Gi-Si pong, dia melangkah dengan perlahan, otaknya bekerja .
"Aku bermaksud menolong Pui Ie dan Siau kuncu keluar dari istana ini, siapa sangka sekarang aku justru mendapat perintah untuk membebaskan para penyerbu itu .
Kalau demikian, aku tidak perlu terburu-buru melepaskan kedua nona itu .
Lebih baik aku menunaikan dulu tugasku ini, Aneh bukan" Barusan aku berkumpul dan berpesta dengan pemimpin para penyerbu itu, Hm! Apakah aku harus melaporkan pada Sri Baginda perihal si kura-kura cilik Bhok Kian-seng dan si kura-kura tua Liy Tay-hong" Tapi, kalau aku melakukan hal itu, pasti kesudahannya suhu tidak akan mengampuni aku .
sebetulnya aku masih ingin menjadi hiocu Tian-te hwe atau tidak?" Siau Po sadar kedudukannya dalam istana, Se-mua orang sangat menghormatinya, Bahkan Sri Baginda pun sangat menyayanginya, Malah pernah dia berpikir untuk menjadi thay-kam saja untuk selamanya, alangkah senangnya hidup seperti ini! Tapi sekarang, ada satu hal yang merisaukannya, Mengenai masalah thayhou, Setiap kali dia ingat si nenek sihir itu, hatinya langsung terguncang! "Perempuan tua jalang itu sangat membenciku Setiap saat ada kemungkinan dia ingin merenggut nyawaku," pikirnya kemudian "Karena itulah aku tidak bisa berdiam lama-lama dalam istana!" Demikianlah sambil berjalan otak Siau Po terus berputar Ketika dia tiba di depan siwi pong, yaitu kamar para siwi yang letaknya di sebelah barat keraton Kian-ceng kiong, seorang siwi langsung menghambur ke depannya untuk menyambut .
Orang itu memamerkan tertawa yang ramah .
"Oh, Kui kongkong! Angin apa yang membawa kongkong berkunjung kemari?" Siau Po segera mengenali siwi itu sebagai pemimpin di tempat itu .
Dia tidak lain dan tidak bukan dari Tio Ci-hian yang mendapat uang dari Siau Po dan mendapat persenan dari To Lung .
Dia tahu semua ini karena Kui kongkong sudah mengatakan hal yang baik-baik tentang mereka di depan Baginda .
Setelah berhadapan dengan siwi itu, Siau Po segera tertawa lebar .
"Aku datang untuk melihat beberapa penyerbu yang tertawan itu," sahutnya .
"Mereka adalah para pemberontak yang bernyali besar." Setelah berkata demikian dia segera berbisik kepada orang itu: "Baginda menitahkan aku untuk memeriksa mereka .
Aku harus mendapatkan pengakuan mereka tentang orang yang mendalangi perbuatan mereka itu," Ci Hian menganggukkan kepalanya .
"Baiklah," sahutnya sebagai tanda mengerti .
Dia menjawab dengan nada berbisik juga, "Mulut ketiga pemberontak itu benar-benar tertutup rapat .
mereka telah dihajar dengan empat batang rotan yang menjadi patah, tapi mereka tetap tidak bersedia memberikan keterangan apa-apa, Mereka hanya mengaku sebagai orang-orang yang dikirim oleh Go Sam-kui!" Siau Po mengangguk .
"Biarlah aku coba menanyakan lagi para tawanan itu," katanya, Tio Ci-hian mengantarkan Siau Po ke tempat para tahanan .
Letak ruangannya di sebelah barat Di dalamnya ada tiga orang yang terpancang pada tiang kayu, Tubuh bagian atas mereka telanjang dan penuh dengan bekas pecutan rotan sehingga menimbulkan noda yang mengerikan .
Kulit dan daging mereka terkelupas dan darah pun, memenuhi seluruh tubuh .
Yang seorang bertubuh besar serta berewokan, Dua orang lainnya adalah pemudapemuda berusia kurang lebih dua puluhan tahun, Pemuda yang satu berkulit putih bersih, wajahnya juga tampan sedangkan seorang lainnya lagi lebih angker tampangnya. .
Dadanya ditato dengan gambar seekor harimau yang tampak ganas .
"Di antara kedua pemuda ini, entah mana yang namanya Lau It-cou?" tanya Siau Po dalam hati, Dia memperhatikan mereka lekat-lekat Dia tidak langsung menanyakan apa-apa kepada para tawanan itu, tapi malah menoleh kepada Tio Ci-hian sambil berkata .
"Tio toako, mungkin kau keliru menawan orang! Coba toako mundur sebentar!" Ci Hian segera mengiakan Dia segera mengundurkan diri dan menutup pintu tempat tahanan ini rapat-rapat .
