Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 135

Memuat...

Di kaki Pegunungan Cang-kwang-cai-san, di mana mengalir air Sungai Sungari yang bersumber dari gunung itu, terdapatlah sebidang tanah pekuburan yang berisi kuburan keluarga Kerajaan Khitan. Di sini pula dikubur jenazah tokoh-tokoh besar, bukan hanya besar bagi bangsa Khitan, melainkan juga tokoh-tokoh besar yang dikenal di dunia kang-ouw. Di sinilah terdapat kuburan pendekar-pendekar sakti Suling Emas dan isterinya yang bernama Yalina, Ratu Khitan. Bahkan di situ pula kuburan pendekar wanita sakti Mutiara Hitam, puteri Suling Emas dan Ratu Yalina, di samping kuburan keluarga kerajaan dan para tokoh terpenting dari Kerajaan Khitan. Akan tetapi, di antara semua kuburan kuno, yang paiing menyeramkan adalah kuburan ayah ibu dan puteri mereka, yaitu kuburan Suling Emas, Ratu Yalina dan Mutiara Hitam.

Hanya kuburan keluarga Suling Emas inilah yang masih terpelihara baik-baik sekalipun kini suku bangsa Khitan telah lenyap dan dilebur menjadi bangsa Mancu. Sunyi sekali keadaan di tanah kuburan itu. Tanah dan pohon-pohon di sekelilingnya kelihatan gundul dan di mana-mana mulai tampak air membeku keputihan, karena musim salju hampir tiba. Air Sungai Sungari yang mengalir tepat di depan tanah kuburan, kelihatan malas karena hampir membeku oleh hawa dingin. Keadaan amat sunyi, tidak ada tampak seekor pun burung, seolah-olah alam di sekeliling kuburan ikut mati seperti mereka yang dikubur di situ. Salju yang mulai terbentuk mengecat seluruh tempat menjadi keputih-putihan, putih bersih menambah sunyi.

Dilihat sepintas lalu, semua orang tentu akan mengira bahwa tempat sunyi seperti itu tidak ada penghuninya. Akan tetapi, kadang-kadang tampak asap mengepul dari genteng pondok yang cukup kokoh dan megah, yang berdiri di antara batu-batu nisan di tanah kuburan itu. Dan melihat dupa yang selalu berkelap-kelip di depan bongpai (batu nisan) keluarga Suling Emas, dapat ditarik kesimpulan bahwa di situ tidaklah tanpa penghuni seperti orang kira. Dan sesungguhnyalah. Pondok itu dahulu dibuat oleh keluarga Kerajaan Khitan menjadi tempat para penjaga tanah kuburan. Bahkan tanah kuburan itu sendiri tidak selalu sunyi ketika Kerajaan Khitan masih jaya. Akan tetapi, semenjak bangsa Khitan terdesak dan dilebur menjadi bangsa Mancu yang makin berkuasa sehingga Kerajaan Khitan pun lenyap, di tempat ini tidak dilakukan penjagaan lagi seperti dahulu, tidak pula dikunjungi keluarga raja yang berziarah.

Bahkan kuburan itu tentu akan terlantar dan rusak kalau saja tidak muncul seorang kakek tua bongkok yang menjaga tanah pekuburan keluarga Suling Emas itu. Dan sejak kakek bongkok ini menjaga di situ, kuburan keluarga Suling Emas menjadi terawat baik dan tidak pernah sedetik pun kakek itu meninggalkan tanah pekuburan yang dijaganya dengan penuh kesetiaan. Kakek ini menjadi satu-satunya orang yang tinggal di daerah dingin bersalju ini, dan asap yang kadang-kadang nampak berkepul adalah asap dari dapur di kala ia memasak makanan. Semenjak kakek bongkok menjaga tanah kuburan itu, tempat itu menjadi tempat angker dan keramat, ditakuti orang karena kakek bongkok itu ternyata amat galak dan juga amat lihai sehingga siapa pun yang berani mendatangi tanah kuburan tentu akan dibunuhnya.

