Halo!

Darah Pendekar Chapter 128

Memuat...

! Padahal, kalau tidak ada perang, tidak seorangpun membutuhkan damai! Jadi, bukan

damai yang perlu dikejar-kejar, melainkan perang yang perlu dihentikan atau dibuang jauh - jauh. Demikian pula dengan golongan yang baik dan yang jahat. Kaum pendekar yang "baik" ini me-nentang kaum yang dianggap jahat, kalau perlu dengan jalan kekerasan, bahkan membunuh. Akan tetapi, mungkinkah kejahatan dapat dibunuh atau dibasmi ? Orangnya tentu dapat dibunuh atau disik-sa, akan tetapi kejahatan itu letaknya bukan di luar atau di tubuh, melainkan di dalam batin! Jadi, yang diobati haruslah batinnya kalau kita ingin melihat kejahatan lenyap. Kejahatan seperti penya-kit, harus kita usahakan agar penyakitnya itu le-nyap.

Bagaimanapun juga, setelah kita terseret ke da-lam kebudayaan seperti sekarang ini, di mana kita terbelenggu oleh dualisme - dualisme yang saling berlawanan, kita dapat melihat bahwa segala hal-hal negatip ini bukannya tidak ada manfaatnya ! Karena adanya kebodohan maka timbul gairah un-tuk belajar. Karena ada kemiskinan maka timbul perjuangan untuk memperoleh kemajuan dalam materi. Karena ada ancaman neraka maka timbul usaha untuk memperoleh sorga, dan sebagainya. Dan apakah artinya kekayaan kalau tidak ada ke-miskinan ? Kalau kita semua manusia di seluruh dunia ini kaya, siapakah yang akan dapat menik-mati kekayaan lagi ? Kalau tidak ada kebodohan, apa lagi artinya menjadi orang pintar ? Bahkan setelah kita memasuki lingkaran setan dalam kebuda-yaan kita sekarang ini, jangankan orang - orang ma-cam Tujuh Iblis itu, bahkan Setan sendiripun bukan tidak ada manfaatnya! Adanya Setan menjadi pendorong bagi manusia untuk berpaling dan men-cari Tuhan! Andaikata tidak ada Setan, andaikata tidak ada dosa, mungkinkah manusia mencari Tu-han lagi ? Untuk apa ?

Karena ucapan Si Kelabang Hijau itu menda-tangkan kebingungan, maka Yap - lojin lalu berseru kepada puteranya, "Kim - ji, katakan saja, engkau hendak ikut ayahmu pulang ataukah engkau akan tinggal bersama dia selamanya ? Jawab !" Yap Kim kebingungan. Selama dia berkelana bersama Kelabang Hijau, dia merasakan kehidupan yang lain. Dia merasa bebas dan tidak ada ikatan apapun, tidak ada penghalang - penghalang berupa peraturan - peraturan dan pantangan - pantangan, hidup bebas seperti burung di udara, melakukan apa saja yang dibisikkan oleh hatinya, bicara apa saja yang dikehendaki hatinya. Akan tetapi, sejak kecil dia digembleng oleh ayahnya untuk menjadi pendekar dan dia tahu bahwa jawabannya ini akan merupakan keputusan. Dan bagaimanapun senang-nya hidup seperti ketika dia berkelana dengan Ke-labang Hijau, tidak mungkin dia dapat melepaskan ayahnya begitu saja.

"Aku ikut bersama ayah," jawabnya lirih.

"Kalau begitu, mari kita pergi dari neraka ini! kata Yap - lojin.

"Silahkan naik ke perahu kami, locianpwe," ka-ta Siok Eng dan semua orang naik ke dalam perahu besar itu. Dayung digerakkan, layar dipasang dan perahu itu meninggalkan pantai pulau diiringi suara ketawa bergelak - gelak oleh. Kelabang Hijau yang berdiri di pantai dengan kedua kaki terpentang le-bar dan kedua tangan di pinggang. Tak seorangpun di atas perahu itu melihat betapa kedua mata kakek pendek gendut itu menjadi basah ketika dia melihat Yap Kim ikut terbawa pergi oleh perahu itu.

*

* *

Perahu itu melaju dengan cepatnya. Layar ter-kembang penuh didorong angin. Semua orang me-rasa lega hatinya. Ho Pek Lian bergidik, merasa ngeri hatinya.

