"Baru-baru ini perasaan itu berakhir, Lan-moi, akan tetapi selama bertahun-tahun, aku seperti hidup di alam mimpi, setiap hari aku melamun dan merasa kesepian yang selalu menghantui diriku. Dan semua itu timbul karena.... putus cinta, Lan-moi."
Bi Lan tertarik sekali.
"Ceritakanlah, toako, ceritakanlah. Aku ingin sekali mendengar tentang cinta itu!"
Melihat betapa gadis itu kini nampak bersemangat, Sim Houw tersenyum.
"Mari kita tinggalkan dulu tempat ini,"
Dia melirik ke arah gundukan tanah di mana terkubur enam mayat itu.
"Di dalam hutan sana itu aman kita bicara."
Mereka lalu memasuki hutan dan di bawah sebuah pohon besar, di mana terdapat batu-batu yang kering dan bersih, mereka duduk berhadapan.
"Ketahuilah, Lan-moi. Ketika aku berusia belasan tahun, oleh orang tuaku aku telah ditunangkan dengan seorang gadis yang kemudian menjadi sumoiku sendiri karena gadis itu adalah puteri tunggal dari suhu. Akan tetapi, kalau aku yang telah menerima ikatan perjodohan itu dengan taat mulai memperhatikan gadis itu dan sudah mempunyai perasaan cinta, sebaliknya gadis itu tidak cinta kepadaku, melainkan cinta kepada orang lain! Melihat kenyataan ini, maka aku mengalah, akulah yang memutuskan tali perjodohan itu sehingga gadis itu dapat menikah dengan pria yang dicintanya."
Sampai di sini, Sim Houw berhenti dan termenung.
"Dan kau....?"
Bi Lan bertanya, hatinya merasa terharu. Ia dapat membayangkan betapa sedihnya hati pemuda itu, dan betapa luhur budinya, mengalah karena ingin membahagiakan gadis yang dicintanya.
"Aku....?"
Sim Houw tersenyum pahit.
"Aku lalu merantau.... sampai sekarang ini."
"Sumoimu....? Ahhh, bukankah wanita cantik yang sakti itu, yang memegang suling emas, isteri dari pendekar Suma Ceng Liong, ia itulah sumoimu? Jadi iakah orangnya gadis.... yang pernah menjadi tunanganmu itu?"
Sim Houw sudah menguasai kembali hatinya dan dia mengangguk sambil tersenyum.
"Ia hebat dan lihai, bukan? Dan suaminya juga hebat. Mereka memang pasangan yang sepadan dan cocok, aku ikut gembira melihat ia berbahagia dengan suaminya dan mereka telah mempunyai seorang anak perempuan yang demikian manis."
Bi Lan memandang dengan sinar mata kasihan.
"Dan engkau sekarang masih merasa kesepian, toako?"
"Tidak, tidak lagi! Penderitaan itu sudah lewat bagiku."
Dan diam-diam Sim Houw maklum bahwa yang melenyapkan perasaan kesepian itu adalah setelah dia berjumpa dengan Bi Lan! Dia mencinta gadis ini, akan tetapi cintanya sekali ini bukan sekedar cinta nafsu yang dibangkitkan oleh gairah karena tertarik oleh pribadi dan kecantikan Bi Lan. Tidak! Ia mencinta Bi Lan, merasa kasihan kepada Bi Lan dan dia ingin melihat orang yang dicintanya ini berbahagia. Bukan hanya ingin memperoleh gadis ini sebagai isterinya agar selamanya tidak berpisah darinya, Dia tidak akan menderita lagi walaupun dia tidak menjadi suami Bi Lan, asal gadis ini hidup bahagia.
"Dan sejak itu kau.... kau tak pernah jatuh cinta lagi?"
Pertanyaan yang tiba-tiba ini mengejutkan hati Sim Houw. Akan tetapi dia tenang sekali sehingga kekagetannya tidak sampai nampak di wajahnya. Dia hanya menggeleng kepalanya. Apa lagi yang dapat dilakukannya? Mengaku bahwa kini dia jatuh cinta kepada Bi Lan? Tidak! Biarpun dia sungguh mencinta gadis ini, dia tidak akan membuat pengakuan, tidak akan memberi kesempatan gadis ini mentertawakannya.
