Halo!

Darah Pendekar Chapter 124

Memuat...

"Daerah ini termasuk wilayah orang terakhir dari Tujuh Iblis Ban - kwi - to, yaitu suami isteri Im - kan Siang - mo. Pulau kediaman mereka penuh dengan lumut dan rawa - rawa, banyak terdapat binatang air dan binatang melata yang beracun sekali. Lihat, itu pulaunya sudah tampak dari sini," kata pula Kwa Siok Eng puteri ketua Tai-bong-pai itu.

Karena ingin tahu, Yap - lojin mengajak mereka untuk mendayung perahu itu mendekati pulau, apa lagi karena arus di situ kuat sekali. Tiba - tiba mereka mendengar suara mendengung - dengung dari atas pulau dan nampaklah sekelompok lebah terbang lewat dan tercium bau wangi arak.

"Ahh lebah arak putih !" seru Yap - lojin

dan wajahnya berobah karena dia tahu betapa ja-hat dan berbahayanya lebah - lebah itu. "Kurang ajar !" Tiba - tiba Kiong Lee memaki dan memalingkan mukanya agar tidak melihat

apa yang terjadi di atas pasir di pantai yang berdekatan. Akan tetapi, tanpa disengaja, seruannya itu bahkan membuat tiga orang dara memandang ke arah pan-tai. Mata mereka terbelalak, muka mereka berobah merah sekali dan cepat - cepat merekapun membu-ang muka. Apakah yang mereka lihat di sana ? Dua orang manusia berlainan kelamin, seorang pria dan seorang wanita, sudah kakek dan nenek, akan tetapi gaya dan lagaknya membuat orang - orang muda merasa malu. Mereka berdua itu sedang bersendau

gurau bermain cinta di atas pasir dalam keadaan telanjang bulat!

Dua orang itu bukan lain adalah Im- kan Siang-mo, yaitu Bouw Mo - ko dan Hoan Mo - li, suami isteri yang jahat seperti iblis dan yang tidak tahu malu itu, orang ke enam dan ke tujuh dari Tujuh Iblis Ban - kwi - to. Ketika mereka melihat ada pe-rahu lewat, keduanya cepat mengenakan pakaian, lalu mereka memaki - maki, mencak - mencak dan mencari perahu mereka untuk melakukan pengejar-an. Akan tetapi, Yap - lojin dan rombongannya su-dah cepat meninggalkan pulau cabul itu !

Atas petunjuk Siok Eng, perahu itu kini mema-suki daerah yang berbau semerbak harumi dan air laut kini berobah warnanya, menjadi kemerahan! Siok Eng memperhatikan sekeliling lalu berkata, "Kita telah memasuki daerah kekuasaan Jeng - bin Siang-kwi (Sepasang Iblis Bermuka Seribu), dua orang wanita kembar yang menjadi tokoh ke tiga dan ke empat dari iblis - iblis itu. Mereka adalah sepasang wanita cantik yang ganas dan kejam bu-kan main. Kesukaannya adalah mengumpulkan pemuda - pemuda tampan."

"Heii ! Perahu kita oleng !" teriak Pek Lian.

Air laut nampak bergelombang dan perahu mereka oleng ke kanan kiri. Tiba - tiba mereka merasa perahu mereka tertumbuk sesuatu dan tergetar he-bat seperti dihantam oleh sesuatu dari bawah. Dan di sekeliling perahu itu mendadak muncul moncong- moncong binatang yang bergigi tajam ma-cam moncong buaya.

"Wah, perahu kita bocor!" teriak Kiong Lee "Cepat dayung perahu ke pulau !" teriak pula Yap-lojin dan dia menggunakan dayung, dibantu muridnya, menghantam ke arah moncong - moncong buaya laut yang tersembul di sekitar perahu. Akan tetapi, air mulai memasuki perahu dan untunglah bahwa tiga orang dara yang mendayung perahu itu memiliki tenaga sinkang yang kuat sehingga pera-hu sudah hampir mencapai pantai ketika air sema-kin memenuhinya. Merekapun berloncatan ke pan-tai. Perahu tenggelam !

