Cepat ia mengangkat kedua tangannya, melakukan pukulan ke depan mendorong dengan tenaga mujijat. Bun Beng juga mendorongkan kedua tangannya, akan tetapi terkejutlah dia ketika mendapat kenyataan bahwa tenaga dorongan kakek gundul itu bukan mengandung sin-kang sewajarnya dan selain amat kuat juga mengandung hawa beracun yang mujijat pula. Tentu merupakan latihan sin-kang yang disertai penggunaan racun yang banyak terdapat di Pulau Neraka, pikirnya, maka ketika Bun Beng merasa betapa dorongan kakek itu dapat membahayakan, cepat ia membuang diri ke samping, menggunakan ilmu memindahkan tenaga, ketika hawa dorongan lewat ia cepat membarengi dengan kibasan lengannya yang sudah menjadi berganda tenaganya itu ke arah muka Si Gendut Gundul.
"Kok-kok!"
Si Kakek Gundul mengangkat mukanya sehingga pundaknya yang terkena hantaman ujung lengan baju Bun Beng.
"Plakkk!"
Kembali Bun Beng terkejut. Hantaman lengan bajunya yang disertai tenaga sin-kang berganda itu ketika mengenai pundak lawan yang mengeluarkan bunyi seperti katak, terasa seperti membentur benteng baja dan membalik! Sementara itu, Si Kakek Gundul yang merasa terlindung oleh ilmu kataknya yang mujijat, mempercepat bunyi berkokok di tenggorokannya dan siap menyerang lagi. Akan tetapi tiba-tiba Bun Beng berkelebat dan lenyap, tahu-tahu tubuh "ketua"
Ini sudah melayang turun ke atas punggung lawan yang sedang merangkak sambil berkokok itu.
"Kok-kok-kok.... ngekkkk! Brooottt!"
Kakek gundul itu yang tadinya mengeluarkan bunyi seperti katak, ketika kedua kaki Bun Beng menginjak punggung disertai tenaga sin-kang yang membuat tubuhnya seperti menjadi laksaan kati beratnya, tak dapat menahan sehingga terdengar suara "ngek!"
Dan tiba-tiba disambung suara memberobot keras sekali dari tubuh belakangnya! Kiranya Bun Beng dapat menaksir di mana letak kelemahan manusia yang berlagak katak ini, maka begitu punggung terinjak kuat, hawa sakti yang membuat kakek itu berkokok dan menghembuskan uap, terpencet keluar tanpa dapat ditahannya lagi dan hawa itu menerobos melalui mulut belakang. Terdengar suara di sana-sini dan semua orang menutupi hidungnya, kecuali orang-orang Pulau Neraka, karena hawa yang keluar dari "mulut belakang"
Kakek itu benar-benar amat hebat.... baunya!
Akibat racun yang terkandung di dalamnya sehingga bau itu memenuhi ruangan tamu. Kakek gundul itu sudah roboh menelungkup dalam keadaan pingsan, kini digotong oleh teman-temannya ke pinggir, sedangkan Bun Beng sudah meloncat kembali ke kursinya dan duduk dengan tenang. Diam-diam ia merasa girang sekali dan kini yakinlah dia bahwa penderitaannya selama setengah tahun di dalam tempat rahasia itu telah menyembuhkan luka-lukanya sama sekali, juga telah membuat dia memperoleh kemajuan yang amat hebat, baik dalam gin-kang, sin-kang, dan ilmu silat! Maka tenanglah hatinya karena kini dia merasa dapat menjaga diri terhadap siapapun juga. Chi Song terpincang-pincang menghampiri "ketua"
Dan dengan kaki kanan berjinjit ia menjura.
"Banyak terima kasih atas petunjuk yang diberikan oleh Thian-liong-pangcu. Biarlah kami kembali melaporkan semua peristiwa ini kepada To-cu kami."
Setelah memberi hormat sekali lagi, terpincang-pincang Chi Song memimpin tiga orang temannya yang menggotong tubuh suhengnya yang masih pingsan. Akan tetapi baru saja mereka itu tiba di pintu ruangan, tampak berkelebat bayangan orang dan terdengar bentakan halus nyaring.
