Halo!

Sepasang Pedang Iblis Chapter 126

Memuat...

"Ahh, tak salah lagi. Tentu itulah Pulau Es!"

Kata. Im-kan Seng-jin setelah turun kembali. Benda yang tampak oleh mereka itu adalah benda besar panjang yang mencorong tertimpa sinar bulan, berkilauan putih seperti kaca. Hanya pulau yang tertutup es sajalah yang dapat mengeluarkan pantulan sinar bulan seperti itu. Kalau siang tidak tampak karena sinar matahari terlaiu terang. Akan tetapi, sinar bulan yang lembut membuat cuaca remang-remang dan karena itu pantulan sinar bulan dapat tampak.

"Besok pagi kita menuju ke sana. Kalau benar di sana letak Pulau Es, setelah mendekati, lima kapal harus dipencar dan mengurung pulau. Pasukan dibagi dan dari sekarang kita harus mengatur rencana,"

Kata Bhong Ji Kun yang segera mengumpulkan semua pembantu dan para panglima pemimpin pasukan.

Malam itu juga dia membagi pasukan menjadi lima bagian dipimpin oleh komandan masing-masing, juga masing-masing pembantunya mengepalai pasukan sekapal. Kapal pertama dipimpin oleh koksu sendiri, ke dua oleh Maharya, ke tiga dan ke empat oleh kedua orang Lama, sedangkan kapal terakhir oleh Tan-siucai. Malam itu juga, mereka yang ditugaskan pindah ke kapal masing-masing dan semua pasukan mempersiapkan diri, yang tidak tugas jaga diperbolehkan tidur agar besok menjadi segar jika menghadapi pertempuran. Kwi Hong yang berlayar di atas perahunya, mengaso di dalam bilik perahu, membiarkan perahu-perahu itu dilayarkan oleh lima orang anak buah Pulau Es. Ketika perahu itu tiba di tepi pantai, sebuah perahu kecil meluncur cepat menyambutnya.

Perahu ini didayung oleh seorang pemuda tampan bertubuh tinggi besar, dan di dalam perahu penuh dengan ikan besar. Pemuda ini adalah Thung Ki Lok, putera dari Thung Sik Lun tokoh Pulau Es, sute dari Yap Sun. Usianya sudah dua puluh lima tahun, tampan dan gagah perkasa, mewarisi ilmu kepandaian ayahnya. Di punggungnya tergantung sebatang golok besar yang tajam mengkilap, dan tangannya memegang sebuah jala ikan. Melihat perahu itu dan melihat Kwi Hong berdiri di kepala perahu, dia melempar jala di atas ikan-ikannya, kemudian mendayung perahunya cepat sekali menyambut. Ketika perahu besar yang ditumpangi Kwi Hong menempel di darat, pemuda itu meloncat ke atas perahu, membawa seekor ikan yang besarnya sepaha orang, ikan yang kulitnya keemasan dan amat gemuk sehingga dalam keadaan mentah saja sudah kelihatan enak!

"Selamat datang, Nona. Sungguh besar sekali untungmu, begitu pulang aku berhasil mendapatkan seekor kakap merah yang lezat. Nah, kupersembahkan ikan ini kepadamu, Nona!"

Kata Thung Ki Lok sambil tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi yang kuat dan bersih. Hati Kwi Hong yang sedang kesal karena selalu memikirkan Bun Beng yang dikhawatirkan keadaannya, menjadi makin sebal melihat penyambutan yang amat ramah ini. Dia tahu bahwa sudah bertahun-tahun pemuda putera pembantu pamannya ini menaruh hati kepadanya. Sungguhpun Ki Lok tidak pernah membuka rahasia hatinya dengan kata-kata, namun dari gerak-geriknya, dari pandang matanya, dari suaranya, jelas menyatakan bahwa pemuda tinggi besar dan gagah perkasa ini jatuh cinta kepadanya. Anehnya, hal ini membuat Kwi Hong selalu merasa jengkel dan tidak senang!

