Halo!

Suling Emas Naga Siluman Chapter 126

Memuat...

Yang ditanya menggeleng.

"Lihat ini! Dia melemparkan lukisan ini pada mukaku ketika aku menuntut upah lukisan!"

Kata utusan itu dan Si Tinggi Besar bersama kawannya lalu melihat lukisan yang telah robek menjadi dua itu di bawah lampu luar gedung. Ketika mereka berdua melihat lukisan itu, seorang di antara mereka tertawa.

"Heh, mirip memang!"

"Hushh!"

Bentak Si Tinggi Besar.

"Si Tua Bangka ini sengaja mempermainkan dan kita yang tidak memperoleh rejeki. Orang macam ini harus dihajar!"

Bentaknya dan dia menghampiri pelukis itu.

"Sabar, kawan."

Kata temannya.

"Sebaiknya kita antar dia kembali ke losmen. Tidak ada untungnya memukul orang tua lemah seperti dia."

Kembali Pouw Toan berjalan seenaknya dan dengan tenang saja diiringkan tiga orang yang kelihatan kecewa dan marah-marah itu.

Tak jauh di belakang mereka, Tek Hoat juga selalu membayangi dan diam-diam dia mulai kagum kepada Pouw Toan. Kiranya Pouw Toan tidak mengecewakan hatinya. Pelukis tua itu benar-benar hebat! Karena dipaksa, dia mau melukis, akan tetapi lukisannya dilakukannya seenak sendiri saja sehingga menjadi lukisan yang mengejek dan menelanjangi hartawan yang berenang dalam lautan nafsu itu. Sungguh tepat sekali lukisannya dan sepatutnya hartawan itu berterima kasih kepadanya karena telah disadarkan! Setelah tiba di losmen, Si Tinggi Besar itu mengantar Pouw Toan ke kamarnya dan dengan suara keras memerintahkan pelukis itu untuk mengumpulkan seluruh barang bawaan dan miliknya yang berada di kamar itu, kemudian me-maksanya keluar lagi.

"Eh, kalian hendak membawaku ke mana lagi?"

Tanya Pouw Toan.

"Huh, kusuruh melukis!"

Bentak Si Tinggi Besar.

"Melukis apa?"

"Melukis neraka!"

"Ha-ha-ha, aku senang sekali melukis neraka. Coba katakan, neraka itu macam apa?"

"Tolol! Mana aku pernah melihat neraka?"

"Aku pun belum, ha-ha-ha!"

Pouw Toan tertawa senang.

"Mari ikut dengan kami, kau akan melihat neraka dan akan dapat melukisnya."

Kata Si Tinggi Besar yang mendorong kakek itu. Mereka pergi lagi akan tetapi kini mereka membawa Pouw Toan ke luar kota dan di tempat yang sunyi, Si Tinggi Besar merampas buntalan Pouw Toan dari pundaknya.

"Eh, apa yang kau lakukan ini?"

"Aku ingin mengirim kau ke neraka agar engkau dapat melukisnya. Ha-ha-ha! Nah, buka pakaianmu itu!"

Si Tinggi Besar menodongkan goloknya. Akan tetapi pada saat itu tampak bayangan berkelebat.

"Desss! Aughhhhh.... !"

Si Tinggi Besar terpelanting ketika pundaknya ditampar oleh Tek Hoat yang tak dapat menahan kesabarannya lagi melihat betapa pelukis itu hendak dibunuh setelah barangnya dirampas, bahkan sebelum dibunuh pakaiannya disuruh buka! Dua orang teman Si Tinggi Besar terkejut sekali melihat munculnya seorang pengemis yang berani memukul temannya, segera menyerang. Akan tetapi, Tek Hoat menanti sampai tangan yang menyerangnya itu mendekat, kemudian dia mengangkat kedua lengannya menangkis.

"Krek! Krek!"

Lengan kedua orang itu patah tulangnya ketika bertemu dengan lengan Tek Hoat! Mereka mengaduh-aduh dan memegangi lengan yang patah tulangnya.

"Jembel busuk kau bosan hidup!"

Bentak Si Tinggi Besar yang sudah bangun dan kini dia menyerang dengan goloknya. Akan tetapi Tek Hoat menerima golok itu dengan tangannya, menangkap golok itu dan sekali mengerahkan tenaga, golok itu patah-patah dan dia lalu menampar lengan Si Tinggi Besar dengan pecahan golok masih di tangan.

"Creppp!"

Kembali Si Tinggi Besar menjerit dan sekali ini, tangan kanannya hancur dengan pecahan goloknya sendiri menancap sampai ke dalam daging dan mengenai tulangnya yang hancur. Dia merintih-rintih, kemudian bersama dua orang temannya dia melarikan diri tunggang-langgang setelah meninggalkan buntalan milik Pouw Toan. Sejenak suasana menjadi sunyi dan dua orang itu berhadapan di tempat remang-remang karena kegelapan hanya dilawan oleh sinar bulan sepotong. Kemudian terdengar Pouw Toan tertawa bergelak,

"Ha-ha, sejak tadi engkau selalu membayangi kami, Si Jari Maut!"