"Ih, aku tidak mau lagi pergi ke pulau-pulau itu. Benar - benar mengerikan sekali! Heii, kenapa gatal amat ?" Iapun menggaruk punggung tangan-nya dan melihat bercak-bercak putih. Teriakan-nya disusul oleh teriakan Siok Eng dan Bwee Hong.

"Celaka, ini racun lebah putih itu !" seru Siok Eng.

"Saya saya kedinginan " kata seorang anggauta Tai - bong - pai kepada Siok Eng. "Saya juga, nona " kata yang ke dua dan

disusul oleh yang ke tiga. Muka mereka pucat kehijauan dan tubuh mereka menggigil. "Hemm, itu tentu pukulan Si Kelabang Hijau, pukulan beracun kelabang hijau!" kata pula

Siok Eng.

"Hemm, kakiku juga terasa panas dan gatal ga-tal !" Kiong Lee juga berkata dan ketika dia me-nyingkap celananya, kakinya nampak ada totol-to-tol merah.

"Gigitan semut merah !" seru Siok Eng. "Racun-nya juga jahat sekali!"

Semua orang kebingungan, akan tetapi Yap-lo-jin tetap tenang dan tiba - tiba dia bertanya kepada Pek Lian dan Siok Eng, "Bukankah kalian masih mempunyai obat penawar racun cairan kuning dari Ban - kwi - to itu ?"

"Aihh, benar ! Kenapa kita lupakan obat

itu, adik Eng ?" teriak Pek Lian yang memegang lengan Siok Eng. Puteri ketua Tai - bong - pai ini-pun menjadi girang dan cepat mengeluarkan sisa obat cairan kuning yang diambilnya dari kamar Te-tok-ci itu. Semua orang yang keracunan diberi obat ini dan sungguh amat luar biasa sekali! Agak-nya memang obat itu khusus dibuat oleh Te-tok-ci untuk melawan segala macam racun yang ada di Ban - kwi - to, karena begitu memakai obat ini, semua orang sembuh. Bahkan Chu Seng Kun dan A-hai juga sembuh dari kehilangan ingatan mereka,

walaupun tubuh mereka, terutama Seng Kun, masih terasa lemah !

Begitu keduanya diberi minum obat ini, kedua orang pemuda ini segera tertidur pulas setengah pingsan, demikian pula yang lain - lain karena ke-rasnya obat itu bekerja. Orang terakhir yang siu-man dari pingsannya adalah A - hai dan Seng Kun Akan tetapi karena A - hai memang sudah lebih dulu linglung, maka ketika sadar diapun masih tetap lupa segala, kecuali Pek Lian dan Bwee Hong! Begitu melihat Pek Lian, dia tersenyum dan cepat bangkit berdiri, memandang dengan wajah berseri.

"Engkau nona Pek Lian !" kata- nya girang. Pek Lian juga memandang dengan ter- senyum manis.

"A - hai, engkau sudah sembuh !"

Akan tetapi A-hai memandang ke sekeliling dan ketika dia melihat Bwee Hong, terdengar se- ruan heran dan kaget di kerongkongannya dan dia-pun melangkah maju menghampiri gadis ini, me-mandang bengong lalu berkata bingung, "Nona ....

nona ?"

Bwee Hong tersenyum, mengangguk. "Namaku Chu Bwee Hong."

"Chu Bwee Hong Chu Bwee Hong "

A-hai berulang-ulang menyebut nama itu lirih-lirih seperti seorang anak kecil sedang menghafal tiga buah huruf baru. Semua orang memandang kepadanya dengan hati kasihan sekali, akan tetapi, sungguh Pek Lian merasa heran kepada diri sendiri mengapa sikap A - hai itu mendatangkan rasa tidak enak di hatinya! Ia merasa seolah - olah tidak di-perdulikan lagi oleh A - hai dan pemuda itu kini duduk dekat Bwee Hong seperti seekor anjing yang tidak mau jauh dari majikannya! Ia merasa iri

ataukah cemburu ? Ia sendiri tidak tahu, akan tetapi yang jelas, ia merasa betapa hatinya tidak sedap.

Seng Kun sadar paling akhir karena dialah yang paling banyak terkena racun dari Kepulauan Ban-kwi - to. Begitu sadar dia bangkit duduk dan terhe-ran-heran melihat semua orang berkumpul di da-lam perahu, merubungnya. Akan tetapi, wajahnya berseri gembira ketika dia melihat adiknya.

"Hong - moi !"

"Koko !" Dara yang cantik jelita itu mem-

biarkan dirinya dirangkul oleh kakaknya.

