Tiba-tiba pandang mata pangeran itu menjadi tajam sekali dan jantung Tang Hun berdebar. Pangeran ini memiliki sepasang mata yang aneh, tajam dan menyeramkan. Sorbannya yang besar itu tengahnya, di atas dahi, dihias dengan sebuah mutiara yang besar dan bercahaya, berkilau-kilauan agak kebiruan. Mutiara yang amat besar dan amat jarang terdapat. Akan tetapi agaknya, dari dua buah mata yang kehitaman itu mencorong sinar yang lebih menyilaukan daripada mutiara itu.
"Tang-kongcu,"
Kini suara pangeran itu berbeda dengan tadi, tidak lagi ramah dan halus melainkan kaku dan dingin,
"Tahukah engkau siapa adanya Syanti Dewi?"
Mendengar pertanyaan itu Tang Hun terkejut dan kini dia melihat betapa ada tiga pasang mata yang memandang dengan sinar mata tajam dan penuh ancaman, yaitu tiga pasang mata dari pangeran itu sendiri, Koksu Nepal dan kakek Gitananda! Dengan gugup dia menjawab,
"Saya.... saya hanya mendengar dia dari Bhutan dan...."
"Dia adalah Puteri Syanti Dewi, puteri tunggal dari Raja Bhutan! Tahukah kau apa artinya ini? Berarti engkau hendak menghina Bhutan dan karena Bhutan serumpun dengan Nepal, maka engkau seolah-olah hendak menghina Nepal!"
"Tidak.... bukan begitu maksud saya,"
Tang Hun berkata cepat.
"Sebetulnya saya tidak tertarik oleh kebangsaannya, melainkan oleh pribadinya, maka...."
"Cukup, Tang-kongcu!"
Tiba-tiba terdengar suara Ban-hwa Seng-jin, Koksu Nepal itu.
"Hendaknya Tang-kongcu membuang jauh-jauh pikiran itu kalau Kongcu ingin selamat. Puteri Syanti Dewi dari Kerajaan Bhutan adalah menjadi tamu agung kami di sini, apakah Kongcu berani hendak menghina dan mengganggu beliau?"
Tang Hun terkejut bukan main. Tidak pernah terpikir olehnya sedemikian jauhnya. Dia memang mendengar bahwa Syanti Dewi berasal dari Bhutan dan kabarnya seorang puteri, akan tetapi hal itu tidak begitu penting baginya, apalagi karena bagi dia dan sebagian besar di antara bangsanya, bangsa-bangsa asing di barat hanyalah bangsa-bangsa yang derajatnya rendah! Baginya yang terpenting adalah kecantikan Syanti Dewi yang membuatnya tergila-gila. Dia tidak peduli apakah dara itu puteri raja ataukah puteri pengemis! Akan tetapi, ternyata persoalannya tidaklah sesederhana yang disangkanya dan dia kini dianggap melakukan penghinaan, terhadap bangsa Bhutan dan Nepal!
"Ah, maafkan saya...., saya tidak tahu sama sekali akan hal itu.... dan setelah mendengar penjelasan Paduka Pangeran dan Koksu, tentu saja saya tahu diri dan tidak akan melanjutkan keinginan saya."
"Bagus! Ternyata Tang-kongcu adalah seorang yang bijaksana dan dapat diajak bersahabat!"
Pangeran Liong Bian Cu berseru girang.
"Kami pun jauh-jauh datang dari barat sekali-kali bukan mencari untuk musuh, melainkan mencari kawan untuk bersama-sama menghadapi Kerajaan Ceng. Bagaimana Tang-kongcu, dapatkah kami mengharapkan bantuan Kongcu dan Liong-sim-pang?"
Wajah Tang Hun yang tadinya agak muram karena lenyapnya harapan hatinya untuk dapat memperisteri Syanti Dewi, kini berseri. Dia melihat kesempatan yang baik sekali untuk mencari kedudukan dan tentu saja menambah besarnya kekayaannya. Sekarang, biarpun dia kaya raya namun dia tidak memiliki kedudukan, bukan bangsawan melainkan orang biasa. Agaknya hal inilah yang tidak memungkinkan dia menikah dengan seorang puteri! Berbeda tentu kalau dia memiliki kedudukan tinggi di samping harta kekayaan, kekuasaan dan kepandaiannya.
