"Koko !" katanya sambil merangkul pemu-
da itu. Akan tetapi Seng Kun hanya memandang kepadanya dengan sinar mata bingung karena ka- kak ini tidak mengenal adiknya lagi. Bwee Hong cepat memeriksa denyut nadi tangan kakaknya dan setelah melakukan pemeriksaan, iapun mengerti bahwa kakaknya berada di dalam pengaruh obat bius perampas ingatan yang amat kuat.
Pada saat itu, tiba - tiba nampak berkelebatnya orang ke dalam ruangan itu. Ternyata dia adalah si raksasa yang melarikan diri dikejar oleh A - hai.
"Dess !" Tubuh raksasa itu tunggang-lang-
gang mengacaukan pertempuran yang sedang ber- langsung.
"Aduh aduhh tobat ! Aku menyerah
!" teriaknya dengan suara parau dan mulut- nya muntahkan darah segar.
Akan tetapi, agaknya A - hai sudah seperti kese-tanan. Dia mengeluarkan suara gerengan buas, tubuhnya melayang ke atas dan jari - jari tangan-nya terbuka, mencengkeram ke arah kepala raksa-sa itu. Melihat ini, Kiong Lee terkejut. Bagaimana-pun juga, dia tidak ingin melihat pemuda aneh itu menjadi seorang pembunuh keji, membunuh lawan yang sudah mengaku kalah dan bertobat. Dia me-nyayangi pemuda luar biasa itu, maka untuk men-cegah agar A - hai jangan menjadi pembunuh keji, diapun cepat menggerakkan tubuhnya dan meng-gunakan tangannya memukul ke arah lengan A-hai yang terulur hendak mencengkeram kepala Tiat-siang - kwi itu.
"Dukkk !" Dua lengan bertemu, keduanya terisi tenaga sinkang yang luar biasa kuatnya. Akibatnya, pukulan A - hai itu menyeleweng dan menghantam lantai di bawah, dekat kaki Tiat - siang - kwi.
"Blarrrr ...... !" Debu mengepul tinggi dan lan-tai itu berlubang besar. Semua orang terkejut dan memandang kagum. Kiong Lee sendiri terkejut bukan main ketika lengannya bertemu dengan le-ngan pemuda itu dan dia sudah meloncat ke bela-kang sejauh tiga meter. Kini dia berdiri tegak dan memandang dengan mata bernyala. Hatinya terba-kar juga. Sebagai seorang pemuda perkasa, dia te-lah menemukan tandingan. Kini kedua orang muda itu berdiri saling pandang, sama - sama tegap dan gagah. Akan tetapi sepasang mata A - hai tidaklah sebuas tadi, agak meredup, agaknya ada sesuatu yang meringankan kegilaannya yang kambuh itu.
Melihat ini, Pek Lian meninggalkan sepasang suami isteri tua yang masih bertanding melawan Siok Eng dan iapun cepat menghampiri dua orang pemuda yang saling berhadapan dalam jarak tiga meter seperti dua ekor ayam jantan yang hendak berlaga itu.
"Saudara Yap, dia tidak sadar akan apa
yang dilakukannya. Jangan layani dia!" Setelah berkata demikian, Pek Lian menghampiri A - hai. "A - hai , lupakah engkau kepadaku ?"
A - hai memandang kepada Pek Liari, alisnya berkerut dan dia menggeleng kepalanya, akan teta-pi walaupun dia tidak mengenal gadis ini, agaknya ada sesuatu yang membuat hatinya lunak dan pandang matanya tidak seganas tadi.
