Halo!

Kaki Tiga Menjangan Chapter 100

Memuat...

Setelah kembali ke dalam kamarnya, tanpa ragu-ragu lagi Siau Po menelan sebutir obat itu .

"Kui toako!" panggil Pui Ie .

"Bagaimana dengan Lau su.. .

ko?" "Oh, dasar perempuan bau!" maki Siau Po dalam hati, "Biasanya kau tidak pernah bersikap ramah kepadaku, sekarang kau melakukannya sebab ingin menanyakan keadaan sukomu, Malah kau memanggil aku Kui toako, sebaliknya aku gertak dulu dia!" Thay-kam gadungan inipun segera menggeleng kan kepalanya sambil menarik nafas panjang .

"Sayang.. .

sayang sekali.,." katanya .

Pui Ie terkejut setengah mati .

"Bagaimana?" tanyanya gugup, "Apakah dia terluka atau sudah mati" Cepat katakan!" Tiba-tiba si bocah nakal itu tertawa lebar-lebar "Oh, orang yang bernama Lau It-cou itu,., katanya memperlihatkan tampang cengengesan "Aku tidak kenal dengannya dan aku tidak pernah melihatnya .

Tapi kalau kau menanyakan tentang dia, baiklah! sekarang kau panggil dulu aku kong kong yang baik sebanyak tiga kali, Nanti aku past sudi melelahkan diri mencari tahu soal orang itu!" Pertama-tama Pui Ie memang terkejut sekali namun setelah mendengar nada suara Siau Po hatinya jadi agak lega .

Tapi dia tidak mau memanggil kongkong yang baik, dia hanya berkata .

"Kau selalu bicara tidak karuan! sebaiknya kau katakan terus terang saja! Katakanlah yang sebenarnya!" Siau Po tidak menjawab kata-katanya .

Dia malah ngelantur, "Hm! Kalau Lau It-cou itu jatuh ke tanganku, mula-mula aku akan meringkusnya kemudian aku hajar habis-habisan, Aku akan menanyakan kepada-nya, dengan rayuan manis apa dia dapat menipu serta mencuri jantung hatiku! Setelah itu aku akan mengangkat golokku tinggi-tinggi dan aku bacok-kan kepadanya, suaranya begini: Creppp!" Kiam Peng merasa tercekat hatinya .

"Apa?" tanyanya, "Apakah kau hendak membunuhnya?" "Bukan, bukan!" sahut Siau Po .

"Aku hanya ingin membacok kantong telurnya, dengan demikian dia akan menjadi orang kebiri!" Nona Bhok masih terlalu kecil, dia tidak mengerti apa yang dimaksudkan Siau Po, tapi Pui Ie langsung merah padam wajahnya .

Dia merasa jengah mendengar kata-kata seperti itu .

"Kau mengoceh sembarangan!" katanya .

"Lau sukomu itu kemungkinan sudah tertawan," kata Siau Po sambil tertawa, "Aku, Kui kongkong memang tukang bicara, tapi banyak orang yang suka mendengarkan perkataanku Nah, nona Pui, sekarang kau katakan, apakah kau ingin memohon bantuan dariku?" Kembali wajah gadis itu merah padam, Thay-kam cilik ini benar-benar jahil, pikirnya, "Eh, Kui toako," kata Kiam Peng turut memberi suara, "Kalau kau memang sudi memberikan bantuan, tidak perlu menunggu orang memintanya .

Bantuan yang tulus barulah tindakan seorang yang gagah!" Siau Po mengibaskan tangannya .

"Tidak! Kata-katamu salah!" sahutnya .

"Aku justru paling senang mendengar permohonan orang, Kalau orang memanggilku suamiku yang baik, apalagi dengan nada yang mesra, semakin suka aku membantunya!" Pui Ie menatap Siau Po lekat-lekat Dia benar-benar kewalahan menghadapi orang yang satu ini .

"Kui toako.. .

akhirnya dia memanggil "Toako yang baik, aku memohon bantuanmu!" Kembali timbul rasa iseng dalam hati Siau Po .

