"Nona, maafkan aku....!"
Bun Beng berkata sambil melepaskan kerudung yang menutupi kepalanya.
"Kau....?"
Milana berseru kaget sekali. Dia girang melihat Bun Beng yang disangkanya tentu telah mati oleh luka-lukanya biarpun ketika terjatuh dari menara ditolong oleh Pendekar Super Sakti, kini masih hidup! Dahulu ibunya cepat-cepat menyambarnya dan membawanya pergi ketika melihat betapa Bun Beng yang terjatuh itu disambar oleh Pendekar Super Sakti.
"Aku tdak mau bertemu dengannya di sini. Tidak mau!"
Ibunya berbisik penuh duka dan marah ketika Milana berusaha menahan ibunya agar suka bertemu dengan ayah kandungnya itu, dan ibunya terus membawanya lari secepat kilat tanpa diketahui oleh Pendekar Siluman, Majikan Pulau Es itu. Dan kini, Bun Beng berada di situ bahkan menyamar sebagai ibunya! Di samping rasa girang yang amat besar ini, timbul kekhawatirannya dan ia bertanya,
"Engkau....? Bagaimana ini....? Di mana Ibu?"
"Maaf, Nona. Ibumu pingsan ketika berlatih silat di tempat rahasia di bawah sana, karena ingin membebaskan diri, terpaksa aku memakai kerudung dan jubah ini...., maafkan aku...."
Akan tetapi Milana sudah tidak menjawab lagi dan dia meloncat hendak mencari ibunya yang pingsan di tempat rahasia.
Dia sudah tahu akan tempat rahasia itu dan sudah tahu jalannya sungguhpun dia dan siapapun juga dilarang dan tidak pernah pergi ke sana. Sementara itu, para tokoh Thian-liong-pang yang kini mengenal Bun Beng menjadi marah dan segera menyerangnya, karena dia dianggap sebagai musuh Thian-liong-pang, seorang pengacau dan bekas tahanan yang dapat lolos. Tentu saja hanya Sai-cu Lo-mo yang tidak bergerak dan memandang bengong kepada cucu keponakannva itu. Selain dia tidak mau membunuh cucu keponakan, satu-satunya keturunannya biarpun hanya cucu luar, juga dia kagum bukan main, teringat betapa tadi Bun Beng dapat mengalahkan tokoh-tokoh lihai dari Pulau Neraka secara demikian mudahnya! Padahal, hanya kurang lebih setahun yang lalu, pemuda itu masih belum sedemikian hebat ilmu kepandaiannya!
Tang Wi Siang yang bersenjata pedang, Lui-hong Sin-ciang Chie Kang yang menggunakan pukulan badainya, dan dua orang tokoh lain yang bersenjata golok sudah menerjang Bun Beng dengan serangan-serangan maut yang amat dahsyat. Bun Beng yang menghadapi pengeroyokan ini cepat menggerakkan kaki tangannya, berkelebat ke sana-sini dan tangannya bergerak menangkis atau mendorong dan.... empat orang pengeroyok itu terjengkang dan ada yang terguling, ada pula yang terhuyung seperti pohon-pohon disapu angin ribut! Melihat akibat tangkisan dan dorongannya, Bun Beng terkejut sendiri dan dia menggunakan kesempatan ini untuk meloncat ke atas, melalui kepala orang-orang yang mengepungnya, menendangi senjata-senjata yang ditujukan ke arahnya dan terus melesat keluar dari ruangan itu melalui jendela.
"Kejar!"
Tang Wi Siang berseru dan mereka bergerak mengejar keluar.
"Berhenti! Tahan senjata!"
Terdengar seruan melengking disusul masuknya seorang wanita berkerudung yang bukan lain adalah Ketua Thian-liong-pang sendiri, bersama Milana yang menggandeng tangan ibunya.
"Jangan kejar dia, biarkan dia pergi.... ahhh....!"
Nirahai terhuyung dan cepat dibimbing oleh puterinya menuju ke kursinya. Semua tokoh menghentikan gerakan mereka, menghadap Ketua mereka dan memandang penuh kekhawatiran karena melihat tanda-tanda bahwa Ketua mereka mengalami luka dan kelihatan lemah.
"Jangan memusuhinya! Betapa pun dia telah menimbulkan kekacauan, harus kalian akui bahwa di telah menyelamatkan nama baik Thian-liong-pang sehingga kita tidak sampai mengalami penghinaan dari Pulau Neraka!"
Bun Beng yang sudah berada di luar, ketika mendengar ucapan Ketua Thian-liong-pang itu, merasa malu sendiri. Dia lalu meloncat kembali memasuki ruangan itu, menjura di depan Nirahai sambil berkata,
"Teecu mohon maaf sebesarnya telah berlaku lancang, berani memalsukan Locianpwe karena keadaan terpaksa. Teecu tidak mempunyai niat buruk kecuali ingin bebas dari dalam.... neraka di bawah sana."