Di rumah penginapan itu. Mereka hanya berdoa bahwa pasukan itu tidak akan memasuki kamar mereka untuk melakukan penggeledahan. Karena kalau hal itu terjadi, andaikata mereka tidak ditangkappun, setidaknya mereka akan kehilangan barang berharga dan uang yang berada di dalam kamar mereka! Hal ini sudah diketahui oleh semua orang. Setiap kali anak buah pasukan keamanan itu melakukan penggeledahan, tentu kesempatan itu mereka pergunakan untuk mengambil barang-barang berharga dan uang orang yang sedang digeledah tanpa orang itu mampu memprotes.
Tidak ditahanpun sudah untung, maka orang-orang yang diambil barang-barangnya itu merasa lebih aman tutup mulut saja. Bukan hanya barang berharga yang diganggu, juga kalau ada wanita muda dan bersih, tentu tidak akan terbebas dari gangguan tangan-tangan jail para anak buah pasukan itu. Karena itu, setiap kali ada pembersihan, rakyat sudah gemetar ketakutan. Akan tetapi sekali ini, agaknya para pimpinan itu sudah puas ketika dapat menangkap Sim Houw dan Bi Lan. Terutama sekali Kim Hwa Nio-nio sudah puas dan girang karena berhasil mendapatkan kembali pusaka yang pernah oleh gurunya diberikan kepada orang lain. Pergilah pasukan itu membawa dua orang lawanannya ke gedung besar itu dan kedua orang tawanan ini dijebloskan ke dalam kamar tahanan yang kuat dan terjaga ketat, dan kaki tangan mereka masih dibelenggu, tubuh mereka ditotok pula!
Pemuda yang memasuki rumah makan dengan langkah yang tegap dan tenang itu usianya paling banyak dua puluh tahun. Tubuhnya tinggi besar, kulit mukanya agak kehitaman seperti muka yang sering kali tertimpa panas matahari. Namun wajah itu gagah dan bentuknya tampan, sepasang matanya memandang lurus dan tajam, penuh keberanian dan kejujuran, akan tetapi juga mengandung bayangan hati keras. Pemuda ini membawa sebuah buntalan pakaian dan jubahnya yang lebar panjang menutupi apa yang tersembunyi di ikat pinggangnya. Dia segera menghampiri sebuah meja yang masih kosong di sudut dan dari situ dia dapat memandang ke seluruh ruangan rumah makan itu yang telah diisi oleh belasan orang tamu yang makan siang di tempat itu. Pemuda itu adalah Cu Kun Tek, pendekar muda dari Lembah Naga Siluman di Pegunungan Himalaya itu.
Seperti kita ketahui, pemuda ini menderita kecewa karena cintanya ditolak oleh Bi Lan, bahkan dia dicemooh. Salahnya sendiri. Dia telah bersikap tolol sekali terhadap Bi Lan, sikap yang tentu menyakitkan hati gadis itu. Dan dia menyalahkan dirinya sendiri menghadapi penolakan Bi Lan. Hatinya terasa sakit dan kesepian setelah dia melakukan perjalanan seorang diri, tanpa gadis itu. Dia pergi meninggalkan lembah untuk mencari pengalaman dan meluaskan pengetahuan. Siapa kira, di tempat itu dia malah jatuh cinta dan sekaligus patah hati karena cinta gagal! Tiba-tiba dia melihat ada seorang pemuda masuk ke dalam restoran itu dan jantungnya berdebar keras ketika dia menpenal pemuda itu. Pemuda yang pernah menyerangnya mati-matian karena cemburu melihat hubungannya dengan Bi Lan!
Pemuda yang gagah perkasa dan lihai bernama Gu Hong Beng, yang agaknya juga jatuh cinta kepada Bi Lan dan ditolak oleh gadis itu. Diam-diam Kun Tek tersenyum dalam hati. Senyum pahit. Pemuda yang baru masuk ini mengalami nasib yang sama dengan dia. Sama-sama ditolak cintanya oleh Bi Lan, sama-sama patah hati. Di lain pihak, Hong Beng juga melihat dan mengenal Kun Tek. Hatinya berdebar dan diapun merasa tidak enak sekali. Bukan hanya karena dia menganggap Kun Tek sebagai seorang saingan, akan tetapi karena dia pernah menyerang pemuda itu secara membabi buta karena cemburu. Peristiwa itulah yang membuat dia merasa malu sekali dan dia pura-pura tidak melihat Kun Tek, menghampiri meja di sudut lain yang menghadap ke luar sehingga meja Kun Tek berada di seberang kirinya.
