Halo!

Kaki Tiga Menjangan Chapter 104

Memuat...

marilah kita makan barang hidangan, ada meneguk arak yang mereka sajikan nanti!" kata Sia Po akhirnya, "lni yang dinamakan, musuh datang kita hadang, air datang kita bendung, teh datan kita teguk! Dan nasi datang, kita lahap semuanya Kalau racun yang datang, ya terpaksa kita telan juga! Kita adalah orang-orang gagah yang tidak takut mati .

Siapa takut mati, tidak pantas disebut seorang laki-laki sejati!" "Yang penting kita semua meningkatkan kewaspadaan," kata Hian Ceng tojin kemudian, "Kita akan tahu bagaimana kenyataannya nanti, Di antara kita, ada yang minum teh, ada pula yang tidak, Juga tidak semuanya minum arak, Ada juga di antara kita yang tidak makan daging maupun ikan .

Dengan demikian, biarpun mereka menaruh racun, toh tidak mungkin pada semua makanan dan minuman Kita juga tidak akan mati semua! Kalau kita datang tapi menolak makan dan minum, kita pasti jadi bahan tertawaan...." Dengan demikian, keputusan sudah diambil, untuk menghadiri perjamuan Bhok Kiam-sen Siau Po melepaskan seragam thay-kamnya, Dia berdandan sebagai seorang pemuda gagah, Untuknya, Kho Gan-tiau telah menyediakan seperangkat pakaian lengkap dengan kopiahnya, Dia juga pergi dengan naik joli, anggota Tian-te hwe yang lainnya hanya berjalan kaki .

Demikianlah mereka menuju lorong Si kongcu ho tong .

Di tengah jalan Siau Po berpikir .

Di dalam istana, siang dan malam aku selalu khawatir memikirkan si nenek sihir yang jahat itu .

Aku takut dia akan mencari kesempatan untuk membunuhku Tapi sekarang, keadaannya berbeda sekali, Di dalam istana mana mungkin aku sebebas dan sesenang ini" Namun aku harus ingat pesan Suhu, Aku berdiam di dalam istana untuk menyelidiki situasi kerajaan Ceng, Kalau aku lancang mengundurkan diri, bukan saja aku tidak berhasil mendapatkan informasi apaapa .

Mungkin nyawaku sendiri tidak terjamin .

Biar-lah, sebaiknya aku lihat dulu perkembangannya .

Lorong Si kongcu jaraknya dua li 1ebih .

setibanya rombongan, Siau Po langsung keluar dari jolinya .

Mereka segera mendengar suara tetabuhan yang riuh rendah .

"Apakah ada pesta pernikahan sehingga suasananya demikian meriah?" tanya Siau Po dalam hati .

Di depan mereka tampak sebuah rumah besar dengan halaman yang luas, Di situ terlihat belasan orang, dandanan mereka rapi, mereka maju untuk melakukan penyambutan di depan pintu gerbang Yang berdiri paling depan adalah seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh tahun, Tubuhn kurus tinggi, tampangnya tampan dan gagah, Dia segera memperkenalkan diri .

"Aku yang rendah bernama Bhok Kiam-sen Dengan segala kehormatan menyambut kedatang Wi hiocu yang terhormat beserta rombongannya!" Pergaulan Siau Po dengan para pembesar negeri sudah luas sekali .

Karena itu dia menganggap penyambutan yang dilakukan tuan rumah wajar saja, Dengan mudah dia dapat membawa diri .

Kalau perlu dia dapat menunjukkan tampang anggun .

Bhok Kiamseng ini memang pangeran muda, tapi kalau dibandingkan dengan Kong Cin ong, dia masih kalah satu tingkat, pangeran Kong, baik raja sendiri sangat akrab dengannya .

Meskipun demikian, dengan sopan dia membalas penghormatan orang itu sambil berkata .

"Siau ongya terlalu banyak peradatan, tak sanggup aku menerimanya!" Sementara itu, secara diam-diam Siau Po memperhatikan pangeran muda ini .

Dan dia melihat kenyataan bahwa wajahnya memang mirip deng Kiam Peng, Tidak salah lagi mereka memang kak beradik .