Sejenak mereka berlima berdiri bengong meman-dang ke arah perahu mereka yang tenggelam dan perahu itu bergerak ke sana - sini seperti diserang oleh binatang - binatang buas itu di dalam air. Tak lama kemudian, nampak pecahan - pecahan perahu mereka terapung di permukaan air.

Yap-lojin menghela napas panjang sedangkan gadis-gadis itu bergidik. "Untung kita sudah dekat dengan pulau ini, kalau di tengah-tengah lautan bisa berbahaya. Sekarang kita harus berusaha men-dapatkan perahu lain."

Dengan hati-hati mereka berlima menyusuri pantai. Pulau itu merupakan pulau yang indah dan subur, penuh dengan pohon-pohon yang hijau dan rimbun daunnya. Juga banyak pohon- pohon bunga tumbuh di sana - sini, bentuk dan warnanya ber-macam - macam, selain indah dipandang, juga se-dap dicium karena baunya harum semerbak.

"Kita harus hati - hati. Biarpun bunga - bunga itu kelihatan indah dan berbau harum, akan tetapi semua itu beracun !" kata Siok Eng memperingat-kan. Bwee Hong dan Pek Lian memandang kagum dan menjulurkan lidah.

Tiba-tiba Yap - lojin memberi isyarat dan mereka semua cepat menyelinap dan bersembunyi di balik pohon - pohon, mengintai ke depan. Dari ja-uh nampak dua orang wanita kembar sedang ber-jalan mendatangi tempat itu, bergandeng tangan dengan dua orang pemuda. Kedua orang pemuda itu kelihatan lesu dan loyo, mandah saja digandeng dan diajak berjalan ke manapun. Ketika mereka sudah tiba agak dekat, Bwee Hong memegang ta-ngan Pek Lian. Nona inipun sudah mengenal kedua orang pemuda itu. Yang seorang adalah kakak Bwee Hong, yaitu Chu Seng Kun, sedangkan pemuda yang ke dua adalah A-hai, pemuda sinting yang aneh itu !

"Kakakku !" Bwee Hong berbisik, lirih

akan tetapi terdengar oleh empat orang kawannya. "Ssttt !" Kwa Siok Eng memberi isyarat.

"Hati-hati, lebih baik kita membayangi mereka. Kelihatannya kakakmu itu keracunan, mungkin terbius atau keracunan hebat karena racun peram-pas ingatan."

"Hemm, itukah kakakmu yang kaucari-cari itu?" tanya Yap - lojin

***[All2Txt: Unregistered Filter ONLY Convert Part Of File! Read Help To Know How To Register.]***

ke dalam sebuah gedung, langsung mema-suki ruangan belakang. Dua orang pelayan wanita sibuk mengeluarkan hidangan di atas meja dan mereka berempat lalu berpesta - pora, makan minum Sepasang iblis itu dengan sikap manja dan genit beberapa kali menyuguhkan arak kepada sepasang pemuda tampan, atau menyuapkan makanan de-ngan sumpit mereka, dan kadang - kadang men-cumbu mereka. Melihat ini, kembali tiga orang dara itu menjadi merah mukanya, akan tetapi seka-li ini Bwee Hong hampir tidak kuat bertahan dan ingin menyerbu saja.

"Enci Hong, harap bersabar. Kita harus berha-ti - hati. Ilmu silat kedua orang iblis itu sih tidak perlu dikhawatirkan, akan tetapi mereka itu licik sekali dan ilmu mereka tentang racun amat hebat. Apa gunanya kita turun tangan menolong kakakmu kalau kemudian ternyata bahwa kakakmu keracun-an hebat dan sukar ditolong nyawanya ? Kedua

orang pemuda itu jelas dalam keadaan tidak wajar. Tentu ada sebabnya," bisik Siok Eng.

Pek Lian mengangguk - angguk. "Enci Hong. apa yang diucapkan Eng-moi itu memang benar. Kaulihat saja A - hai itu. Dia adalah seorang yang wajar dan tidak mampu pura - pura, kini diapun kelihatan tidak wajar dan seperti kehilangan akal. Aku yakin bahwa mereka berdua itu dalam keada-an terbius atau terampas akal mereka oleh racun yang digunakan oleh dua iblis itu. Kita menanti saat yang baik."

