Halo!

Kaki Tiga Menjangan Chapter 103

Memuat...

"Tentang Lau sukomu itu, aku belum berhasil memperoleh keterangan apa pun," shut Siau Po yang mengerti arah pertanyaan si nona."Kata para siwi dalam istana, mereka tidak menangkap orang she Lau...." "Terima kasih!" kata Pui Ie .

"Syukurlah kalau dia memang tidak sampai tertawan!" "Meskipun demikian, ada baiknya bagi kalian," sahut Siau Po .

"Dia ada di luar istana walaupun mungkin dia memikirkan dirimu, Sebaliknya, kau merindukan dia, tapi kau ada di dalam istana, Sepasang kekasih untuk selamanya tidak dapat bertemu, bukankah hal itu mengecewakan sekali ?" Wajah nona Pui jadi merah padam .

"Aku toh tidak mungkin berada dalam istana ini seumur hidup?" katanya .

"Seorang nona, begitu dia masuk ke dalam istana, mana ada kesempatan untuk keluar lagi?" sahut Siau Po .

Dia memang iseng dan suka menggoda, "Apalagi nona secantik dan semanis dirimu ini, Aku Siau kui cu, begitu melihat kau saja, hatik sudah kepincut, Timbul keinginan dalam hatiku untuk mengambil kau sebagai istri, Demikian pula Sri Baginda, Kalau beliau melihatmu, pasti dia aka memilihmu menjadi ratu! Karena itu, nona Pui, aku ingin memberi nasehat kepadamu, Ada baiknya kau menjadi ratu saja!" Hati si nona merasa mendongkol dan tidak puas .

"Tidak sudi aku bicara panjang lebar denganmu!" katanya, "Setiap ucapanmu hanya membuat aku jengkel dan membuat habis kesabaranku!" Siau Po tidak menggubrisnya, dia hanya te tawa, Kemudian dia serahkan kertas di tangann kepada si nona cilik, "Siau kuncu, tolong kau bacakan surat ini katanya .

Kiam Peng menyambut kertas itu kemudi membacanya .

"Di kedai kopi Kho Seng ada nyanyian dan cerita dengan judul Eng Liat-toan." "Eh, apa artinya ini?" tanya si nona bingung .

Mendengar bunyi surat itu, Siau Po lantas mengerti .

"Pihak Tian-te hwe ada urusan ingin bertemu denganku Aku diundang ke kedai kopi untuk mendengar cerita tentang kisah kaisar Beng thaycou dulunya, Kecewa kau menjadi keluarga Bhok kalau kisah Eng Liat-toan saja kau tidak tahu." "Sudah tentu aku tahu kisah Eng Liat-toan itu," kata Bhok Kiam-peng .

"ltu kan cerita bagaimana mula-mulanya kaisar Beng thayou membangun kerajaan Beng!" "Bagus!" kata Siau Po .

"Sekarang aku akan menanyakan kepadamu, tahukah kau kisah Bhok ongya dengan tiga kali memanah mengukuhkan kedudukannya di Inlam serta Kui kongkong dengan sepasang tangannya memeluk si nona cantik?" "Fui!" ejek si nona dengan keras, "Ketika kakekku mengukuhkan kedudukannya di Inlam, tentu saja dalam kisah Eng Liat-toan ada disebut juga, Tapi tentang Kui kongkong dengan sepasang.. .

tangannya.. .

tangannya...." Siau Po memperhatikan si nona cilik lekat-lekat Lalu dia berkata dengan serius .

"Coba kau katakan! Ada tidak kisah tentang Kui kongkong yang dengan sepasang tangannya memeluk sepasang nona cantik?" "Sudah tentu tidak ada!" sahut Kiam Peng .

"ltu kan hanya karanganmu sendiri!" "Bagaimana kalau kita bertaruh?" tanya Sia Po .

"Bagaimana kalau ada" Dan bagaimana kalau tidak ada?" "Kisah Eng Liat-toan itu, aku sudah hapal luar kepala!" sahut Kiam Peng .

"Aku juga sudah mendengar cerita itu berulang kali, Bertaruh apa pun aku berani! Cici Pui, bukankah tidak ada cerita tentang Kui kongkong seperti yang dikatakannya?" Belum sempat Pui Ie memberikan jawaban, Siau Po sudah melompat naik ke atas tempat tidur .

Tanpa membuka sepatu lagi, dia menyusup ke dalam selimut dan berbaring di tengah-tengah kedua nona itu .

