Halo!

Jodoh Rajawali Chapter 173

Memuat...

Di antaranya mengapa dia berada di situ dan menjadi teman dari Pangeran Nepal dan yang menawan puteri itu. Hwee Li adalah seorang dara yang amat cerdik. Setelah usahanya yang gagal untuk membunuh Liong Bian Cu, dan melihat betapa pangeran itu tidak mendendam dan tetap mencintanya, dia tahu bahwa usahanya telah mencapai puncak dan jalan buntu. Dia tidak boleh mencoba lagi karena kalau sampai dia menimbulkan rasa benci dalam hati pangeran itu, dia tidak akan tertolong lagi. Kalau hanya dibunuh saja bukan apa-apa baginya, akan tetapi dia merasa ngeri kalau membayangkan betapa dengan kekuasaannya, pangeran itu bisa saja memaksanya dan memperkosanya. Dia kini mengandalkan cinta kasih pangeran itu untuk berada dalam keadaan aman dan tidak terancam keselamatannya.

Dia yakin bahwa karena cintanya, pangeran itu tidak akan memaksanya nenyerahkan diri sebelum menikah, dan sebagai seorang pangeran negara besar, tentu pangeran itu akan melaksanakan pernikahannya di negerinya, di Nepal. Maka, masih banyak waktu baginya dan masih banyak harapan untuk meloloskan diri, asal dia pandai membawa diri dan tidak memancing kebencian pangeran itu. Akan tetapi tentu saja dia tidak boleh bersikap terlalu manis karena kalau sampai pangeran itu memuncak rindu dan berahinya terhadap dia, bisa berabe dan berbahaya! Karena sikap Hwee Li yang tidak memberontak lagi, juga Syanti Dewi bersikap tenang dan sabar, maka kini mereka diperboleh-kan untuk mengunjungi keluarga Jenderal Kao Liang di dalam rumah tahanan mereka.

Pertemuan yang amat akrab dan mengharukan dan kini pertemuan-pertemuan itu merupakan hiburan besar bagi kedua fihak. Kao Kok Tiong sering kali nampak termenung di rumah tahanan itu, diam-diam amat mengkhawatirkan keadaan ayahnya. Jenderal ini tidak boleh menemui keluarganya, hanya diperbolehkan melihat dari jauh bahwa keluarganya selamat dan diperlakukan dengan baik. Kok Tiong maklum betapa hati ayahnya tersiksa hebat. Ayahnya terpaksa membantu pemberontak! Demi keselamatan keluarganya! Dia tahu bahwa andaikata ayahnya belum dipecat dan masih menjadi Panglima Kerajaan Ceng, sampai mati pun ayahnya tidak akan tunduk kepada pemberontak. Biar andaikata seluruh keluarganya disiksa dan dibunuh di depan hidungnya, ayahnya pasti tidak akan sudi untuk membantu pemberontak.

Dan sekarang, karena dia bukan Panglima Ceng lagi, dia terpaksa tunduk, untuk menyelamatkan keluarganya, akan tetapi tentu saja dengan batin tersiksa. Kok Tiong sendiri amat dicurigai oleh Pangeran Nepal sehingga dia dimasukkan dalam rumah tahanan keluarganya, tidak diperkenankan keluar dan bicara dengan ayahnya. Keadaan seperti itu lewat sampai berbulan-bulan dan benteng besar yang dibangun atas petunjuk Jenderal Kao Liang itu, yang dikerjakan siang malam, mulai mendekati kesempurnaannya. Hati para tawanan itu makin gelisah, harapan mereka untuk memperoleh pertolongan dari luar makin menipis, sungguhpun belum habis sama sekali. Selama waktu-waktu itu, untuk menghibur diri, Syanti Dewi memperdalam ilmu silatnya dari Hwee Li, sebaliknya, Hwee Li mempelajari banyak hal dari sang puteri, dari menyulam, melukis, menari dan bernyanyi.

Pelayan rumah penginapan itu buruk sekali mukanya. Tek Hoat sendiri sampai merasa heran dan kasihan mengapa ada seorang pria demikian buruk mukanya, rusak oleh penyakit cacar. Selain muka itu hitam dan bopeng, berlubang-lubang seperti kulit pohon dimakan rayap, juga matanya besar sebelah, hidungnya berbentuk besar dan melengkung, bibirnya tebal sekali dan basah, dahinya sempit seperti dahi monyet. Pendeknya, muka yang sama sekali tidak ada manisnya, biarpun tidak menakutkan,

Namun sukar menimbulkan rasa suka di hati, apalagi karena sepasang mata itu mempunyai sinar yang liar seperti mata seekor anjing kelaparan. Akan tetapi pelayan itu ternyata ramah sekali. Setelah Tek Hoat membayar uang sewa kamar di meja pengurus, peraturan yang harus ditaati semua tamu, yaitu pembayaran di muka, pelayan itu lalu mendapat tugas untuk mengantar Tek Hoat di kamar yang disewanya dan melayaninya. Setelah pelayan itu sambil menyeringai dan membungkuk-bungkuk mempersilakan dia mengikutinya, baru diketahui oleh Tek Hoat bahwa pelayan itu pincang kakinya dan ketika dia memperhatikan, ternyata kaki kirinya cacat, ada luka yang sudah mulai mengering di dekat tumit sehingga dia tidak dapat memakai sepatu, melainkan memakai sandal kayu yang mengeluarkan bunyi teklak-teklik ketika dia berjalan timpang.

