Akan tetapi, agaknya para pengejar itu juga ti-dak terlalu berani sehingga pengejaran mereka itu dilakukan dari jarak jauh saja sehingga memudah-kan Yap - lojin dan rombongannya untuk melarikan diri. Setelah mereka keluar dari mulut terowongan dan tiba di pulau tempat kediaman Kelabang Hi-jau, Yap - lojin dibantu Kiong Lee lalu menggu-nakan tenaga sinkang mereka menggempur batu karang di mulut terowongan sehingga batu - batu itu terbongkar dan terowongan itu. tertutup !
"Inikah pulau di mana puteraku berada ?" tanya Yap - lojin.
"Benar, locianpwe. Inilah tempat tinggal Thian-te Tok-ong atau Ceng - ya - kang Si Kelabang Hi-jau tokoh ke lima dari Tujuh Iblis itu," jawab Pek Lian. Mereka lalu memasuki bangunan yang ber-ada di tengah pulau. Akan tetapi, ternyata rumah itu kosong dan biarpun mereka telah mencari ke seluruh pulau itu, namun mereka tidak dapat me-nemukan bayangan Si Kelabang Hijau maupun ba-yangan Yap Kim. Tentu saja Yap - lojin dan kawan-kawannya menjadi kecewa sekali.
"Tentu iblis itu telah tahu akan kedatangan kita maka dia sudah lebih dahulu melarikan diri meng-ajak putera locianpwe," kata Pek Lian.
Pada saat itu, terdengar bunyi terompet kapal ditiup nyaring. Mendengar ini, Kwa Siok Eng ter-belalak. "Ah, itu suara kapalku berada dalam ba-haya. Dayang-dayangku memanggil agar aku se-gera kembali ke perahu kami."
Rombongan itu lalu berlari-lari ke arah di mana perahu besar Tai-bong-pai itu disembunyikan. Seperti kita ketahui, ketika Siok Eng dan Pek Lian meninggalkan perahu, para dayang atau anak bu-ah Tai - bong - pai itu oleh Siok Eng diperintahkan untuk menunggu dan bersembunyi di situ sampai ia kembali.
Ketika rombongan ini sedang berlari menuju ke pantai di mana perahu itu disembunyikan, di jalan mereka bertemu dengan seorang anak buah Tai-bong - pai yang terhuyung - huyung dan mukanya
kehijauan. "Siocia perahu kita dirampas seorang gendut dan seorang pemuda " dan dayang itu terguling dan terkulai, tewas.
"Si Kelabang Hijau !" Siok Eng berseru
marah melihat tewasnya anak buahnya dengan muka kehijauan itu. Ia tahu bahwa itulah akibat pukulan yang mengandung racun kelabang hijau yang amat ganas. Mereka lalu mempercepat lari mereka ke arah pantai dan benar saja, di atas pe-rahu besar itu nampak belasan orang anggauta Tai-bong - pai kewalahan menandingi seorang kakek gemuk pendek dan berkepala gundul yang lihai sekali.
"Iblis keparat, berani engkau mengacau orang-orang Tai - bong - pai ?" Siok Eng membentak ma-rah dan ia mendahului yang lain, menerjang ke atas perahu dan langsung menyerang kakek gundul pendek itu.
"Plak - plak - plakk !" Tiga kali tamparan Siok Eng dapat ditangkis oleh Si Kelabang Hijau akan tetapi kakek itu repot juga menghadapi kecepatan gerakan dara Tai - bong - pai ini.
"Wah - wah - wah, galaknya !" Dia berte- riak - teriak dan berloncatan ke belakang. "Yap- kongcu, bantulah !"
Tiba - tiba berkelebat bayangan orang dari da- lam bilik perahu dan seorang pemuda menerjang Siok Eng untuk membantu kakek gendut pendek itu. Akan tetapi dari samping, Kiong Lee sudah meloncat dan menangkap tangan pemuda itu sam- bil berseru, "Sute !!"
Pemuda tampan itu menoleh dan terkejut bukan main melihat Kiong Lee. "Eh, toa - suheng!" te-riaknya girang.
