Empat orang kasar itu sejenak tercengang, kemudian tertawa bergelak dan duduk kembali di bangku masing-masing. Han Han cepat mengambilkan arak wangi, dan ia menerima pandang mata kagum dari koki gemuk dan pelayan lain, dan pandang mata berterima kasih dari majikan restoran. Kalau tidak ada pelayan baru pincang ini, celakalah, tentu akan hancur restorannya. Ruginya jangan dibicarakan lagi, bisa bangkrut dia. Ketika Han Han menaruh guci arak wangi di atas meja kedua orang gagah itu, ia berkata,
"Ji-wi Enghiong, saya pernah mendengar kata orang bahwa keberanian tanpa perhitungan bukanlah kegagahan melainkan ketololan. Benarkah itu? Silakan minum arak."
Dua orang gagah itu saling pandang dengan mata terbelalak, kemudian minum arak mereka dan bangkit berdiri. Tanpa banyak cakap mereka menghampiri meja majikan restoran, setelah berhitungan lalu melemparkan uang perak di atas meja sambil berkata,
"Kelebihannya harap perhitungkan untuk membayar makanan sahabat yang menjadi pelayan itu."
Setelah berkata demikian, dua orang itu segera pergi meninggalkan restoran tanpa pamit dan tanpa menoleh lagi. Han Han menjadi lega hatinya. Ketika lewat di bekas meja dua orang itu, tangannya sambil lalu meraba permukaan meja untuk menghapus huruf-huruf yang berbunyi:
"Berbahaya, harap pergi."
Yaitu huruf-huruf yang ia buat dergan guratan jari tangan ketika ia menghidangkan arak tadi. Memang ia melihat bahaya mengancam kedua orang itu karena ia tadi dengan pendengarannya yang tidak lumrah manusia,
Dari jauh mendengar bisik-bisik empat orang brewok yang mengatur siasat untuk melaporkan kepada pasukan penjaga di luar dusun untuk menangkap dua orang yang disangka pemberontak. Dengan memperlihatkan sedikit tenaga sin-kang menggores huruf-huruf di atas meja, benar saja kedua orang gagah itu menjadi terkejut, mengerti bahwa pemuda buntung itu bukan sembarang pelayan, percaya kepadanya lalu pergi. Semenjak dulu Han Han tidak pernah dipengaruhi persoalan pro atau kontra bangsa Mancu. Hal ini timbul karena keadaannya sendiri. Keluarganya terbasmi oleh perwira-perwira Mancu, akan tetapi dia mempunyai adik angkat tersayang seorang anak Mancu yang keluarganya terbasmi oleh para pejuang. Keadaan yang amat berlawanan inilah yang membuat selama ini Han Han berada di tengah-tengah dan tidak terseret, hanya ia selalu memilih pihak yang benar.
Karena itu pula, dalam pertikaian yang hampir terjadi di rumah makan itu di antara dua orang pejuang dan empat orang yang pro Kerajaan Mancu, ia tidak mau berpihak kepada satu pihak, melainkan berusaha untuk mencegah terjadinya bentrokan antara bangsa sendiri hanya karena perdebatan. Dia sama sekali tidak tahu bahwa di balik perdebatan itu terdapat hal-hal yang lebih besar lagi. Memang pemuda ini masih belum mengerti dan belum dapat menyelami tentang persoalan kepatriotan. Kini hatinya lega melihat dua orang pejuang itu telah meninggalkan restoran. Biarpun dia tidak berpihak dalam persoalan yang diperdebatkan, namun tentu saja hatinya condong kepada dua orang gagah tadi karena sikap mereka yang halus dan gagah, sebaliknya diam-diam ia mencela di hati sikap empat orang yang kasar dan jelas menyombongkan nama julukan dan kepandaian sendiri.
"Hiiiii, pelayan buntung....."
Han Han menoleh dan melihat bahwa yang memanggilnya adalah Si Brewok Berhidung Besar, ia segera berloncatan menghampiri meja empat orang itu.
"Ada yang hendak dipesan lagi, taihiap?"
"Hemmm, jadi engkau hanya mencari upah agar makananmu dibayari maka engkau tadi bersikap manis dan membela dua orang pemberontak, ya? Kalau hanya uang yang kau cari, apakah kau kira kami tidak mampu memberimu sepuluh kali lipat daripada harga makananmu yang dibayar dua orang pemberontak tadi? Dan tidak perlu dengan membela, asal engkau suka melayani kami akan kami bayar lebih banyak lagi. Hayo kaubersihkan sepatuku yang penuh debu ini. Kalau engkau menolak, berarti memang kau lebih suka melayani Si Pemberontak. Dan berarti engkau diam-diam adalah pemberontak atau mungkin mata-mata pemberontak."
Han Han mengerutkan alisnya. Biarpun mengaku sebagai orang-orang gagah, sikap empat orang ini benar-benar seperti perampok-perampok kasar. Akan tetapi untuk mencegah terjadinya keributan, ia yang sudah pandai mengendalikan perasaan sendiri, lalu menekuk lutut kakinya yang tinggal sebelah dan menggunakan lap yang dibawanya untuk mengelap sepatu Si Hidung Besar.
"Bagus! Lain kali kalau engkau bicara manis lagi dan membela pemberontak, akan kupatahkan kakimu yang tinggal sebelah. Pergilah."
Si Hidung Besar menggerakkan kaki menendang.
"Dukkk.... auggghhhhh....."