"Nona Ho ! Dan engkau saudara A - hai! Syu-kurlah kalian juga selamat!" kata Seng Kun. Akan tetapi dia melihat Yap - lojin, Kiong - Lee dan juga Siok Eng. Alisnya berkerut memandang Yap-lojin dan Kiong Lee yang tak dikenalnya.

"Koko, ini adalah Yap - locianpwe, ketua Thian-kiam-pang dan ini adalah saudara Yap Kiong Lee, putera beliau. Mereka berdua telah menyelamat-kan aku dari ancaman bahaya tenggelam di lautan."

"Ah, sungguh besar budi ji - wi yang telah me-nyelamatkan nyawa adikku," ' kata Seng Kun

yang

cepat - cepat menjura dengan hormat. Tentu saja Yap - lojin dan muridnya cepat membalas

penghor-matan itu.

Pada saat itu, terdengar suara halus, "In - kong, kami menghaturkan selamat dan hormat."

Seng Kun memandang dan dia melihat seorang gadis cantik bersama semua anak buah perahu yang terdiri dari wanita - wanita cantik, berlutut di de-pannya ! Seng Kun mengerutkan alisnya dan dia tidak ingat lagi kepada gadis cantik itu.

"Koko, ia adalah Kwa Siok Eng, puteri dari ke-tua Tai-'bong-pai yang pernah kita obati dahulu itu."

"Ahhh !" Seng Kun teringat dan kedua

mukanya menjadi merah. Dia bukan hanya merasa jengah teringat kepada dara yang hampir mati, yang diobati olehnya dan oleh ayah bundanya yang ter-nyata kemudian hanyalah paman kakeknya suami isteri, dan pengobatan itulah yang mengakibatkan matinya dua orang tua itu. Dia merasa jengah mengingat betapa gadis ini dahulu telanjang bulat di depan matanya ketika diobati, akan tetapi di samping rasa malu - malu ini, juga dia teringat akan kematian paman kakek dan isterinya itu, yang su-dah dianggapnya sebagai orang tua sendiri.

"In - kong (tuan penolong), perkenankanlah saya menghaturkan terima kasih atas pertolongan in-kong dahulu, yang in - kong lakukan dengan pe-ngorbanan yang teramat besar." Seng Kun menggerakkan tangan menolak. "Su-dahlah, nona, harap jangan memakai banyak per-aturan dan sungkan - sungkan. Kita berada di an-tara teman sendiri dan sudah seharusnyalah kalau selagi hidup kita saling bantu-membantu."

Sikap yang sederhana dan halus dari pemuda ini mendatangkan rasa kagum dalam hati Yap

- lojin dan muridnya, apa lagi mengingat bahwa pemuda inilah ahli waris utama dari ilmu - ilmu sakti yang dimiliki oleh mendiang Raja Tabib Sakti!

Kalau semua orang ikut terharu menyaksikan adegan ini, adalah A - hai yang bersikap tidak per-duli, bahkan seperti orang bingung dia hanya duduk memandang wajah Bwee Hong yang cantik jelita itu, membuat Bwee Hong kadang - kadang tersipu malu, akan tetapi membuat hati Pek Lian merasa semakin tidak enak saja.

Malam itu lewat tanpa peristiwa yang berarti. Perahu mereka melaju, cepat sekali menuju ke ba-rat, ke arah daratan besar. Karena lautan cukup tenang dan angin kuat, perahu mereka dapat mela-ju dengan amat cepatnya. Setelah berlayar sehari lagi, menjelang senja mereka sudah dapat melihat daratan besar, merupakan garis hitam di barat. Tentu saja hati mereka merasa gembira setelah lama mereka merantau di lautan ganas dan di anta-ra pulau-pulau yang mengerikan. Hanya dua orang yang nampak tidak gembira, yaitu Yap Kim dan Pek Lian. Agaknya pemuda putera tunggal ketua

Thian - kiam - pang itu merasa kehilangan kebebas-annya setelah dia kembali ke "dunia sopan" di mana dia terikat oleh peraturan - peraturan, tidak seperti ketika dia berada di dunianya Si Kelabang Hijau yang serba bebas. Sedangkan Pek Lian me-rasa gelisah memikirkan ayahnya yang juga belum dapat ditemukan, walaupun ia telah berkumpul kembali dengan Seng Kun dan Bwee Hong.

"Heiiii! Perahu besar di depan !" Tiba-

Post a Comment