Halo!

Darah Pendekar Chapter 123

Memuat...

SIAUW-THIAN-CI dan Te-tok-ci kaget setengah mati. Cepat - cepat mereka melon-cat ke sana - sini untuk menghindarkan cengkeram-an maut melalui sinar pedang itu dan merekapun sudah mencabut senjata masing - masing. Te - tok-ci mengeluarkan sebatang golok. Biarpun kelihat-annya sebatang golok biasa saja, akan tetapi se-sungguhnya golok ini istimewa sekali. Bukan ha-nya terbuat dari logam mulia yang amat kuat, akan tetapi juga diperlengkapi dengan alat - alat rahasia sehingga golok ini dapat digerakkan dengan per menjadi memanjang atau memendek sesuka hati pemegangnya, dan gagangnya dapat menyem-burkan jarum-jarum beracun. Selain itu, juga ga-gang golok itu diikat dengan tali yang membuat golok itu dapat dilempar seperti golok terbang dan dapat kembali kepada pemiliknya ketika tadinya ditarik. Sebuah senjata istimewa yang berbahaya sekali! Sedangkan Siauw - thian - ci lebih suka mempergunakan senjata kepercayaannya, yaitu cambuk panjang yang mengandung rambut- rambut baja halus dan mengandung racun pula.

"Cringgg !" Sedikit bulu cambuk rontok ketika bertemu pedang.

"Tranggg ! !" Telapak tangan Te - tok - ci tergetar hebat. Ayah dan anak itupun terkejut dan maklum bahwa pemuda pakaian putih itu sungguh merupakan seorang tokoh Thian - kiam - pang yang amat lihai. Sepasang pedang itu kini menyambar-nyambar, membentuk dua gulungan sinar yang panjang dan menyilaukan, seperti sepasang naga bermain di angkasa, menyemburkan maut!

Biarpun dikeroyok dua oleh tokoh pertama Tu-juh Iblis Ban-kwi-to dibantu puteranya yang ju-ga amat lihai, namun Kiong Lee sama sekali tidak terdesak. Bahkan gulungan sinar pedangnya me-rupakan bahaya besar bagi kedua orang pengero-yoknya, terutama sekali Siauw - thian - ci yang berkali-kali terpaksa harus berlindung menyela-matkan diri di belakang ayahnya. Beberapa kali jarum - jarum rahasia dari golok itu menyambar, namun hal itu sia - sia belaka karena semua jarum runtuh oleh sinar pedang yang seolah - olah telah membentuk benteng sinar yang kokoh kuat. juga beberapa kali golok itu melayang, terbang me-nyambar ke arah lawan seperti benda hidup, akan tetapi hampir saja pedang di tangan Kiong Lee berhasil memukul jatuh golok itu sehingga pemi-liknya menjadi gentar untuk melemparkannya lagi.

Sementara itu, tiga orang dara dan Yap - lojiri mulai bergerak dan mengeluh. Melihat ini, tentu saja Te-tok-ci menjadi khawatir sekali. Dia me-ngeluarkan seruan panjang dan bersama puteranya dia menghilang di balik dinding yang ada rahasia-nya. Juga delapan orang pawang tikus telah menghilang.

Kiong Lee cepat menolong gurunya dan tiga orang dara itu. Dengan totokan, dia mempercepat kesadaran mereka. Dan mereka belima terheran-heran karena kini, setelah siuman, tenaga mereka bukan hanya pulih kembali, bahkan merasa betapa tubuh mereka segar sekali, seperti orang yang baru habis makan kenyang atau mandi air sejuk! Itulah khasiat dari cairan kuning yang mereka sedot tadi! Cairan kuning itu membersihkan, bukan hanya membersihkan hawa beracun, akan tetapi juga membersihkan darah dan rongga dada dan perut secara luar biasa sekali. Akan tetapi, saking keras-nya obat ini, pemakainya memang biasanya terti-dur atau pingsan lebih dulu, seperti yang dialami oleh mereka. Untung bahwa Kiong Lee yang ping-san terlebih dahulu sehingga dia lebih dahulu pula siuman dan dapat menyelamatkan mereka berlima yang terancam bahaya maut.