Putus cinta merupakan suatu kegagalan yang pernah dialami dan ditertawakan cintanya akan merupakan hal yang lebih menyakitkan lagi. Biarlah cintanya kepada Bi Lan menjadi suatu rahasia saja bagi dirinya sendiri. Tiba-tiba ada suatu keinginan menyelinap di hati Bi Lan. Ia ingin menghapus kedukaan Sim Houw karena penderitaan putus cinta itu. Ia ingin membahagiakan orang ini. Ia ingin orang ini dapat jatuh cinta lagi dan bukan kepada orang lain, kecuali kepada dirinya! Betapa akan bahagianya dicinta oleh seorang pendekar yang memiliki cinta kasih sedemikian besar dan tulusnya. Seorang pria yang sudah matang, tidak dan bukan pemuda mentah seperti Hong Beng dan Kun Tek, cinta yang penuh cemburu, dan cinta yang membanding-bandingkan seperti Kun Tek. Hong Beng dan Kun Tek! Dua orang pemuda itu dapat membantunya. Setidaknya, nama mereka.
"Cinta memang membuat orang menjadi bingung, ya, toako? Aku sendiripun bingung menghadapi-nya!"
Tiba-tiba Bi Lan berkata dan wajahnya membayangkan kedukaan. Rasa kaget yang lebih besar melanda hati Sim Houw. Tidak lagi! Begitu kejamkah nasib sehingga baru saja bertemu dan jatuh cinta, dia sudah harus mendengar bahwa Bi Lan juga sudah mencinta pemuda lain? Terlalu cepat datangnya, terlalu kejam walaupun dia sudah siap dengan kekuatan batin yang sudah mengalami luka patah cinta. Dia tetap tenang ketika bertanya.
"Hemm.... apakah hatimu juga dilanda cinta, Lan-moi?"
"Aku tidak tahu. Akan tetapi ada dua orang pemuda yang sama-sama menyatakan cinta kepadaku. Mereka adalah Gu Hong Beng dan Cu Kun Tek...."
"Ahh!"
Sim Houw tercengang karena hal ini sama sekali tak pernah dibayangkannya. Paman cilik itu telah jatuh cinta! Hampir dia tertawa, akan tetapi lalu teringat bahwa sekarang Kun Tek bukan seorang anak kecil lagi, melainkan seorang pemuda yang telah dewasa!
"Mula-mula Hong Beng yang lebih dahulu mengaku cinta. Kemudian Kun Tek juga menyatakan cinta kepadaku. Hong Beng pernah merasa cemburu dan berkelahi dengan Kun Tek. Akan tetapi sekarang agaknya mereka sudah dapat mengatasi rasa cemburu itu dan keduanya nampak sudah rukun dan akrab. Aku menjadi bingung, Sim-toako."
"Kenapa bingung? Pilih saja salah satu, mana yang berkenan di hatimu."
"Kalau menurut pandanganmu, siapa di antara kedua pemuda itu yang lebih baik, Sim-toako?"
Bertanya demikian, Bi Lan menatap wajah itu dengan penuh perhatian dan sinar matanya yang tajam itu seolah-olah hendak menembus ke dalam dan menjenguk isi hati Pendekar Suling Naga. Sim Houw mengerutkan alisnya. Dia berpikir dengan sungguh-sungguh karena dia menanggapi permintaan gadis itu dengan sungguh hati pula.
"Lan-moi, sungguh pertanyaanmu ini aneh sekali. Perjodohan hanya benar kalau berdasarkan cinta kasih, dan hanya engkau sendiri yang mengetahui siapa di antara kedua orang pemuda itu yang kau cinta."
"Justeru itu yang tidak aku ketahui, toako. Selama hidupku, belum pernah aku jatuh cinta. Aku tidak tahu yang mana di antara mereka yang kucinta. Akan tetapi terus terang saja, aku suka keduanya karena mereka berdua adalah murid-murid orang sakti, memiliki ilmu kepandaian tinggi, keduanya adalah pendekar-pendekar sejati, dan keduanya sudah pernah menyelamatkan aku dari ancaman maut. Oleh karena itu, sukar bagiku untuk memilih seorang di antara mereka. Tolonglah, toako, tolong bantu aku. Menurut engkau, siapa di antara mereka yang lebih baik?"
Ia berhenti sebentar lalu menyambung,
"Terus terang sajalah, Sim-toako, apakah aku harus memilih salah satu dan yang mana, ataukah aku harus menolak dua-duanya?"
