Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 147

Memuat...

Tentu saja Han Han tidak berani melihat-lihat karena maklum bahwa kuil itu adalah kuil yang dihuni para nikouw (pendeta wanita). Akan tetapi ia melihat kuda ditambatkan di pohon tak jauh dari kuil itu dan penunggangnya tidak kelihatan batang hidungnya, Han Han menjadi curiga dan ia menyelinap di belakang pohon mengintai. Tiba-tiba tampak berkelebat bayangan orang yang gerakannya cukup gesit dan tampaklah si penunggang kuda tadi, agaknya baru turun dari pagar tembok dan wajah yang kasar dan kejam itu menyeringai, matanya bersinar-sinar.

Orang itu berlari menghampiri kudanya, melepaskan tambatan kuda, meloncat dengan sigap dan melarikan kudanya memasuki dusun yang kelihatannya cukup besar dengan rumah-rumah yang cukup baik keadaannya. Sikap dan gerak-gerik penunggang kuda itu menjadi alasan yang cukup kuat bagi Han Han untuk memperhatikan keadaan kuil. Timbul kecurigaannya dan keinginannya untuk menyelidiki, maka setelah melihat bahwa di luar tidak ada orang, tubuhnya sudah mencelat naik dan di lain saat ia telah berada di sebelah dalam pagar tembok, menyelinap dan bersembunyi di balik semak-semak pohon kembang yang tumbuh di sudut kebun. Kebun itu luas dan ternyata bahwa kuil itu sendiri tidaklah begitu besar. Agaknya para nikouw mengerjakan kebun itu, ditanami pohon-pohon buah dan bahan makanan lain.

Selagi Han Han hendak keluar dari tempat persembunyiannya dan mengintai ke dalam kuil melalui pintu atau jendela belakang karena kebun itu sunyi saja, tiba-tiba ia mendengar suara dan melihat empat orang nikouw keluar dari pintu belakang. Ia cepat menyelinap lagi, bersembunyi. Di dalam cuaca yang mulai suram karena matahari sudah tenggelam di barat, Han Han melihat seorang nikouw tua yang berwajah alim memegang sebatang tongkat bersama tiga orang nikouw yang bersikap halus. Seorang di antara tiga nikouw ini sudah setengah tua, yang seorang lagi paling banyak berusia tiga puluh tahun, berwajah cantik dan berkulit putih. Akan tetapi ketika Han Han melihat nikouw ke tiga, jantungnya berdebar. Nikouw ini masih amat muda dan wajahnya cantik jelita. Kepalanya yang gundul itu berkulit putih dan licin seolah-olah memang tidak pernah berambut, bibirnya segar merah seperti dicat di tengah kulit muka yang putih halus.

"Ah, agaknya engkau hanya melihat bayangan burung terbang,"

Kata nikouw tua dengan lemah lembut.

"Tidak, subo. Teecu yakin ada orang berkelebat meninggalkan kebun ini tadi. Biar teecu periksa sebentar."

"Suara itu. Wajah dan terutama mata dan bibir itu"

Dan kini gerakan tubuh nikouw muda yang gesit dan ringan sekali, berloncatan ke sana ke mari dengan sinar mata tajam mencari-cari. Tidak salah lagi. Ia mengenal nikouw ini, nikouw yang ia duga sedang mencari bayangan si penunggang kuda yang agaknya mengintai ke kuil dari kebun ini.

"Kim Cu....."

Han Han tak dapat menahan lagi hatinya, sambil melompat keluar dari balik semak-semak ia menghampiri Kim Cu yang berdiri dengan mata terbelalak dan muka pucat memandang kepadanya, seolah-olah nikouw muda ini melihat munculnya setan.

"Omitohud....."

Nikouw tua berseru perlahan dan kedua orang nikouw lain juga mengeluarkan seruan kaget melihat munculnya seorang pemuda berkaki buntung yang berwajah tampan dan berambut riap-riapan.

"Kim Cu....."

Kembali Han Han berseru dengan suara menggetar.

"Ini aku.... Han Han....."

Nikouw muda ini mukanya menjadi seperti muka mayat, mulutnya yang tadinya merah itu menjadi pucat pula, terbuka sedikit dan matanya terbelalak memandang wajah Han Han, hidungnya kembang-kempis, dadanya turun naik.

"Kim Cu, lupakah engkau kepadaku....?"

Han Han melangkah mendekat dan memegang pundak nikouw itu, suaranya makin menggetar dan wajahnya juga agak pucat, matanya bersinar tajam penuh selidik.

"Tidak....."

Tiba-tiba bibir itu mengeluarkan suara yang menggetar bunyinya, dengan bibir menggigil.

"Tidak.... jangan sentuh aku.... ah, aku.... bukan.... bukan dia.... aku.... seorang nikouw....."

Nikouw muda itu membuang muka yang ditundukkan, tangannya dengan halus merenggut tangan Han Han dari pundaknya, tangan yang dingin menggigil seperti seekor burung ketakutan.

"Kim Cu..."