"Sute, lihat siapa yang datang !" Kiong Lee me-nunjuk ke kiri dan ketika Yap Kim menoleh, dia makin terkejut dan girang.
"Ayah !" teriaknya sambil menghampiri
ayahnya dan menjatuhkan dirinya berlutut di depan kakek itu. Yap-lojin mengelus jenggotnya, dan alisnya berkerut. Hatinya lega melihat puteranya dalam keadaan sehat dan selamat, akan tetapi perasaannya tidak sedap melihat puteranya itu bersa-habat dengan iblis macam Kelabang Hijau, bahkan tadi dilihatnya puteranya hendak membantu kakek iblis itu menghadapi Siok Eng.
"Hemmm, bagus sekali! Engkau bergaul de ngan segala macam iblis dan sekarang engkau malah hendak membantu iblis Kelabang Hijau ini mela-wan kami ? Boleh, majulah dan lawanlah aku!" bentak Yap - lojin dengan muka merah karena marah.
"Tapi tapi Tok - ong itu baik sekali,
ayah !" Yap Kim berkata dengan muka pucat
mendengar ucapan ayahnya yang mengandung ke-marahan itu. "Hemm , dia baik ? Orang yang mengatakan
bahwa Tujuh Iblis penghuni Ban - kwi - to baik hanyalah orang jahat, dan dia adalah tokoh ke lima dari Tujuh Iblis itu !"
"Tapi tahukah ayah ketika aku terlu- ka oleh Raja Kelelawar dan hampir mati, kalau ti- dak ada Tok - ong yang menolongku, tentu seka- rang aku hanya tinggal nama saja. Aku berhutang nyawa padanya, ayah, dan kulihat selama ini dia bukan orang jahat. Perahu ini milik orang- orang Tai - bong - pai, bukankah perkumpulan itu
termasuk perkumpulan kaum sesat, ayah ? Kenapa ayah dan suheng malah berpihak kepada orang - orang Tai - bong - pai ?'"
Yap - lojin adalah seorang gagah perkasa yang berwatak adil. Mendengar ucapan puteranya itu, dia termangu - mangu. Memang benar ucapan pu-teranya yang terakhir itu. Tai - bong - pai terkenal sebagai perkumpulan hitam yang sesat, akan tetapi karena Siok Eng, puteri ketua Tai - bong - pai baik, diapun menganggapnya baik. Agaknya demikian pula dengan puteranya, yaitu menganggap baik kepada Thian - te Tok - ong karena Tok - ong bersi-kap baik, bahkan telah menyelamatkan nyawanya. Sesungguhnya, baik atau buruk hanyalah pendapat yang berdasarkan penilaian dan penilaian tentu saja amat pribadi, tergantung ke aku - an masing-masing. Dia menoleh dan melihat betapa Kelabang Hijau terdesak hebat karena sekarang Kiong Lee membantu Siok Eng.
"Kiong Lee, bebaskan dia!" katanya. Mende-ngar bentakan ini, Kiong Lee melompat mundur, dan Siok Eng juga menghentikan penyerangannya dan memandang dengan ragu.
Sementara itu, Thian - te Tok - ong meloncat turun dari perahu menghadapi Yap- lojin sambil tertawa - tawa. "Ha - ha - ha - ha. Yap - lojin tidak suka kepadaku, hal itu tidaklah aneh ! Akupun ti-dak suka kepadamu, dan tidak suka kepada para pendekar karena mereka itu adalah orang - orang sombong sok suci ! Kami memang golongan jahat, akan tetapi setidaknya kami tidaklah berpura - pura suci. Tangan kami memang kotor dan kami mengakuinya, tidak menutupinya dengan sarung tangan bersih ! Ha - ha - ha, terus terang saja, aku suka kepada Yap
- kongcu karena dia tidaklah pura-pura suci seperti para pendekar."
"Thian - te Tok - ong, Tujuh Iblis Ban - kwi - to sudah terkenal dengan kejahatannya. Orang yang suka bermain dengan racun seperti engkau, mana bisa dibilang baik ?"
