Halo!

Sepasang Pedang Iblis Chapter 125

Memuat...

Sai-cu Lo-mo berkata, suaranya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena kedukaan hatinya. Bukan saja lamarannya ditolak, bahkan ia diingatkan akan keadaan Bun Beng yang dianggap hina dan rendah. Di dalam hatinya ia memberontak. Apakah kesalahan cucu keponakannya itu dalam hal pemerkosaan dan kelahiran tidak syah? Apa hubungannya dengan seorang ayah seperti Gak Liat? Akan tetapi, tentu saja dia tidak berani membantah. Nirahai dapat mengerti kedukaan hati pembantunya ini, maka dia berkata lagi,

"Lo-mo, engkau hanya mengenal aku sebagai Ketuamu, hanya mengenal aku sebagai puteri Kaisar. Kalau engkau tahu siapa Ayah puteriku, engkau akan berpikir seribu kali sebelum mengajukan lamaran itu. Nah, mundurlah!"

Jantung Sai-cu Lo-mo berdebar. Sering kali dia menduga-duga siapa sebenarnya suami Ketuanya ini. Dia memberi hormat dan mengundurkan diri keluar dari ruangan itu, dan hatinya terasa berat sekali. Sepanjang pengetahuannya, Puteri Nirahai yang dahulu amat terkenal itu belum pernah menikah! Akan tetapi dikabarkan secara bisik-bisik bahwa puteri itu melarikan diri dari istana bersama Pendekar Super Sakti! Apakah Milana puteri Pendekar Super Sakti dan Puteri Nirahai?

Ia bergidik, ngeri memikirkan bahwa dia telah berani meminang anak dari Panglima Puteri Nirahai, puteri Kaisar, dan anak dari Ketua Pulau Es, Pendekar Siluman atau Pendekar Super Sakti! Tentu saja dia tidak akan berani melakukan pinangan itu sekiranya dia tahu bahwa Ketuanya masih merasa dirinya sebagai puteri Kaisar, dan sekiranya dia tahu bahwa Milana adalah puteri Pendekar Super Sakti! Baik Nirahai sendiri maupun Sai-cu Lo-mo tidak tahu bahwa percakapan mereka tadi terdengar oleh Milana. Dara ini tadinya hendak mengunjungi ibunya, dan dia berhenti mendengarkan dari luar ketika melihat Sai-cu Lo-mo menghadap ibunya. Ketika ia mendengar jawaban ibunya, Milana merasa jantungnya seperti ditusuk. Cepat-cepat dia meninggalkan tempat itu kembali ke kamarnya dan menghapus beberapa titik air mata yang membasahi pipinya.

Dia menganggap ibunya terlalu menghina Bun Beng! Tidak ingatkah ibunya bahwa Gak Bun Beng tidak pernah minta untuk dilahirkan sebagai keturunan Gak Liat, sama seperti dia yang tidak pernah minta untuk dilahirkan sebagai puteri Pendekar Super Sakti dan cucu Kaisar? Mengapa ibunya masih memandang keturunan dan kedudukan, setelah kesengsaraannya yang dialami ibunya karena kedudukannya sebagai puteri Kaisar? Milana tidak kecewa karena penolakan ibunya. Dia tidak terlalu ingin, bahkan tidak ada keinginan sama sekali menjadi isteri siapapun juga, tidak ingin menjadi isteri Bun Beng. Juga, dia tidak tahu apakah dia cinta kepada pemuda itu atau tidak. Yang jelas, dia suka kepada Bun Beng dan merasa kasihan kepadanya.

Apalagi kini ibunya sendiri menghina pemuda itu, dia merasa penasaran sekali dan rasa kasihan di dalam hatinya makin mendalam. Melihat hati ibunya yang rela menderita dan memaksa memisahkan diri dari ayahnya, Pendekar Super Sakti, melihat sepak terjang Thian-liong-pang menculiki tokoh-tokoh kang-ouw sungguhpun kini usaha itu telah dihentikan ibunya dan semua tokoh telah dibebaskan, Milana merasa bosan tinggal di situ dan dia ingin sekali bertemu dengan Bun Beng, melakukan perjalanan bersama pemuda itu. Tiba-tiba ia teringat akan musuh-musuh Bun Beng, teringat pula betapa pedang Hok-mo-kiam terampas oleh Tan-siucai dan Maharya, teringat pedang Lam-mo-kiam yang terampas oleh putera Pulau Neraka. Betapa banyak tugas yang dihadapi Bun Beng. Akan senang sekali kalau ia dapat membantu pemuda itu.