Dengan demikian, dia tidak usah berhadapan langsung dengan pemuda itu yang agaknya saling mencinta dengan Bi Lan! Melihat sikap Hong Beng, Kun Tek juga diam saja. Diapun merasa tidak enak hati. Kini dia dapat membayangkan betapa sakit rasa hati Hong Beng ketika itu, ketika melihat gadis yang dicintanya itu diraba-raba kulit pinggangnya oleh seorang pemuda lain! Dia dapat mengerti akan kemarahan Hong Beng yang langsung menyerangnya seperti orang mabok itu. Dan kini, dia sendiri dapat merasakan betapa sakitnya hati menderita cinta yang gagal, cinta yang hanya bertepuk tangan sebelah. Dan perasaan senasib sependeritaan membuat Kun Tek memandang ke arah Hong Ben dengan sinar mata akrab dan bersahahat, berbeda dengan sikap Hong Beng yang merasa tidak enak dan biarpun hanya bersisa sedikit,
Masih ada perasaan iri terhadap pemuda yang dianggapnya menjadi pilihan hati Bi Lan itu. Kebetulan sekali, kedua orang pemuda itu, tanpa disengaja, memesan makanan yang sama, yaitu bakmi goreng, bebek panggang dan arak! Hong Beng sebagai orang yang berasal dari selatan, lebih biasa makan nasi dan memesan nasi, sedangkan Kun Tek tidak, cukup dengan bakmi. Mereka berdua makan tanpa saling tegur atau lirik dan makanan mereka hampir habis ketika tiba-tiba restoran itu ramai dikunjungi banyak orang. Akan tetapi, dua orang pemuda itu melihat betapa para pengurus rumah makan itu menjadi pucat keta-kutan dan mereka itu berkelompok di belakang meja pemilik restoran dengan tubuh gemetar. Juga para tamu lain memandang dengan ketakutan ke arah orang-orang yang baru saja tiba itu.
Ketika Kun Tek dan Hong Beng memandang ke luar, mereka berduapun terkejut. Mereka mengenal siapa adanya wanita cantik dan pemuda tampan yang memimpin rombongan orang itu. Hong Beng sudah mengenal Bhok Gun dan Bi-kwi, pernah bentrok dengan mereka ketika dia menolong Bi Lan. Juga Kun Tek pernah menolong Bi Lan dari tangan Bhok Gun, maka kedua orang pemuda itu diam-diam bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan. Bhok Gun dan Bi-kwi menyapu ruangan rumah makan itu dengan pandang mata mereka penuh selidik. Akhirnya mereka melihat Hong Beng dan Kun Tek. Tentu saja mereka terkejut dan sekali melihat Kun Tek yang pernah menolong Bi Lan dari tangannya, Bhok Gun sudah marah. Sambil menunjuk ke arah pemuda itu, dia memerintahkan anak buahnya yang berjumlah dua puluh empat orang.
"Tangkap bocah itu. Dan kalau dia melawan, keroyok dan bunuh saja!"
Bagaikan anjing-anjing pemburu yang sudah terlatih baik, dua puluh orang lebih itu menyerbu ke dalam ruangan itu. Meja kursi yang menghalang di tengah jalan mereka tendang dan singkirkan sehingga sebentar saja tempat itu menjadi porak poranda. Para tamu lain sudah bangkit berdiri dan dengan wajah ketakutan menyingkir ke pinggir, berkelompok bersama dengan pemilik dan para pelayan restoran. Yang masih tetap duduk hanya Hong Beng dan Kun Tek. Kun Tek kelihatan tenang saja ketika banyak orang itu menghampiri dan mengepungnya.
"Orang muda, menyerahlah untuk kami tawan, dari pada kami harus mempergunakan kekerasan!"
Bentak seorang pengawal yang bermuka kasar penuh bopeng (cacar). Kun Tek menghirup arak yang masih tertinggal di dalam cawannya, lalu bangkit berdiri dan melempar cawan kosong ke atas meja.
