Nirahai memandang tajam dan berkata,
"Sumoi, lupakah engkau bahwa keluarga orang tuamu dibasmi oleh para pemberontak? Kalau engkau tidak memiliki kesetiaan dan kebaktian kepada bangsa dan negara, hal itu masih dapat kumengerti karena sejak kecil engkau hidup sebatangkara bahkan kemudian menjadi adik angkat kakakmu Han Han. Akan tetapi, aku tidak percaya bahwa engkau akan melupakan ayah bundamu yang tewas oleh para pemberontak. Aku tidak percaya bahwa engkau akan tidak berbakti kepada orang tuamu."
Lulu mengerutkan alisnya yang hitam. Sepasang matanya memandang Nirahai dengan mata terbelalak.
"Yang kau katakan pemberontak itu sebetulnya adalah pejuang-pejuang yang baik, suci. Sebailknya, dengan mata kepala sendiri aku menyaksikan betapa kejamnya tentara Mancu yang membunuhi rakyat yang tak berdosa, memperkosa, merampok, membunuh seperti sekawanan binatang buas saja."
"Hemmm, pendirianmu itu salah sungguhpun aku tidak sangsi akan keteranganmu tentang perbuatan sebagian tentara Yang kejam. Akan tetapi, apakah kau anggap bahwa perbuatan para pemberontak yang membunuhi ayahmu sekeluarga itu juga tidak kejam?"
"Memang kuakui bahwa mereka telah membunuh orang tuaku bahkan telah kudapatkan pembunuhnya. Akan tetapi ternyata dia seorang gagah yang melakukan pembunuhan itu demi perjuangan, demi pembelaan terhadap bangsa mereka. Sama sekali tidak terkandung hati benci di dada mereka terhadap perorangan, bahkan mereka tidak mengenal orang tuaku yang tewas sebagai akibat perang."
Nirahai mengangguk-angguk.
"Memang aku percaya benar demikian. Akan tetapi engkau pun lupa bahwa aku dan teman-teman yang memimpin usaha penindasan para pemberontak pun terdorong oleh tugas membela bangsa dan negara. Aku seorang bangsa Mancu, kalau aku tidak membela bangsa Mancu, habis bagaimana? Engkau pun seorang gadis Mancu, sudah selayaknya kalau engkau membantu perjuangan bangsa sendiri. Kini para pemberontak yang bersarang di Se-cuan harus dihancurkan, kalau tidak, perang tidak akan pernah terhenti dan penderitaan rakyat pun takkan dapat dihabiskan. Kalau kau menganggap bahwa orang tuamu tewas dalam perang dan engkau tidak menaruh dendam perorangan, engkau pun harus dapat mengerti bahwa perbuatan tentara-tentara kita itupun adalah akibat perang dan bukan merupakan perbuatan kejam perorangan, melainkan, kekejaman perang. Akan tetapi percayalah bahwa pimpinan kita tidak menghendaki hal demikian itu terjadi. Hal itu hanya terjadi sebagai akibat-akibat yang berkelebihan dari perang yang memang ganas."
Lulu merasa terdesak karena pikirannya yang cerdik dapat menangkap kebenaran-kebenaran dalam ucapan Nirahai.
"Apakah engkau percaya bahwa aku adalah seorang manusia yang begitu curang sehingga sudi mengadu domba Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai kalau bukan karena hal itu kuanggap sebagai taktik perjuangan? Aku tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan mereka, bahkan aku mengagumi tokoh-tokoh dan pendekar-pendekar dari kedua partai itu. Akan tetapi, sebagai pejuang untuk negaraku, aku melihat bahaya besar kalau sampai kedua partai yang kuat itu membantu pemberontak, maka jalan satu-satunya adalah mengadu domba mereka agar mereka tidak berkesempatan membantu pemberontak sehingga kedudukan para pemberontak tidak begitu kuat, mudah dihancurkan. Aku tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan dua tokoh di antara Siauw-lim Chit-kiam yang kukagumi karena kegagahan mereka, akan tetapi aku membunuh mereka, sebagai musuh negara, bukan sebagai musuhku."
"Kalau seorang saudaramu kebetulan memihak peluang yang menentang kerajaan, apakah engkau juga akan membunuhnya, suci?"