"Terima kasih, Lok-ko. Aku lelah dan ingin mengaso, malas untuk masak-masak,"

Katanya sambil melompat ke darat. Sejenak Ki Lok melongo, namun dengan senyum yang tak pernah meninggalkan mukanya, dia meloncat pula mengikuti dan menghadang di depan Kwi Hong sambil berkata,

"Biarkan kumasakkan untukmu, Nona. Engkau suka ikan panggang, bukan? Akan kupanggang untukmu, kuberi bumbu yang enak. Harap kau jangan makan dulu, tunggu sampai ikan ini matang dan...."

"Sudahlah, Lok-ko, kau makan sendiri ikan yang dengan susah payah kau tangkap itu, kau makan bersama ayahmu. Aku tiada nafsu makan. Terima kasih!"

Kwi Hong lalu meloncat ke depan dan berlari ke tengah pulau. Tinggal Ki Lok yang berdiri dengan ikan di tangan, dipondong di atas kedua lengannya, dan berdiri melongo memandang bayangan gadis itu yang lenyap di antara pohon-pohon.

"Thung-kongcu, wanita itu seperti burung dara, kalau didiamkan mendekat, kalau didekati terbang menjauh. Lihatlah...."

Seorang di antara anak buah Pulau Es menuding ke arah pulau. Ki Lok sadar, mukanya menjadi merah dan ia menengok ke tengah pulau itu. Musim ini, di mana banyak sinar matahari, pulau itu ditumbuhi beberapa macam pohon sehingga kelihatannya lebih hidup daripada di musim dingin yang membuat pulau itu gundul sama sekali. Di antara pohon-pohon ia melihat Kwi Hong sedang berhadapan dengan seorang pemuda, bercakap-cakap. Ki Lok membalikkan tubuhnya, meloncat ke dalam perahu, melempar ikan kakap merah di antara tumpukan ikan-ikan lain lalu mendayung perahunya menjauhi perahu yang baru tiba.

Lima orang tukang perahu itu hanya menghela napas panjang karena mereka pun maklum bahwa seolah-olah terjadi perebutan antara Thung Ki Lok dan Kwee Sui, seorang pemuda tampan anak keluarga Pulau Es yang diambil murid oleh Phoa-toanio, yaitu Phoa Ciok Lin wakil majikan Pulau Es untuk urusan dalam. Namun semua orang maklum bahwa terhadap kedua orang muda yang seolah-olah bersaing memperebutkan cinta gadis cantik murid Pulau Es itu, Kwi Hong bersikap acuh tak acuh, bahkan kadang-kadang memperlihatkan dengan jelas bahwa dia tidak senang menghadapi rayuan mereka. Pemuda yang kini menyambut kedatangan Kwi Hong itu adalah Kwee Sui. Dia berusia dua puluh enam tahun, tubuhnya tidak tinggi besar seperti Ki Lok, akan tetapi sedang dan wajahnya tampan sekali, juga dalam hal bicara dan mengambil hati,

Dia lebih pandai daripada saingannya yang agak kaku. Memang sifat kedua orang pemuda itu jauh berlainan, sungguhpun keduanya sama tampan dan sama gagah. Semenjak kecil, Ki Lok suka bekerja di luar, yaitu mencari ikan menentang panasnya matahari dan melawan serangan ombak laut, berjuang melawan alam di samping mempelajari ilmu silat dari ayahnya. Wataknya terbuka dan jujur, pemberani dan agak kaku. Sebaliknya, Kwee Sui yang menjadi murid Phoa Ciok Lin, dapat mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi karena gurunya adalah wakil Pendekar Super Sakti, bahkan Phoa Ciok Lin adalah murid dari iblis betina Toat-beng Ciu-sian-li yang pernah menggemparkan dunia kang-ouw. Di samping ilmu silat, Kwee Sui juga suka belajar ilmu sastera dan ia selalu mengenakan pakaian bersih dengan potongan seorang sasterawan.