Siau Po langsung menghampiri ketiga tawan itu, "Tuan-tuan sekalian, siapakah nama dan she tuan bertiga yang mulia?" tanyanya dengan nada ramah .
Orang yang bertubuh besar dan berewok langsung mendelikkan matanya lebarlebar .
"Thay-kam anjing!" dampratnya, "Kau kira dengan derajatmu ini, kau pantas menanyakan nama dari she-ku yang mulia?" Kata-katanya itu merupakan penghinaan dan hal ini membuat Siau Po menjadi kurang senang, tapi dia mengerti bahwa hal ini terjadi karena orang gagah itu telah disiksa sedemikian rupa dan merasakan penderitaan sehingga menjadi gusar .
"Kedatanganku ini atas permintaan seseorang .
katanya, "Aku datang untuk menolong seorang sahabat yang bernama Lau It-cou!" Begitu kata-katanya diucapkan, ketiga orang itu langsung tampak terkejut saking herannya, untuk sesaat mereka saling mengawasi lalu ketiga menoleh kepada si thaykam cilik .
"Kau menerima permintaan dari siapa?" tany bewok .
"Apakah di antara kalian ada yang bernama Lau It-cou?" Siau Po malah menanya lagi tanpa menghiraukan si bewok, "Kalau ada, aku ingin bicara dengannya, Kalau tidak ada, ya sudah!" Kembali ketiga orang itu saling melirik sekilas .
Terbukti mereka ragu-ragu karena curiga, tampaknya mereka tidak ingin tertipu oleh siasat lawan .
"Siapa kau?" kembali si bewok yang bertanya .
Siau Po tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya berkata .
"Orang-orang yang meminta pertolonganku itu, satu she Bhok, sedangkan yang satunya lagi she Liu .
Kenalkah kalian pada orang yang berjuluk Tiat Pwe-cong Liong?" Si Bewok menjawab dengan suara lantang .
"Tiat-Pwe cong Liong Liu Tay-hong terkenal di tiga propinsi Inlam, Kui Cui dan Sucoan, Siapa yang tidak tahu atau mendengar namanya" Dan orang she Bhok itu pasti Bhok Kiam-seng, putera Bhok Tian-po yang namanya sudah tersohor Namun saat ini Bhok Kiam-seng sedang merantau di dunia kangouw, entah sudah mati atau masih hidup,.,." Kembali Siau Po mengangguk .
"Kalau tuan-tuan bertiga tidak kenal Siau ongya dari keluarga Bhok serta Liu loyacu maka terbukti kalian bukan sahabat-sahabatnya, Dengan demikian kalian juga tidak mengenal dua jurus ilmu ini...." Tanpa menunggu sahutan dari ketiga orang itu, Siau Po langsung menjalankan kedua jurus Heng-Sau Ciang Kun dan Kao-San Liu Sui, Kedua jurus itu adalah ilmu keluarga Bhok, Di saat dia masih mempertunjukkan kedua jurus tersebut, si pemuda dengan tato harimau di dadanya mengeluarkan seruan tertahan .
"Aih...!" Mendengar suara itu, Siau Po menghentikan gerakannya .
"Eh, kenapa?" tanyanya .
"Ah.. .
tidak apa-apa," sahut orang itu jengah .
"Siapa yang mengajarkan kedua jurus itu?" tany si bewok .
Siau Po tertawa .
"lstriku!" sahut Siau Po .
"Cis!" si bewok meludah .
"Bagaimana mungkin seorang thay-kam bisa punya istri?" Hampir dia mengejek Siau Po dengan kata-kata "thay-kam anjing" lagi .
sedangkan Siau Po hany tersenyum .
"Memangnya kenapa thay-kam tidak boleh punya istri?" tanyanya, "Kalau orang suka menikah denganku, kenapa kau yang usil" istriku itu she Pui dengan nama tunggal Ie!" Belum berhenti gema suara si thay-kam cilik, pemuda yang berkulit putih langsung membentak .
"Ngaco kau!" Siau Po menatap pemuda itu, urat-urat di dahinya menonjol sehingga tampak berwarna biru kehijauan dan matanya mendelik dengan cahaya merah membara .
Hal ini membuktikan bahwa dia gusar sekali mendengar ucapan Siau Po .
Dengan demikian Siau Po segera bisa menduga bahwa dialah yang bernama Lau It cou .
Dia melihat pemuda tampan dan gagah .
Di saat marah, tampangnya berwibawa dan garang .
"Ngaco apanya?" dia balik bertanya, Dia tidak merasa takut sama sekali meskipun orang itu tampak angker "Kau tahu, istriku itu adalah keturunan dari salah satu keciang keluarga Bhok yang tersohor yakni salah satu dari keluarga Pek, Pui, Sou dan Lau! Ketika kami menikah, salah satu saksinya ialah seseorang yang bernama Sou Kong, dia berjuluk Sin Jiu kisu .