Pada keesokan harinya, Nirahai tak melihat puterinya. Milana telah pergi dari situ tanpa pamit dan biarpun Nirahai menyebar anak buahnya untuk mencari, usahanya sia-sia belaka, Milana tetap lenyap tanpa memberi tahu ke mana perginya dan apa tujuannya. Nirahai hanya dapat menarik napas panjang dan menyesali sikapnya yang terlalu memanjakan anak itu. Hanya dia tidak khawatir karena maklum bahwa tingkat kepandaian puterinya itu sudah cukup tinggi sehingga takkan mudah diganggu orang jahat. Mengapa puterinya tidak berterus terang saja kalau ingin merantau? Tanpa pamit begini, sedikit banyak membuat dia tidak tenang. Pendekar Super Sakti Suma Han dan Giam Kwi Hong keponakannya juga muridnya, berdiri di pantai laut. Sebuah perahu layar putih, perahu Pulau Es yang menjemput mereka, telah menanti.

"Kwi Hong, pedang itu tidak patut kau bawa-bawa. Engkau tidak layak memegang senjata laknat seperti itu."

Pendekar Super Sakti berkata halus sambil memandang pedang Lam-mo-kiam yang tergantung di punggung keponakannya. Kwi Hong mengerutkan alisnya.

"Akan tetapi, bukankah seluruh tokoh kang-ouw mencari Sepasang Pedang Iblis? Bahkan Paman sendiri dahulu pernah menyatakan kepadaku akan mencari Sepasang Pedang Iblis sampai dapat? Setelah sekarang sebatang di antaranya berada di tanganku, mengapa Paman berkata demikian? Harap beri penjelasan karena saya tidak mengerti."

Pendekar Super Sakti menarik napas panjang dan berdiri menekan tongkatnya.

"Memang semua pendekar, baik dari golongan bersih maupun kotor, ingin sekali memperoleh sepasang pedang yang ampuh dan mujijat itu, tentu saja dengan maksud agar sepasang pedang itu dapat membantu mereka mengangkat nama, mengandalkan keampuhannya. Akan tetapi aku mencari pedang itu dengan maksud untuk kulenyapkan selama-lamanya agar tidak menimbulkan keributan lagi di dunia."

Tangan kanan Kwi Hong mengelus sarung pedangnya, alisnya berkerut.

"Mengapa, Paman? Mengapa hendak dilenyapkan?"

"Engkau tidak mengerti. Riwayat Sepasang Pedang Iblis itu busuk sekali. Sungguhpun yang membuatnya adalah atas perintah mendiang pendekar wanita Mutiara Hitam, namun sepasang pedang itu telah dimasuki pengaruh roh jahat dari pembuat-pembuatnya berdasarkan ilmu hitam sehingga sepasang murid Mutiara Hitam pun menjadi korban saling bunuh. Akulah yang mula-mula menemukan mereka saling bunuh, kasihan mereka...."

Suma Han termenung, teringat akan masa lalu di waktu dia masih kecil dan mendapatkan Sepasang Pedang Iblis (baca cerita Pendekar Super Sakti). Akan tetapi bukan kakek dan nenek murid Mutiara Hitam yang terbayang olehnya, melainkan wajah Lulu, adik angkatnya, juga wanita yang paling dicintanya, yang sekarang menjadi Majikan Pulau Neraka, dia menghela napas panjang.

"Aku menguburkan jenazah mereka berikut Sepasang Pedang Iblis. Kemudian sepasang pedang itu lenyap dan kini yang sebatang terjatuh di tanganmu. Bagaimana hatiku akan tenang kalau engkau bersenjata pedang jahat itu?"