Setelah ditinggalkan oleh Tikus Beracun dan anak buahnya, lima orang itu mulai mencari jalan keluar. Akan tetapi, mereka berputar - putar menu-rutkan lorong bawah tanah dan tidak pernah ber-hasil menemukan jalan keluar dari terowongan itu. Tiba - tiba Kiong Lee membungkuk dan mengam-bil sesuatu dari atas lantai lorong.

"Aih, itu saputanganku !" tiba - tiba Pek Lian berkata sambil menerima saputangan itu dari Kiong Lee. "Benar, saputanganku yang terjatuh tanpa kuketahui. Ah, aku ingat sekarang. Tak jauh dari sini terdapat pintu rahasia keluar. Kita jalan lurus saja dari sini, jangan berbelok - belok. Saputangan ini terjatuh ketika untuk pertama kalinya aku dan adik Siok Eng memasuki terowongan ini. Aku ter-lonjak kaget ketika menginjak seekor tikus. Ingatkah engkau, adik Eng ?"

Siok Eng mengangguk dan merasa girang karena iapun ingat bahwa tak jauh dari situ terdapat jalan keluar. Mereka lalu maju terus, kini Pek Lian di depan sebagai penunjuk jalan. Ingatan nona ini kuat sekali sehingga tak lama kemudian mereka tiba di jalan buntu, tertutup oleh sebuah pintu baja. Pek Lian mengamati pintu itu dan berseru girang.

"Nah, inilah pintu rahasia itu! Di balik pintu ini terdapat jalan keluar. Akan tetapi, aku tidak tahu rahasia cara membukanya. Tentu ada alatnya. Mari kita sama - sama mencari alat rahasia untuk membukanya."

"Biar kudobrak saja dengan kekerasan," kata Kiong Lee.

Gurunya mencegahnya. "Jangan. Pintu rahasia tidak boleh dibuka dengan kekerasan, karena kalau hal itu dilakukan tentu akan mendatangkan baha-ya lain. Mari kita cari alat rahasia pembukanya itu."

Akan tetapi, sampai pusing dan bosan mereka mencari, tidak juga mereka dapat menemukan alat rahasia pembuka pintu itu. Akhirnya mereka men-jadi bosan dan putus asa. "Kita cari jalan keluar lain saja !" kata Bwee Hong.

"Nanti dulu " Pek Lian berseru dan ia ter- ingat akan tempat lampu minyak di atas pintu baja di mana tikus-tikus itu ditempatkan. Ia lalu me-

loncat ke atas, tangannya bergantung kepada celah- celah di atas pintu dan meraba - raba. Benar saja, di atas daun pintu terdapat sebuah lubang dan di situ terdapat pula sebuah lampu minyak. Ia men- coba untuk mencabut lampu itu, akan tetapi tidak bergoyang sedikitpun. Lalu diputar - putarnya dan tiba-tiba terdengar suara berkerotokan dan daun pintu itupun terbuka! Semua orang bersorak ke- girangan.

"Engkau memang hebat, enci Lian!" Siok Eng memujinya ketika Pek Lian melompat turun. "Sudahlah, mari kita lari ke pantai!" kata Pek Lian. Mereka berlima cepat berlari - larian

menuju pantai, Pek Lian dan Siok Eng menjadi penunjuk jalan karena kedua orang dara ini hendak mencari perahu-kecil mereka, yaitu milik Tiat - siang - kwi, tokoh ke dua dari Tujuh Iblis Ban - kwi

- to, perahu yang mereka larikan itu. Begitu mereka menemukan perahu, mereka berlima segera naik ke perahu kecil itu dan mendayungnya meninggalkan pulau. Pada saat itu, mereka melihat orang berbondong - bon-dong lari ke pantai. Mereka telah ketahuan oleh Tikus Beracun dan anak buahnya, akan tetapi pe-rahu mereka telah menjauh dan mereka telah aman dari gangguan iblis- iblis jahat itu.