Akan tetapi kini dua orang wanita kembar itu sudah bangkit dan menggandeng kedua orang pemuda memasuki sebuah kamar besar dan lima orang yang mengintai itu tidak dapat mengintai lagi. Sebelum mereka tahu apa yang harus mereka la-kukan, tiba-tiba terdengar suara parau dari jauh.

"Siang - sumoi ! Di mana kalian ?"

Kemudian, terdengar langkah-langkah yang membuat lantai tergetar. Muncullah seorang rak-sasa yang memasuki ruangan itu dan langsung ma-suk ke dalam kamar besar di mana dua orang iblis cantik dan dua orang mangsanya tadi masuk.

"Kiong Lee, lihatlah apa yang terjadi di dalam, Biar kami menanti di sini dan baru turun tangan kalau kauberi isyarat. Hati-hati, jangan semba-rangan bertindak." "Baik, suhu !" Dan tubuh pemuda itu sudah mencelat ke atas, menerobos daun - daun pohon dan hinggap di atas wuwungan rumah. Gerakan-nya gesit seperti terbang saja sehingga Bwee Hong yang telah memiliki ginkang paling hebat itupun memandang kagum. Apa lagi Pek Lian yang paling rendah tingkat kepandaiannya, memandang terbe-lalak. Siok Eng juga kagum memuji, "Bukan ma-in !"

"Dia memang anak yang baik dan patut dibang-gakan," kata sang guru sambil tersenyum. Yap-lojin sengaja mengutus murid atau putera angkat-nya itu untuk melakukan pengintaian sendiri saja. Kalau mereka berlima semua mengintai di atas wuwungan, tentu mudah diketahui lawan, dan se-lain itu, yang terpenting baginya adalah agar tiga orang dara itu tidak usah melihat apa yang terjadi di dalam kamar itu, yang diduganya tentulah adeg-an cabul yang tidak layak ditonton gadis - gadis seperti mereka.

Kiong Lee mengintai ke dalam. Dari sebuah lubang di genteng dia melihat Seng Kun, kakak Bwee Hong itu, rebah di atas sebuah kursi panjang sambil minum arak. Pemuda lain yang bertubuh tinggi tegap berwajah tampan gagah, yang oleh Pek Lian disebut bernama A - hai, nampak tertelungkup di atas meja, agaknya sudah mabok dan tertidur.

Di atas tempat tidur rebah dua orang wanita kembar itu, dengan pakaian hampir telanjang.

Mereka itu cekikikan, entah apa yang mereka bicara-kan dan tertawakan.

"Siang - sumoi, di mana kalian ?" seruan lantang dari Tiat - siang - kwi, ji-suheng mereka itu mem-buat mereka cepat bangkit dari tempat tidur. Akan tetapi sebelum mereka sempat membetulkan pakai-an dalam yang awut - awutan itu, si raksasa sudah muncul dari luar memasuki kamar besar itu.

"Ha - ha - ha, Siang-sumoi, kalian sungguh tidak manis kepadaku ! Berkali - kali kalian menghindar-kan diri, menjauhi aku dan tidak mau melayaniku seperti biasa, padahal dahulu kalian suka saling berebut untuk melayaniku. Hemm, sejak kalian merampas dua orang bocah itu dari tangan San-hek - houw dan Sin - go Mo Kai Ci, kalian seperti sudah lupa diri. Ini namanya mendapatkan keka-sih baru melupakan yang lama. Jangan begitu, Siang - sumoi, sekali ini kalian harus melayani aku, untuk mengobati rinduku kepada kalian yang su-dah bertumpuk - tumpuk !" Raksasa itu lalu me-langkah maju mendekat.

Kini dua orang wanita itu sudah berdiri berdam-pingan menghadapi si raksasa. Mereka memang cantik dan bertubuh denok menggairahkan dan nampaknya usia mereka antara tigapuluh sampai tigapuluh lima tahun.

"Ji-suheng, pergilah dan jangan ganggu kami. Kami sedang lelah " kata seorang di antara mereka.

Post a Comment