"Biar lain hari saja kami melayanimu, ji - su-heng!" kata yang ke dua.
"Ha - ha - ha, kalian lelah karena susah payah membujuk dua orang muda yang keras kepala itu, ya ? Ha - ha, kenapa susah - susah membujuk rayu orang - orang yang tidak mau. sebaliknya menolak orang yang mau dan bergairah besar seperti aku ? Sudahlah, Siang-sumoi, kita panggang saja daging kedua orang muda ini. Dagingnya kalau dipang-gang tentu lezat dan akan kuajarkan kalian makan daging manusia yang selain lezat juga dapat men-datangkan kekuatan. Dan mari kalian layani aku, mari kita main - main sepuasnya seperti dahulu !" Raksasa itu mengulur tangan hendak merangkul mereka.
Akan tetapi dua orang wanita itu mengelak dan kelihatan marah. "Ji - suheng, ingat bahwa engkau berada di tempat kami. Pergilah dan jangan gang-gu kami. Ataukah kami harus menggunakan keke-rasan ?"
"Ha - ha - ha, apakah kalian juga ingin aku menggunakan kekerasan untuk bermain - main de-ngan kalian ?" Raksasa itu menubruk ke depan,. akan tetapi kedua orang wanita itu bukan hanya mengelak, bahkan kini menyerang dari kanan kiri dengan hebatnya !
Terjadilah perkelahian mati - matian dalam ka-mar itu ! Walaupun mereka itu masih merupakan sekutu bahkan saudara - saudara seperguruan, na-mun karena mereka adalah datuk - datuk kaum se- sat yang batinnya dipenuhi oleh nafsu pementingan diri sendiri, mereka saling serang dengan sungguh-sungguh dan mati-matian. Mereka tidak saling mempergunakan racun karena maklum bahwa hal itu tidak berguna mengingat bahwa mereka bertiga itu sudah kebal racun, maka mereka berkelahi de-ngan mempergunakan ilmu silat saja. Dan dalam hal ilmu silat dan tenaga, sepasang wanita kembar itu harus mengakui keunggulan si raksasa.
Tiat-siang-kwi (Setan Gajah Besi) tertawa-tawa ketika dia mulai dapat melukai dua orang sumoi-nya dengan pukulan - pukulan, tendangan dan ka-dang-kadang cengkeraman tangannya. Dia mera-sa gembira bukan main dapat menghajar dua orang wanita itu. Tubuh yang hanya tertutup pakaian dalam yang banyak memperlihatkan kulit tubuh yang mulus itu menjadi bulan - bulan pukulan, tam-paran dan tendangan, nampak lecet - lecet dan ma-tang biru babak - belur. Bahkan darah mulai mele-leh dari mulut dan hidung mereka. Hal ini mem-buat si raksasa semakin bernafsu dan gembira.
Tentu saja Tiat - siang - kwi tidak pernah men-cinta dua orang wanita itu dalam arti yang se- sungguhnya, baik mencinta sebagai pria terhadap wanita maupun mencinta sebagai saudara terhadap adik - adik seperguruannya. Yang ada hanya nafsu dan kalau dia kadang-kadang bermain cinta de-ngan mereka, sepenuhnya yang menjadi pendorong hanyalah nafsu berahi yang memperalat orang lain demi pemuasan diri. Kini, nafsu berahinya agaknya telah berobah menjadi nafsu kekejaman dan kesa-disan melihat tubuh yang mulus itu mulai babak belur dan berdarah.
Chu Seng Kun yang tadinya rebah di atas kursi sambil minum arak, memandang dengan sikap te-nang dan tidak acuh, akan tetapi A - hai yang ta-dinya tertelungkup di atas meja dan seperti tidur nyenyak, kini sudah bangkit berdiri, mukanya men-jadi pucat melihat penyiksaan sadis yang dilakukan oleh si raksasa itu terhadap dua orang wanita yang kini hanya dapat melawan dengan lemah saja. Mu-lut A - hai komat - kamit dan terdengar dia menge-luh panjang pendek.