"Tentu Saja. Kalau dia memihak pemberontak, dia berarti menjadi musuh negara. Bagi seorang pejuang yang mencinta bangsa dan negaranya, musuh sendiri bisa dimaafkan, akan tetapi musuh negara tidak."
"Wah, kejinya. Aku benci...., Aku benci perang."
Lulu mencela, teringat akan kakaknya. Kalau Han Han kebetulan membantu pejuang, apakah dia pun harus memusuhi kakak yang disayangnya itu? Tidak mungkin. Nirahai merangkul leher Lulu dan mengecup pipinya.
"Adikku, siapakah orangnya yang mencinta perang? Hanya orang gila yang miring otaknya saja yang tidak membenci perang. Aku pun benci dengan perang. Aku pun rindu akan perdamaian di mana hidup manusia ini tenang tenteram, di mana nyawa manusia dihargai, di mana hak hidup seorang manusia lebih terjamin, di mana harga seorang manusia lebih dinilai tinggi. Akan tetapi, perang timbul bukan atas kehendak seseorang, dan kalau sudah timbul dan kita terseret di dalamnya, hanya dengan kemenangan saja perang itu dapat dihentikan.
"Menang atau kalah"
Itulah persoalannya dan sekuat tenaga tentu saja kita ingin menang. Dengan kemenangan, atau pun dengan kekalahan, perang baru habis dan perdamaian timbul. Percayalah, aku ingin sekali menikmati masa damai di mana kita tidak akan bicara tentang bunuh-membunuh, tentang siasat-siasat curang, tentang taktik-taktik memalukan dan sebagainya. Prikemanusiaan akan dijunjung tinggi oleh setiap orang. Akan tetapi untuk mendapatkan perdamaian itu, kita semua harus sekarang mengerahkan tenaga untuk menumpas musuh sehingga perang pun terhenti."
Lulu termenung. Ucapan sucinya itu meresap ke dalam hatinya dan diam-diam ia kagum sekali. Sucinya ini cantik, berkedudukan tinggi, berpengaruh dan berkuasa, juga memiliki pandangan yang luas seperti kakaknya. Han-koko. Ah, alangkah cocoknya kalau Han-koko dapat menjadi suami Nirahai. Pikiran yang tiba-tiba menyelinap di kepalanya yang kecil itu membuat ia serta-merta bertanya.
"Suci, kalau begitu engkau tidak mempunyai rasa benci perorangan kepada bangsa pribumi?"
Nirahai mengangkat alisnya.
Eh? Tentu saja tidak."
"Juga kepada para pejuang kau tidak benci?"
Nirahai tersenyum dan menggeleng kepalanya.
"Tidak sama sekali, sumoi. Bahkan aku merasa kagum akan kebudayaan mereka, akan kegagahan para pendekar. Bagaimana aku bisa membencinya kalau tokoh-tokoh perkasa yang kukagumi seperti Suling Emas, Mutiara Hitam dan lain-lain adalah bangsa Han juga? Malah aku adalah keturunan Khitan, dan karena Kerajaan Khitan memiliki darah campuran dengan bangsa Han, kaisar wanita Khitan adalah isteri Suling Emas, sedikit banyak ada pula darah Han di tubuhku."
"Wah, kalau begitu, tentu engkau tidak akan keberatan kalau menikah dengan seorang bangsa Han, bukan?"
Kembali Puteri cantik itu membelalakkan matanya, lalu tertawa geli mencubit pipi dan Lulu.
"Huh, engkau menggemaskan dan genit, sumoi. Bertanya yang bukan-bukan."
Akan tetapi Lulu mendesak,
"Aku tidak main-main, suci, melainkan benar-benar ingin mengetahui isi hatimu. Bagaimana, andaikata engkau menikah dengan seorang pribumi, apakah engkau akan merasa terlalu rendah?"
Nirahai menghela napas panjang.
"Ratu Khitan dahulu menikah dengan Suling Emas seorang pendekar Han. Aku tidak memandang rendah bangsa Han, apa alasanku untuk merasa rendah? Akan tetapi, adikku yang nakal. Pernikahan harus berdasarkan cinta kasih kedua pihak, tanpa cinta mana bisa hidup bahagia sebagai suami isteri? Pula, aku seujung rambut pun belum memikirkan hal itu. Perang belum berakhir, mana bisa berpikir tentang cinta dan pernikahan?"
