"Ha-ha-ha, kusangka dia tadi seekor kerbau yang sedang meluku sawah!"
Teriak orang ke dua, orang ini kurus kering seperti berpenyakitan.
"Kau kira apa? Apa sih bedanya si tolol dengan seekor kerbau? Hei, tolol! Coba tirukan suara kerbau, bagaimana?"
Teriak orang ke tiga yang gendut. Mereka itu tiga orang pemuda yang melihat pakaiannya saja dapat diketahui bahwa mereka itu adalah orang-orang kota! Padahal, merekapun tadinya orang-orang dari dusun tak jauh dari situ, hanya sudah lama mereka tinggal di kota dan ketularan kesombongan orang-orang kota yang memandang rendah kepada para petani yang miskin.
Kini mereka memperolok seorang pemuda petani, padahal mereka lahir di rumah-rumah keluarga petani. Pemuda yang sedang mencangkul itu sudah mendengar bahwa tiga orang pemuda itu adalah pemuda berandalan yang sudah sepekan suka melakukan hal-hal yang buruk, memperlihatkan kenakalan mereka mendatangkan keributan dan perkelahian, juga kekacauan. Oleh karena itu dia bersikap tidak perduli dan pura-pura tidak mendengar saja. Tiga orang pemuda itu mendongkol juga karena olok-olok mereka sama sekali tidak dilayani. Mereka selalu memperoleh kegembiraan dari olok-olok mereka, baik kalau yang dihina itu melawan maupun ketakutan. Akan tetapi pemuda petani itu diam saja, menganggap mereka seperti angin saja! Marahlah mereka.
"Hei, tolol! Apakah kamu tuli atau gagu?"
"Hayo naik ke sini, kau harus bersihkan sepatu kami dengan baik!"
"Kalau tidak, akan kuhajar kamu! Hayo naik ke sini!"
Akan tetapi, pemuda itu tetap diam saja, hanya melirik sedikit dan di dalam hatinya dia mengambil keputusan bahwa kalau tiga orang itu berani masuk ke sawahnya, dia akan melawan mereka, akan membuat mereka berenang di sawahnya dan minum air lumpur!
"Hayo naik kamu, pengecut! Naik ke sini biar kuhajar kau sampai minta-minta ampun!"
Teriak pula tiga orang pemuda itu sambil mencak-mencak dengan marah. Mereka tidak berani memasuki sawah karena takut kalau sepatu dan pakaian mereka men-jadi kotor. Akan tetapi pemuda petani itu tetap diam saja dan melanjutkan pekerjaannya mencangkul dengan tekun.
"Kurang ajar! Serang dia dengan batu kata seorang dari mereka dan mereka bertiga kini mencari batu-batu sebesar kepalan tangan dan menyambitkan batu-batu itu ke arah pemuda petani.
Pemuda petani itu berusaha untuk menangkis dan mengelak, akan tetapi masih ada batu yang mengenai kepalanya sampai timbul benjolan besar. Tiga orang pemuda itu tertawa-tawa. Mulai giranglah hati mereka karena mereka dapat menghajar pemuda petani itu. Mereka akan menghujankan batu sampai pemuda itu roboh dan minta-minta ampun! Melihat keadaan pemuda petani itu, hati Siu Kwi merasa khawatir. Ia sudah marah sekali terhadap tiga orang pemuda berandalan dan kalau ia mau, sekali menggerakkan tangan saja ia akan dapat membunuh mereka dan hal itu tentu sudah dilakukannya sejak tadi kalau saja tidak terjadi perubahan besar dalam hati Siu Kwi. Kini ia keluar dari balik semak-semak dan berseru dengan suara yang sengaja dibikin agar terdengar seperti suara orang ketakutan.
"Jangan sambiti dia.... ah, jangan sakiti dia....!"
Tiga orang pemuda itu terkejut dan menoleh heran. Akan tetapi wajah mereka menjadi terang berseri dan mulut mereka menyeringai nakal ketika mereka melihat bahwa yang berseru itu adalah seorang wanita yang demikian cantik manisnya! Mereka merasa tercengang dan tidak pernah menduga sama sekali bahwa di tempat sunyi itu mereka akan dapat bertemu dengan seorang wanita secantik itu! Tentu saja mereka menjadi girang sekali karena mereka sudah membayangkan kesenangan yang akan mereka dapat dari wanita itu.
"Ahhh....! Tidak mimpikah aku?"
Teriak si gendut.
"Benarkah di depanku ada wanita secantik bidadari?"
"Luar biasa sekali! Petani tolol busuk itu mempunyai seorang pacar yang begini cantiknya!"
Kata si kepala besar.
"Hati-hati, kawan. Jangan-jangan ia ini seorang siluman!"
Kata si kurus kering. Siu Kwi merasa heran sekali atas perubahan yang terjadi pada dirinya. Kenapa ia tidak marah dan membunuh mereka ini? Dahulu, jangankan sampai menggoda dengan nada menghina, baru memandang secara kurang ajar saja, kalau ia tidak suka kepada laki-laki itu, tentu akan dibunuhnya seketika!
"Dia tidak bersalah apa-apa, kenapa kalian menganggunya?"
Hanya itu saja yang ia katakan, itupun dengan nada meminta agar para pemuda itu jangan mengganggu si petani. Sementara itu, pemuda petani itu terkejut bukan main melihat munculnya wanita cantik itu dari balik semak-semak. Dia tahu bahwa tiga orang pemuda berandalan itu tentu tidak akan mau melepaskan wanita itu begitu saja. Karena khawatir kalau gadis itu menderita dari gangguan mereka yang kurang ajar, pemuda petani itu segera melangkah keluar dari dalam sawah, lalu cepat menghampiri mereka dan berdiri di depan gadis itu dengan sikap melindungi.