Han Han menahan suaranya yang terisak ketika ia melihat wajah nikouw yang ditundukkan itu menitikkan dua butir air mata dari mata yang kini dipejamkan dan mulut yang kini berbisik-bisik membaca liam-keng.

"Orang muda, perbuatanmu ini tidak patut. Engkau hendak menodai kesucian seorang nikouw dan mengotorkan Kwan-im-bio?"

Suara itu halus, akan tetapi penuh teguran. Han Han sadar dan cepat memandang nikouw tua itu. Nikouw itu berdiri tegak, kening berkerut dan sepasang mata yang halus amat berwibawa. Dua orang nikouw lain berdiri menunduk, merangkap kedua tangan di dada dan mulutnya berkemak-kemik, seperti mulut nikouw muda itu, membaca doa.

"Maaf...., maaf...."

Han Han merasa seperti terpukul, meloncat ke belakang dan tubuhnya mencelat ke atas pagar tembok. Dari atas pagar itu menoleh lagi kepada nikouw muda yang masih menunduk dan meruntuhkan air mata sambil berkemak-kemik berdoa mohon kekuatan batin kepada Kwan Im Pouwsat.

"Ohhh.... Kim Cu....."

Suara Han Han mengandung isak dan tubuhnya berkelebat lenyap dari atas tembok. Tubuh nikouw muda itu terhuyung kemudian terguling roboh "Pingsan"

Sibuklah dua orang nikouw yang lain mengangkatnya dan nikouw tua berulang kali menghela napas dan menyuruh bawa tubuh nikouw muda yang pingsan itu ke dalam kamarnya, kemudian menyuruh dua orang muridnya itu keluar dari kamar.

Nikouw muda itu memang Kim Cu. Telah diketahui bahwa setelah kuil di mana nikouw tua itu tinggal kebanjiran, Thian Sim Nikouw mengajak murid-muridnya yang pada waktu itu telah menjadi sepuluh orang untuk mengungsi dan akhirnya menetap di lereng Pegunungan Tai-hang-san mendirikan sebuah kuil sederana. Selama itu, Kim Cu yang telah memakai nama Kim Sim Nikouw, hidup tenteram dan damai, bahkan kalau tidak ada gangguan bayangan Han Han tentu dia telah mencapai kebahagiaan seperti yang telah dicapai Thian Sim Nikouw dan murid-muridnya. Pertemuan tiba-tiba dengan Han Han yang dianggapnya sudah mati itu menimbulkan gelombang dahsyat dalam hati Kim Sim Nikouw, merupakan pukulan batin yang amat hebat sehingga ia roboh pingsan. Luka di hatinya yang tadinya sudah mulai sembuh dan mengering, kini seperti dirobek-robek dan mengucurkan darah.

"Han Han...."

Bisikan ini keluar dari bibir Kim Sim Nikouw yang bergerak perlahan, lalu bangkit duduk, pandang matanya kosong sehingga ia tidak melihat bahwa gurunya duduk di situ. Ia menoleh ke kanan kiri, kembali memanggil lirih.

"Han Han...."

"Omitohud, sadarlah dan kuatkan hatimu, Kim Sim...."

"Han Han....."

Kini panggilan itu merupakan jerit yang langsung keluar dari hatinya.

"Muridku, sadarlah."

Kembali nikouw tua itu berkata halus. Kim Sim Nikouw menoleh dan.... sambil menjerit ia menubruk gurunya, berlutut dan menangis tersedu-sedu di pangkuan gurunya.

"Subo.... ampunkan teecu.... ah, teecu yang lemah berdosa besar....."

"Menangislah, muridku, menangislah. Pouwsat akan selalu menaruh kasihan dan memaafkan orang lemah yang sadar akan kelemahannya...."

Nikouw itu memeluk muridnya dan membiarkan nikouw muda itu menangis di dadanya.

Dia sendiri tergetar hatinya dan tersentuh perasaan harunya, namun bagaikan air telaga yang sudah tenang, keriput air yang sedikit itu sebentar saja lenyap. Ia sengaja membiarkan muridnya menangis, oleh karena ia tahu bahwa tekanan batin yang hebat itu akan amat berbahaya bagi kesehatannya kalau tidak diberi saluran keluar. Dan saluran terbaik pada saat itu hanyalah membiarkannya menangis sepuasnya. Kim Cu menangis sesenggukan sampai tubuhnya berguncang-guncang, air matanya membanjir bagaikan air bah menjebol bendungannya, hatinya menjerit-jerit keluar dari tenggorokannya sebagai keluh dan rintih melengking. Setelah dadanya tidak terlalu terhimpit lagi ia berkata, suaranya serak dan terputus.

"Aduh, subo.... apakah yang harus teecu lakukan....? Bagaimana teecu.... ini...., subo.... tunjukkanlah jalan.... bagi teecu...."

Thian Sim Nikouw tersenyum.

"Omitohud.... mohon ampun kepada Kwan Im Pouwsat yang penuh welas asih...."

Tanyalah kepada hati sanubarimu sendiri, anakku. Pinni tidak akan memaksamu, tidak akan menghalangimu. Engkau ambillah keputusan sendiri, Kim Sim Nikouw."

Post a Comment