"Tentu saja saya merasa terhormat sekali dan suka membantu perjuangan Paduka Pangeran. Memang telah lama saya mendengar betapa kaisar yang tua amat lemah, kekacauan terjadi di mana-mana dan bahkan kabarnya Gubernur Ho-nan...."
Tiba-tiba dia berhenti dan memandang kepada Jenderal Kao Liang yang duduk sambil menundukkan mukanya seolah-olah sama sekali tidak ingin mencampuri percakapan itu dan tidak ingin mendengarkan pula. Melihat ini, Pangeran Nepal itu tertawa.
"Lanjutkan, Tang-kongcu, dan jangan khawatir terhadap Jenderal Kao karena dia pun menjadi korban kelaliman kaisar yang menjadi boneka di bawah pengaruh pembesar-pembesar jahat."
Tang Hun menarik napas panjang.
"Saya hanya mendengar desas-desus saja bahwa Gubernur Ho-nan juga memperlihatkan sikap menentang kaisar dan banyak komandan di perbatasan yang tidak merasa puas...."
"Berita itu memang benar, Kongcu. Bahkan kami telah mengadakan persekutuan dengan Gubernur Ho-nan.".
"Ah, bagus sekali....!"
"Kami hanya menanti saat yang tepat saja untuk mulai dengan gerakan kami, gerakan serentak dari segenap penjuru untuk menyerbu kota raja. Maka kalau engkau suka membantu, Tang-kongcu, kami akan menerima dengan kedua tangan terbuka."
"Tentu saja saya akan membantu, akan tetapi imbalannya kelak?"
Tang Hun adalah seorang yang cerdik, maka melihat betapa pangeran ini sudah bersikap terbuka kepadanya, dia maklum bahwa dia tidak akan dapat melepaskan diri dari pengaruh pangeran ini. Setelah dipercaya mendengarkan pengakuan itu semua, tentu Pangeran Nepal itu tidak akan mau melepaskan dia begitu saja dalam keadaan hidup, kecuali kalau dia menyatakan kesanggupannya untuk membantu, akan tetapi dia pun bersikap terbuka dan lebih dulu menanyakan imbalan atau ganjarannya kelak! Koksu Nepal mengangguk-angguk dan melirik ke arah Tang Hun.
"Hemmm, Tang-kongcu memang seorang yang cerdik. Akan tetapi sekali lagi, jangan Kongcu mengharapkan diri Puteri Bhutan, karena ketahuilah bahwa di samping beliau menjadi tamu agung kami, juga Puteri Bhutan adalah seorang sandera yang tidak ternilai harganya. Melalui Sang Puteri itu kami bermaksud menundukkan Bhutan. Maka, siapapun yang mengganggu sandera kami itu, berarti menghalangi perjuangan kami."
"Ah, Koksu. Setelah mendengar penjelasan tadi, saya sudah membuang pikiran untuk mendapatkan Sang Puteri itu."
"Bagus, kalau begitu Tang-kongcu boleh melegakan hati. Kalau perjuangan kita bersama ini berhasil baik kelak, tentu kami tidak akan melupakan Kongcu dan andaikata Kongcu menghendaki kedudukan, Kongcu tinggal memilih saja!"
Kata Pangeran Liong Bian Cu dengan suara dan wajah serius. Tang Hun menjadi girang sekali dan menghaturkan terima kasih. Kemudian dia berkata,
"Setelah saya menjadi pembantu pergerakan Pangeran, tentu semua anak buah Liong-sim-pang juga ikut pula membantu. Pangeran boleh mengandalkan mereka, karena mereka adalah orangorang yang telah dilatih dan masing-masing perajurit mempunyai kepandaian silat yang lumayan. Akan tetapi tiga orang pembantu saya ini harap diberi kedudukan sesuai dengan kepandaian mereka."