Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 142

Memuat...

Bahkan semenjak keluar peraturan dari pemerintah Kerajaan Ceng yang mengharuskan penduduk pribumi menguncir rambut mereka, banyak penduduk menguncir rambut lalu menyembunyikan kuncir di bawah topi agar tidak tampak. Akan tetapi pemuda ini membiarkan rambutnya terurai, dikuncir pun tidak. Juga kakinya amat menarik perhatian karena kaki itu tinggal sebuah. Kaki kirinya buntung. Pemuda itu berjalan dibantu tongkatnya, sebatang tongkat kayu yang butut, yang dipegang dengan tangan kiri dan dipergunakan sebagai pengganti kakinya. Pemuda itu berjalan perlahan-lahan dan agaknya dia sudah mahir menggunakan tongkat, buktinya ia tidak kelihatan pincang, biarpun ia hanya berjalan dengan sebelah kaki. Pemuda tampan berkaki buntung dan berambut panjang terurai ini bukan lain adalah Han Han.

Setelah gurunya yang baru, Nenek Khu Siauw Bwee yang buntung pula kakinya, menggemblengnya secara tekun dan sudah memperbolehkah dia keluar dari daerah tersembunyi itu, Han Han lalu muncul pula di dunia ramai dan pertama-tama yang ia kerjakan adalah mencari adiknya. Pada pagi hari itu ia tiba di Leng-chun, dalam perjalanannya mencari Lulu yang ia mulai dari tempat di mana Lulu diculik Ouwyang Seng, yaitu ke kota raja. Ia dapat menduga bahwa Lulu setelah ditawan oleh pemuda bangsawan itu tentu dibawa ke kota raja, maka ke sanalah ia menuju dan pagi hari itu selagi melewati Leng-chun, perutnya merasa lapar dan ia lalu memasuki sebuah rumah makan. Dia tidak mempunyai uang sekeping pun, akan tetapi perutnya amat lapar dan ia bersedia menukarkan tenaganya untuk beberapa potong bakpauw atau sepiring nasi, semangkok arak.

"Lopek, maukah lopek memberi aku beberapa potong bakpauw itu? Perutku lapar sekali."

Ucapan Han Han ini nyaring, tidak malu-malu sungguhpun di situ banyak duduk para tamu menghadapi meja dan ada beberapa orang tamu sudah menoleh ke arahnya ketika mendengar ini. Beberapa orang sudah mengomel,

"Hemmm.... di mana-mana ada saja pengemis, seperti lalat saja."

Han Han mendengar dengan jelas omelan ini, akan tetapi ia tidak peduli, tidak pula marah atau merasa terhina, bahkan menoleh pun tidak ke arah orang-orang yang mengomel itu.

Ia hanya menghadapi koki rumah makan yang gendut, memakai topi bundar dengan kain lap di pundak dan yang sedang memanaskan bakpauw di sudut rumah makan. Tiap kali koki ini membuka penutup tumpukan bakpauw yang dimasak, bau sedap menyengat hidung, membuat Han Han menelan ludah. Sudah lama dia tidak makan masakan enak, apalagi bakpauw. Di sepanjang jalan ia hanya makan buah-buah, daun-daun muda, dan minum air gunung. Koki gemuk itu menoleh dan mengernyitkan hidung ketika melihat Han Han. Akan tetapi ketika bertemu dengan pandang mata yang halus namun tajam menusuk itu ia menelan kembali makian yang sudah keluar ke ujung lidah. Sambil menggerakkan kedua tangan untuk menyatakan bahwa ia tidak berdaya dalam hal itu, ia berkata.

"Wah, mana bisa, orang muda? Aku bekerja di sini untuk menjualkan bakpauw ini, kalau diminta begitu saja dan kuberi, bisa-bisa gajiku akan dipotong habis oleh majikan. Bakpauw ini bukan untuk disedekahkan kepada orang yang minta."

Dia tidak berani menyebut pengemis, karena koki ini maklum bahwa banyak orang kang-ouw berkeliaran di tempat itu dan melihat pandang mata pemuda ini, benar-benar menimbulkan rasa serem di hati. Han Han tersenyum ramah. Koki itu makin heran dan curiga. Kalau pengemis mengapa begini tampan dan giginya begitu putih bersih dan berderet rapi, serta kelihatan kuat.

"Ucapanmu tepat sekali, Lopek. Aku pun bukan sembarangan mengemis atau minta dengan percuma. Tolong sampaikan kepada majikanmu bahwa karena perutku lapar, aku minta dan setelah kenyang, aku akan membayar makananku dengan tenaga, boleh disuruh bekerja apa saja untuk membayar makananku."

Wah, pemuda ini ternyara benar-benar bukan pengemis, pikir si koki dengan hati lega. Ia merasa bangga akan wawasannya tadi sehingga ia tidak terburu nafsu memaki dan mengusir pemuda ini sebagai pengemis.

