Bhok Kiam-seng segera menolehkan kepalanya dan melirik sekilas kepada Liu Tayhong .
Dia merasa ucapan hiocu dari Tian-te hwe ini mengandung makna yang dalam .
"Saudara kecil," Liu Tay-hong segera berkata "perkataanmu itu mempunyai maksud yang dalam sekali sehingga sukar bagi kami untuk menjajaki-nya .
Saudara kecil, maafkan kami yang masih kurang mengerti!" Sebaliknya, Wi Siau-po tetap tertawa, "Liu loyacu terlalu sungkan!" sahutnya, "Tidak sanggup aku menerima penghargaan yang terlalu tinggi, sebetulnya ucapanku dangkal sekali dan tidak berarti apa-apa!" "Saudara kecil," kata Liu Tay-ong kembali "Kalau tidak salah, kau bermaksud mengatakan bahwa ada orang kami yang telah ditawan oleh bangsa Tatcu, bukankah begitu" Atau, kau mempunyai maksud yang lain?" "Tidak ada maksud lainnya sama sekali," sahut Siau Po .
"Bhok siau ongya, Liu loenghiong, anggap saja aku sudah minum arak terlalu banyak sehingga mabuk dan ucapanku jadi ngelantur yang bukan-bukan!" "Hm!" terdengar lagi Bhok Kiam-seng mendengus dingin, "Wi hiocu, kedatanganmu kemari ternyata hanya untuk bergurau dan menyakiti orang" Atau kau sedang mencari hiburan?" "Oh, Siau ongya," sahut Siau Po .
"Rupanya Siau ongya hendak mencari hiburan" Apakah di kotaraja ini Siau ongya belum pernah berpelesiran kemana-mana?" Kiam Seng semakin heran .
"Bagaimana" Apa yang kau maksudkan?" tanya-nya .
"Kotaraja ini luas sekali," kata Siau Po .
"Di kota Kun Beng di propinsi Inlam kalian tidak seluas kotaraja ini, bukan?" Hati pangeran muda ini semakin panas .
"Memangnya kenapa?" tanyanya dengan nada jengkel .
Hoan Kong juga bingung mendengar kata-kata ketuanya yang tidak karuan, Karena itu dia membuka suara .
"Memang kota Peking ini merupakan kota yang besar dan indah sekali, sayangnya telah diduduki oleh bangsa Tatcu! Kita adalah orang-orang yang berdarah panas, tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak menjadi marah karenanya!" Siau Po telah mengundang kami menghadiri perjamuan ini, kebaikan ini tidak dapat kami m ba1asnya .
Karena itu, kami ingin melakukan suatu, Kapankah kiranya Siau ongya mempunyai waktu luang" Aku ingin mengajakmu berpesiar .
Kalau ada orang yang kenal baik wilayah ini, tentu Siau ongya tidak akan kesasar, sebaliknya kalau Siau ongya pergi sendiri berjalan-jalan, lalu tak sengaja salah masuk ke dalam istana raja, oh walaupun Siau ongya berkepandaian tinggi, urusannya bisa gawat sekali...." "Saudara kecil, di dalam kata-katamu tersembunyi maksud lainnya!" tukas Liu Tay-h "Saudara kecil, kita adalah orang-orang sendiri .
Ada apa-apa, silahkan kau katakan terus-terang saja!" Orang tua yang lihay ini menerka ada sesuatu yang penting, karena itu dia bersikap sabar .
Tidak ada yang lebih jelas lagi dari kata-kataku ini!" sahut Siau Po .
"Para sahabat dari Bhok Siau ongya sangat lihay kepandaiannya, terlebih-lebih kedua jurus Heng-Sau Ciang Kun dan Kao-San Liu Sui, Tidak ada yang sanggup menandinginya, Tapi, di kotaraja, kalau orang pergi berpesiar tapi tidak tahu jalan, mungkin dia bisa keliru masuk Ci-kim Sia, kota terlarang itu!" Liu Tay-hong dan Bhok Kiam-seng saling menatap sekilas .
Mereka mengganggap tamunya ini agak aneh .
"Lalu bagaimana baiknya?" tanya Tay Hong .
"Menurut apa yang kudengar," sahut Siau Po .
"Kota terlarang mempunyai banyak pintu, Satu per satu seperti jumlah pendopo-pendopo di dalamnya .
Siapa yang jalan di dalam Kota Terlarang, apabila tanpa Raja atau permaisuri yang menunjukkan jalan, mudah sekali orang tersesat Bahkan ada kemungkinan kesasar dan tidak bisa keluar lagi untuk seumur hidup! Aku adalah seorang bocah yang tidak berpengalaman karena itu aku juga tidak tahu, ada atau tidak kemungkinan Raja ataupun permaisuri menjadi penunjuk jalan di malam gelap gulita... .
Bisa jadi, dengan nama besar Bhok siauong-ya, si raja cilik atau si nenek sihir menjadi ketakutan dan bersedia menjadi petunjuk jalan, Ha ini sukar dikatakan!" Siau Po sudah biasa memaki ibu suri sebagai nenek sihir atau perempuan jalang, tapi baru kali ini dia mengatakannya di depan umum, Hal ini justru membuat hatinya menjadi senang, Sedangkan para hadirin yang lain justru merasa heran mendengar Siau Po menyebut ibu suri s bagai si nenek sihir .
Baru kali ini mereka mendengar ada orang yang menyebut kata-kata itu terhadap ibu suri .
Tanpa dapat mempertahank diri lagi, Hoan Kong dan anggota Tian-te hwe lainnya jadi tertawa geli .