"Hong-moi, engkau baru pulang? Dan di mana Pamanmu, Suma-Taihiap, mengapa tidak ikut pulang?"

Demikian Kwee Sui menyambut dengan sikap ramah. Sebagai murid Phoa Ciok Lin, dia lebih dekat dalam pergaulannya dengan Kwi Hong dan menyebutnya moi-moi (adik), tidak seperti Ki Lok yang menyebutnya nona. Adapun semua anggauta Pulau Es, menyebut Taihiap (pendekat besar) kepada Suma Han yang tidak pernah suka disebut To-cu (majikan pulau) atau pangcu (ketua perkumpulan).

"Paman masih banyak urusan, aku disuruh pulang lebih dulu."

"Ahh, engkau tentu lelah. Biar kusuruh koki menyediakan makanan yang paling kausukai, Hong-moi. Inginkah kau mandi air hangat? Biar kusuruh pelayan menyediakan...."

"Terima kasih, Sui-ko, tak usah repot-repot, kalau aku perlu, aku akan menyuruh sendiri,"

Jawab Kwi Hong singkat, mulai tak senang hatinya. Datang-datang dia disambut oleh rayuan-rayuan kedua orang pemuda itu, betapa menyebalkan!

"Eh, engkau mendapatkan pedang baru, Hong-moi? Bukan main indahnya sarung pedang itu.... ihh, bolehkah aku melihatnya?"

Kwi Hong meraba gagang pedangnya dan menghunusnya separuh.

"Ayaaaa....!"

Kwee Sui meloncat ke belakang sampai tiga meter lebih dan mukanya berubah. Matanya silau ketika tadi melihat pedang yang baru dihunus setengahnya, dan ia bergidik setelah Kwi Hong menyarungkan kembali pedangnya. Gadis itu tersenyum, setidaknya dia girang betapa pemuda itu terkejut dan kagum bukan main melihat Li-mo-kiam. Dia merasa bangga akan pedang itu.

"Bukan main, Hong-moi. Pedang pusaka apakah itu? Luar biasa sekali, baru sinarnya saja agaknya sudah dapat membunuh orang!"

"Hemm, tentu saja ampuh. Pedang ini adalah Li-mo-kiam, sebuah di antara Siang-mo-kiam."

"Sepasang Pedang Iblis....?"

Kwee Sui terbelalak dan matanya lebar memandang ke arah pedang yang tergantung dalam sarung pedang di pinggang Kwi Hong.

"Yang sebatang lagi mana, Hong-moi? Apakah dibawa Taihiap?"

Kwi Hong hanya menggeleng kepala.

"Tidak perlu banyak bertanya, Sui-ko. Sudahlah, aku ingin bertemu Bibi Phoa kemudian beristirahat."

Gadis itu lalu meninggalkan Kwee Sui yang masih berdiri terlongong.

"Sepasang Pedang Iblis...."

Pemuda itu berbisik dan bergidik, akan tetapi hatinya ingin sekali melihat dan memegang pedang yang amat terkenal dan yang ia dengar diperebutkan oleh seluruh orang gagah di dunia kang-ouw itu. Setelah bertemu dengan Phoa Ciok Lin, Kwi Hong berkata,

"Bibi, dalam pelayaranku pulang, aku melihat dari jauh lima buah kapal perang, tentu milik pemerintah dan entah apa yang mereka cari di daerah ini. Harap Bibi suka perintahkan anak buah melakukan penjagaan lebih ketat, aku amat lelah ingin beristirahat."

Phoa Ciok Lin mengerutkan alisnya mendengar penuturan ini.

"Lima buah kapal perang pemerintah? Apa gerangan yang dicarinya di daerah ini?"

"Subo, biarlah teecu pergi menyelidiki!"

Tiba-tiba terdengar suara Kwee Sui yang ternyata menyusul masuk dan mendengar percakapan gurunya dengan Kwi Hong itu.