"Akan tetapi, Paman, bukankah Paman pernah mengatakan bahwa tidak ada ilmu yang baik atau jahat? Saya rasa demikian pula dengan senjata. Baik atau jahatnya tergantung daripada si pemakai, bukankah demikian? Kalau pedang ini dipergunakan untuk kejahatan, maka jahatlah dia, kalau dipergunakan untuk kebaikan, apakah juga jahat namanya? Maaf, Paman, bukan sekali-kali saya hendak membantah kehendak Paman. Kalau Paman menghendaki, saya akan menanggalkan pedang ini dan terserah hendak Paman apakan pedang ini. Akan tetapi, pedang ini adalah pemberian Bun Beng, dan...."

Gadis itu tidak melanjutkan kata-katanya dan menundukkan mukanya. Suma Han memandang tajam, kemudian menarik napas panjang dan berkata,

"Ah, hampir aku lupa bahwa engkau bukan kanak-kanak lagi, Kwi Hong. Engkau telah dewasa, sudah terlalu dewasa malah. Anak baik, apakah engkau mencinta Bun Beng?"

Kwi Hong tidak menjawab, mukanya merah sekali, kemudian ia mengangkat muka berkata tanpa berani menentang pandang mata pamannya,

"Saya tidak tahu, Paman. Hanya.... saya pikir.... tidak baik kalau menyia-nyiakan pemberian orang, apalagi kalau dilenyapkan begitu saja.... dan dia sudah begitu baik kepada saya ketika bertemu dengan Tan-siucai dan Maharya, rela mengorbankan diri terluka hebat. Aihhh, mungkin sekarang dia.... dia.... dia telah.... mati...."

"Jangan khawatir. Mati hidup manusia berada di tangan Tuhan. Kalau dia sampai di Pulau Neraka dan menyerahkan suratku, saya yakin dia akan tertolong. Nah, biarlah sementara ini kau bawa pedang itu, apalagi engkau harus menjaga keamanan Pulau Es. Aku hendak pergi mencari Tan-siucai dan Maharya, perlu kuambil kembali Hok-mo-kiam, karena kalau ada pedang itu padaku, aku tidak khawatir lagi kalau-kalau Sepasang Pedang Iblis akan menimbulkan bencana. Nah, berangkatlah dan hati-hati menjaga pulau."

Kwi Hong berangkat naik perahu dan setelah perahu itu berlayar menuju ke utara sampai jauh sekali dan hanya tampak sebagai sebuah titik yang kadang-kadang lenyap oleh naik turunnya ombak,

Pendekar Super Sakti lalu membalikkan tubuhnya dan melesat pergi dengan gerakan yang luar biasa cepatnya. Diam-diam dia mengambil keputusan untuk menjodohkan Kwi Hong dengan Bun Beng. Dia melihat anak keturunan Gak Liat itu mempunyai watak yang baik sekali. Dia tidak mengingat akan keburukan watak ayah Bun Beng, karena bukankah ayah Kwi Hong sendiri, perwira Mancu, Giam Cu, tidak lebih baik daripada Si Setan Botak Gak Liat? Akan tetapi, ia tahu bahwa pikiran itu terlalu jauh melayang karena keadaan Bun Beng sendiri belum diketahui bagaimana keadaannya, sedangkan lukanya amat berbahaya. Pada waktu itu, Kerajaan Mancu yang mendirikan Wangsa Ceng, mengalami kemajuan amat pesatnya, menjadi sebuah negara besar yang amat kuat.

Bintang Kerajaan Mancu ini mulai naik dengan pesat, menjadi cemerlang ketika pemerintahannya berada di tangan Kaisar Kang Hsi (1663-1722). Kaisar ini ternyata adalah seorang yang berbakat dan ahli untuk menjadi pemimpin. Dia seorang jendral perang yang amat pandai mempergunakan tenaga-tenaga ahli, sehingga semua perlawanan rakyat, baik dari kaum patriot yang mempertahankan tanah air dari penjajahan bangsa Mancu, sampai gerombolan-gerombolan bersenjata yang sebetulnya hanyalah perampok-perampok yang berdalih perjuangan, dapat dihancurkan satu demi satu. Daerah Se-cuan yang dipertahankan oleh Bu Sam Kwi yang gigih melawan bangsa Mancu, juga dapat direbut dan semua perlawanan dipatahkan dalam tahun 1681.