Lulu memandang dengan wajah berseri.
"Wah, engkau tentu akan menjadi seorang isteri yang hebat, suci. Dan menurut pandanganku, engkau hanya patut menjadi isteri seorang yang paling mulia di dunia ini."
"Hi-hik, kau lucu. Siapa yang paling mulia di dunia ini? Raja kahyangan?"
"Bukan, suci. Bukan raja bukan pangeran. Orang biasa saja, seorang pria sederhana, yang budiman, gagah perkasa, tampan, seorang yang semulia-mulianya di dunia ini...."
Pandang mata Lulu merenung jauh, matanya bersinar-sinar.
"Siapa dia?"
"Han-koko."
"Aihhh...., kakak angkatmu itu? Pewaris pusaka Pulau Es? Hemmm, engkau berkelakar, sumoi."
"Tidak, suci. Dia seorang yang semulia-mulianya, tiada keduanya di dunia ini. Dan hanya dialah yang paling patut menjadi suamimu."
Nirahai tersenyum dan menarik napas panjang.
"Sumoi, enak dan mudah saja kau bicara. Aku belum melihat dia, dia pun belum pernah melihat aku. Andaikata kami saling bertemu, belum tentu pula dia dan aku akan saling jatuh cinta."
"Pasti."
Lulu berteriak.
"Pria mana yang takkan jatuh hati melihat engkau? Termasuk kakakku. Dan wanita mana yang tidak akan mencintanya? Sekali bertemu dengan dia, aku tanggung engkau akan terjungkir balik....."
"Hahhh....? Kau anggap aku selemah itu mudah dijungkir-balikkan?"
Nirahai menantang akan tetapi pandang matanya berseri tanda bahwa dia tidak merasa direndahkan oleh sumoinya yang nakal itu.
"Eiiit-eiit-eiiittttt, sabar, suci. Bukan orangnya yang dijungkir-balikkan, akan tetapi hatimu. Engkau tentu akan jatuh bertekuk lutut...."
"Heiiiii....?"
"Yang bertekuk lutut hatimu, engkau akan jatuh cinta...."
"Sudah, sudah eh, sumoi, engkau mencinta betul kepada kakakmu itu, ya?"
Lulu mengerutkan keningnya dan menjawab sungguh-sungguh,
"Aku mencintanya dengan seluruh jiwa ragaku, suci. Tidak ada yang lebih kucinta daripada Han-koko."
"Nah, nah.... kalau begitu engkaulah yang patut menjadi isterinya."
Lulu meloncat bangun seperti diserang ular berbisa.
"Suci, engkau gila....?"
Nirahai menuding-nuding telunjuknya ke hidung Lulu.
"Eh, eh, beginikah sikap seorang sumoi? Bocah kurang ajar, engkau memaki sucimu gila?"
Akan tetapi mata yang tajam bening itu masih berseri, tidak marah.
"Eh, eh maaf, suci. Maksudku, perkataan suci itu benar-benar tidak masuk akal. Dia itu kakakku, ingat? Jangan bicara begitu, aku marah, suci."
"Sudahlah, maafkan aku. Kita lihat saja nanti, apakah kakakmu itu benar-benar sehebat yang kau banggakan dan pamerkan."
"Aku tanggung engkau akan kagum. Bahkan wanita-wanita pendekar yang cantik jelita tergila-gila kepadanya. Seperti Hoa-san Kiam-li, seperti Enci Sin Lian...."
Tiba-tiba Lulu terhenti dan teringat, wajahnya menjadi seperti kaget, matanya merenung dan kedua pipinya merah. Ia teringat betapa ia pernah bicara dengan Lu Soan Li tentang kakaknya bahkan ia telah menawarkan kakaknya itu menjadi suami Lauw Sin Lian. Kini dia menawarkan kakaknya menjadi suami Nirahai. Wah, tanpa disadarinya ia telah menjadi perantara dari tiga orang gadis.
"Ada apakah, sumoi?"
Nirahai bertanya ketika melihat perubahan pada wajah sumoinya yang termenung seperti orang bingung.