Sepasang tangannya merangkul nona Pu dan nona Bhok! Saking kagetnya, kedua nona itu sampai menjerit tertahan, namun tidak sempat menyingkirkan diri .

Hanya Kiam Peng yang masih berusaha memberontak .

Siau Po menggunakan kesempatan itu untuk memiringkan tubuhnya ke arah Pui Ie .

Dengan demikian bibirnya segera menyentuh pipi si gadi yang halus, Dia juga menciumnya satu kali .

"Sungguh harum..." kata si bocah ceriwis .

Nona Pui terkejut setengah mati, Dia ingin meronta, namun dia hanya mengeluarkan jerita tertahan saking nyerinya .

Lukanya memang masih belum sembuh dan tidak boleh sembarangan bergerak, Meskipun demikian, tangan kirinya masih melayang juga ke pipi si bocah .

Plok! Terdengar suara gaplokan yang keras .

"Ah! Kau hendak membunuh suamimu" Kau tidak takut menjadi janda?" goda Siau Po sambil membalikkan tubuhnya dan terus mencium pipi Kiam Peng yang putih dan halus, "Hm! Sama harumnya! Setelah itu si thay-kam cilik melompat turun dari tempat tidur Terus dia berlari keluar dari kamarnya dan mengunci pintunya dari luar .

Kamar Siau Po terletak disisi ruang makan Raja, di sebelah selatan gudang, Karena itu dia berjalan menuju utara untuk mengitari pendopo Yang Sim-tian, kemudian belok ke kiri melintasi tiga ruangan kemudian melewati pintu Yang Hoa mui .

Pintu Sin An mui dan maju terus melalui keraton Siu an kiong yang terletak di sisi pendopo Eng Hoa tian, Lantas memutar lagi lewat pintu Si Tiat mui dan akhirnya keluar dari Sin Bu mui di sebelah utara .

Pintu adanya di bagian belakang Ci Kiam sia, kota terlarang, sekeluarnya dari istana dia langsung menuju kedai Kho Seng .

Begitu Siau Po duduk, seorang pelayan segera menghampirinya dan menyuguhkan teh hangat, setelah itu, Kho Gan-tiau berjalan perlahan mendekatinya dan melewatinya .

Namun ketika lewat dia mengedipkan matanya, Siau Po mengangguk .

Dibiarkannya orang itu berlalu .

"Kau pasti menunggu aku," pikirnya dalam hati, Dia meneguk tehnya beberapa kali, terus dilemparkannya uang di atas meja sembari berkata .

"Hari ini tidak ada tukang cerita.,." ia pun bangkit dan berjalan dengan tenang seperti Kho Gan-tiau tadi .

Di jalan raya, di sebelah ujungnya tampak Kh Gan-tiau berdiri menunggu .

Siau Po berjalan terus menghampiri Di samping ada dua buah joli, "Silahkan naik!" kata Go Tiau kepada Siau Po Kemudian dia naik ke atas joli lainnya, Dia berbuat demikian setelah menoleh ke sekitarnya dan yakin tidak ada seorang pun yang melihatnya .

Gerakan kaki si tukang gotong joli cepat sekali, mereka seperti dibawa terbang, Dalam sekejap mata mereka sudah sampai di tempat tujuan .

Siau Po melihat tempat itu merupakan halaman sebuah rumah, Di sini Gan Tiau masuk terlebih dahulu, dan dia pun mengikuti dari belakang, Begitu melintasi dinding berbentuk rembulan, di sana tampak berkumpul sejumlah anggota perkumpula Tian-te hwe, semuanya segera memberi hormat dengan menjura, Di antaranya terdapat, Hoan Kon Hong Ci-tiong, Hian Ceng tojin serta orang she Cian yang mengantarkan babi ke istana .

"Eh, Cian laopan!" sapa Siau Po sambil tertawa "Sebenarnya siapakah she dan nama besarmu?" Orang ditanya ikut tertawa .

"Sesungguhnya sebawahanmu ini memang she Cian, sedangkan nama belakangnya Lao Pun (ua pokok)." Siau Po tertawa tergelak .

"Kenyataannya kau memang cerdas dan pandai bekerja," puji Siau Po .

"Kalau berdagang, kau pasti untung terus!" "Ah... .

Wi hiocu hanya memuji saja..." kata si Cian tersenyum para anggota yang lainnya segera mengundang Siau Po masuk ke ruang tengah dan semuanya langsung duduk berkumpul .