"Ahhh jangan berkelahi jangan mem-
bunuh, ahhh jangan menggunakan kekerasan untuk menyiksa orang lain " Ketika dia melihat
darah bercucuran dari hidung dan mulut sepasang iblis kembar yang cantik itu, A - hai menutupi mu-kanya dengan kedua tangan dan dengan terhuyung-huyung seperti orang mabok diapun sempoyongan menuju ke arah pintu keluar.
"Ha - ha - ha !" Si raksasa terbahak dan dengan dua kali jotosan, tubuh dua orang wanita itu terpe-lanting roboh dengan napas senin-kemis. Melihat betapa dua orang lawannya sudah tidak mampu melawan lagi, dan melihat A - hai menuju ke pintu, Tiat-siang-kwi membentak, "Heh, kelinci tolol,
kau hendak lari ke mana ? Engkau kasihan dan-sayang kepada mereka, ya ? Pantas mereka tidak mau lagi dengan aku. Huh, lihat saja nanti kalau sudah kuganyang dagingmu dan kuminum darah-mu !"
Melihat raksasa itu mengejar ke pintu, ke arah A-hai yang hendak pergi meninggalkan kamar itu, Kiong Lee sudah bersiap - siap. Dia tidak mungkin membiarkan raksasa itu membunuh pemuda yang kelihatan lemah itu. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar siulan keras. Itulah siulan gurunya yang memanggilnya ! Dia cepat menoleh dan meman-dang ke bawah. Kiranya di dalam gelap itu telah terjadi pertempuran. Si Tikus Beracun dan Im-kan Siang-mo, suami isteri cabul itu, telah datang mem-bawa anak buah mereka. Melihat ini, Kiong Lee menjadi bingung, mana yang harus dibantunya lebih dulu.
Terdengar suara gaduh di dalam kamar. Dia memandang dan dia mengerutkan alisnya. Ternya-ta dia telah terlambat. Pemuda itu telah dihajar, terkena pukulan keras dari kepalan tangan yang besar dan kuat dari Tiat - siang - kwi sehingga pemuda itu terlempar menabrak meja, lalu jatuh tunggang-langgang dengan darah mengucur dari luka di dahinya. Pemuda itu bangkit duduk, nam-pak nanar dan tangannya meraba ke arah dahi yang terbuka.
Kembali terdengar siulan gurunya. Kiong Lee semakin bingung. Dia melihat betapa Tiat - siang- kwi sudah mencabut senjatanya, yaitu golok ger- gaji yang besar mengerikan. Agaknya raksasa itu benar - benar hendak membantai dan menguliti pemuda itu. Pada saat itu, A-hai mengusap luka- nya dan ketika dia melihat tangannya penuh darah, juga mukanya menjadi berlepotan darah, terjadi perobahan hebat pada dirinya. Matanya terbelalak, mencorong ganas, dan lidahnya terjulur menjilati darah yang berlepotan di telapak tangannya sambil menggumam lirih, "Darah darah !" Me- lihat ini, Kiong Lee terbelalak dan merasa kasihan sekali. Dia mengira bahwa tentu pukulan si raksa- sa tadi telah mengakibatkan luka di dalam kepala pemuda itu sehingga dia mendadak menjadi gila!
Dan Tiat - siang - kwi sendiripun melihat ini dan si raksasa tertawa lalu menyimpan kembali golok- nya.
"Ha - ha - ha, akan kubeset kulitmu dengan ku-ku jari tanganku saja, ha-ha-ha!" katanya dan tiba - tiba kata - katanya terhenti dan matanya ter-belalak ketika dia melihat secara luar biasa sekali pemuda yang menjilati darah dari telapak tangan-nya itu mendadak terbang! Ya, gerakan pemuda itu hanya tepat disebut "terbang" karena tidak nampak dia membuat gerakan meloncat dan tahu tahu tubuhnya sudah meluncur ke atas, ke depan dan menyerangnya. Kiong Lee sendiri terbelalak
melihat ini, sungguh penglihatan yang ajaib dan membuat dia merasa seperti dalam mimpi. Semen-tara itu, Chu Seng Kun yang sedang minum arak itu masih enak - enak saja minum araknya da-lam keadaan tidak sadar, terbuai dalam kemabokan mendalam.
