"Meskipun kau mengutungkan sebelah tanganmu untukku, tapi apa gunanya bagiku" Lagipula, apakah sahabatku itu bisa menolong mereka atau tidak sekarang masih sulit dipastikan Kawanan penyerbu itu ingin membunuh raja .
Dosa mereka tidak palang tanggung beratnya, sedangkan mereka kemungkinan dibelenggu dengan beberapa rantai yang tebal dan dijaga ketat oleh banyak pengawal Kalau aku tadi bicara soal menolong orang, sebetulnya aku hanya membual saja untuk membanggak diriku sendiri..." "Menolong orang yang tertawan di dalam istana memang merupakan hal yang sulit sekali," Bhok Kiam-seng .
"Kami juga tidak berani yakin akan hasilnya, Meskipun dengan sungguh-sungguh .
Dengan kata lain, berhasil atau tidak, kami tetap berterima kasih kepadamu." Dia menghentikan kata-katanya sejenak, seakan ada sesuatu yang dipertimbangkannya, Kemudian baru dia melanjutkan kata-katanya kembali: "Ada satu persoalan lagi, Aku mempunyai seorang adik perempuan yang ikut datang ke kotaraja, tetapi beberapa hari yang lalu tiba-tiba saja dia menghilang, Kami tahu pergaulan Wi hiocu dan anggota Tian-te hwe yang lainnya sangat luas di kotaraja ini .
Kami harap saudara sekalian bersedia menolong kami mencari keterangan tentang adikku itu." "Oh, urusan itu mudah sekali, Kami akan membantu sekuat tenaga, Baiklah, sekarang kami sudah cukup makan dan minum .
sekarang juga aku akan menemui sahabatku Siau Samcu untuk merundingkan hal ini, Neneknya! Paling tidak aku harus mengajaknya berjudi dan membuatnya kalah habis-habisan!" selesai berkata, Siau Po segera bangkit untuk memohon diri, "Terima kasih sekali lagi atas perjamuan ini .
sekarang aku ingin mengajak Ci samko pulang bersama kami, bolehkah?" Bhok Kiam-seng tidak melarang, Dia sendiri mengantarkan Siau Po dan rombongan anggota Tian-te hwe sampai depan pintu gerbang .
"Wi hiocu, jangan sungkan-sungkan, Terima kasih atas kedatangan Wi hiocu dan para saudara Tian-te hwe yang lainnya," katanya, Mereka kembali ke tempat semula, Hoan Kong yang tidak sabaran langsung bertanya .
"Hiocu, apakah benar tadi malam istana di datangi penyerbu" Kalau dilihat dari gerak-gerik Bhok siau ongya tadi, kemungkinan para penyerbu memang orang-orang mereka!" "Memang benar ada kawanan pemberontak yang menyerbu istana tadi malam, tapi urusan dirahasiakan .
Tidak boleh ada yang menyiarkan karena itu tidak ada orang yang tahu kecuali orang yang bersangkutan dan petugas dalam istana, Kalau menilik dari sikap mereka tadi, sudah terang kawanan penyerbu itu memang orang-orang Bhok onghu!" "Mereka berani menyerbu istana untuk membunuh Raja, nyali mereka memang besar sekali." kata Hian Ceng tojin ikut memberikan pendapatnya .
"Mereka harus dihormati dan dikagumi Hi apakah mereka bisa ditolong" Bukankah sebenarnya urusan ini sukar sekali dilaksanakan?" Sebenarnya ketika perjamuan sedang berlangsung di tempat Bhok Kiam-seng, Siau Po su menyadari bahwa tentunya sulit menolong penyerbu itu .
Akan tetapi dia ingat bahwa di dalam kamarnya tersembunyi dua orang nona keluarga Bhok, Nona Bhok sebetulnya adalah tawanan orang Tian-te hwe yang diselundupkan ke dalam istana mana mereka anggap sebagai tempat penyekapan yang aman .
Tidak demikian halnya dengan Pui Ie .
Dia termasuk salah seorang penyerbu dan tidak begitu sulit meloloskannya dari istana, itulah sebabnya dia tertawa mendengar pertanyaan Hian Ceng tojin .
"MenoIong orang banyak tentu saja sulit, tapi kalau seorang saja bisa lolos, itu kan sudah cukup" Bukankah Ci samko hanya membunuh seorang Pek Han-Siong" Tidak ada salahnya kalau kita juga cuma membebaskan satu orang saja .
