Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 141

Memuat...

"Aku tidak kerasan, Aku akan mencari kakakku, kalau ia belum dibunuh oleh kaki tanganmu yang jahat."

Nirahai mengerutkan keningnya. Diam-diam timbul rasa ingin sekali bertemu dengan kakak gadis ini, yang bernama Han Han. Kalau adiknya begini aneh, tentu kakaknya lebih aneh lagi.

"Lulu, lekas kau bercerita tentang Pulau Es, kalau engkau tidak mau, kupatah-patahkan seluruh tulang di tubuhmu."

Kembali Nenek Maya menghardik. Nirahai maklum akan kebengisan seorang berwatak aneh seperti gurunya. Kalau gurunya mau, sekali turun tangan tentu ancamannya itu akan dilaksanakan tanpa ada yang mampu menghalanginya.

"Lulu, anak baik, engkau mengakulah saja."

Akan tetapi Lulu yang sudah mengatur siasat itu menjawab,

"Aku tidak peduli apakah tulang-tulangku akan dipatahkan ataukah tubuhku akan dihancurkan oleh dia itu. Aku tidak takut mati. Memang aku tahu bahwa di antara ketiga patung itu, wanita cantik bengis itu yang berhati jahat. Aku baru mau bercerita kalau syaratku dipenuhi."

Nirahai memang tidak ingin mencelakai bangsa sendiri. Dan begitu bertemu dengan Lulu, ia sudah merasa suka dan sayang kepada anak yang keras hati dan berwatak kukoai (ganjil) ini.

"Apakah syaratnya?"

"Pertama, kalau aku dibawa ke istana, kau harus menjamin agar aku tidak dihukum karena melarikan diri."

Nirahai tersenyum.

"Baiklah. Kaisar adalah Ayahku sendiri, aku dapat mintakan ampun untukmu."

"Kedua, kalau kakakku tidak terbunuh, kau harus menyuruh kaki tanganmu mencarikan dia untukku. Akan tetapi kalau sudah terbunuh, engkau harus membiarkan aku membalas dendam kepada pembunuhnya."

Lulu mengepal kedua tinjunya, matanya memancarkan kemarahan. Nirahai mengangguk.

"Baik-baik, itu pun adil."

Diam-diam ia merasa bahwa kalau benar Han Han sudah terbunuh, tentu pembunuhnya itu amat lihai dan bagaimana gadis ini akan dapat membalas dendam?

"Lekas ceritakan tentang Pulau Es."

Nenek itu kini membentak, kehilangan sabar dan sudah melangkah maju setindak ke dekat Lulu. Melihat ini, Nirahai yang merasa sayang kepada Lulu cepat berkata.

"Lulu, syarat-syaratmu telah dipenuhi, lekas engkau bercerita."

"Masih ada lagi syaratku, yaitu karena aku sudah tinggal di Pulau Es sampai bertahun-tahun dan locianpwe ini adalah seorang di antara penghuni Pulau Es, maka kalau locianpwe suka mengambil aku sebagai murid, baru aku mau menceritakannya."

"Wirrr....."

Tangan nenek itu bergerak dan biarpun Lulu hendak mengelak, percuma lagi karena rambutnya sudah disambar dan sekali nenek itu mengangkat tangan, tubuh Lulu tergantung pada rambutnya yang dicengkeram. Lulu merasa nyeri, akan tetapi ia tidak mengeluh dan hanya membelalakkan mata dan dia sungguh-sungguh kelihatan seperti seekor kelinci dipegang kedua telinganya dengan matanya yang lebar itu.

"Bocah setan! Mengapa harus mengambilmu sebagai murid?"

Bentak nenek itu.

Diam-diam Lulu ngeri juga. Di tangan nenek ini ia seperti sebuah boneka yang tidak berdaya. Otaknya bekerja cepat. Tadi ia sengaja minta menjadi murid karena kini ia telah cukup tahu betapa pentingnya memiliki ilmu kepandalan tinggi. Dengan ilmu kepandaian tinggi dia tidak akan mudah dihina orang seperti berkali-kali ia dan kakaknya mengalaminya dan ia mengenal orang sakti maka kalau ia bisa menjadi murid nenek ini tentu ia akan menjadi amat lihai. Ia pun tahu bahwa ia boleh agak "menjual mahal"

Karena tahu akan kegairahan hati nenek ini ingin mendengar tentang Pulau Es, akan tetapi kalau ia agak keterlaluan menjual mahal dan menahan harga, sekali nenek itu turun tangan ia takkan bemyawa lagi. Cepat ia menjawab.