Pada saat itu, tanpa diketahui orang lain, Tiat-siang - kwi yang nyaris melayang nyawanya kalau tidak ditolong oleh Kiong Lee, tiba - tiba melompat dan menubruk Bwee Hong yang sedang memeriksa keadaan kakaknya. Semua orang terkejut dan Pek Lian menjerit. Akan tetapi terlambat karena Bwee Hong yang tidak mengira akan diserang itu, tahu-tahu telah dicengkeram bahu dan tangan kirinya. Ia dibikin tidak berdaya dengan pukulan jari ta-ngan pada tengkuknya, dan kini kuku - kuku jari yang runcing melengkung itu menusuk daging balut dan lengannya yang lembut. Darah mengalir ke-luar.
Sambil tertawa si raksasa itu menyeret Bwee Hong, dengan kasar dan buas, menjauhi Seng Kun yang masih memandang dengan linglung. Sambil tertawa - tawa ganas, raksasa itu lalu mencengkeram kaki Bwee Hong, diangkatnya dara itu dan iapun mengamuk, memutar - mutar tubuh Bwee Hong untuk mencari dan membuka jalan keluar dan mem-bantu kawan-kawannya. Tentu saja Yap-lojin dan teman - temannya menjadi khawatir dan cepat mundur, tidak berani menyerang karena takut kalau - kalau serangan mereka mengenai tubuh Bwee Hong yang diputar
- putar itu. Mereka memandang gelisah, tidak tahu bagaimana harus menghadapi lawan yang amat curang itu.
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara geraman buas seperti keluar dari mulut seekor binatang liar. Sepasang mata A - hai yang tadinya sudah mere-dup, berobah ganas lagi. Sepasang mata itu kini memandang ke arah si raksasa dengan pandang mata buas, seperti mata harimau yang penuh nafsu membunuh. Tubuhnya perlahan-lahan bergerak, berputar ke arah raksasa yang tertawa terbahak-bahak kegirangan melihat musuh-musuhnya yang tangguh itu menyingkir semua. Tiba-tiba, kedua lengannya mengeluarkan uap putih dan begitu ta-ngan kirinya digerakkan ke depan seperti menusuk ke arah kaki Tiat - siang - kwi, raksasa itu berteriak kesakitan dan kakinya terkulai, lututnya tertekuk. Dia hanya merasa seolah - olah pahanya dihantam palu godam yang tidak nampak. Dia mencoba bangkit, akan tetapi jatuh berlutut lagi. A - hai kembali menggerakkan tangan kanannya, kini mem-buat gerakan membacok ke arah pundak. Kembali raksasa itu berteriak kesakitan dan lengan kanan-nya terkulai. Tentu saja Bwee Hong terlepas jatuh ke lantai dan Siok Eng cepat menyambarnya dan memulihkan jalan darahnya yang tadi tertotok.
Sementara itu, Yap - lojin yang sejak tadi meng-ikuti semua gerakan A - hai, ternganga dan
tanpa
disadarinya dia menggeleng - geleng kepala dan berkata, "Thai - kek Sin - ciang !"
Kiong Lee terkejut. Yang disebut gurunya itu adalah ilmu pukulan yang kabarnya hanya
dimiliki dewa saja, yang hanya terdapat dalam dongeng. Akan tetapi, melihat apa yang dilakukan oleh A-hai tadi, dia percaya bahwa ilmu pukulan jarak ja-uh itu sungguh amat luar biasa.
Sikap A-hai sungguh luar biasa sekali. Setelah si raksasa roboh, kebuasannyapun lenyap dan kini dia termangu - mangu memandang kepada Bwee Hong yang juga sudah bangkit berdiri dan meman-dang kepadanya setelah terbebas dari totokan. Dan tiba - tiba saja, A - hai menangis
! Air matanya ber-cucuran dan dia memandang kepada Bwee Hong melalui air matanya, kemudian diapun berlari ke depan, menubruk kedua kaki itu dan menangis.