*

**

"Ah, ternyata telah sehari penuh kita terkurung di dalam terowongan bawah tanah itu," kata Yap-lojin. "Untung ada nona Ho Pek Lian, kalau tidak

ah, agaknya aku orang tua ini sekarang hanya

tinggal nama saja. Aku dan muridku ini sungguh berhutang budi dan nyawa kepada nona

Ho."

"Aih, Yap - locianpwe, bagaimana dapat bersi-kap sungkan begitu ? Di antara kita ini mana

bisa dikatakan melepas dan berhutang budi ? Aku bah-kan berterima kasih sekali dapat bertemu kembali dengan enci Bwee Hong. Bagaimanakah enci Bwee Hong dapat muncul secara demikian tiba-tiba bersama locianpwe di pulau iblis itu ? Aih, enci Hong, aku sudah putus harapan dan mengira eng-kau telah benar-benar lenyap ditelan lautan ga-nas," kata Pek Lian.

"Sama saja dengan kekhawatiranku, adik Lian. Kusangka engkaupun sudah lenyap ketika aku ter-cebur ke dalam lautan itu."

"Ah, aku kebetulan sekali bertemu dengan pera-hu adik Siok Eng dan ialah yang menolongku. Ke-mudian ia mengajakku ke Pulau Ban - kwi - to itu karena ia hendak mencari setangkai bunga obat yang hanya terdapat di sana. Dan engkau sendiri bagaimana, enci Hong ?"

"Akupun terapung - apung dan kebetulan ber-temu dengan perahu Yap - locianpwe sehingga be-liau dan Yap - taihiap yang menyelamatkan aku. Karena mereka berdua sedang menuju ke Pulau Ban - kwi - to untuk mencari putera Yap-locianpwe, maka akupun ikut dengan mereka. Sama sekali tidak pernah kuduga bahwa di tempat pesta yang berbahaya itu aku akan bertemu dengan engkau dan adik Siok Eng yang menyamar sebagai selir-selir cantik!"

Tiga orang gadis itu lalu bercakap - cakap de-ngan gembira setelah pertemuan yang sama sekali tak tersangka - sangka itu, pertemuan yang menda-tangkan kegembiraan karena melihat kenyataan bahwa teman yang disayangnya itu ternyata masih dalam keadaan selamat. Apa lagi setelah apa yang mereka alami di terowongan itu dan kemudian mereka bersama berhasil menyelamatkan diri dari ancaman bahaya maut.

"Nona Ho," akhirnya Yap - lojin berkata, "ka-lau nona mengetahui di mana adanya puteraku, harap segera memberi tahu karena aku ingin sekali tahu di mana dia berada."

Darah 17

"Dia berada tak jauh dari sini, locianpwe. Di pulau kediaman Thian - te Tok - ong "

"Hemm, Si Kelabang Hijau tokoh ke lima dari Tujuh Iblis itu ?"

"Benar, locianpwe. Lihat, air laut di sini berwarna kekuning - kuningan dan berbau busuk." "Memang begitu," kata Siok Eng yang banyak tahu tentang Ban - kwi - to karena sebelum

berang-kat ia telah mempelajarinya dari ayahnya. "Air laut di sini terkena pengaruh racun membusuk dari bangkai - bangkai dan tulang - tulang yang dibuang oleh Tiat - siang - kwi tokoh ke dua dari Tujuh Iblis. Tempat ini sudah termasuk wilayahnya. Nah, itu pulau yang nampak gersang di depan, di sanalah raksasa itu tinggal."

"Hemm, tempat mengerikan," kata Kiong Lee. "Tidak nampak pohon sama sekali. Hanya batu dan pasir melulu. Tempat berbahaya !"

"Lebih baik kita berputar dan menghindari tem-pat ini. Bukan main busuk baunya."

Perahu didayung terus meninggalkan pulau ger-sang itu dan bau busuk itupun makin menghilang dan kini air laut berobah warnanya menjadi agak kebiruan bercampur warna ungu, dan bau yang tadinya busuk seperti bangkai itu kini berobah menjadi amis sekali, makin lama makin memuakkan! Semua orang memencet hidung karena bau itu membuat orang ingin muntah.

Post a Comment