Mula-mula, begitu mendengar akan runtuhnya suku bangsa Khitan dan tanah kuburan keluarga Suling Emas itu tidak terjaga lagi oleh tentara Khitan, banyak orang-orang kang-ouw mencoba datang ke tanah kuburan itu karena mereka mendengar bahwa pusaka peninggalan keluarga Suling Emas berupa kitab-kitab dan senjata-senjata, terutama senjata Suling Emas sendiri berupa sebatang suling terbuat daripada emas dan sebuah kitab, berada di tempat itu. Mereka ini berusaha untuk mendapatkan pusaka peninggalan. Akan tetapi banyak sekali tokoh kang-ouw datang ke tempat itu untuk mengantar nyawa. Banyak yang tewas di tangan kakek bongkok dan banyak pula yang dipukul mundur dan terpaksa melarikan diri membawa luka-luka berat.

Semenjak itu, tidak ada lagi orang yang berani coba-coba mengganggu kuburan keluarga Suling Emas, bahkan bangsa Mancu dan suku bangsa lainnya tidak ada yang berani mendekati tempat itu. Selama puluhan tahun ini, hanya ada dua buah tempat yang selalu menarik perhatian orang-orang kang-ouw, yaitu Pulau Es, dan kuburan keluarga Suling Emas. Akan tetapi kedua-duanya amat sukar didatangi. Yang pertama, Pulau Es, sungguhpun kabarnya menjadi tempat tinggal Koai-lojin yang tak mau mengganggu orang bahkan suka membagi ilmu kepada siapa saja, namun amat sukar dicari karena tersembunyi di antara pulau-pulau yang banyak terdapat di utara, di samping sukarnya pelayaran di lautan yang kadang-kadang penuh es dan salju itu.

Yang ke dua adalah tanah kuburan ini yang biarpun lebih mudah dicari, namun dijaga oleh kakek bongkok yang memiliki kesaktian yang sukar dilawan dan galaknya melebihi harimau menjaga anak-anaknya. Akan tetapi, pada suatu pagi yang cerah, tampak sebuah joli (tandu) yang dipikul dua orang laki-laki tinggi besar berlari cepat menempuh hujan salju rintik-rintik menuju ke tanah kuburan di tepi Sungai Sungari. Dari jauh sudah tampak tanah pekuburan keluarga Suling Emas yang sunyi. Dua orang pemikul tandu itu adalah orang-orang Mancu yang bertubuh kuat, namun mereka kelihatan lelah dan napas mereka terengah-engah ketika mereka tiba di tepi sungai, masih agak jauh dari tanah kuburan.

"Berhenti di sini."

Terdengar suara nyaring merdu dari dalam joli. Dua orang pemanggul joli berhenti dan menurunkan joli. Tirai joli tersingkap dan tampaklah wajah seorang gadis yang amat cantik jelita, berhidung kecil mancung dengan dagu meruncing dan sepasang mata lebar terbelalak indah dan bening. Tubuh yang ramping itu keluar dan ternyata dia seorang dara jelita yang masih amat muda, tubuhnya yang ramping berpakaian indah, pakaian seorang Mancu dengan baju panjang berlengan pendek sehingga tampaklah lengannya yang berkulit putih halus sebatas siku.

Rambutnya yang hitam panjang dan subur tertutup sebuah topi putih dari bulu beruang, dan di atas topi terhias sehelai bulu burung, tanda bahwa dia adalah seorang pemimpin pengawal Kerajaan Mancu. Rambutnya dikat dengan pita kuning di belakang tengkuk, dan sepasang telinganya terhias anting-anting emas, demikian pula kedua pergelangan tangannya. Ketika turun, dara ini membawa sebatang payung yang gagangnya melengkung dan ujungnya runcing mengkilap. Dara ini bukan lain adalah Puteri Nirahai, Puteri Mancu yang amat lihai sehingga dia menjadi pimpinan para pengawal istana"

Kalau melihat mata yang lebar indah, bibir yang tipis merah basah, gerak-geriknya yang lemah gemulai, takkan ada orang mengira bahwa dia seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

"Kalian berdua pergilah sembunyi di balik batu gunung itu dan jangan sekali-kali berani menampakkan diri sebelum kupanggil,"

Kata pula Nirahai dalam bahasa Mancu kepada dua orang itu. Dua orang tinggi besar itu adalah ahli-ahli petunjuk jalan yang bertubuh kuat dan memiliki kepandaian tinggi, kakak beradik yang merupakan tokoh-tokoh terkenal pula di daerah utara ini. Akan tetapi ketika menerima perintah dari "Sang Puteri"

Untuk mengantarnya ke pekuburan keluarga Suling Emas, mereka ketakutan setengah mati dan dengan hati berat mereka terpaksa mengantarkan Nirahai. Kini, pada saat rasa takut mereka membuat wajah mereka pucat dan napas mereka terengah, mendengar perintah Nirahai agar mereka bersembunyi, hati mereka lega dan girang sekali. Setelah memberi hormat mereka berdua lalu melompat dan bersembunyi di belakang sebuah batu besar, meninggalkan joli di dekat sungai.

