Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 134

Memuat...

Han Han menjatuhkan diri berlutut.

"Hebat luar biasa.... akan tetapi, bagaimana teecu akan dapat mempelajari ilmu sehebat itu, subo?"

"Bisa, tentu saja bisa, apalagi engkau memiliki kemauan keras dan memiliki sin-kang yang lebih dari cukup."

"Teecu amat bodoh, subo. Dua buah kitab dari suhu dan subo Siang-mo-kiam saja yang sudah teecu hafalkan di luar kepala, hanya dapat teecu petik tentang pelajaran sin-kangnya, sedangkan pelajaran ilmu silat pedangnya teecu sama sekali tidak dapat melatihnya,"

Kata Han Han menggeleng kepala.

"Karena engkau belum punya dasar, Han-ji. Akan tetapi setelah engkau berlatih dengan ilmuku, kelak engkau akan dapat mempelajari ilmu silat yang bagaimanapun juga. Dengar baik-baik. Ilmu ciptaanku ini kuberi nama Soan-hong-lui-kun (Ilmu Silat Badai dan Kilat). Aku menciptakannya menjadi gerakan-gerakan kilat yang berdasarkan ilmu gaya yang hanya dimiliki dan dirasakan oleh orang buntung berkaki satu seperti kita. Karena kaki kita buntung dan hanya sebuah, tiap kali kita bergerak lalu menghentikan gerakan kita tidak dapat langsung berdiri tegak seperti orang berkaki utuh. Kita akan terdorong oleh gerakan kita sendiri sehingga terhuyung ke depan, ke belakang atau ke kanan kiri menurut gerak dorongan dari mana kita datang, selalu bergoyang-goyang untuk mempertahankan keseimbangan tubuh. Sebuah bola pun akan lama sekali baru dapat diam, dan begitu bergerak, bola itu akan bergoyang-goyang ke kanan kiri sampai dapat keseimbangan baru diam. Nah, gaya inilah yang kupakai sebagai landasan sehingga terciptalah Ilmu Silat Soan-hong-lui-kun ini. Ilmu ini hanya dapat dikuasai dan dirasakan oleh manusia kaki satu, sukar diselami dan dipelajari oleh orang yang kakinya utuh."

Han Han mengangguk-angguk. Pemuda ini memang pada dasarnya memiliki kecerdikan yang menonjol, apalagi perubahan mukjizat dalam dirinya membuat ia memiliki kekuatan otak yang tidak lumrah manusia maka sekali mendengarkan ia sudah dapat menangkap inti sari yang dimaksudkan oleh penjelasan Khu Siauw Bwee.

"Karena ada tenaga mendorong oleh gerakan pertama, maka timbullah daya tolak yang dapat kita pergunakan untuk bergerak lagi, atau menyambung gerakan pertama kita itu. Gerakan berlandaskan daya tolak ini lebih hebat karena kita dapat meminjam gerak dorongan ditambah gin-kang kita sendiri, maka begitu kita menggunakan daya tolak untuk melakukan gerakan ke dua, gerakan kita akan menjadi lebih cepat. Gerakan ke tiga, ke empat dan selanjutnya akan makin cepat. Seperti sebuah bola karet yang kita ketukkan ke atas lantai dengan tangan, makin lama akan melambung makin cepat, Demikian pula gerak silat dari Soan-hong-lui-kun ini memiliki kecepatan yang tak terbatas. Karena itu, hal yang paling sukar dan paling penting dikuasai adalah penggunaan jurus-jurus yang akan menahan gerakan daya tolak berantai ini. Karena kalau hal ini tidak kau kuasai benar-benar, engkau akan menjadi permainan dari kekuatan daya tolak berantai itu sehingga engkau sendiri takkan dapat menghentikan gerakanmu sehingga tentu saja engkau akan mudah celaka di tangan lawan. Soan-hong-lui-kun ini kubagi menjadi tujuh puluh dua jurus, dan nanti mulai jurus ke tiga puluh tujuh, separuh dari ilmu silat ini, engkau akan mulai kulatih dengan penguasaan gerakan yang timbul dari daya tolak berantai ini."

Demikianlah, mulai saat itu, Han Han digembleng oleh nenek buntung yang luar biasa itu, sedikit demi sedikit, sejurus demi sejurus. Han Han memiliki kemauan yang hebat dan ketekunan yang mentakjubkan, sehingga biarpun nenek itu sendiri amat bersemangat melatih muridnya, ia masih kadang-kadang menggeleng kepala penuh kagum menyaksikan ketekunan dan keuletan muridnya. Seperti juga dalam hal kekuatan sin-kang, ia harus mengakui bahwa dalam hal kebulatan tekad dan besarnya kemauan, ia tidak dapat menandingi muridnya ini. Makin sayanglah ia kepada Han Han, apalagi ketika muridnya itu ia minta menceritakan riwayatnya, ia merasa betapa riwayat hidup muridnya itu malah lebih mengenaskan daripada riwayatnya sendiri.