"Heh-heh, di sinilah kamar Kongcu. Sunyi, karena kebetulan malam ini kurang tamu, Kongcu. Lihat, kamar di kanan kiri Kongcu juga kosong, jadi.... hehheh, aman deh!"

Tek Hoat yang memasuki kamar itu, sebuah kamar sederhana dengan sebuah pembaringan cukup besar untuk seorang saja, sebuah meja dan tempat air cuci muka, cepat menengok dan memandang muka buruk itu ketika mendengar ucapan itu.

"Cukup aman? Apa maksudmu?"

Tanyanya sambil menaksir usia orang. Sukar, menaksir usia wajah yang buruk itu. Mungkin tiga puluh, mungkin pula sudah lima puluh tahun lebih.

"Heh-heh-heh, aman, tidak akan ada yang mengganggu atau mendengar suara dari dalam kamar ini."

"Suara? Suara apa yang kau maksudkan?"

Tek Hoat bertanya lagi sambil mengeratkan alisnya. Kembali orang itu menyeringai lalu mengambil baskom tempat air yang berwarna biru itu. Dia berjalan ke pintu membawa baskom itu, menoleh dan menyeringai sambil tertawa.

"Tentu saja orang yang berpacaran mengeluarkan suara, bukan? Dan tentu akan merasa sungkan kalau di sebelah ada orang lain yang ikut mendengarkan."

Tek Hoat hendak membantah akan tetapi pelayan itu sudah keluar sambil berkata,

"Saya akan mengambilkan air. hangat untuk Kongcu."

Tek Hoat menjatuhkan diri duduk di atas pembaringan dan termenung. Hatinya masih terasa kesal dan mengkal karena sampai saat itu dia belum berhasil menemukan jejak kekasihnya, yaitu Syanti Dewi. Makin terasalah kini betapa dia amat mencinta Syanti Dewi, betapa sebetulnya dia hanya mempunyai semangat hidup karena puteri itulah.

"Heh-heh-heh....!"

Suara ketawa yang jelek ini menggugahnya dari lamunan dan pelayan itu sudah masuk lagi ke kamarnya membawa sebaskom air yang masih mengepulkan uap. Melihat air ini, Tek Hoat segera menghampiri baskom yang telah diletakkan di atas bangku, mengeluarkan sebuah saputangan lebar dari buntalannya dan mencuci mukanya. Terasa segar sekali air hangat itu ketika dia menggosok-gosokkan air di muka dan lehernya. Lenyaplah semua kemuraman yang amat mengganggunya tadi.

"Heh-heh-heh, Kongcu tampan sekali, sungguh cocok kalau berpacaran...."

Tek Hoat mengusap mukanya dengan keras, menggosok-gosok kulit mukanya sampai berwarna merah sekali. Setelah pikirannya kosong, setelah semua kenangan tentang Syanti Dewi lenyap oleh air panas dan oleh gosokan keras pada mukanya, dia merasa betapa segala sesuatu yang dihadapinya menjadi lebih menarik. Dia biasanya tidak pedulian, tidak mengacuhkan segala hal dan orang lain. Akan tetapi baru dia merasa betapa pelayan ini amat menarik hatinya dan menimbulkan ingin tahunya.

"Paman pelayan, jangan kau bicara yang bukan-bukan tentang suara pacaran dan lain-lain itu. Aku berada di dalam kamar ini sendirian tanpa kawan."

"Heh-heh, karena itulah Kongcu, maka saya menganggap bahwa sayang sekali seorang pemuda tampan seperti Kongcu sendirian saja di kamar ini untuk melewatkan malam yang dingin."

"Hemmm, aku memang sendirian. Habis bagaimana?"

"Ah, si Teratai Emas itu tentu merupakan lawan dan kawan yang amat cocok bagi Kongcu! Cantik jelita dan harum dia! Dan tidak sembarangan mau diajak orang, akan tetapi kalau Kongcu yang mengajaknya.... hemmm, tanggung puas!"

Sepasang mata Tek Hoat terbelalak.

"Apa maksudmu?"

Dia amat rindu kepada Syanti Dewi dan kini ditawari wanita untuk menemaninya! Padahal, bujukan dan rayuan seorang wanita cantik seperti Mauw Siauw Mo-li itu pun ditolaknya mentah-mentah!

"Maksud saya? Heh-heh, maksud saya.... Kongcu Muda dan tampan, malam ini di kamar sendiri, dan kamar-kamar di sekitar kamar ini kosong.... heh-heh, dan Teratai Emas itu sungguh cantik.... tentu akan mesra sekali...."

Tek Hoat kini mengerti dan dia cepat memberikan beberapa potong uang kepada pelayan itu.

"Pergilah!"

