Halo!

Sepasang Pedang Iblis Chapter 135

Memuat...

"Betul, dia merampasnya dari tanganku dengan tipuan rendah!"

Kwi Hong berseru. Mendengar ini, Bun Beng merobohkan lagi dua orang perajurit dan menerjang maju ke arah Kwee Sui. Pemuda ini sudah marah sekali. Biarpun dia tahu bahwa pemuda itu yang muncul secara tak terduga ini lihai, namun dia tidak takut. Dia adalah seorang murid Pulau Es yang berkepandaian tinggi, apalagi dia memegang sebatang pedang mujijat. Cepat dia menyambut terjangan Bun Beng dengan bacokan pedangnya yang mengeluarkan sinar kilat dan suara berdesing nyaring. Bun Beng cepat mengelak.

Biarpun Kwee Sui memiliki ilmu silat tinggi, namun berhadapan dengan Bun Beng dia bukan apa-apa. Bun Beng tidak takut menghadapi ilmu kepandaian Kwee Sui, akan tetapi dia ngeri menyaksikan sinar kilat pedang Li-mo-kiam itu, sebatang di antara Sepasang Pedang Iblis yang mempunyai wibawa menyeramkan. Melihat lawannya mengelak cepat seperti orang jerih, Kwee Sui tertawa dan merasa bangga, cepat ia menubruk maju lagi. Bun Beng kembali mengelak dan tiba-tiba dia tersandung mayat seorang perajurit, roboh terjengkang. Kwi Hong mengerti akan siasat ini, pandang matanya yang tajam dapat membedakan roboh buatan dan roboh sungguh-sungguh. Akan tetapi untuk membantu berhasilnya siasat Bun Beng, dia sengaja menjerit. Kwee Sui girang sekali, cepat menubruk.

"Ceppp.... auggghhh....!"

Pedang Li-mo-kiam kembali minum darah sepuasnya, kini darah dari dalam dada dan jantung Kwee Sui! Ketika Kwee Sui menubruk dan menusukkan pedangnya, Bun Beng yang pura-pura jatuh tadi cepat miringkan tubuh kemudian kakinya melayang dari samping tepat mengenai lengan kanan Kwee Sui yang memegang pedang sehingga pedang itu terpental membalik dan masuk ke dalam dada Kwee Sui sampai menembus ke punggung! Bun Beng cepat meloncat bangun,sebelum tubuh Kwee Sui roboh dia sudah menyambar gagang pedang dan mencabutnya. Darah mengucur seperti pancuran dari dada dan punggung Kwee Sui. Matanya terbelalak memandang ke arah Kwi Hong, kemudian robohlah pemuda yang khianat ini dengan mata masih terbelalak sungguhpun nyawanya telah melayang.

Bun Beng menggerakkan pedang itu. Sinar kilat yang lebih menyilaukan daripada ketika Kwee Sui menggerakkannya tampak dan sisa para penjaga yang tinggal empat orang itu roboh dengan tubuh putus menjadi dua potong. Tanpa membuang waktu lagi Bun Beng segera meloncat mendekati Kwi Hong, membabat putus belenggunya, kemudian melihat keadaan gadis yang lemas itu dia lalu menotok dua jalan darah di punggung dan pundak. Seketika Kwi Hong pulih kembali tenaganya dan dia.... menubruk Bun Beng sambil menangis! Bun Beng gelagapan, terpaksa memeluk pundak gadis itu dan tanpa disadarinya, jari tangannya mengelus rambut yang halus itu, yang berada di dadanya. Ia merasa betapa air mata gadis itu membasahi baju dan menembus ke dada.

"Tenanglah, Kwi Hong. Mengapa menangis?"

"Pulau kami.... ah.... bagaimana nasib mereka....?"

Kwi Hong terisak, tiba-tiba ia sadar betapa lengan pemuda itu memeluknya dan betapa tangan itu membelai dan mengusap rambutnya dengan mesra. Teringat akan ini, cepat ia merenggutkan tubuhnya dari atas dada Bun Beng, melompat ke belakang dan memandang Bun Beng dengan mata terbelalak penuh kemarahan!

"Kenapa.... kenapa kau memelukku....?"

"Ehhh....!"

"Kenapa kau membelai rambutku?"

Post a Comment