"Ah, kalau begitu, tunggulah sebentar."

Dengan gerak langkah kaki lucu, pantatnya yang membusung kebanyakan daging itu megal-megol seperti larinya seekor bebek, koki itu lari masuk ke dalam dan bicara kepada seorang laki-laki setengah tua yang berpakaian sebagai majikan dan yang kepalanya botak.

Si botak itu menghentikan pekerjaannya menghitung-hitung dengan swipoa, lalu miringkan kepala untuk memandang ke arah pemuda kaki buntung yang berdiri di depan pintu. Matanya agak lamur dan juling sehingga kalau melihat orang di tempat agak jauh ia harus miringkan kepalanya, baru kelihatan agak jelas. Kemudian ia bangkit berdiri malas-malasan, berjalan keluar diikuti koki yang megal-megol. Sejenak majikan restoran itu memandang Han Han dari kepala sampai ke kaki, terutama pada kaki buntung itu, lalu bertanya,

"Orang muda, kau bisa kerja apa?"

"Apa saja, asal aku mendapat makan,"

Jawab Han Han sederhana sambil memandang ke arah tumpukan bakpauw yang ditutup.

"Hemmm.... dengan.... eh, maaf.... kakimu yang buntung sebelah, engkau dapat bekerja apa?"

Majikan restoran itu mengurut-urut dagunya, berpikir-pikir. Dia mau menolong pemuda ini, akan tetapi dia pun tidak mau rugi. Segala sesuatu bagi majikan ini harus ia perhitungkan dengan swipoa, jangan sampai rugi"

"Loya, pagi ini kebetulan sekali A-ji mangkir, kabarnya sakit. Bagaimana kalau dia ini membantu melayani tamu?"

Pandang mata majikannya itu menimbang-nimbang. Biarpun kaki kirinya buntung, akan tetapi pemuda ini bersih dan menyenangkan, tidak menjijikkan. Apalagi kakinya yang buntung itu pun tertutup celana buntung sehingga tidak kelihatan. Juga berdirinya dengan kaki satu dibantu tongkat tegak.

"Baiklah, pagi ini engkau boleh makan bakpauw sekenyangmu, siang dan malam nanti makan nasi. Akan tetapi engkau harus membantu kami menjadi pelayan selama sehari semalam. Bagaimana?"

Sebetulnya Han Han merasa keberatan di dalam hatinya. Dia hanya ingin makan pagi itu kemudian melanjutkan perjalanannya ke kota raja. Akan tetapi ketika ia melirik ke arah para tamu, ia melihat seorang laki-laki muda bertubuh tegap berwajah gagah duduk bersama seorang temannya yang juga tegap dan gagah. Dan di meja lain tampak empat orang mengelilingi meja dan tertawa-tawa sambil mengobrol, akan tetapi sikap empat orang ini seperti mengejek dua orang itu. Mereka mengobrol sambil memandang-mandang kedua orang itu, tertawa-tawa dan pandang mata mereka menantang sekali. Hatinya tertarik. Agaknya di tempat ini banyak orang kang-ouw bertemu dan agaknya ia akan melihat banyak dan mendengar banyak. Ia lalu mengangguk. Tidak mengapalah perjalanannya terlambat sehari di tempat ini.

"Baiklah, aku terima syarat itu."

Setelah majikan itu kembali ke mejanya, melanjutkan pekerjaannya mainkan swipoa sehingga terdengar ketrokan swipoa ramai, koki itu tersenyum lebar dan berkata,

"Aku senang sekali mendapat bantuanmu. Nah, makanlah bakpauw ini."

Koki itu mengambil dua butir bakpauw dengan sumpitnya yang panjang dan meletakkannya di atas piring. Han Han menyambar bakpauw itu dan makan dengan lahapnya. Ia makan sampai habis lima butir, barulah perutnya kenyang dan seleranya terpuaskan. Setelah minum air teh panas, tiba-tiba terdengar suara laki-laki muda bertubuh tegap memanggil.

"Bung pelayan."

Koki itu memberi isyarat dengan gerakan dagunya kepada Han Han. Han Han lalu meletakkan mangkok tehnya dan berjalan cepat ke arah meja tamu yang dua orang itu. Si koki memandang langkahnya sejenak, lalu menggeleng-geleng kepala dan menggumam seorang diri,

"Kasihan....."

"Ji-wi memanggil pelayan?"

Han Han bertanya dengan sikap hormat kepada dua orang itu. Si pemuda yang bertubuh tegap memandangnya sejenak, terutama kepada kakinya yang buntung, lalu bertanya,

"Engkau pelayan?"

"Benar, Kongcu, mulai saat ini sampai malam nanti. Kongcu hendak memesan apakah?"

"Tolong ambilkan tambahan sekati bakmi dan seguci arak."

"Baik, Kongcu."

