"Hm!" pikirnya dalam haii, "Dari jumlah ini, lohu harus mengambil setengahnya!" Benar saja, Dia segera menyisihkan lima laksa tail dan disusupkannya ke dalam saku pakaian, sedangkan isinya yang lima laksa tail lagi disusun rapi kemudian dibungkus kembali .
Setibanya di istana, mula-mula dia menemui raja di kamar tulis Gi Si pong, Dia memberi laporan tentang Go Eng-him yang menurutnya sangat menghormati dan memuji kebijaksanaan junjungannya itu dan pangeran itu merasa bersyukur sekali .
Kaisar Kong Hi tertawa .
"Hal ini pasti membuatnya terkejut sekali!" "Ya, dia memang kaget dan ketakutan!" sahut Siau Po ikut tertawa, "Setelah itu hamba bicara tentang para penyerbu yang ilmu silatnya telah Sri Baginda ketahui berasal dari keluarga Bhok .
Mendengar itu, Go Eng-him heran sekaligus gembira." Raja tertawa lagi, Siau Po segera mengeluarkan bungkusan berisi uangnya sambil berkata .
"Ya, Go Eng-him sangat bersyukur Dia memberikan sejumlah uang kertas yang katanya satu laksa buat hamba sendiri, sedangkan sisanya untuk dihadiahkan kepada para siwi yang telah berjasa menghadang dan menumpas para penyerbu, Nah, Sri Baginda, Dengan demikian, bukankah kami telah memperoleh untung besar?" Siau Po memperlihatkan uang kertas itu, semuanya berjumlah seratus lembar dan nilai masing-masingnya lima ratus tail .
Kaisar Kong Hi tertawa dan berkata: "Kau masih sangat muda, selaksa tail pasti tidak habis kau pakai seumur hidup, sisanya boleh kau bagi rata kepada para siwi itu!" Senang hati Siau Po mendengar keputusan junjungannya itu, tapi dia masih berpikir: "Sri Baginda memang cerdas sekali, tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau aku Wi Siau-po telah mempunyai uang sebanyak berpuluh laksa tail." Kemudian dia berkata kepada Raja: "Sri Baginda, perkenankanlah hamba mengatakan sesuatu, Bagi hamba, apa yang tidak tersedia" Asal hamba setia kepada Sri Baginda dan melayani dengan baik, Sri Baginda dapat memberi kehidupan mewah kepada hamba .
Karena itu, biarlah uang sebanyak lima laksa tail ini, semuanya dibagikan saja kepada para siwi dan kepada mereka nanti hamba akan mengatakan bahwa se mua ini adalah persenan dari Sri Baginda sendiri Mengapa kita harus memberi muka kepada orang seperti Go Enghim?" Sebenarnya tidak ada niat raja menghapus jasa orang .
Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah kebaikan Go Eng-him .
Tapi setelah mendengar kata-kata Siau Po yang mengatakan "memberi muka" kepada Go Eng-him," hatinya tercekat .
Meman benar, bila dikatakan uang sebanyak itu adala hadiah dari Go Eng-him, para siwi pasti senantia mengingat kebaikan pembesar dari Inlam itu .
Melihat Raja diam saja, Siau Po dapat menebak isi hatinya, Tanpa menanti rajanya berbicara, Siau Po segera berkata lagi .
"Sri Baginda, ketika Go Sam-kui menyuruh putranya datang ke kotaraja ini, dia pasti membekal uang dalam jumlah yang banyak sekali, Dan setiap bertemu orang, putranya itu pasti memberikan persenan, Karena itu, bukan tidak mungkin dia sengaja menanam kebaikan untuk mengambil hati .
Bukanlah dalam satu negara, meskipun seseorang itu uangnya banyak sekali, tetapi sebetulnya merupakan milik Sri Baginda" Maka itu, hamba pikir Go Sam-kui itu rada aneh, Dia seperti menganggap Inlam sebagai miliknya sendiri..." Kaisar Kong hi mengangguk mendengar kata-kata Siau Po .
"Baiklah!" katanya kemudian "Kau boleh katakan bahwa uang itu merupakan persenan dariku!" Siau Po merasa puas, Dia memohon diri terus keluar dari kamar tulis raja dan menuju tempat para siwi di mana di sana dia juga bertemu dengan To Lung .