Dia menggoda lagi "Kau harus memanggil suami padaku!" katanya sambil tersenyum .

"Bicaramu keliru, Kui toako!" kata Kiam Peng .

"Suciku ini akan menikah dengan Lau suko, Karena itu Lau suko yang akan menjadi suaminya, Mana boleh suci memanggil suami kepadamu?" "Tidak bisa!" kata Siau Po .

"Kalau dia menikah dengan Lau It-cou, lohu cemburu! Iya, aku merasa tidak puas, aku iri!" "Kau tidak tahu, Kui toako," kata nona Bhok kembali .

Nadanya setengah membujuk "Lao suko itu orangnya baik sekali..." "Tidak!" bentak si bocah cilik .

"Justru karena dia baik, aku semakin iri! Aku cemburu sekali!" Berkata begitu, Siau Po tetap tertawa, Sembari meraih bungkusannya di atas meja, dia berjalan keluar, pintu kamarnya dikunci .

Dengan mengajak empat orang thay-kam sebagai pengiring, dia menunggang kuda menuju jalan Tiang An barat, istana yang dihadiahkan Raja untuk Peng Si ong, Ketika Go Eng-him mengetahui kedatangan utusan raja, dia segera keluar dan menjatuhkan dirinya berlutut .

"Sri Baginda menitahkan aku membawa beberapa barang untuk diperlihatkan kepadamu!" kata Siau Po langsung, "Siau ongya, nyalimu besar atau tidak?" "Nyali Pi cit (hamba yang berpangkat rendah) kecil sekali Pi cit tidak boleh terkejut sedikit pun," sahut Go Eng-him .

Siau Po menunjukkan mimik heran .

"Nyalimu kecil sekali sehingga tidak boleh terkejut sedikit pun?" tanyanya, "Tapi, apa yang kau lakukan justru begitu besar dan mengejutkan!" "Kongkong, Pi cit tidak mengerti apa yang kongkong maksudkan," sahut Go Eng-him .

Tolong kongkong jelaskan!" Ketika bertemu dengan Siau Po di istana Kong Cin ong, Go Eng-him tidak membahasakan dirinya Pi cit atau aku yang berpangkat rendah, Kalau sekarang dia menyebut dirinya demikian, karena Siau Po sebagai utusan raja, Lagipula dia dapat merasakan suasana yang kurang menguntungkan dirinya .

Siau Po tidak memberikan penjelasan Dia berkata lagi dengan tampang serius, "Tadi malam kau telah mengirim beberapa perusuh untuk menyerbu istana! sekarang Sri Baginda menitahkan aku menanyakan persoalan ini!" Sejak pagi harinya Go Eng-him sudah mendengar kabar tentang serbuan tadi malam .

sekarang mendengar kata-kata Siau Po, otomatis dia terkejut setengah mati .

Dari berlulut, tanpa sadar dia berdiri kemudian berlutut kembali sambil menyembah berulang kali menghadap arah istana kerajaan .

"Sri Baginda! Sri Baginda telah menurunkan budi yang besar kepada kami ayah dan anak, Meskipun menjadi kerbau atau kuda, sulit rasanya membalas budi yang demikian besar itu, Sri Baginda, budak Go Sam-kui dan Go Eng-him bersedia me ngorbankan jiwa dan raga untuk bekerja demi Sri Baginda, Tidak nanti hati kami berani bercabang dua!" Siau Po tertawa menyaksikan sikap orang itu .

"Bangun! Bangunlah!" katanya ramah, "Perlahan-lahan saja kau menyembah, semuanya masih belum terlambat Siau ongya, mari! Kau lihat dulu barang-barang yang aku bawa ini!" Sembari berkata, Siau Po membuka bungkusan nya .

Go Eng-him lantas bangkit untuk melihat is bungkusan yang terdiri dari senjata dan pakaian pakaian dalam otomatis dia jadi menggigil dan gemetar .

"Ini.. .

ini.,." suaranya bergetar dan ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya ketika membaca surat pengakuan para busu, Dia memaksakan dirinya membaca sampai habis, isinya ternyata pengakuan orang-orang yang tertawan, bahwa kedatangan mereka menyerbu istana adalah atas perintah Go Sam-kui .