Bukankah satu jiwa ditukar dengan satu jiwa" Dengan demikian, kita sama-sama tidak rugi, Sebaliknya, modal kita beranak, Bahkan kita juga bisa mengembalikan si nona yang dibawa Cian laopan sekalian Apa yang akan mereka katakan setelah mendapatkan Siau Kuncu kembali" Nah, Cian laopan, besok pagi kau boleh mengantar seekor babi, tidak .
dua ekor babi ke dalam kamarku, Di dapur nanti aku akan marah-marah padamu dengan mengatakan babi yang kau bawa itu jelek sekali dan kau terpaksa membawanya pulang lagi!" Cian Laopan tertawa sambil tertepuk tangan .
"Bagus! Akal Wi hiocu memang selalu jitu .
Babi mati untuk memasukkan si nona cilik sudah ada .
Tinggal cari lagi seekor babi yang ukurannya super!" Wi Siau-po menghibur Ci Tian-coan beberapa patah kata .
"Ci samko, jangan banyak pikiran Semuanya pasti beres, Mengenai Yo It-hong yang telah menyusahkan Ci samko, aku akan meminta Go En him mematahkan kakinya biar Ci samko senang!" "lya, iya .
Terima kasih atas perhatian Wi hiocu" sahut Ci Tian-coan, tapi dalam hatinya dia berkat "Bocah ini pembual juga! Go Eng-him adalah putera Peng Si-ong, mana mungkin dia mendengarkan kata-katamu?" Wi Siau-po berjanji akan menyelesaikan masalah terbunuhnya Pek Han siong tanpa sengaja tangannya, Meskipun hatinya merasa berterima kasih, tapi Ci Tian-goan tidak percaya sepenuhnya bahwa bocah cilik tersebut mempunyai kepandai demikian lihay .
Baru saja Siau Po sampai di dalam istana, dua orang thay-kam segera menyambutnya .
"Kui kongkong, cepat! Sri Baginda mencarimu." kata mereka .
"Apakah ada urusan yang penting?" tanya Si Po .
"Entahlah! Tapi Sri Baginda telah memanggil mu beberapa kali, Kemungkinan memang ada urusan yang penting .
sekarang Sri Baginda ada di kamar tulisnya," sahut salah seorang thay-kam itu .
Siau Po mengiakan .
Dia langsung pergi ke pong, Di dalam kamar tulisnya, tampak Sri Baginda sedang berjalan mondar-mandir dengan kepala tundukkannya, Begitu melihat Siau Po, dia sangat senang, Dia langsung menegur dengan cepat .
"Aih, celaka! Kau pergi kemana saja?" Siau Po merasa kaisar Kong Hi berbicara dengan gayanya sendiri seperti biasa bila berduaan dengannya, Hatinya menjadi lega .
"Sri Baginda, hamba baru saja kembali dari luar, Hamba memikirkan urusan penyerbuan tadi malam, Kawanan penyerbu itu benar-benar bernyali besar, Kalau tidak ditumpas, mereka bisa menjadi ancaman bahaya! Terutama kita harus mencari biang keladinya! Karena itulah hamba mengganti pakaian seperti orang biasa lalu keluar mengadakan penyelidikan Hamba putar-putar dalam kota, setiap gang dan jalan besar hamba masuki Hamba ingin tahu siapa pemimpin para pemberontak itu dan apakah mereka masih ada di kota raja...." "Bagus!" puji kaisar Kong Hi .
Dia merasa puas sekali, "Lalu, bagaimana hasilnya?" Siau Po berpikir dengan cepat .
"Kalau aku bilang berhasil, rasanya terlalu cepat!" karena itu dia menjawab: "Hamba belum berhasil, Sri Baginda, karena itu besok pagi hamba akan melakukan penyelidikan kembali!" "Kalau kau menyelidiki dengan caramu itu, belum tentu akan ada hasilnya," kata kaisar Kong Hi .
"Kau seperti mengukur jalanan saja, Nah, aku mempunyai sebuah akal!" Siau Po menunjukkan mimik kegirangan .
"Apa itu, Sri Baginda?" tanyanya, "Tentunya sebuah akal yang bagus, bukan?" Kaisar Kong Hi tertawa .
"Barusan To Lung datang memberikan laporan," katanya, "Menurutnya, para tawanan itu menutup mulutnya rapat-rapat, Mereka tidak mempan bujukan maupun siksaan, Satu-satunya keterangan yang mereka berikan hanya menyatakan bahwa mereka adalah orang-orangnya Go Sam-kui .
karena itu, aku rasa, percuma saja mereka dijatuhi hukuman mati .
sekarang aku justru menganggap ada baiknya, mereka dibebaskan saja..." "Di bebaskan saja?" tanya Siau Po seakan tidak percaya dengan pendengarannya sendiri .