Setelah Se-cuan jatuh, maka kerajaan Mancu boleh dibilang menguasai seluruh Tiongkok, bahkan jauh lebih luas lagi daripada wangsa yang sudah-sudah. Bangsa Mongol yang dahulunya membantu penyerbuan bangsa Mancu ke selatan, merasa kecewa oleh politik Bangsa Mancu dan merasa kurang diberi bagian keuntungan, lalu memberontak. Namun, pemberontakan-pemberontakan yang amat gigih dan kuat itu pun dapat dihancurkan oleh pemerintah Ceng di bawah Kaisar Kang Hsi dan akibat perang ini seluruh Mongolia jatuh dan dikuasai bangsa Mancu. Bahkan dalam mengejar sisa-sisa pasukan Mongol bala tentara Mancu memasuki daerah Tibet dan menguasai pula. Makin luaslah daerah kekuasaan Kerajaan Ceng.

Batas-batasnya sampai di seluruh Mancuria, Mongolia luar, Sin-kiang, Tibet dan seluruh daerah selatan Tiongkok. Bahkan di dalam perang-perang perbatasan yang mendatang, Kerajaan Ceng ini telah menaklukkan negara-negara tetangga, di antaranya Afganistan, Kasmir, Nepal, Birma, Muangthai, Malaysia, Vietnam dan Kamboja. Negara-negara ini mengakui kekuasaan Kerajaan Ceng di Tiongkok dan menyatakannya dengan membayar upeti! Kaisar Kang Hsi bukan hanya pandai dalam hal kemiliteran, juga dalam urusan politik dan sipil dia ternyata seorang ahli. Kaum koruptor diberantas sehingga pemerintahannya bersih dari perbuatan korupsi dan penyuapan, hal yang telah berlangsung ratusan tahun lamanya, yang tak pernah dapat diberantas oleh kerajaan-kerajaan yang lain.

Pemerintahan yang sehat dan jujur disusun, kaum penjilat dienyahkan, hukuman-hukuman berat dikenakan kepada orang-orang yang melakukan perbuatan jahat. Di sarnping ini, Kaisar Kang Hsi menghargai kebudayaan Tiongkok. Kebudayaan itu diperkembangluaskan, bahkan dia mengundang sasterawan-sasterawan dan ahli-ahli pikir untuk menduduki jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan-nya. Tentu saja undangan dan sikap Kaisar ini mendapat sambutan yang hangat dari kaum terpelajar, dan sekaligus merobah pandangan mereka yang tadinya benci akan penjajahan terhadap bangsa Mancu ini. Membanjirlah kaum sasterawan dari pelbagai daerah ke Pe-king yang menjadi kota raja, dan mereka diterima oleh Kaisar Kang Hsi, diberi kedudukan sesuai dengan kepandaian masing-masing.

Bukan hanya kaum sasterawan yang mendapat kedudukan, juga Kaisar yang bijaksana ini memberi kesempatan kepada kaum kang-ouw, kepada ahli-ahli silat yang pandai, untuk membantu pemerintahnya, menerima mereka dan memberi kedudukan-kedudukan yang menjamin kemewahan dan kecukupan hidup mereka. Inilah sebabnya mengapa Kaisar ini mempunyai barisan yang amat kuat, yang bukan hanya terdiri dari pasukan-pasukan Mancu yang sudah tergembleng oleh perang, juga dibantu oleh orang-orang pandai dari dunia kang-ouw. Setelah keadaan dalam negeri menjadi aman, semua pemberontak telah ditumpas dan orang-orang kang-ouw banyak menggabung dan mengabdi kepada kerajaan baru ini,