Dengan demikian kelak Go Sam-kui akan mendapat dukungan untuk menggantikan kaisar Kong Hi yang harus dibunuh .

Meskipun otaknya cerdas, Go Eng-him tetap terkejut dan ketakutan Kedua kakinya jadi lemas dan sekali lagi dia jatuh berlutut "Kui... .

Kui.. .

kongkong..." panggilnya dengan suara bergetar "lni tidak benar! pastilah orang-orang itu sudah dihasut supaya memfitnah kami ayah,., dan anak! Kongkong, aku harap kau sudi menghadap Sri Baginda dan menuturkan urusan yang sebenarnya .

Sri Baginda cerdas dan bijaksana, Pasti kata kongkong akan didengarnya...." "Urusan ini sudah tersiar luas," kata Siau Po .

"So tayjin dan To tayjin telah menghadap Sri Baginda dan melaporkan pengakuan para penyerbu itu, Kau tahu sendiri, ini namanya pemberontakan durhaka terhadap junjungannya! siapakah yang bernyali demikian besar membicarakan urusan kepada Sri Baginda" Kau minta aku menghadap Sri Baginda, sebetulnya bukan tidak bisa, tapi untuk itu aku harus memikirkan cara yang sempurna .

Alasan apa yang bisa kukemukakan untuk membelamu, Sulit bukan?"

Mendengar suara bimbang, Go Eng-him sepert mendapat sedikit harapan, Hatinya senang sekali .

"Biar bagaimana, Pi cit mengharapkan bantua kongkong," katanya, "Ya, Pi cit hanya mengandalkan kongkong seorang!" "Kau bangunlah!" kata Siau Po .

"Mari kita bicara sembari berdiri!" Eng Him menurut, dia bangkit .

"Benarkah para penyerbu itu bukan orang orang suruhanmu?" "Pasti bukan!" sahut Go Eng-him tegas .

"Man berani Pi cit melakukan perbuatan durhaka dan memberontak seperti itu" Bukankah itu merupaka dosa tidak terampunkan?" "Baik," kata Siau Po .

"Aku senang bersahabat dengan mu .

Aku percaya padamu, Tapi ingat, kalau mereka memang orang-orangmu, selain menjerumuskan dirimu sendiri, kau juga menyeret aku!" "Aku tahu, kongkong .

Mereka pasti bukan orang-orangku!" kembali Eng Him memberikan kepastiannya .

"Siapa kira-kira orang yang ingin memfitnah kalian ayah dan anak?" tanya Siau Po .

"Sulit bagiku untuk menunjuknya, Kami mempunyai banyak musuh!" sahut Go Enghim bingung "Untuk memberikan penjelasan kepada Sri Baginda, kau harus menyebut nama salah seorang musuhmu," kata si kongkong, "Dengan begitu Baginda baru bisa menaruh kepercayaan atas apa yang kukatakan." "lya, kongkong memang benar .

Ayah Pi cit telah bekerja banyak demi kerajaan Ceng, tidak sedikit lawan yang telah ia robohkan, Karena itu bisa di mengerti kalau sisa-sisa lawannya masih membencinya sampai sekarang, Tentu saja mereka juga berusaha mengadakan pembalasan, Umpamanya sisa orang-orangnya Lie Cong, pangeran Tong Ong, Kui ong, Juga keluarga Bhok dari Inlam, Mereka-mereka itu pasti bisa melakukan hal apa saja." Siau Po menganggukkan kepalanya .

"Sekarang coba kau terangkan kepadaku tentang sisa-sisanya Lie Cong dan keluarga Bhok itu, Bagaimana tentang ilmu silat mereka" Dapatkah kau memperlihatkan beberapa jurus di antaranya agar aku dapat tuturkan di depan Sri Baginda nanti" Aku akan mengatakan kepada Sri Baginda bahwa itulah ilmu silat para penyerbu yang kau lihat tadi malam .

Post a Comment