Terdengar Liu Tay-hong berkata, "Orang-orang sebawahannya Siau ongya bia bekerja dengan teliti, Tidak mungkin mereka nyasar masuk ke dalam kota Terlarang, Menurut kabar yang kami dapatkan, Go Sam-kui mengutus puttranya datang ke kotaraja, bisa jadi ia memerintah orang-orangnya membuat kekacauan, Kemungkinan seperti ini ada saja bukan?" Siau Po menganggukkan kepalanya .
"Apa yang Liu loyacu katakan memang tidak salah, Aku mempunyai seorang teman berjudi yang menjadi pengawal dalam istana, Dia mengatakan tadi malam terjadi penyerbuan di istana oleh sekelompok penjahat." Dia menghentikan kata-kata-nya sejenak, "kemudian mereka mengenali orang-orang itu sebagai bawahan Bhok siau ongya..." Bhok Kiam-seng mengeluarkan seruan tertahan .
Terang dia terkejut sekali .
"Apa?" tangan kanannya bergetar, sehingga cawan araknya terlepas dan jatuh pecah di atas lantai .
"Tadinya aku juga tidak percaya, tapi aku berpikir lagi, Keluarga Bhok terdiri dari para patriot pecinta bangsa, Mereka memgirim orang untuk membunuh raja Tatcu, hal itu perlu dikagumi sekarang mendengar ucapan Liu loyacu, ternyata mereka adalah orangorang kiriman Go Sam-kui, kalau begitu, orang-orang itu tidak boleh diampuni .
Nanti aku harus mengatakan kepada temanku itu, agar para penyerbu itu diberi hukuman berat, Coba bayangkan saja, orang-orang Go Sam-kui pasti bukan terdiri dari manusia baik-baik! Karena itu, mereka harus disiksa biar kapok!" "Saudara kecil," tanya Liu Tay-hong, "Siapakah nama sahabatmu itu" Apa pangkatnya dalam istana?" Siau Po menggelengkan kepalanya .
"Dia hanya seorang siwi yang pangkatnya rendah sekali, malah dia merupakan orang baru dan belum diberikan kepercayaan penuh, Tugasnya kebanyakan melayani para siwi yang sudah senior, Dia tidak mempunyai she atau pun nama, Kami biasa memanggilnya Lay Li-tau siau Samcu atau si Kepala Kurapan! Menurutnya, para tawanan itu dibelenggu Tadinya aku berpikir untuk menyuruh Siau Samcu memberi makan kepada mereka, tapi sekarang Liu loenghiong mengatakan bahwa mereka adalah kaki tangan bangsa pengkhianat, Nanti aku minta sahabatku itu membacok kaki mereka agar tidak dapat melarikan diri!" "Aku cuma menerka," kata Liu Tay-hong cepat, "Tidak berani aku memastikannya, Karena mereka itu berani menyerbu istana, boleh dibilang mereka juga terdiri dari orang-orang yang bernyali besar! Karena itu, Wi hiocu, ada baiknya kau minta sahabatmu itu memperlakukan mereka secara baik-baik saja." "Sahabatku itu baik sekali kepadaku," kata Siau Po .
"Sering dia mengajak aku bermain judi, Kalau kehabisan uang, aku suka meminjamkan barang delapan atau sepuluh tail Dan aku tidak pernah memintanya kembali Karena itu, apa pun permintaanku dia tidak pernah menolaknya!" "Baguslah kalau begitu," sahut Liu Tay-hong .
"Sebenarnya berapa jumlah orang yang ditawan dan siapa saja nama mereka itu" Mereka bernyali besar sehingga kami merasa kagum .
Bagaimana perlakuan yang mereka terima sekarang ini" Baik atau buruk" Wi hiocu, kami bersyukur sekali andaikata kau dapat menolong kami mencari keterangan tersebut .
Siau Po menepuk dadanya .
"Gampang! Tidak ada urusan yang lebih gampang lagi daripada itu!" kata Siau Po mengagulkan diri, "Sayang mereka bukan orang-orangnya Siau ongya, Kalau tidak, aku pasti mencari jalan membebaskan mereka, Dengan demikian kita bisa menukar satu jiwa dengan satu jiwa pula, Dan urusan Ci samko pun bisa diselesaikan." Liu Tay-hong menoleh kepada Bhok Kiam-seng, sembari menatap, dia menganggukkan kepalanya sedikit .
"lya, Kami tidak tahu siapa para penyerbu itu," kata si pangeran muda .
Tetapi karena mereka berusaha membunuh raja bangsa Tatcu, pasti mereka juga terdiri dari orangorang gagah pecinta negara, Mereka bisa dihitung sebagai rekan kami yang ingin menjatuhkan kerajaan Ceng dan membangun kembali kerajaan Beng, Karena itu, Wi hiocu, kalau bisa mencari jalan untuk membebaskan mereka, tidak perduli berhasil atau tidak, Untuk selamanya Bhok Kiam-seng merasa bersyukur dan urusan Ci samya tidak akan diperpanjang Iagi..." Siau Po menoleh ke arah Pek Han-hong, namun mulutnya menjawab ucapan sang pangeran .
"Kalau tidak mendengar Siau ongya mengatakannya sendiri, kemungkinan Pek jihiap tidak mau mengerti," katanya, "Apabila lain kali Pek jihiap mencekal tanganku kembali dan meremasnya keras-keras, aku bisa menangis berkaok-kaok saking sakitnya, Hebat sekali penderitaan itu, mungkin aku tidak sanggup menahannya..." Mendengar ucapan tamunya itii, Pek Han-hong berdiri dari tempat duduknya dan berkata denga nada serius: "Andaikata Wi hiocu dapat menolong orang kami, eh, menolong orang-orang gagah yang tertawan bangsa Tatcu itu, aku si orang she Pek tanganku yang telah bersalah ini, bersedia dikutungkan sebagai pernyataan maafku!" "Tidak perlu, tidak perlur kata Siau Po .