"Locianpwe, peristiwa di Pulau Es merupakan rahasia pribadi, dan keadaan Pulau Es pun tidak boleh diceritakan pada lain orang, demikian pesan kakakku yang mentaati pesan tertulis para locianpwe penghuni pulau itu. Kami berdua telah bersumpah takkan membuka rahasia Pulau Es. Kalau saya tidak menjadi murid locianpwe, berarti locianpwe saya anggap orang luar. Bagaimana saya akan dapat menceritakan tentang pulau rahasia itu? Biar dibunuh sekalipun, kalau locianpwe tidak menjadi guru saya, mana saya berani membuka rahasia?"

Cekalan rambutnya mengendur dan tubuh Lulu dilepaskan kembali. Nenek itu mengangguk.

"Engkau sudah sampai di sana, berarti engkau telah menjadi murid kami bertiga. Baiklah, engkau menjadi muridku bersama Nirahai."

"Terima kasih, subo."

Lulu dengan girang menjatuhkan diri berlutut di depan nenek itu. Nirahai juga girang sekali, berlutut pula di samping Lulu, merangkul pundaknya dan berkata,

"Sumoi Lulu."

Akan tetapi Lulu melotot kepadanya.

"Suci, awas kalau sampai Han-koko kau bunuh, biar engkau menjadi suciku, engkau akan kubunuh pula."

"Bocah kurang ajar, lekas ceritakan."

Kembali nenek itu membentak.

"Subo, urusan rahasia yang sedemikian gawatnya masa boleh diceritakan di tengah jalan seperti ini? Lebih baik di dalam kamar, di istana.... kalau Subo hendak ke sana."

Saking inginnya segera mendengar cerita itu, Nenek Maya menyambar tubuh Lulu dan sekali berkelebat ia lenyap. Hanya terdengar suaranya,

"Nirahai, kami menantimu di dalam istana."

Nirahai memandang bengong dan menghela napas panjang. Ia kagum sekali akan keberanian Lulu dan diam-diam ia menduga bahwa kelak Lulu akan menjadi seorang yang hebat. Dia tidak akan heran kalau subonya akan lebih sayang kepada bocah itu. Maka ia lalu memasuki joli dan memerintahkan dua orang pemanggulnya yang berjongkok dan bengong menyaksikan tingkah orang-orang aneh itu untuk memanggul joli melanjutkan perjalanan ke kota raja.

Di luar kota Tai-goan terdapat sebuah dusun yang cukup ramai. Dusun itu bernama Leng-chun, letaknya di sebelah selatan kota Tai-goan dan di tepi Sungai Fen-ho yang mengalir ke selatan dari kota Tai-goan. Karena Sungai Fen-ho ini terus mengalir ke selatan sampai bergabung dengan Sungai Huang-ho yang mengalir ke timur dan sampai ke Terusan Besar, maka sungai ini merupakan sungai yang "hidup", yaitu dimanfaatkan oleh rakyat sebagai jalan umum untuk mengangkut barang dan penumpang.

Selain lebih aman dan murah, juga tidak melelahkan daripada kalau melakukan perjalanan melalui daratan yang banyak diganggu rampok dan melalui gunung-gunung yang sukar dilewati. Karena ramainya sungai ini, maka dusun Leng-chun merupakan dusun yang makmur pula, banyak dilewati kaum pedagang dan banyak pula barang-barang hasil bumi diangkut ke timur meialui dusun ini. Banyaknya kaum pedagang dan pelancong membuat dusun ini ramai dan banyak dibuka rumah-rumah makan dan rumah-rumah penginapan, yang sungguhpun kecil-kecil dan sederhana namun cukup memenuhi kebutuhan para saudagar dan pelancong. Dusun kecil ini dengan sendirinya menjadi pusat pertemuan orang-orang dari luar kota sehingga banyak terdapat orang asing yang bicara dengan bermacam dialek.

Pada suatu hari, seorang laki-laki yang aneh memasuki sebuah rumah makan di dusun Leng-chun. Laki-laki ini masih muda, wajahya tampan sekali, sinar matanya aneh dan tajam, namun di antara kedua alisnya banyak guratan yang menjadi tanda bahwa semenjak kecil pemuda ini sudah mengalami banyak penderitaan hidup. Pakaiannya sederhana, serba putih dengan garis-garis biru tua. Yang amat menarik perhatian orang bukanlah pakaiannya karena pakaian itu sederhana, bahkan orang-orang kang-ouw yang suka lewat di tempat ini dengan pakaian mereka yang aneh-aneh pun sudah dianggap biasa oleh penduduk di situ. Rambut itu hitam panjang dibiarkan terurai ke atas pundak dan punggung, sama sekali tidak diikat atau digelung seperti biasa.

Post a Comment