"To Congkoan, Sri Baginda menitahkan agar para siwi yang tadi malam telah berjasa dibagikan uang sebanyak lima laksa tail ini!" katanya sambil menyerahkan uang itu .
To Lung senang sekali, Dia menerima uang itu dengan berlutut dan mengucapkan terima kasih .
Siau Po tertawa .
"Sekarang Sri Baginda sedang gembira hatinya, Karena itu, sebaiknya kau menghadap sendiri dan ucapkan terima kasih secara langsung!" To Lung menurut Bersama Siau Po, dia menuju kamar tulis raja, ia berlutut di hadapan kaisar Kong Hi sambil berkata .
"Sri Baginda telah menghadiahkan uang, karenanya hamba beserta para siwi menghaturkan banyak terima kasih!" Kong Hi menganggukkan kepalanya sembari tertawa .
Siau Po segera mewakili rajanya bicara .
"To congkoan, Sri Baginda menitahkan supaya semua uang yang jumlahnya lima laksa tail harus kau bagikan kepada para siwi yang telah berjasa tadi malam, Bahkan siwi yang terluka karena tugasnya diberi lebih banyak dari yang lainnya!" "Baik! Hamba menurut perintah!" sahut To Lung .
Melihat sikap Siau Po yang demikian cerdas, kaisar Kong Hi berpikir dalam hatinya .
"Siau Kui cu sangat setia dan pandai bekerja, otaknya cerdas sekali, Dia juga tidak tamak oleh harta .
Diberikannya semua uang yang berjumlah lima laksa tail itu kepada para siwi, sedangkan dia tidak memungut satu ci pun!" Sementara itu, Siau Po dan To Lung segera mengundurkan diri .
To congkoan menyisihkan uang sejumlah selaksa tail dan diserahkannya kepada Siau Po sambil berkata .
"Kui kongkong, sudilah kiranya kongkong menerima uang ini untuk dihadiahkan kepada para kongkong sebagai tanda bukti kami para siwi terhadap kongkong!" Siau Po tertawa .
"Oh, To congkoan, kata-katamu menandakan kau kurang bersahabat Aku Siau Kui cu, seumur hidup paling menghormati sahabat-sahabat yang berkepandaian tinggi, Kalau saja uang yang lima laksa tail tersebut dihadiahkan Sri Baginda kepada para pembesar sipil, biar bagaimana aku pasti akan mengambil barang satu atau dua laksa tail .
Tapi uang itu diberikan kepadamu, To congkoan, karena itu, biar kau memberikan setengahnya pun kepadaku, aku tidak akan menerimanya!" To Lung mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tertawa .
"Para siwi mengatakan di antara para kongkong, hanya Kui kongkong yang paling muda juga paling bersahabat Ternyata kata-kata mereka bukan bualan belaka!" Siau Po tersenyum .
"To congkoan," katanya seperti tiba-tiba teringat akan suatu hal, "Dapatkah kau memberitahukan kepadaku, apakah di antara para penyerbu yang tertawan itu ada seseorang yang bernama Lau It-cou atau tidak" Kalau ada, kita dapat mengorek keterangan darinya!" "Aku belum tahu, kongkong," sahut To Lung, "Baiklah nanti aku akan menyelidikinya." "Baiklah!" kata Siau Po yang terus mengundurkan diri .
Baru saja dia sampai di depan pintu kamarnya, seorang thay-kam datang memberikan laporan kepadanya .
"Kui kongkong, orang she Cian datang lagi membawa seekor babi yang diberi nama Te Hong jinsom ti .
Katanya sebagai hadiah untuk kongkong, Sekarang dia ada di dapur menunggu kedatangan kongkong," Siau Po mengernyitkan alisnya, pikirnya diam-diam: "Babi yang dulu, hoa tiau hokleng ti masih belum selesai urusannya, sekarang dia mengantarkan seekor lagi, Huh! Apa kau kira istana ini tempat penyimpanan babi-babi" Tapi dia toh sudah datang, bagaimana aku harus menolaknya?" Sembari berpikir demikian, Siau Po segera pergi ke dapur Di sana ia melihat wajah orang she Lian yang ramai dengan senyuman itu .