Katanya singkat karena dia tidak ingin diganggu lagi. Dia tidak melihat betapa pelayan buruk rupa itu memandang ke arah tangan yang menerima uang itu dengan girang sekali, mengangguk-angguk lalu pergi dari situ. Tek Hoat lalu menutupkan daun pintunya. Tubuhnya terasa enak setelah dia mencuci muka, leher, kedua lengan dengan dengan air hangat. Dia sudah makan tadi, dan tubuhnya lelah. Kini terasa segar dan nyaman, membuat dia merasa mengantuk sekali. Direbahkannya tubuhnya di atas pembaringan, terlentang dan menerawang langit-langit kamar itu yang berwarna putih. Wajah Syanti Dewi membayang! Makin dipandang, makin rindulah hatinya. Cuaca mulai gelap karena matahari mulai tenggelam sehingga sinarnya tidak menerangi kamar itu melalui lubang jendela. Akan tetapi dia merasa malas untuk bangkit dan menyalakan lilin, membiarkan saja kamar itu menjadi makin remang-remang gelap.

"Tok! Tok! Tok!"

Tek Hoat tergugah lagi dari keadaan yang hampir pulas. Sialan, pikirnya, siapa lagi yang mengganggu?

"Siapa?"

Tanyanya, memandang ke arah daun pintu yang hampir tidak kelihatan karena kamar itu sudah mulai gelap.

"Saya, Kongcu...."

Si pelayan buruk rupa sialan lagi!

"Ada apa lagi?"

"Ssssst, penting Kongcu. Sudah datang....!"

Tek Hoat yang masih setengah sadar setengah layap-layap itu tidak ingat apa-apa lagi tentang sore tadi. Dia merasa heran dan ingin tahu.

"Masuklah, daun pintunya tidak terpalang,"

Katanya. Bunyi daun pintu berderit ketika dibuka dari luar. Nampak dua sosok tubuh sebagai bayangan memasuki kamar itu. Yang satu adalah bayangan tubuh pelayan muka buruk, dan yang satu lagi bayangan tubuh yang kecil ramping. Tek Hoat menjadi curiga dan biarpun dia masih rebah terlentang, namun dia siap siaga.

"Aih, begini gelapnya, Kongcu. Kenapa lilin yang tersedia di atas meja tidak dinyalakan? Biar saya nyalakan!"

Pelayan itu menyalakan api dan lilin dinyalakan. Cuaca remang-remang mulai terusir dan dengan mata terbelalak Tek Hoat memandang dan melihat bahwa orang yang ke dua itu adalah seorang wanita muda yang amat cantik! Pantas saja ada bau harum ketika pintu kamarnya tadi dibuka.

"Kongcu, inilah dia, Kim Lian (Teratai Emas).... heh-heh!"

Pelayan itu bergegas keluar dan menutupkan daun pintu dari luar. Wanita itu mengambil tempat lilin, menaruhnya di sudut meja dekat pembaringan, lalu memutar tubuh menghadapi Tek Hoat. Begitu dia melihat wajah Tek Hoat, sepasang matanya yang indah itu terbelalak dan dia cepat menghampiri.

"Aihhhhh.... kiranya Kongcu benar-benar tampan sekali....! Girang hatiku mempercayai omongan A-khiu bahwa Kongcu amat tampan!"

Wanita itu lalu duduk di tepi pembaringan, memandang wajah Tek Hoat, lalu tubuh atas pemuda itu telanjang, kemudian sambil tersenyum wanita itu menjatuhkan dirinya di atas dada Tek Hoat dan mendekatkan mulutnya hendak mencium bibir pemuda itu. Bau harum mendesak hidung pemuda itu. Tek Hoat miringkan mukanya dan mendorong kedua pundak wanita itu sehingga hampir saja gadis itu terjengkang.

"Perempuan tak tahu malu! Perempuan tak mengenal susila!"

Bentaknya marah sambil menyambar bajunya, terus dipakainya baju itu dan dia meloncat turun ke atas lantai, pandang matanya keras dan muak. Gadis itu menundukkan mukanya. Seorang gadis yang cantik sekali, usianya paling banyak dua puluh tahun, rambutnya digelung indah mengkilap, terhias bunga teratai dari emas, tubuhnya ramping dan lemah gemulai gerak-geriknya, wajah dan tubuh yang terpelihara baik-baik, terbungkus pakaian dari sutera merah muda yang berkembang, menambah kecantikannya. Kemudian dia mengangkat mukanya yang menjadi merah.

"Kongcu, perlukah seorang wanita seperti saya untuk merasa malu? Haruskah seorang wanita seperti saya untuk me-ngenal susila?"

Tanyanya dengan suara halus bernada menegur sehingga Tek Hoat tertegun. Akan tetapi lalu pemuda ini dapat menduga ke adaan wanita itu, maka dia menjatuhkan diri duduk di atas kursi sambil bersungut-sunsgut.

"Huh, kiranya seorang pelacur! Sampah masyarakat!"

Sepasang mata yang bening indah itu mengeluarkan sinar dan tarikan muka yang manis itu membayangkan rasa penasaran seperti orang yang tersinggung kehormatannya, dan mulut yang bibirnya berbentuk indah itu berkata, suaranya halus namun dingin,

Post a Comment