"Wi hiocu, silahkan lihat!" kata Hoan Kong yang tidak sabaran .

Dia segera memperlihatkan sehelai kartu nama berwarna merah yang lebar .

"Tulisan itu.,." Siau Po berkata terus terang, tapi sikapnya memang jenaka," Mereka semua bisa melihat aku, tapi aku tidak mengenal mereka sama sekali Bahkan inilah pertemuan kita yang pertama!" "Hiocu, kartu itu merupakan sehelai surat undangan." kata Cian laopan menjelaskan "Kita diundang untuk menghadiri sebuah pesta perjamuan .

"Bagus!" sahut Siau Po .

"Pihak mana yang memberi muka terang kepada Tian-te hwe dengan undangannya itu?" "Menurut huruf-huruf yang tertera di atas surat undangan ini, orang yang mengundang kami adalah Bhok Kiam-seng!" kata Cian Lao Pun memberikan keterangan .

Siau Po langsung tertegun .

"Bhok Kiam-seng?" dia mengulangi nama itu sekali lagi .

"lya," sahut si Cian, "Dia adalah Siau ongya atau pangeran muda dari Bhok onghu." Sekarang Siau Po baru menganggukkan kepalanya .

"Oh, jadi dia itu kakaknya si babi hoa tiau hokleng itu?" "Benar!" kata si Cian .

"Dia mengundang kita semua?" tanya Siau Po kembali "Dalam surat undangan dia menulis dengan sungkan, Dia mengundang hiocu dari Ceng bo tong dan sekalian orang-orang gagah dari Tian Te Hwe untuk menghadiri perjamuannya, Waktunya malam ini, sedangkan tempatnya di lorong Si Kang cu ho tong." "Coba kau katakan, apa maksud undangannya ini?" tanya Siau Po kepada si Cian, "Mungkinkah dia mencampurkan obat bius dalam barang hidangannya nanti?" "Menurut tata krama, tidak mungkin dia melakukan perbuatan serendah itu," kata si Cia "Nama Bhok onghu dalam dunia kangouw sangat terkenal sedangkan Bhok Kiamseng juga seorang pangeran muda, Boleh bilang derajatnya sama dengan Tan Cong tocu kita, Meskipun demikian, ada pepatah yang mengatakan, rapat tiada yang sempurna, pesta tidak ada yang baik akhirnya, Karena itu, hiocu, apa yang hiocu khawatirkan, mau tidak mau kita harus menjaganya!" "Jadi kita pergi ke sana tanpa menyentuh makanannya sama sekali?" tanya Siau Po .

"Di sana toh ada masakan yang terkenal di Inlam dan kita harus mencicipinya!" Para hadirin saling menatap sekilas, Siau Po menjadi heran, Tidak ada seorang pun yang membuka suara sampai sekian lama .

"Kami semua mohon petunjuk dari Wi hiocu," kata Hian Ceng tojin akhirnya .

Siau Po tertawa .

"Ada arak yang harus, ada hidang yang lezat Malam ini kita harus mencicipinya, Untuk berjaga-jaga, sebaiknya kalian mengangkat aku sebagai ketua, Setelah kenyang bersantap, kita bisa berjudi dan berpelesiran dengan nona-nona manis! Aku yang menanggung seluruh biayanya! Tapi, kalau kalian ingin membantu aku berhemat, mari kita semua penuhi undangan keluarga Bhok itu!" Lucu sekali cara bicara Siau Po, tapi dengan demikian ucapannya jadi tidak jelas, Dia tidak memberikan keputusan apakah mereka harus memenuhi undangan keluarga Bhok atau tidak .

"Hiocu," kata Hoan Kong, "Menggembirakan sekali hiocu bersedia mengajak kami menghadiri pesta perjamuan undangan keluarga Bhok ini memang harus kita terima baik, Sebab kalau kita menolak, pasti akan mempengaruhi nama baik Tian-te hwe .

Bisa timbul anggapan kita ini pengecut dan nama baik perkumpulan kita akan runtuh...." "Jadi kau setuju kita pergi?" tanya Siau Po menegaskan .

Kemudian dia menoleh kepada Hian Cen tojin, Hong Ci-tiong, si Cian dan Kho Gan-tiau, Semua rekannya itu menganggukkan kepalanya, "Kalau semua sudah menyatakan persetujuan nya, nah.. .

Post a Comment