"Haaaiiiittt !" Tiat - siang - kwi menangkis,
bahkan menyambut serangan itu dengan hantaman tangannya yang terbuka seperti cakar naga. "Blaarrrrr !" Dua tenaga raksasa bertemu dan seluruh ruangan sampai ke atas genteng ter-
getar hebat. Akibatnya tubuh raksasa sebesar
gajah itu terlempar melayang menghantam dinding sehingga dinding kamar itu jebol dan tubuhnya yang besar itu terbanting keluar ! "Adouuhh ehhh ohhh,, !" Si rak-
sasa merangkak bangun, memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak melalui lubang besar di dinding kepada pemuda itu, kemudian membalik- kan tubuh dan lari tunggang-langgang! A-hai
yang sudah berobah menjadi buas itu segera me- ngejar melalui lubang di dinding.
Kiong Lee mengucek - ngucek kedua matanya, lalu berkejap - kejap, masih belum dapat percaya akan penglihatannya sendiri. Raksasa itu demikian lihai dan kuat sehingga dua orang sumoinya juga tidak kuat melawannya. Akan tetapi apa yang telah terjadi sehingga sekali hantam saja A - hai telah membuat tubuhnya terlempar keras membobolkan
dinding dan membuat raksasa itu lari ketakutan ?
Siulan gurunya untuk ketiga kalinya membuat dia sadar. Dia cepat meloncat turun. Kiranya gup runya dan juga tiga orang dara perkasa itu berada dalam keadaan berbahaya! Gurunya dikeroyok oleh Tikus Beracun dan puteranya, sedangkan tiga orang dara itu berkelahi melawan kakek dan ne-nek cabul. Tentu saja mereka berempat akan dapat mengalahkan lawan - lawan itu dengan mudah da-lam keadaan biasa. Akan tetapi, mereka berempat itu kewalahan, bukan oleh lawan melainkan oleh ribuan ekor lebah putih yang beterbangan di atas kepala mereka dan menyerang mereka dengan ga-nas membuat empat orang pendekar itu benar-be-nar kewalahan. Bukan hanya bahaya penyengatan mereka yang beracun itu yang mengkhawatirkan, melainkan juga suara mereka yang berdengung se-perti gemuruh air terjun itu membuat Yap - lojin dan kawan - kawannya panik. Bahkan ketika Kiong Lee menyerbu, pemuda itupun segera dikeroyok oleh ribuan ekor lebah putih.
"Lari ke bawah pohon itu !" Tiba - tiba Yap-lojin berteriak dan empat orang muda itu mengerti maksudnya. Kalau mereka berada di bawah pohon yang rindang daunnya itu, tentu lebah - lebah ini akan kurang leluasa beterbangan di atas kepala mereka, atau setidaknya tentu jumlah mereka ber-kurang karena sempitnya ruangan di atas kepala mereka. Maka mereka lalu memutar sebelah tangan di atas kepala sedangkan tangan lain dipergunakan untuk menghadapi serangan musuh, dan mereka-pun akhirnya berhasil menyusup ke bawah pohon walaupun Tikus Beracun, puteranya dan sepasang suami isteri iblis itu mencoba untuk menghalangi mereka.
Akan tetapi, hanya sebentar saja mereka merasa lega karena benar - benar ribuan lebah itu tidak begitu leluasa menyerang mereka, karena tiba - tiba Pek Lian menjerit-jerit dan diikuti oleh dua orang gadis lainnya ketika kaki mereka dirambati semut-semut merah yang buas sekali! Semut merah be-racun yang buas. Repotlah mereka sekarang harus melawan musuh yang cukup berbahaya sambil menghalau lebah - lebah dan menepuk mati semut-semut yang merayap ke mana - mana !
"Lari ke dalam rumah !" Kembali Yap - lojin memberi komando dan merekapun berlari - larian memasuki ruangan di mana A - hai dan Seng Kun berada. Biarpun mereka masih dikeroyok oleh empat orang iblis yang dibantu lebah - lebah mere-ka, namun kini mereka tidak sesibuk tadi. Lebih dari tiga perempat bagian dari pasukan lebah itu kebingungan, tertahan di antara daun - daun pohon tadi. Sedangkan yang masih mengeroyok mereka di dalam rumah juga tidak dapat bergerak leluasa. Melihat betapa kawan - kawannya tidak kerepotan lagi, Bwee Hong segera lari menghampiri Seng Kun.