Nirahai bersikap hati-hati dan dia tidak berani lancang menuju ke tanah kuburan. Dengan bersembunyi di balik sebuah batu yang menonjol di pinggir sungai, ia mengintai ke arah pondok di tengah kuburan. Keadaan amat sunyi. Tiba-tiba pandang mata Nirahai yang tajam sekali dapat melihat munculnya sebuah perahu kecil yang melawan arus air sungai. Karena air sungai yang dingin hampir membeku itu arusnya lambat sekali, maka perahu itu bergerak cepat, didayung oleh dua pasang tangan yang kuat. Mereka itu adalah dua orang kakek bertubuh tinggi besar berkulit hitam. Nirahai tidak mengenal mereka, akan tetapi ia dapat menduga bahwa mereka itu tentu bangsa Mongol Utara, melihat dari pakaian mereka yang tebal terbuat dari bulu binatang dan cara mereka menggelung rambut mereka.

Diam-diam Puteri Mancu ini memperhatikan dan ia melihat betapa dua orang Mongol itu tiba-tiba melompat ke darat, seorang di antara mereka memegang sehelai tali panjang yang mengikat ujung perahu. Setelah keduanya mendarat dengan sebuah loncatan cepat dan jauh yang membuktikan bahwa mereka adalah orang-orang pandai, si pemegang tali menggerakkan tenaganya dan perahu itu seperti dilontarkan oleh angin menuju ke arah mereka. Kakek kedua mengangkat tangan kiri menyambut perahu itu dengan mudah, lalu meletakkan perahu ke atas tanah. Melihat gerakan mereka, Nirahai maklum bahwa kedua orang kakek Mongol itu memiliki tenaga yang besar.

"Haiiiii.... Setan Bongkok...."

Keluarlah, kami datang menagih hutangmu sepuluh tahun yang lalu."

Seorang di antara dua orang kakek itu berseru, suaranya nyaring bergema dan ia menggunakan bahasa Mongol yang dimengerti baik oleh Nirahai. Suara yang keras itu menggema sampai lama, kemudian terdengar suara orang batuk-batuk dari dalam pondok di tengah tanah pekuburan, disusul suara orang yang menggunakan bahasa Mongol yang kaku.

"Hemmm, Sepasang Anjing Hitam padang pasir Go-bi. Pergilah sebelum terlambat. Aku tidak suka mengotorkan tempat suci ini dengan darah kalian. Pergilah."

Mendengar suara itu, Nirahai merasa tegang hatinya, jantungnya berdebar. Dia belum pernah melihat kakek bongkok penjaga tanah kuburan keluarga Suling Emas, akan tetapi sudah mendengar tentang kakek itu yang kabarnya memiliki kesaktian hebat, galak dan mati-matian menjaga dan membela kuburan itu. Kini, baru mendengar suaranya saja sudah menyatakan bahwa kakek itu seorang yang keras, juga tinggi hati, namun amat menghormati kuburan itu.

Nama Sepasang Anjing Hitam dari padang pasir Go-bi juga amat terkenal. Dua orang jagoan Mongol itu merupakan datuk-datuk di daerah padang pasir Go-bi yang amat disegani sehingga setiap rombongan kafilah yang melalui daerah ini tentu akan meninggalkan "tanda persahabatan"

Di depan gua-gua di kaki bukit kecil yang disebut Bukit Anjing Hitam, untuk menghormati dua orang tokoh itu sehingga rombongan mereka takkan terganggu. Akan tetapi, sekarang kedua orang datuk padang pasir itu tidak dipandang mata sama sekali oleh penjaga kuburan keluarga Suling Emas, dan mendengar ucapan kakek dari dalam pondok, jelas bahwa dua orang Mongol tinggi besar itu pernah dikalahkan sepuluh tahun yang lalu.

"Heh, Si Bongkok setan tua bangka yang sombong. Selain sombong, engkau pun pelit sekali. Untuk apakah sekalian pusaka dan kitab peninggalan Keluarga Suling Emas untukmu? Engkau sudah hampir mampus. Berikan kepada kami sebuah dua buah pusaka sebagai pengganti nyawamu. Kalau engkau masih pelit, sekali ini kami tidak akan memberi ampun kepadamu."