Bukan main kagetnya Tek Hoat mendengar ini. Kakek lemah itu tidak saja tahu bahwa sejak tadi dia membayanginya, akan tetapi bahkan telah mengenalnya pula! Akan tetapi dia, tidak peduli dan membalikkan tubuhnya, lalu pergi dari situ. Dia tahu bahwa pelukis itu mengikutinya, akan tetapi dia pun tidak peduli akan hal ini dan Tek Hoat lalu kembali ke jembatan yang menjadi tempat bermalamnya itu. Dia melihat kakek pelukis itu terus mengikutinya, akan tetapi dia pura-pura tidak melihat dan dia lalu turun ke bawah jembatan, lalu rebah melingkar lagi di tempatnya semula sebelum dia tertarik oleh percakapan orang di atas jembatan tadi.

"Ha-ha, sungguh tempat yang jauh lebih menyenangkan daripada losmen itu!"

Kata Pouw Toan.

"Wan Tek Hoat Taihiap, bolehkah aku ikut bermalam di sini?"

Kembali Tek Hoat terkejut. Orang ini bukan saja mengenalnya sebagai Si Jari Maut, bahkan mengetahui she-nya yang sesungguhnya, padahal jarang ada yang tahu akan she Wan itu, kebanyakan hanya tahu bahwa she-nya adalah Ang!

"Ini tempat umum, siapa pun boleh pakai."

Jawabnya singkat, kemudian disambungnya,

"Dari mana kau tahu aku she Wan?"

"Ha-ha, Taihiap, aku tua bangka tak berguna ini mengenal hampir semua tokoh di dunia kang-ouw, maka begitu melihat Taihiap aku pun segera mengenalmu. Aku banyak mendengar tentang dirimu dari sahabatku yang teramat baik, yaitu pendekar sakti Gak Bun Beng dan isterinya, Puteri Milana yang masih terhitung bibimu sendiri, bukan?"

Tek Hoat mengerutkan alisnya. Dia tidak senang mendengar dirinya dikenal, apalagi dihubungkan dengan orang-orang yang berkedudukan tinggi seperti Milana, biarpun harus diakuinya bahwa Milana adalah puteri Pendekar Super Sakti dan pendekar itu adalah kakek tirinya!

"Sudahlah, aku sendiri sudah lupa siapa diriku, apalagi engkau, seorang lain!"

Setelah berkata demikian, Tek Hoat lalu tidur dan sebentar saja dia sudah pulas. Diam-diam Pouw Toan menghela napas panjang berkali-kali dan dia merasa kasihan sekali kepada pendekar ini. Teringat dia akan pertemuannya dengan Puteri Syanti Dewi dan diam-diam dia merasa heran sekali bagaimana seorang puteri cantik seperti bidadari itu dapat begitu mendalam jatuh cinta kepada pendekar yang kini menjadi seperti jembel gila? Akan tetapi dia pun dapat menduga bahwa mungkin keadaan pendekar ini sampai menjadi begini justeru karena Si Puteri itulah!

Dia tidak tahu dan tidak pernah mendengar akan rahasia yang terjadi di balik hubungan antara pendekar ini dengan Puteri Syanti Dewi, akan tetapi dia teringat akan pesan Sang Puteri untuk menyerahkan lukisan dirinya kepada pendekar ini kalau dia dapat menjumpainya dan kini secara kebetulan sekali dia bertemu dengan pendekar ini! Lukisan itu masih selalu disimpan di dalam buntalannya dan tadi hampir saja terampas oleh orang jahat kalau tidak muncul Si Jari Maut, yang menyelamatkannya. Bahkan nyaris dia terbunuh oleh penjahat itu. Akan tetapi, dia bukan orang bodoh. Tadi dia sudah dapat melihat bahwa ada seorang jembel terus mengikutinya dan dia dapat menduga bahwa Si Jembel ini tentulah Si Jari Maut, oleh karena itu dia bersikap tenang saja dan menurut saja dibawa keluar kota oleh tiga orang itu.

Andaikata dia tidak yakin bahwa jembel itu tentu pendekar sakti itu, tentu dia tidak mau dibawa keluar kota seperti seekor domba dituntun ke pejagalan begitu saja. Melihat pendekar itu agaknya telah tertidur, Pouw Toan juga lalu merebahkan diri dan tak lama kemudian dia pun tertidur pulas dan bermimpi indah. Pouw Toan adalah seorang manusia bebas yang selalu merasa bahagia, dimanapun juga dia berada. Akan tetapi, begitu pelukis itu pulas, Tek Hoat terbangun dan dia duduk bersila. Dari bawah jembatan itu kini nampak bulan yang condong ke barat, sinarnya gemilang karena tidak terhalang awan. Agak jauh dari bulan sepotong itu nampak berkelap-kelipnya bintang dan jauh di timur nampak sebuah bintang terpencil sendirian, sunyi. Teringat Tek Hoat akan bunyi sajak pelukis yang kini tertidur itu. Dia masih hafal bunyinya karena amat tertarik. :

"Batin kosong tanpa isi

Post a Comment