Mulailah Kaisar Kang Hsi memperhatikan persoalan dalam istana. Sudah lama dia merasa tak senang dengan hilangnya puterinya, yaitu Nirahai yang pernah berjasa besar ketika Kerajaan Mancu sedang berhadapan dengan banyak orang pandai yang memberontak. Dan semua itu adalah gara-gara seorang pendekar bernama Suma Han, yang terkenal dengan julukan Pendekar Super Sakti, juga dikenal sebagai Pendekar Siluman, Majikan Pulau Es. Setelah Pulau Formosa dikalahkan dan diduduki oleh Kerajaan Ceng, Kang Hsi mulai memikirkan hal ini dan berkeinginan hendak mengirim pasukan menyerbu Pulau Es, menangkap Suma Han yang dianggap telah memperkosa dan mencemarkan nama dan kehormatan Kerajaan Ceng, dan menarik kembali Puteri Nirahai ke lingkungan istana.

Selain ini, Kaisar yang mempunyai banyak sekali pembantu terdiri dari orang-orang berilmu tinggi ini, mendengar akan kitab-kitab pusaka peninggalan Bu Kek Siansu dan Koai-lojin, yang kabarnya berada di Pulau Es. Pada suatu hari, Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, yaitu orang yang diangkat menjadi koksu dalam urusan pengumpulan orang-orang kang-ouw, menghadap Kaisar bersama dua orang tamu. Bhong Ji Kun ini adalah seorang kakek yang bertubuh tinggi kurus dan berkepala botak, seorang peranakan India yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali. Dialah yang menjadi "orang pertama"

Di antara jagoan istana, bahwa dia pula yang membentuk barisan pengawal kaisar istana. Koksu ini mempunyai dua orang pembantu yang lihai pula, yaitu Thian The Lama dan Thian Li Lama, dua orang pendeta Lama dari Tibet yang jarang dapat menemukan tanding.

Ketika Kaisar menerima kunjungan Koksunya, Kaisar memandang dengan wajah tertarik kepada dua orang yang datang bersama Bong Ji Kun itu. Seorang laki-laki berusia empat puluh tahunan, berwajah tampan dan bersikap halus berpakaian sebagai sasterawan, bersama seorang kakek India yang berpakaian sederhana, seperti biasa kaum pertapa India, hanya kain panjang yang dibelit-belitkan tubuh, bertelanjang kaki, dan bersorban. Ketika Kaisar mendengar bahwa kakek India itu yang bernama Maharya adalah paman guru Sang Koksu sendiri, bukan main girang hati Kaisar ini dan segera memerintahkan Bhong Ji Kun untuk menerima Maharya sebagai tamu agung dan memberi segala pelayanan, juga apabila dikehendaki mengangkatnya sebagai penasehat dalam urusan keamanan.

Juga murid pendeta itu yang diperkenalkan sebagai Tan Ki, seorang siucai yang selain ahli dalam hal ilmu silat, juga ahli sastera, diberi kedudukan, mencatat dan mengurus keperluan semua pasukan pengawal. Tentu saja guru dan murid ini merasa girang sekali dan berlutut menyembah menghaturkan terima kasih. Dengan masuknya Maharya menjadi pembantu kerajaan, tentu saja kedudukan kerajaan menjadi makin kuat, apalagi selain Maharya dan Tan-siucai, banyak pula orang pandai dari pelbagai aliran dan golongan masuk menjadi pengawal-pengawal dan panglima-panglima pengawal. Setelah mendapat bantuan Maharya, Bhong Ji Kun baru merasa besar hatinya dan dia menerima perintah Kaisar dengan penuh kepercayaan, untuk menyerbu Pulau Es. Tadinya dia selalu menangguhkan niat Kaisar ini dengan alasan bahwa Pendekar Siluman dari Pulau Es amatlah saktinya dan pelayaran menuju ke pulau itu berbahaya sekali.