"Baiklah, lakukan penyelidikan dan usahakan untuk mengetahui apa kehendak mereka mendatangi daerah ini. Akan tetapi, jangan kau lancang memancing keributan dengan mereka. Taihiap tidak menghendaki kita terlibat dalam permusuhan dengan pihak manapun juga."

"Baik, Subo, teecu mengerti."

Setelah Kwee Sui berangkat, Phoa Ciok Lin lalu mengumpulkan tokoh-tokoh Pulau Es terutama sekali Yap Sun dan Thung Sik Lun, juga Thung Ki Lok, untuk mengatur penjagaan yang lebih ketat menjaga di sekitar pulau, kalau-kalau ada pihak musuh yang akan mendarat. Maka sibuklah semua penduduk Pulau Es, mereka melakukan penjagaan dan siap menghadapi segala kemungkinan selagi majikan mereka tidak berada di pulau.

Sementara itu, Kwee Sui seorang diri mendayung perahu kecil, meninggalkan pulau melalui celah-celah rahasia yang hanya diketahui oleh penghuni Pulau Es, biarpun pemuda ini tidak sepandai Ki Lok dalam hal mendayung perahu, namun karena semenjak kecil dia berada di atas pulau yang dikelilingi lautan dan karena tenaga sin-kangnya amat kuat, maka perahu itu meluncur cepat sekali ketika ia menggerakkan dayungnya. Dia tidak melihat adanya perahu besar atau kapal di situ, maka setelah mengelilingi pulau sehingga malam tiba, Kwee Sui mendayung perahunya ke pinggir, kemudian turun ke laut sebelah barat yang sunyi lalu tertidur dalam perlindungan dua buah batu besar. Dia pulas dan mimpi bertemu dengan Kwi Hong yang dalam mimpi itu suka menyambut rayuan cinta kasihnya. Hal ini terjadi karena sebelum tidur hatinya penuh kekecewaan akan sikap gadis itu yang belum pernah sedikit pun mau menghargai sikap manisnya.

Kadang-kadang timbul iri hatinya karena mengira bahwa dia kalah bersaing dengan Ki Lok, akan tetapi ketika tadi ia dalam persembunyiannya menyaksikan betapa sikap Kwi Hong juga dingin saja bahkan menolak mentah-mentah pemberian ikan oleh pemuda itu, hatinya menjadi lega dan harapannya timbul kembali. Kwee Sui enak mimpi sehingga dia tidak tahu bahwa malam telah terganti pagi, dan tidak tahu pula bahwa di depannya telah berdiri seorang pendeta berkepala gundul dan bertubuh gendut bundar. Pendeta ini bukan lain adalah Thian Tok Lama yang amat lihai. Dia mendapat tugas memimpin kapal yang mendekati Pulau Es di pagi hari itu dari sebelah barat dan berkat kepandaiannya yang tinggi, dengan dua potong papan diikatkan di bawah sepatunya, pendeta sakti ini dapat mendarat tanpa diketahui oleh seorang pun penjaga Pulau Es!

Para penjaga hanya melihat betapa lima buah kapal itu mendekati dan mengurung pulau, akan tetapi tidak berani mendarat. Tentu saja tak seorang pun di antara mereka menyangka ada orang dari kapal yang dapat "berjalan"

Di atas air seperti yang dilakukan Thian Tok Lama dengan bantuan dua potong papan di bawah kakinya. Apalagi pendeta Lama ini mendarat ketika cuaca masih gelap. Melihat seorang pemuda tidur pulas di pantai dan sebuah perahu kecil terikat di situ, Thian Tok Lama merasa girang sekali. Dia memang ingin menangkap seorang penghuni Pulau Es untuk ditanyai keterangan dan dipaksa menjadi petunjuk jalan, maka tanpa banyak cakap lagi dia lalu menotok jalan darah di belakang leher Kwee Sui.

Post a Comment