"Bukankah terlalu enak bagi mereka?" Kaisar Kong Hi tersenyum .
"Kita melepaskan anak srigala," katanya, "Dan anak srigala pasti pulang mencari induknya!" Mendengar keterangan itu, Siau Po senang sekali, Dia bersorak sambil bertepuk tangan .
"Bagus! Bagus sekali!" serunya, "ltu artinya lepas para penyerbu itu secara diamdiam kita mengikuti mereka, Bukankah dengan demikian kau akan bertemu dengan pemimpinnya" Sri Baginda akal Sri Baginda ini bagus sekali, Kecerdasan Baginda masih memang tiga kali lipat dari pada Cukat Liang!" Raja tertawa .
"Apanya yang menang tiga kali lipat daripada Cukat Liang" Oh, kau sedang menepuk punggung ku, tapi sayangnya kelebihan .
Kau tahu, masih kesulitan lainnya" Setelah kita membebaskan para penyerbu itu, kita masih harus berusaha mengikuti mereka tanpa disadari orang-orang itu Siau Kui cu, aku ingin memberikan sebuah tugas kepadamu, pergilah kau ke penjara dan pura-pura jadi orang baik yang berniat menolong mereka membebaskan diri, Setelah itu, kau pasti dianggap sebagai dewa penolong dan kemungkinan kau akan diajak ke sarang mereka...." Siau Po pura-pura bimbang .
"Ini.. .
ini.,." katanya gugup .
"Memang siasat ini berbahaya sekali dijalankan," kata Sri Baginda .
Dia mengira Siau Po mengkhawatirkan keselamatan dirinya sendiri, "Asal mereka tahu siapa dirimu, pasti jiwamu akan melayang, Sayang aku adalah seorang raja, kalau tidak, aku pasti akan melakukannya sendiri, Aku yakin tugas seperti ini pasti menarik sekali..." "Sri Baginda," kata Siau Po, "Kalau Sri Baginda menitahkan, hamba pasti menjalankannya, Tugas yang jauh lebih berbahayapun akan hamba laksanakan!" Senang sekali hati raja mendengar kata-kata Siau Po .
Dia menepuk-nepuk pundak bocah itu .
"Memang aku tahu kau cerdas dan bernyali besar!" katanya, "Aku juga tahu kau akan melakukan apa pun untukku, Kau seorang bocah, para penyerbu itu pasti tidak mencurigaimu Tadinya aku berpikir untuk mengirim dua orang pahlawan yang lihay, tapi aku khawatir rahasia mereka akan terbongkar sebab para penyerbu itu pasti bukan oran orang tolol yang bisa menaruh kepercayaan begitu saja .
Mereka pasti curiga .
Sekali gagal, siasat ini tidak terpakai lagi, Siau Kui cu, kau saja yang melakukan tugas ini, anggaplah kau sebagai pengganti diriku!" Semenjak belajar ilmu silat, Kaisar Kong ingin sekali menjajal kepandaiannya sendiri, sayangnya kedudukannya terlalu tinggi .
Dia tidak bisa melakukan keinginan hatinya seenaknya, Apalagi melakukan sesuatu yang bisa membahayakan dirinya .
Karena itu pula, sekarang terpaksa dia menyerahkan tugas ini kepada thay-kam cilik kepercayaan ini .
"Kau harus pandai-pandai membawa diri," pesan raja itu kepada hambanya, "sikapmu harus wajar mungkin, Ada baiknya kalau di depan mereka kau membunuh satu dua orang siwi, Dengan demikian mereka tidak akan sangsi kepadamu, Akan kupesan To Lung agar memperlunak penjaga sehingga kau dapat mengajak mereka melolosk diri!" "Baiklah!" sahut Siau Po .
"Tapi para siwi jauh lebih gagah daripada hamba, Hamba khawatir untuk melawan mereka saja tidak ada kesanggupan, apalagi hendak membunuh satu dua orang diantaranya!" "Tentang itu tidak perlu kau cemaskan," kata kaisar Kong Hi .
"Kau harus bekerja dengan melihat situasinya, terutama kau harus berhati-hati, jangan sampai kau yang terbunuh dulu di tangan para siwi itu!" Siau Po menjulurkan lidahnya .
"Kalau hamba sampai terbunuh lebih dulu, sungguh hamba akan mati kecewa!" katanya, "Pasti hamba akan dituduh sebagai antek-anteknya para penyerbu itu!" Kaisar Kong Hi mengibaskan tangannya dengan maksud mencegah Siau Po berkata lebih jauh .