Namun, kini dengan bantuan paman gurunya yang dalam ilmu kepandaian bahkan lebih tinggi sedikit dibandingkan dengan dia sendiri, dia menyanggupi perintah itu, lalu mempersiapkan pasukan yang amat kuat, terdiri dari pengawal-pengawal pilihan, dikepalai panglima-panglima pilihan pula. Dari barisan armada lautan, koksu menerima beberapa buah kapal yang cukup besar dan kuat, ditangani oleh anak buah yang ahli dalam pelayaran. Berangkatlah pasukan yang terdiri dari tiga ratus orang itu, selain dipimpin oleh para panglima pilihan, juga dikepalai sendiri oleh Bhong Ji Kun, Maharya, Tan-siucai, Thian Tok Lama, Thai Li Lama dan beberapa orang pandai yang menjadi pembantu koksu itu. Lima buah kapal besar melayarkan mereka menuju ke utara, seolah-olah sebuah armada yang hendak menyerbu daerah musuh!

Perintah Kaisar adalah, menawan Pendekar Super Sakti Suma Han berikut semua anak buahnya, atau membunuh kalau mereka melawan, menduduki Pulau Es, dan merampas semua pusaka yang berada di pulau itu! Tidaklah mudah bagi kapal-kapal perang Ceng itu untuk dapat menemukan Pulau Es, akan tetapi anak buah kapal-kapal itu dipimpin oleh nakhoda kapal yang berpengalaman, dan kapal-kapal itu menjelajah ke utara, di antara pulau-pulau yang banyak terdapat di sana. Mereka tidak tahu bahwa mereka telah terlalu jauh ke utara sehingga di utara pulau-pulau itu terdapat Pulau Neraka yang namanya menggetarkan dunia orang gagah! Pulau Neraka hanya kelihatan sebagai sebuah pulau menghitam yang menyeramkan, dengan batu-batu karang menonjol di permukaan laut sekitar pulau sehingga amat berbahaya bagi kapal atau perahu yang berani mendekatinya.

Namun, karena yang mereka cari adalah Pulau Es, maka lima kapal itu tidak memperhatikan pulau-pulau lain, hanya meneliti kalau-kalau terdapat pulau yang berwarna putih, yang permukaannya tertutup es dan salju. Setelah hilir mudik sampai tiga pekan lamanya, pada suatu malam, sewaktu kapal-kapal itu terpaksa membuang jangkar dan melewatkan malam yang dingin di bawah sinar bulan purnama, tiba-tiba terdengar teriakan dari atas tiang di mana terdapat penjaga-penjaga yang mempergunakan teropong. Pada waktu itu, teropong merupakan barang baru yang telah dimiliki oleh pasukan Kerajaan Ceng. Mendengar teriakan ini panglima pengawal Bhe Ti Kong yang kebetulan malam itu mengepalai penjagaan, cepat meloncat dan memanjat tangga tali menuju ke atas.

"Apa yang kau lihat?"

Tanyanya.

"Ciangkun, harap periksa di sebelah timur itu!"

Si penjaga berkata, menyerahkan teropongnya. Bhe Ti Kong menerima teropong dan mengarahkan alat itu ke timur. Dia berseru kaget dan heran!

"Lekas beritahu kepada Koksu!"

Penjaga itu cepat menuruni tangga tali dan melapor kepada Bhong Ji Kun yang sedang duduk makan minum dan bercakap-cakap dengan para pembantunya di ruangan kapal besar.

"Hamba melapor kepada Taijin bahwa di sebelah timur kelihatan benda mencorong yang aneh sekali. Hamba diutus Bhe-ciangkun untuk melapor kepada Taijin."

Mendengar ini, Im-kan Seng-jin, diikuti oleh Maharya, Thian Tok Lama, Thai Li Lama dan Tan-siucai bergegas keluar menghampiri tiang besar yang ujung atasnya dipergunakan untuk tempat penjaga memeriksa keadaan dengan teropong. Bergantian Bhong Ji Kun, Maharya, dan kedua orang Lama meloncat dan melayang ke atas untuk memeriksa benda aneh di timur itu dengan teropong, sedangkan Tan-siucai terpaksa naik seperti yang dilakukan Bhe Ti Kong tadi, yaitu dengan melalui tangga tali. Hanya bedanya, kalau Bhe Ti Kong memanjat biasa, adalah siucai itu naik cepat sekali, seperti berloncatan dibantu oleh tangga itu.

Post a Comment