Bhok Kiam-seng sudah tahu bahwa hiocu Ceng-bok tong dari Tian-te Hwe yang berkedudukan di kota Peking usianya masih muda, dan dari Pek Han hong dia juga mendengar kepandaian bocah ini masih rendah sekali, namun mulutnya si hiocu lihay sekali .

Dia pandai memojokkan orang dengan kata-katanya, Tampangnya seperti orang kasar dan kemungkinan dia diangkat sebagai hiocu hanya memandang muka gurunya yang menjadi ketua pusat Tian-te hwe .

Sekarang, melihat ketenangan dan kewibawaan Siau Po, dia menjadi heran, Diamdiam dia berpikir .

"Mungkin bocah ini mempunyai keistimewaan tersendiri..." Dia segera mengundang tamu-tamunya masuk ke dalam di mana setiap kursi diberi alas merah yang tebal .

Para tamu itu pun mengambil tempat duduk dan begitu pun tuan rumahnya .

Di sampingnya berdiri Sinjiu kisu Sou Kong .

Pek Han-hong dan belasan orang lainnya, Mereka berdiri tegak dengan tangan di luruskan kebawah .

Setelah semuanya duduk, Kedua belah saling berkenalan Sampai di situ, diam-diam Hoan Kong berpikir dalam hati .

"Pangeran Bhok itu sikapnya tidak dibuat-buat dan tidak angkuh .

Dia mengenal sekali aturan dunia kangouw!" Para pelayan pun menyuguhkan teh, Pemainan musik memperdengarkan lagu sebagai penyambutan atas tamu-tamunya, Kemudian barang hidangan pun disajikan Bhok Kiam-seng memberikan isyarat dengan tangan sebagai tanda perjamuan dimulai Dia juga mengajak para tamunya menuju meja makan "Silahkan Wi hiocu mengambil tempat duduk." katanya mempersilahkan .

Nadanya ramah sekali .

Siau Po menerima undangan itu dengan sikap hormat .

Dia pun mengucapkan terima kasih .

Setelah dia duduk, Bhok Kiam Seng memilih tempat di sebelahnya .

"Undang suhu!" kata tuan rumah setelah semua orang duduk, Sou kong dan Pek Han-hong pergi ke dalam, tidak lama kemudian mereka keluar lagi dengan mengiringi seorang tua .

Kiam Seng segera menyambutnya sambil berkata .

"Suhu, hari ini hiocu Ceng-bok tong, Wi hiocu dari Tian-te hwe telah sudi berkunjung ke tempat kita, Dengan demikian beliau telah memberikan muka terang kepada kami!" kemudian dia berpaling kepada Siau Po dan berkata kembali "Wi hiocu inilah Liu suhu, guru aku yang rendah!" Siau Po segera memberi hormat seraya memuji orang itu yang menurutnya sudah lama dia mendengar nama besarnya .

Orang tua itu bertubuh tinggi besar, wajahnya kemerah-merahan, kumis dan janggutnya sudah memutih .

sedangkan kepalanya botak, Usianya kira-kira tujuh puluh tahun namun tampaknya masih sehat dan sepasang matanya menyorotkan sinar yang tajam Justru dia sedang menatap tamunya yang masih muda lekat-lekat Kemudian sambil tertawa dia berkata .

"Belakangan ini nama Tian-te hwe semakin terkenal saja!" Suara si orang tua juga lebih keras dari orang kebanyakan Setelah itu dia menambahkan "Usia Wi hiocu masih muda sekali, Benar-benar orang yang sulit ditemukan keduanya dalam dunia persilatan!" .

Siau Po tertawa dan menyahut .

"Aku bukan orang pandai, justru tolol sekali, Barubaru ini tanganku telah tercekal oleh Pek suhu sehingga tidak dapat berkutik Hampir saja aku berkaok-kaok kesakitan ilmu silatku benar-benar rendah sekali!" Selesai berkata, si hiocu muda malah tertawa terbahak-bahak Dia tidak merasa malu atau jengah sedikit pun sehingga semua orang menatapnya dengan heran, Malah Pek Han-hong sendiri yang merasa malu .

Si orang tua sebaliknya ikut tertawa lebar .