"Kuharap kalian tidak mengganggu gadis ini. Kami adalah orang-orang yang tidak pernah mengganggu kalian, maka kuminta dengan sangat agar kalian tidak mengganggu kami,"
Kata pemuda itu dengan sikap tenang. Melihat pemuda yang bertelanjang dada dan berlepotan lumpur ini kini berani melindungi wanita itu, tiga orang pemuda berandalan menjadi marah sekali.
"Petani busuk, mampuslah!"
Bentak si perut gendut dan dia sudah menyerang dengan pukulan keras menyambar ke arah muka si pemuda petani.
"Desss....!"
Pemuda petani itu tidak mengira bahwa dia akan dipukul, maka dia tidak sempat menangkis dan mukanya kena dipukul. Pukulan ini tepat mengenai batang hidungnya, maka segera nampak darah keluar dari lubang hidungnya.
"Plakkk....!"
Karena marah, si pemuda petani membalas dan tangannya yang menampar mengenai pipi si gendut.
Tubuh si gendut terpelanting. Tamparan itu demikian kerasnya sampai membuat matanya berkunang dan kepalanya berdenyut-denyut, ditambah rasa panas dan pedih di pipinya. Dua orang temannya segera maju mengeroyok. Pemuda petani itu mengamuk. Kini dia dikeroyok tiga, dan tiga orang pemuda berandalan itu seperti tiga ekor serigala yang mengeroyok seekor anjing pemburu yang melawan mati-matian. Akan tetapi karena pemuda petani itu tidak pandai silat, hanya mengandalkan kekuatan tubuh yang tahan pukulan dan tenaga besar semangat berkobar, dia menjadi bulan-bulanan pukulan dan tendangan tiga orang pengeroyoknya. Biarpun demikian, sungguh dia bertubuh kuat dan biarpun dihujani pukulan dan dikeroyok, dia masih sempat berteriak.
"Nona, cepat kau pergilah dari sini!"
Siu Kwi memandang dengan penuh kagum. Pemuda petani itu kini menjadi seorang yang kegagahannya tidak kalah oleh para pendekar manapun juga. Bahkan mungkin lebih gagah, pikirnya. Kalau seorang pendekar berani membela orang lain, dia mengandal-kan kepandaian silatnya dan senjatanya. Akan tetapi, pemuda ini membelanya mati-matian, pada hal pemuda sederhana ini tidak pandai silat.
Bahkan dalam hujan pukulan itu dia masih minta kepada-nya untuk menyelamatkan diri. Dia benar-benar merasa gembira karena selama hidupnya baru sekaranglah dia bertemu dengan seorang pria yang membelanya mati-matian tanpa pamrih sedikitpun juga! Biasanya, di dalam kehidupannya yang lalu, kalau ada pria membelanya, maka di balik pembelaan itu tentu mengandung pamrih tertentu. Seperti Bhok Gun misalnya. Para pria yang bersikap baik kepadanya tentu mengharapkan imbalan jasa. Akan tetapi pemuda petani ini sama sekali tidak! Mereka tidak saling mengenal, dan pemuda itu jelas tidak mengharapkan apa-apa, bahkan minta agar ia pergi secepatnya. Keharuan, suatu perasaan aneh yang baru pertama ini dikenal Siu Kwi, menyelubungi hatinya dan iapun cepat pura-pura melarikan diri.
Akan tetapi ia cepat menyelinap kembali, tanpa diketahui mereka, dan bersembunyi di balik pohon tak jauh dari tempat perkelahian itu terjadi, mengintai dengan hati penuh kagum dan khawatir. Pemuda tani itu benar-benar hebat! Biarpun tubuhnya menjadi bulan-bulan pukulan dan tendangan sehingga dada yang bidang itu, juga lengannya, menjadi matang biru, bahkan mukanya juga benjol-benjol, namun dia pantang menyerah. Seperti seekor harimau terbuka dia mengamuk terus, tidak sedikitpun keluhan keluar dari mulutnya. Sebaliknya, setiap kali dia membalas dan mengenai tubuh lawan, tentu pengeroyok yang kena dipukul atau ditendang berteriak kesakitan lalu memaki-maki dan membalas dengan serangan membabi buta. Dari keadaan perkelahian itu saja sudah dapat dinilai watak masing-masing.
Pemuda petani itu bertubuh kuat sehingga akhirnya tiga orang lawan yang mengeroyoknya dan lebih banyak memukulnya itu menjadi kewalahan sendiri. Mereka lalu mencabut pisau belati dan mengepung dengan wajah beringas seperti serigala haus darah. Melihat berkilatnya tiga buah pisau belati di tangan mereka, Siu Kwi mengerutkan alisnya. Pemuda petani itu tentu akan celaka kalau ia tidak turun tangan, pikirnya. Jari-jari tangannya memungut tiga butir batu kerikil dan tiga kali tangannya terayun ke depan. Tiga orang pemuda yang sudah mencabut pisau belati itu tiba-tiba mengeluarkan pekik kesakitan, pisau mereka terlepas dari tangan dan untuk beberapa detik lamanya mereka tidak mampu bergerak. Kesempatan ini dipergunakan oleh pemuda tani, yang tidak tahu mengapa mereka melepaskan kembali pisau-pisau mereka, untuk maju menghajar mereka dengan pukulan-pukulan keras.