Tentu saja kalau menurut kata hatinya, Sim Houw akan mengatakan agar gadis itu menolak keduanya! Akan tetapi Sim Houw tidak melakukan hal ini, tidak mau melakukan begitu karena dia tidak mau mempengaruhi pilihan hati Bi Lan. Betapapun juga, dia harus membantu gadis itu agar jangan salah pilih.
"Aku tidak ingin mempengaruhimu, Lan-moi. Engkau tahu bahwa Cu Kun Tek adalah pamanku, walaupun usianya jauh lebih muda dariku. Akan tetapi hubungan keluarga itu sama sekali tidak kumasukkan dalam penilaianku. Mari kita nilai mereka itu seorang demi seorang. Pertama kita menilai Gu Hong Beng. Dia murid pendekar Sakti Suma Ciang Bun, seorang anggauta keluarga Pulau Es, akan tetapi aku tidak tahu siapa orang tuanya. Dan menurut ceritamu, dia berwatak pencemburu, sedangkan sifat-sifatnya tentu engkau yang lebih tahu karena engkau pernah bergaul dengannya. Sekarang Cu Kun Tek. Dia keturunan penghuni Lembah Naga Siluman dan keturunan keluarga Cu yang terkenal sebagai keluarga yang memiliki kepandaian tinggi dan kegagahan luar biasa, dan tentu dia telah mewarisi ilmu dari keluarga itu. Sepanjang pengetahuanku, dia jujur dan keras akan tetapi sifat-sifat itu memang merupakan sifat keluarga Cu di Lembah Naga Siluman. Adapun sifat-sifat lainnya, engkau pula yang lebih mengenalnya. Nah, sekarang terserah kepadamu untuk memilih yang mana."
Diam-diam sejak tadi Bi Lan memperhatikan Sim Houw dan mendengar ucapan dan melihat sikap yang sungguh-sungguh itu, tiba-tiba saja Bi Lan merasa kecewa. Agaknya pendekar ini sama sekali tidak peduli ia akan berjodoh dengan pria mana! Pendekar ini sama sekali tidak menaruh perhatian kepada dirinya! Tiba-tiba saja Bi Lan merasa nelangsa sekali. Ia merasa betapa kini, satu-satunya orang yang dekat dirinya, dekat pula dengan hatinya, hanyalah Sim Houw. Kalau Sim Houw begitu acuh terhadap pilihannya akan seorang calon suami, berarti pendekar ini tidak menaruh hati kepadanya. Ia menarik napas panjang.
"Sudahlah, Sim-toako. Aku sendiri sudah menolak cinta mereka. Hong Beng kuanggap kekanak-kanakan dan pencemburu besar, sedangkan Kun Tek hanyalah seorang laki-laki yang tinggi hati mengenai wanita. Aku sudah menolak cinta mereka berdua karena aku tidak cinta kepada mereka! Sekarang aku mau pergi saja, mencari subo.... selamat tinggal!"
Dan gadis itu sudah meloncat dan lari dengan cepat meninggalkan Sim Houw.
"Heiii! Nanti dulu, Lan-moi....!"
Sim Houw mengejar, akan tetapi gadis itu mengerahkan seluruh tenaganya dan ilmu gin-kang (meringankan tubuh) sehingga tubuhnya berlari seperti terbang saja. Sim Houw harus mengerahkan tenaga pula untuk dapat menyusul dan setelah mereka berlari berkejaran sampai jauh meninggalkan hutan itu, barulah Bi Lan dapat tersusul oleh Sim Houw.
"Lan-moi, berhentilah sebentar, aku mau bicara!"
Kata Sim Houw setelah berhasil mendahului lalu menghadang di depan gadis itu. Dia melihat betapa selain terengah-engah kelelahan, juga ada bekas-bekas air mata di kedua pipi Bi Lan. Mudah dilihat bahwa ketika berlari-larian, Bi Lan telah menangis!
"Sim-toako, kenapa engkau mengejarku?"
Bi Lan bertanya, dan suaranya yang agak parau juga membayangkan bekas tangis. Akan tetapi karena gadis itu berusaha menyembunyikan tangisnya, biarpun Sim Houw merasa heran sekali, dia pura-pura tidak melihat tangis itu.