"Bagus! Bagus ! Memang sejak kecil aku sudah diajar bermain dengan segala macam binatang beracun. Dan binatang - binatang beracun itu lebih baik dari pada manusia. Setidaknya, mereka itu mempergunakan racun mereka untuk membela diri dan mereka tidak pura - pura. Sebaliknya, sikap gagah dan baik, sikap manis dari manusia menyem-bunyikan racun yang lebih jahat dari pada binatang beracun."
Siok Eng termangu mendengar ucapan itu, ucap-an yang sering kali didengarnya di antara para to-koh Tai - bong - pai sendiri! Ucapan yang me-ngandung kepahitan hati orang - orang yang di-anggap jahat dan kotor, dipandang dengan sinar mata menghina oleh para tokoh kang - ouw yang menganggap diri mereka pendekar - pendekar bu-diman dan baik. Ia sendiri tidak setuju dengan tin-dakan - tindakan kasar dan bengis dari orang-orang Tai - bong - pai, namun kadang - kadang terasa pu-la olehnya betapa kaumnya itu dikesampingkan dan bahkan kadang - kadang dihimpit dan disudut- kan oleh orang - orang yang menganggap diri mereka "baik".
Sementara itu, Yap-lojin merasa penasaran men-dengar kata - kata tokoh sesat itu yang jelas me-nyerang pihak pendekar. "Tok - ong, apakah eng-kau hendak mengatakan bahwa kaum sesat lebih benar dari pada para pendekar ? Kalian adalah orang-orang yang suka melakukan kejahatan, meng-andalkan kekerasan dan bertindak sewenang - wenang, sedangkan kami para pendekar mempergu-nakan kepandaian untuk menentang kejahatan dan membela pihak lemah yang tertindas. Bukankah sudah jelas adanya garis pemisah antara kita ?"
"Ha - ha - ha, Yap - lojin, apa yang berbeda ? Kalau kami mempergunakan kekerasan dan membu-nuh, kalian para pendekar juga menggunakan keke-rasan dan membunuh. Apa bedanya ? Dan garis antara baik dan buruk, di mana letaknya ? Pula, apakah engkau hendak melupakan bahwa tanpa adanya kami, kalian tidak akan ada ? Tanpa ada-nya Im takkan ada Yang, tanpa adanya buruk tak-kan ada baik, tanpa adanya kanan takkan ada kiri ! Kekayaan dapat dinikmati hanya karena adanya kemiskinan ! Kesehatan dapat dinikmati karena adanya penyakit, dan apa artinya ahli pengobatan tanpa adanya racun - racun dan penyakit-penyakit? Ha - ha - ha, dipikir lebih mendalam, kalian para pendekar yang suka sok suci ini sepatutnya berte-rima kasih kepada kami, karena sesungguhnya kamilah yang mengangkat nama kalian sehingga di-puji - puji sebagai pendekar !"
Yap - lojin termangu bingung. Orang ini memi-liki kepandaian bicara yang luar biasa, pikirnya. Pantas puteranya mudah terpikat. Dia menoleh kepada kawan - kawannya yang juga termangu bi-ngung mendengar ucapan - ucapan yang langsung menyentuh hati mereka itu. Hanya A-hai seorang-lah yang tidak acuh, juga Chu Seng Kun yang ma-sih "linglung".
Apa yang diucapkan oleh Thian - te Tok - ong atau Ceng - ya - kang Si Kelabang Hijau secara ugal - ugalan itu memang sesungguhnya mengan-dung kenyataan - kenyataan yang patut untuk kita pikirkan. Di dunia ini kehidupan manusia sudah terbelenggu dengan kuatnya oleh dua hal yang se-lalu bertentangan. Baik - buruk, senang - susah, ka-ya - miskin, pintar - bodoh, sorga
- neraka dan se-lanjutnya. Keduanya merupakan lingkaran setan yang saling kait - mengait mempermainkan batin manusia sehingga setiap saat terjadilah konflik da-lam batin antara yang satu dengan yang lain. Di antara semua dualisme itu yang terbesar menggun-cang dunia dan manusia adalah perang dan damai. Karena adanya perang orang rindu akan perdamai-an, lalu menggunakan segala cara, kalau perlu de-ngan cara berperang pula, untuk mencapai keda-maian