Ia menyeringai dan memegangi tulang keringnya yang bertemu dengan kaki bangku. Ternyata tendangannya yang tidak keras ke arah Han Han untuk membikin malu pelayan buntung itu bertemu dengan bangku, tepat pada tulang keringnya.
Karena ia menendang tanpa pengerahan sin-kang, hanya untuk mendorong si pelayang terlentang. Maka begitu tulang kering kakinya bertemu kaki bangku, tentu saja terasa nyeri sekali. Saking nyerinya, Si Hidung Besar menggebrak meja dan beberapa mangkok masakan tertumpah di atas meja dan ia lupa untuk menyelidiki bagaimana tiba-tiba ada bangku yang menghalang di antara dia dan pelayan itu. Han Han sudah melangkah mundur terpincang-pincang. Ia mengambil keputusan untuk pergi dari restoran itu. Biarpun ia tidak minta, akan tetapi dua orang gagah tadi telah membayar makanannya, dan setelah makanannya dibayar, untuk apa dia lebih lama di tempat itu? Hanya akan mendatangkan penghinaan saja. Akan tetapi selagi ia hendak pergi, tiba-tiba Si Brewok bertahi lalat di hidung berseru.
"He, buntung! Pelayan macam apa engkau ini? Apakah matamu tidak melihat bahwa meja kami kotor? Hayo lekas bersihkan."
Han Han tersenyum, Tadinya ia hendak pergi begitu saja agar tidak menimbulkan banyak keributan. Akan tetapi menyaksikan sikap empat orang itu makin lama makin kasar dan kurang ajar, ia pikir lebih baik memberi peringatan mereka untuk membuka mata mereka bahwa memandang rendah orang lain dan menyombongkan kepandaian sendiri bukanlah watak orang gagah dan hanya akan mendatangkan aib kepada diri sendiri.
"Baikiah, taihiap."
Kata Han Han sambil menghampiri meja itu, berdiri dengan satu kaki, mengempit tongkatnya, kemudian tangan kirinya menekan meja sambil mengerahkan tenaga sin-kang menggetarkan meja. Di atas meja terdapat delapan buah mangkok makanan, panci-panci dan guci besar arak, cawan-cawan dan sumpit. Tiba-tiba semua benda yang berada di atas meja itu mencelat seperti bernyawa, terbang ke atas. Han Han dengan tenang mengangkat tangan kirinya dengan telapak menghadap ke atas, kemudian menggunakan tangan kanan yang memegang lap untuk mengelap meja yang kotor karena tumpahan masakan dan arak.
Empat orang brewok yang masih duduk itu tiba-tiba melongo, matanya terbelalak lebar dengan muka menengadah memandang mangkok piring sumpit panci yang terputar-putar di atas tidak dapat turun itu. Muka mereka pucat, mulut mereka ternganga sehingga Si Hidung Besar tidak merasa betapa ada dua ekor lalat hinggap di giginya yang kuning. Setelah meja itu bersih disapunya dengan lap, Han Han lalu menggerakkan tangan kirinya. Benda-benda yang terbang berputaran di atas itu lalu turun dan tanpa menerbitkan suara berisik berjatuhan di atas meja kernbali, persis di tempat semula seperti tadi seolah-olah tidak pernah meninggalkan permukaan meja yang kini telah menjadi bersih. Han Han menggantungkan lap di pundaknya, menurunkan tongkatnya dan terpincang mundur dua langkah, membungkuk dan bertanya,
"Su-wi taihiap, masih ada perintah lainkah?"
Empat orang brewok itu tertegun, memandang kepada Han Han, menelan ludah dan Si Hidung Besar tersedak karena ketika menutup mulutnya tiba-tiba, seekor lalat kurang cepat terbang keluar sehingga terpaksa mencari jalan ke dalam dan kesasar memasuki terowongan gelap berupa kerongkongan orang itu.
"Ti.... tidak...."
Si Mata Sipit berhasil mengeluarkan suara dengan mata kedap-kedip. Han Han lalu meninggalkan meja itu, diikuti pandang mata, bukan hanya pandang mata empat orang melainkan pandang mata semua orang yang berada di tempat itu dan yang tadi menonton peristiwa yang bagi mereka amat ajaib. Keadaan sunyi sekali, seolah-olah semua orang masih belum mendapatkan napas mereka kembali, dan Han Han menyampirkan lap di atas bangku dekat koki gemuk, lalu menjura kepada koki gemuk sambil berkata.
"Lopek, terima kasih atas kebaikanmu. Karena makananku telah dibayar oleh dua orang Enghiong tadi, maafkan aku tidak dapat membantu lebih lama lagi."
Ia lalu memutar tubuhnya keluar dari restoran itu.
Empat orang brewok itu dengan muka kini merah sekali karena malu, cepat-cepat membayar harga makanan mereka dan juga keluar tergesa-gesa. Setelah Han Han dan empat orang brewok itu pergi, gegerlah di restoran. Semua orang bicara seperti sarang tawon diganggu, semua membicarakan peristiwa luar biasa itu. Di tempat inilah pertama kali lahir julukan "Pendekar Buntung", ada pula yang menyebutnya "Pendekar Siluman", dan ada yang menyebutnya "Pendekar Super Sakti". Memang sudah menjadi kelajiman bahwa orang paling suka melebih-lebihkan dalam menceritakan pengalaman mereka sehingga perbuatan Han Han yang bagi para ahli silat tinggi yang memiliki tenaga sin-kang kuat bukanlah hal yang mengherankan,