Ia melihat munculnya seorang manusia yang lebih besar daripada dia, dan bertekad untuk menurunkan semua kepandaiannya kepada Han Han. Makin lama Han Han berlatih di bawah gemblengan Khu Siauw Bwee, makin terbukalah matanya bahwa sebetulnya, sebelum ia berlatih silat di bawah bimbingan gurunya yang baru, ia telah mempunyai banyak ilmu, hanya ilmu-ilmu itu terpendam dan hanya diketahui teorinya belaka. Kini, ia mulai dapat melatih semua ilmu yang pemah ia pelajari, bahkan permainan pedang dari kitab-kitab peninggalan Sepasang Pedang Iblis yang bernama Siang-mo Kiam-sut, yaitu penggabungan dari ilmu Pedang Iblis Jantan dan Iblis Betina, kini dapat ia mainkan dengan tongkatnya.

Setahun lamanya Han Han tekun melatih diri dengan Ilmu Soan-hong-lui-kun. Ketekunannya sungguh tidak lumrah manusia. Dia tidak peduli akan siang atau malam, pagi maupun sore, terus berlatih, hanya makan kalau perutnya sudah tidak dapat menahan lapar, hanya tidur kalau matanya sudah tak mau dibuka, dan hanya mengaso kalau tubuhnya sudah tidak dapat digerakkannya lagi saking lelahnya. Dengan semangat dan ketekunan seperti ini, tidaklah mengherankan kalau dalam waktu setahun saja sudah dapat menguasai ilmu silat itu dan pada pagi hari itu tubuhnya sudah tampak berkelebatan dari batu ke batu dan dia sudah berlatih Ilmu Silat Soan-hong-liu-kun. Tubuh yang berkelebatan seperti hampir tidak tampak, karena terlalu cepat.

Baru saja tampak di atas batu sini, tahu-tahu sudah lenyap dan berada di batu sebelah sana, terus bergerak dan terus berpindah, tongkat di tangan kiri dan cara ia meloncat seperti terbang saja, makin lama makin cepat. Biarpun dia sedung berlatih dengan gerakan-gerakan kilat, pandang matanya yang amat tajam dapat melihat berkelebatnya bayangan yang telah berdiri di atas batu dan memperhatikan gerakan-gerakannya. Han Han makin bersemangat dan ia mulai bersilat lagi, mengulang dari jurus pertama sampai jurus terakhir, tujuh puluh dua jurus ia mainkan sebaik-baiknya. Diam-diam Khu Siauw Bwee kagum dan terkejut bukan main. Pemuda yang menjadi muridnya itu benar-benar amat luar biasa. Ilmu yang ia ciptakan, selama puluhan tahun, kini dapat dikuasai muridnya dalam waktu setahun saja.

"Bagus, muridku Han Han. Bagus sekali. Engkau telah berhasil menguasai Soan-hong-lui-kun hanya dalam waktu setahun. Dengan ilmu ini, kiranya akan jarang dapat ditemukan orang yang akan mampu menandingimu. Betapapun juga, di dunia terdapat banyak orang lihai dan sayanglah kalau semua ilmu yang pernah kau pelajari teorinya tidak kau latih prakteknya. Karena itu, mulai sekarang kau latihiah semua ilmu yang kau ketahui, ditambah ilmu silat yang pernah kau pelalari, agar kau menguasai semua silat tinggi sehingga kelak tidak canggung menghadapi lawan berat."

Han Han berlutut di depan gurunya.

"Terima kasih atas semua petunjuk subo dan teecu akan mentaati semua perintah subo."

Demikianlah, mulai hari itu, Han Han melatih ilmu silat-ilmu silat tinggi yang pernah ia pelajari dari kitab-kitab di Pulau Es, juga Ilmu Pedang Siang-mo Kiam-sut ia sempurnakan latihannya di bawah petunjuk gurunya.

Daerah Mancuria bagian timur laut adalah menjadi pusat suka bangsa Khitan yang pada masa itu telah hampir musnah dan masuk menjadi bangsa Mancu yang makin berkembang dan berkuasa. Banyak di antara keluarga bekas Kerajaan Khitan menjadi pembesar-pembesar Mancu, dan karena kaum wanita Khitan banyak yang cantik jelita, maka sebagian besar di antara mereka ini menikah, sebagian besar secara paksa, dengan para Pangeran Mancu. Betapapun juga, diam-diam suku bangsa Khitan, terutama sekali kaum bangsawannya yang masih berdarah keluarga bekas Kerajaan Khitan, masih memiliki keangkuhan dan mengangkat tinggi derajat mereka sebagai bangsa Khitan.

Post a Comment