"Ibu ....... ibu !" A-hai meratap sambil merangkul kedua kaki Bwee Hong. Sejenak suasa-na menjadi hening, akan tetapi melihat robohnya adiknya yang ke dua, Te - tok - ci lalu mengeluar-kan aba - aba lagi dan semua anak buahnya bergerak lagi mengeroyok. Pertempuran pecah lagi dan kini pihak tuan rumah ditambah dengan dua orang wanita kembar yang agaknya sudah pulih kesehat-annya dan sudah berpakaian. Yap - lojin memimpin kawan - kawannya untuk melakukan perlawanan. Hanya A - hai dan Bwee Hong yang tidak memper-
dulikan itu semua. A-hai masih merangkul kedua kaki dara itu sambil menangis. Sejenak Bwee Hong menjadi bengong termangu-
mangu. Akan tetapi, melihat penolongnya yang memiliki kesaktian luar biasa itu kini berlutut di de- pannya sambil memeluk kedua kakinya dan mena- ngis, Bwee Hong membiarkannya saja. Sedikit ba- nyak ia sudah mendengar dari Pek Lian tentang pemuda aneh ini yang agaknya mengalami guncang- an jiwa yang amat hebat. Melihat keadaan pemuda ini, timbul rasa iba yang amat mendalam di hati Bwee Hong. Tak terasa lagi kedua tangannya me- nyentuh dan membelai rambut kepala A - hai yang awut - awutan itu dan dengan suara halus ia mem-
bujuk, "Jangan menangis !" Akan tetapi ia
sendiri tidak dapat menahan menetesnya beberapa butir air mata dari sepasang matanya karena terha-ru dan kasihan.
Mendengar suara halus ini, A - hai mengangkat mukanya. Air mata gadis itu mengalir turun dan menetes dari wajahnya yang menunduk, jatuh me-ngenai dahi A-hai, mengalir turun bercampur de-ngan air mata pemuda itu. Tiba - tiba tubuh A-hai bergetar. Agaknya ada suatu pergolakan jiwa ter-jadi di bawah sadarnya dan tiba - tiba saja tangis-nya meledak, terisak-isak tak terkendalikan lagi.
Hati Bwee Hong semakin terharu. Ia merasa betapa pemuda itu merangkul kakinya sambil me-nangis sesenggukan, membasahi sepatunya dengan air mata yang hangat. "Sudahlah
harap jangan
menangis " bujuknya akan tetapi ia sehdiripun menangis.
Menghadapi peristiwa ini, semua orang menjadi bengong. Akan tetapi pada saat itu terdengar suara berdengung nyaring, bergemuruh datang dari luar. Itulah suara pasukan lebah, pikir Pek Lian dengan hati ngeri.
"Yap - locianpwe, kita harus cepat pergi dan sini !" katanya.
"Benar," kata Yap-lojin setelah tadi dia sendiri termangu menyaksikan hal-hal yang luar biasa itu. "Kiong Lee, engkau mengendong Chu Seng Kun !"
Kiong Lee juga melihat datangnya ancaman ba-haya. Agaknya pihak lawan yang tadi mengundur-kan diri karena merasa kalah kuat, kini telah me-nyusun kembali kekuatannya dan hendak datang menyerbu. Maka diapun cepat menggendong Chu Seng Kun yang selain kehilangan ingatannya, juga kelihatan amat lemah. A - hai kini tidak kelihatan lemah lagi walaupun dia juga seperti kebingungan dan bahkan tidak mengenal Pek Lian. Akan tetapi, begitu Bwee Hong mengulurkan tangan dan berka-ta, "A-hai, mari kita pergi dari sini." Diapun bang-kit dan kelihatan girang, seperti seorang anak kecil yang diajak pesiar oleh ibunya.
"Mari ikut aku !" Pek Lian berkata cepat dan segera ia membawa rombongan itu melalui tero-wongan di bawah laut yang menuju ke pulau Si
Kelabang Hijau, tokoh ke lima dari para penghuni Ban - kwi - to itu. Selagi mereka berlari - lari me-masuki terowongan, terdengar suara Te - tok - ci dan anak buahnya mengejar dari belakang.