Malah ketika melihat Siau Po, dia langsung berkata: "Kui kongkong, babi hoa tiau hokleng ti itu benar-benar daging babi yang berkhasiat Lihatlah, setelah kongkong makan daging babi itu, wajah kongkong jadi bercahaya menandakan kesehatannya yang baik, Kongkong, aku bersyukur kongkong sudi membeli daging babi dariku, Karena itu sekarang aku membawakan lagi seekor babi yang diberi nama Te hong jinsom ti, ini dia babinya!" katanya sambil menunjuk ke samping .
Kali ini babi hidup yang dibawanya, BuIunya putih mulus dan bersih sekali di dalam kurungan-nya, babi itu jalan berputar-putar .
Siau Po menganggukkan kepalanya, Dia tahu orang itu sedang memberikan kisikan kepadanya, Sebab kedatangan Cian ini tidak mungkin tanpa maksud apa-apa .
Orang she Cian itu segera menghampiri Siau Po sambil mencekal tangannya, Sembari tertawa dia berkata: "Benar hebat pengaruh daging babi yang hamba antarkan tempo hari, Lihat, tenaga kongkong jadi besar dan nadinya berdenyut kencang!" Begitu kedua tangan mereka saling menyentuh, Siau Po dapat merasakan ada kertas yang dipindahkan ke tangannya, Dia segera menyambut kertas yang dirasa ada maknanya itu, namun dia masih buta apa kira-kira persoalannya, sedangkan di muka umum dia juga tidak ingin menanyakan apa-apa .
"Babi Te hong Jinsom ini lain lagi cara memakannya," kata Si Cian, "Tolong kongkong pesankan kepada perawat babi agar binatang itu diberi makan ampas arak selama sepuluh hari berturut-turut, Sampai waktunya aku akan datang lagi untuk menyembelih dan memasaknya buat kongkong!" Siau Po menjungkitkan sepasang alisnya .
"Babi hoa tiau hokleng saja sudah membuat seluruh tubuhku panas tidak karuan," sahutnya "Bagaimana lagi dengan jinsom ti ini" Nanti kau bawakan aku lagi Yan Oh ti! Saudara Cian, biar ka sendiri saja yang memakan nya, aku tidak mau!" Orang she Cian itu tertawa .
"Oh, kongkong, inilah tanda buktiku terhadap kongkong," katanya, "Lain kali aku tidak berani memusingkan kongkong lagi!" Dia lantas memberi hormat kemudian membalikkan tubuhnya untuk pergi .
Siau Po membiarkan orang itu berlalu, Dia berpikir keras .
"Pasti kertas ini ada tulisannya, Tapi, sekalipun hurufnya sebesar semangka, aku juga tidak mengenalnya, Bagaimana baiknya sekarang?" Siau Po tidak putus asa, Setelah memesan bawahannya untuk memelihara babi itu baik-baik, dia kembali ke kamarnya, Dia berkata lagi dalam hati "Si Cian ini sangat cerdik, pertama kali dia mengantar babi, di dalam babi itu dia menyembunyikan Siau kuncu, sekarang dia membawa babi hidup .
Hanya saja suratnya ini... .
Mau tidak mau aku harus minta bantuan Siau kuncu, Dasar celaka orang s Cian itu" Memangnya dia tidak bisa bicara langsung" Mengapa harus tulis surat segala?" Setelah membuka pintu, Siau Po masuk dalam kamarnya .
"Kui toako," kata Kiam Peng begitu melihat thaykarn cilik, "Tadi ada orang membawakan barang hidangan, Tapi rupanya dia melihat pintu kamar yang terkunci jadi dia pergi lagi tanpa mengetuk pintu." "Mengapa kau bisa tahu kalau dia datang mengantarkan barang hidangan?" tanya Siau Po sembari tertawa, "Ah! Tentu hidungmu mencium bau masakan yang lezat bukan" sekarang tentunya kau sudah lapar" Kenapa kau tidak makan kue saja?" Bhok Kiam Peng tertawa .
"Aku tidak malu-malu!" sahutnya, "Tadi aku sudah makan kue itu!" Siau Po tersenyum .
"Kui,., Kui toako.,." panggil Pui Ie .
"Apakah kau,.,?" Tiba-tiba si nona menghentikan kata-katanya .
Dia menjadi jengah .