Kakek Mongol yang ada tahi lalatnya di ujung hidung dan bertubuh tinggi besar, berkata dengan suara keras. Sedangkan orang ke dua, yang lebih tinggi, memandang tajam ke arah pondok, siap menghadapi kakek penjaga kuburan. Setelah ucapan itu keluar dari mulut orang Mongol penuh tantangan, keadaan sunyi sekali dan terdengar suara

"gerrriiittttt."

Disusul terbukanya pintu pondok. Suara pintu terbuka ini memecah kesunyian dan terdengar menyeramkan, seolah-olah yang terbuka adalah sebuah peti mati. Kemudian muncullah seorang kakek bongkok di ambang pintu. Setibanya di depan pintu pondok, ia berhenti sebentar dan mengangkat mukanya. Nirahai bergidik ketika melihat betapa sepasang mata tua itu seolah-olah merupakan sinar yang menerangi tempat-tempat yang dipandang mata itu, bahkan ia merasa seolah-olah tempat persembunyiannya ketahuan ketika pandang mata kakek bongkok itu menyapu ke arah batu besar di mana ia bersembunyi. Nirahai cepat-cepat menarik diri untuk bersembunyi lebih baik, akan tetapi ia mengintai terus.

Kakek itu sebetulnya bertubuh tinggi, akan tetapi karena di punggungnya terdapat punuk yang membuat dia tidak dapat berdiri tegak dan membongkok, maka kelihatan pendek. Pakaiannya serba putih dan sederhana, juga sepatunya berwarna putih. Pakaian itu potongannya seperti pakaian pelayan, akan tetapi putih dan bersih. Wajahnya tampak kurus, alisnya tebal, kumisnya melintang ke kanan kiri dan jenggotnya menutupi dagu. Baik rambutnya, maupun rambut yang tumbuh di pelipis menjuntai ke bawah, sampai kumis dan jenggotnya, sudah hampir putih semua. Dia berdiri dengan kedua tangan kosong, dan kini perhatiannya ditujukan kepada dua orang Mongol yang melangkah datang menghampiri kakek bongkok.

Mereka saling berhadapan, sampai lama tidak mengeluarkan kata-kata, hanya saling memandang. Sikap kakek bongkok itu tenang akan tetapi pandang matanya jelas membayangkan kemarahan dan juga memandang rendah. Sedangkan dua orang Mongol itu biarpun memaksa diri bersikap tenang, masih saja kelihatan bahwa mereka sebetulnya jerih terhadap kakek bongkok itu. Nirahai diam-diam merasa heran. Kakek bongkok itu sama sekali tidak kelihatan seperti seorang sakti, bahkan kelihatan lebib pantas menjadi seorang pelayan tua yang sudah patut dipensiun. Dara Mancu ini tidak ingat bahwa dia sendiri pun tidak pantas menjadi seorang wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, lebih patut menjadi seorang puteri yang lemah lembut dan menggairahkan.

"Orang tua, benar-benarkah engkau mempertahankan semua pusaka itu? Engkau telah mendengar nama Siang-hek-sin-kauw (Sepasang Anjing Hitam Sakti) yang menjadi sahabat seluruh orang gagah di utara dan barat"

Kami mengulangi permintaan kami sepuluh tahun yang lalu, hanya ingin meminjam sebuah dua buah kitab peninggalan Keluarga Suling Emas, meminjam selama beberapa bulan saja, pasti akan kami kembalikan."

Orang Mongol yang lebih jangkung berkata dan mendengar nadanya, jelas kini bahwa setelah berhadapan, dua orang Mongol itu bersikap lebih lunak.

"Selagi aku hidup, tak seorang pun manusia boleh menjamah pusaka-pusaka keluarga majikanku. Setelah aku mati pun, rohku akan tetap menjaga di sini. Pergilah."

Ngeri hati Nirahai mendengar ucapan itu, dan diam-diam gadis ini mencari akal bagaimana ia dapat berhasil menghadapi kakek bongkok yang galak itu. Ia mengintai terus dan ingin lebih dulu menyaksikan kelihaian kakek bongkok seperti yang sudah ia dengar akan tetapi belum pernah ia saksikan.

Post a Comment