"Wi hiocu orangnya benar-benar polos!" katanya memuji."Hm, demikianlah sikap seorang Iaki-laki sejati, Hiocu, lohu kagum tiga bagian terhadapmu." Kembali Siau Po tertawa .

"Kagum tiga bagian, itu sudah terlalu banyak, Syukur aku yang rendah tidak dipandang sebagai pengemis cilik yang tidak punya kebisaan apa-apa." Mendengar kata-katanya, orang tua itu tertawa lagi .

"Oh, hiocu sungguh pandai bergurau!" katanya .

Sampai di situ, Hian Ceng tojin turut bicara, "Locianpwe, apakah locianpwe ini Tiat Pwe-cong liong Si naga berpunggung besi Liu loeng-hiong yang namanya sudah sangat terkenal di dalam dunia kangouw, khususnya wilayah selatan?" "Tidak salah!" sahut si orang tua .

bibirnya menyunggingkan senyuman, "Syukur Hian Ceng tojin masih mengingat nama hina aku si orang tua." Di dalam hatinya Hian Ceng tojin terkejut sekali .

"Belum lagi aku memperkenalkan diri, dia sudah tahu siapa aku .

Dari sini dapat dibuktikan bahwa persiapan Bhok Kiam-seng ini sempurna sekali .

Dengan hadirnya orang tua ini, pangeran muda ini tidak perlu menggunakan racun .

Dengan mengandalkan ilmu silatnya saja, mungkin kami bukan tandingannya!" Meskipun dia berpikir demikian, tapi imam itu tetap menjura dan berkata .

"Liu loenghiong, ketika tempo dulu Liu Loenghiong menghajar tiga penjahat di sungai Nou kang serta melabrak tentara Boan, nama besar loenghiong langsung menggetarkan dunia kangouw, setiap orang muda dari dunia persilatan memuji tinggi dan sangat menghormati Liu Loenghiong!" "ltu kan urusan lama, untuk apa diungkit kembali?" kata Lio Loenghiong sambil tertawa, tapi nada suaranya menandakan dia senang mendengar pujian itu .

Jago tua itu bernama Liu Tay-hong .

Namanya sudah terkenal sekali, Dan dulunya dia sangat dihargai oleh keluarga Bhok, yakni semasa Bhok Tian-po masih hidup, Ketika pasukan Boanciu menggempur wilayah Inlam, dialah yang berjasa menyelamatkan keluarga Bhok .

sedangkan Bhok Kiam-seng diangkatnya sebagai murid .

Karena itu, di dalam keluarga tersebut, kecuali, sang pangeran, dialah orang yang paling dihormati "Suhu," kata Bhok Kiam-seng .

"Tolong Suhu temani Wi hiocu!" "Baik!" sahut Tay Hong yang terus duduk di sisi Wi Siau-po, hiocu dari Ceng-bok tong itu .

Meja itu berbentuk astakona atau segi delapan, ada juga yang menyebutnya Patkua, Di kursi pertama duduk Siau Po dan Liu Tay-hong .

Di sisinya duduk Sou Kong dan Hong Ci-tiong, sedangkan di sebelah kanan, duduk Bhok Kiam-seng, Di situ masih ada sebuah kursi yang kosong .

Sejak semula pihak Tian-te hwe sudah melihat kursi yang kosong itu, Mereka pun menerka-nerka dalam hati .

"Entah tokoh lihay mana lagi yang diundang oleh pihak keluarga Bhok ini?" Sebab di meja itu seharusnya ditempati orang-orang yang terhormat .

Mereka tidak perlu menanti terlalu lama, karena segera terdengar suara tuan rumah yang memerintahkan .

"Harap bimbing Ci suhu keluar untuk duduk bersama-sama di sini!" demikianlah kata si tuan rumah, "Biar para tetamu kita menemuinya dan semoga hati mereka menjadi tenang karenanya!" "Ya!" sahut Sou Kong yang terus pergi ke dalam .

Sejenak kemudian dia muncul kembali sambil membimbing seseorang yang disebut sebagai Ci suhu itu .

Melihat orang yang dibawa keluar oleh Sou Kong, Hoan Kong dan yang lainnya menjadi terkejut dan girang bukan main .

"Ci toako!" tanpa dapat menahan diri mereka semuanya berseru .

Post a Comment