"Aku tidak ber-salah, maka aku tidak sudi menyerah kepada anjing-anjing serigala!"
Bentaknya sambil menyambar buntalan pakaiannya dan dengan sikap tenang dia mengikatkan buntalan pakaian itu di punggung, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa, seolah-olah dia tidak sedang diancam dan dikepung oleh banyak lawan.
Mendengar ucapan itu dan melihat sikap pemuda yang amat memandang rendah mereka, para perajurit keamanan itu menjadi marah sekali. Mereka ini menjadi semakin tinggi hati saja setelah menjadi anak buah yang dipimpin oleh Bi-kwi dan Bhok Gun, karena mereka maklum betapa saktinya dua orang pimpinan mereka dan betapa mereka tidak pernah gagal menangkap orang. Dalam setiap pembersihan, selalu mereka berhasil baik dan mereka pulang dengan semua kantung di baju mereka penuh barang berharga. Si muka bopeng yang memandang rendah pemuda di depannya itu, memberi isyarat dan bersama tiga orang kawan lain, mereka menubruk maju hendak menangkap Kun Tek.
Akan tetapi, pemuda ini menggeser kakinya, kedua tangannya menyambar mangkok dan cawan, kakinya menendang meja. Meja itu terlempar dan menghantam dua orang di antara empat pengeroyok itu, sedangkan yang dua orang lagi, termasuk si muka bopeng, kena dihantam mangkok dan cawan muka mereka. Empat orang itu mengaduh-aduh dan terjengkang, si muka bopeng yang disambar mangkok mukanya itu berdarah dan membuat mukanya semakin buruk lagi. Kalau sudah sembuh luka karena tertusuk pecahan mangkok itu, tentu cacat mukanya yang bopeng itu bertambah! Melihat ini, kawan-kawan empat orang itu menjadi marah dan merekapun menerjang maju mengeroyok Kun Tek. Tiba-tiba berkelebat bayangan biru dan tahu-tahu Hong Beng sudah menerjang masuk ke dalam arena perkelahian itu.
"Maafkan, aku terpaksa mencampuri, sobat. Mari kita basmi anjing-anjing busuk ini!"
Mendengar ucapan Hong Beng, Kun Tek merasa girang sekali. Dia tidak membutuhkan bantuan, akan tetapi bantuan dari Hong Beng ini menunjukkan bahwa Hong Beng sudah melupakan semua hal yang pernah terjadi dan tidak lagi marah kepadanya.
"Terima kasih, bantuanmu kuhargai sekali!"
Katanya dan dengan gembira diapun mengamuk dengan kedua tangan telanjang saja. Tentu saja dua puluh lebih orang-orang ini bukan lawan tangguh dan mereka segera kocar-kacir oleh pengamukan kedua orang pemuda perkasa. Bhok Gun dan Bi-kwi segera memasuki gelanggang perkelahian dan keduanya sudah menggunakan pedang mereka, menerjang Kun Tek dan Hong Beng.
Kun Tek dan Hong Beng melayani mereka dengan kelincahan gerakan mereka. Hanya dengan tangan kosong, kadang-kadang menyambar pecahan meja atau kaki kursi, mereka berdua bukan hanya mampu menangkis semua serangan lawan, bahkan mampu membalas dengan tidak kalah berbahayanya. Kun Tek yang menghadapi Bhok Gun bahkan tidak merasa perlu mengeluarkan pedangnya, pedang pusaka Koai-liong Po-kiam yang oleh ayahnya sudah dipesan agar tidak sembarangan dikeluarkan kalau tidak terpaksa sekali. Hong Beng yang sudah melakukan penyelidikan di kota raja dan maklum bahwa dia dan pemuda tinggi besar itu menghadapi pasukan yang melakukan pembersihan, pasukan pemerintah yang entah bagaimana kini bisa dikuasai oleh orang-orang macam Bi-kwi dan Bhok Gun lalu cepat berkata kepada Kun Tek,
"Sobat, mari kita pergi!"
"Kenapa harus pergi? Aku tidak takut akan pengeroyokan mereka!"
Kun Tek membantah, merasa penasaran karena mereka berdua sama sekali tidak terdesak.
"Orang-orang ini adalah pasukan pemerintah, tidak baik melawan mereka. Nanti kuceritakan. Percayalah, mari kita pergi!"