"Setan-setan Pulau Neraka berani mengacau di sini?"
Terdengar suara hiruk pikuk dan tiga orang yang menggotong tubuh Kong To Tek tadi terpelanting ke kanan-kiri sehingga tubuh Si Gundul itu terlempar pula, akan tetapi malah membuatnya siuman dan ia mengeluh panjang. Chi Song yang melihat munculnya seorang dara yang amat cantik jelita dan yang datang-datang menerjang dan merobohkan orang-orangnya, menjadi kaget, apalagi ketika dara itu telah menerjang maju dan menonjok ke arah dadanya dengan pukulan yang cepatnya sukar diikuti pandang mata. Dia mengelak, namun karena kakinya pincang dan gerakan dara itu cepat sekali, bahunya terkena pukulan dan ia terpelanting. Melihat betapa orang-orang Pulau Neraka itu telah bangkit kembali dan tidak tewas oleh pukulan-pukulannya dara itu menjadi marah.
"Srattt!"
Dara itu sudah mencabut pedangnya akan tetapi tiba-tiba lengannya diraba orang dan tahu-tahu Bun Beng sudah berada di situ, menyentuh lengannya untuk mencegahnya turun tangan membunuh orang-orang Pulau Neraka. Bun Beng terpaksa turun tangan mencegah ketika melihat betapa Milana, dara jelita itu, hendak melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap para tamu yang tentu dianggap oleh dara itu mengacau di Thian-liong-pang, apalagi karena dara itu pernah bertanding dengan orang-orang Pulau Neraka ketika menggendongnya dahulu. Melihat sentuhan pada lengannya, Milana menoleh.
"Ibu....!"
Ia berkata dan menyarungkan pedangnya. Kesempatan ini dipergunakan oleh lima orang Pulau Neraka untuk melarikan diri, pergi dari situ secepatnya. Bun Beng cepat kembali ke kursinya dengan jantung berdebar. Milana telah muncul! Dia harus cepat-cepat pergi dari situ tanpa menimbulkan keributan. Akan tetapi terlambat. Milana yang terheran-heran menyaksikan sikap ibunya, cepat menghampiri, memandang ke arah sepasang mata di balik lubang kerudung kepala itu dan tiba-tiba ia berseru hampir menjerit.
"Engkau.... engkau bukan Ibuku!"
Dara ini menjadi pucat mukanya, dan semua tokoh Thian-liong-pang mencelat bangun dari tempat duduknya masing-masing.
"Jubah itu jubah Ibuku, dan kerudung itu pun sebuah di antara kerudung Ibuku. Akan tetapi engkau bukan Ibuku! Siapa engkau? Dan.... ohhh.... di mana Ibu? Kau apakan dia....?"
Milana mencabut pedangnya dan terdengarlah suara berdesing ketika para tokoh Thian-liong-pang mencabut senjata masing-masing. Bahkan Tang Wi Siang lalu mengeluarkan suara bersuit keras sebagai tanda bahaya dan segera tempat itu dikurung oleh puluhan orang anggauta Thian-liong-pang yang masih bingung dan tidak mengerti mengapa Tang-kouwnio memberi tanda bahaya sedangkan tamu-tamu dari Pulau Neraka telah dikalahkan dan telah melarikan diri keluar dari Thian-liong-pang. Lebih-lebih lagi kaget dan heran hati mereka ketika melihat Milana dan para tokoh itu dengan senjata di tangan mengurung Sang Ketua sendiri!
"Buka kerudungmu!"
Milana membentak lagi.
"Hayo perlihatkan mukamu, manusia bosan hidup yang berani memalsukan Pangcu kami!"
Tang Wi Siang membentak dan barulah para anak buah Thian-liong-pang dapat mengerti dengan hati penuh kaget dan heran bahwa orang yang berkerudung seperti Ketua mereka itu kiranya adalah orang palsu!