Han Han memutar tubuh dan atas isyarat koki yang memanaskan bakpauw ia lalu pergi ke tempat yang ditunjuk, yaitu ke bagian dapur di belakang. Ternyata rumah makan yang terdiri dari dua ruangan itu penuh tamu. Ketika ia melewati meja di mana duduk empat orang kasar yang bercambang bauk, seorang di antara mereka melonjorkan kaki, seperti tidak disengaja akan tetapi sesungguhnya disengaja. Han Han tentu saja dengan mudah dapat melewati kaki itu, akan tetapi ia ingat akan kedudukannya sebagai pelayan dan berkata,

"Maaf, harap suka memberi jalan"

Orang itu brewok dan matanya bundar besar yang kini melotot kepada Han Han.

"Apa katamu? Kau tidak bisa menyebut taihiap? Kami adalah pendekar-pendekar besar, tahu?"

Han Han tersenyum.

"Maaf, taihiap, karena saya tidak tahu maka...."

Orang itu menarik kakinya.

"Sudah, pergilah. Memutari meja kami. Kakimu menjijikkan."

Han Han membungkuk, lalu terpaksa mengambil jalan mengitari meja itu, berloncatan kecil dibantu tongkatnya, terus ke dapur melaporkan pesanan dua orang itu. Koki di dapur sudah tahu hahwa ada seorang pelayan baru yang menggantikan A-ji yang mangkir. Tanpa bertanya koki ini lalu menyediakan pesanan itu dan Han Han diberi sehelal kain lap yang ia sampirkan di pundak. Kemudian ia membawa baki dengan tangan kanan di atas pundak, menghampiri dua orang pemesannya sambil mengitari meja empat orang brewok. Sambil mengempit tongkatnya, dengan kedua tangan Han Han menghidangkan bakmi di meja dua orang itu.

"Kasihan."

Kata pemuda tampan bertubuh tegap sambil memandang Han Han.

"Kenapa untuk mendapat makan saja engkau yang buntung harus menjadi pelayan. Sobat, kalau kau perlu makan, makanlah, biar kami yang bayar. Dan ini sedikit uang untuk bekal...."

Han Han membelalakkan mata dan merasa berterima kasih sekali. Dia mengenal orang baik, akan tetapi dia juga tidak mengharapkan pertolongan orang. Ia menjura dan berkata.

"Terima kasih, Kongcu. Kongcu seorang yang baik sekali. Akan tetapi maaf, saya hanya menerima bantuan yang dapat saya balas. Majikan restoran ini memberi saya makan, tentu saja saya harus membalasnya sekuat kemampuan saya."

Ia menjura lagi untuk mengambil seguci arak yang dipesan, lalu meletakkannya di atas meja dengan sikap hormat, dipandang oleh dua orang gagah itu dengan kagum. Tamu baru datang dan Han Han cepat menyambut dan melayani pesanan mereka. Ia mulai merasa senang juga dengan pekerjaan ini.

"Sungguh mengagumkan."

Kata pemuda itu kepada temannya yang juga gagah dan usianya sudah ada empat puluhan tahun.

"Biarpun dia pincang kakinya, akan tetapi tidak pincang batinnya, masih mengenal budi. Alangkah banyaknya orang sekarang yang lupa akan budi, lupa akan nenek moyang, lupa akan bangsa sehingga tidak segan menjual negara."

Kata-kata pemuda itu penuh semangat.

"Memang, Hiantit. Orang yang pincang dan lemah masih mempunyai semangat dan kejujuran, seperti watak patriot. Sebaliknya, betapa banyaknya orang yang kuat dan gagah akan tetapi sebetulnya lemah dan mabuk oleh harta dan kedudukan, tidak segan membantu penjajah."

Kata orang yang setengah tua.

"Omongan seperti kentut."

Tiba-tiba seorang di antara empat orang kasar di meja sebelah, yang dahinya codet, menggebrak meja sehingga mangkok-mangkok tergetar dan sebagian isinya tumpah di meja.

"Omongan pemberontak, Di waktu kerajaan baru belum membahagiakan rakyat pura-pura menjadi patriot. Ha-ha-ha, betapa banyaknya manusia plin-plan seperti itu."

Keadaan menjadi tegang. Biarpun tidak secara langsung saling memaki, namun omongan kedua pihak sudah saling mengejek.

"Ciang-lo-enghiong, banyak pendapat yang sesat seperti itu. Orang-orang bijaksana jaman dahulu berkata Wi-bin-wi-kok, hiap-ci-tai-cia (membela rakyat membela negara, adalah perbuatan paling mulia). Kalau membaliknya daripada membela negara dan memihak penjajah, itu namanya penjilat dan tidak berharga."

Kata pemuda gagah tadi sambil menghirup araknya. Mukanya agak merah, mungkin karena terlalu banyak minum, mungkin juga karena marah.

Post a Comment