"Subo, apakah.... apakah sukong Bu Kek Siansu itu masih hidup? Teecu pernah mendengar dongeng bahwa beliau telah menjadi seorang kakek tua renta di jamannya pendekar sakti Suling Emas. Kalau begitu, berapakah usianya?"
Nenek itu menggeleng-geleng kepala.
"Tidak ada manusia yang mengetahuinya. Beliau boleh jadi masih hidup, boleh jadi sudah tiada. Dan tidak ada perlunya bagi kita untuk mengetahui akan hal itu. Yang penting sekarang, engkau akan kulatih dengan ilmu silat yang kuciptakan di sini, ilmu yang khusus untuk seorang yang berkaki satu. Mari, kau ikutlah."
Han Han tidak berani bertanya-tanya lagi dan segera bangkit lalu berloncatan dibantu tongkatnya keluar dari pondok mengikuti gurunya. Nenek itu memang buntung seperti dia, namun gerakannya cepat dan lincah sekali, jauh melebihi gerakan orang yang tidak buntung kakinya.
Dia berloncatan dengan payah dibantu tongkatnya, akan tetapi nenek itu berloncatan tanpa dibantu tongkat, dan kakinya seperti ada pernya, menotol-otol tanah tanpa mengeluarkan suara dan tubuhnya begitu ringan seperti terbang saja, makin lama makin jauh dan cepat loncatannya. Dengan susah payah Han Han mengikuti nenek itu dan baru sekarang ia mendapat kenyataan bahwa daerah tempat tinggal nenek itu merupakan daerah yang amat aneh, dacrah penuh batu-batu licin hitam, akan tetapi anehnya, di antara batu-batu itu dapat tumbuh pohon-pohon dan yang jarang terdapat di daerah tanah biasa. Nenek itu berhenti di sebuah telaga yang mempunyai air jernih kebiruan, akan tetapi juga penuh pula dengan batu-batu yang licin menghitam, permukaannya mengkilap tertimpa cahaya matahari. Setelah Han Han dapat menyusulnya dan pemuda ini berdiri di dekatnya, nenek buntung itu lalu berkata,
"Berapa lama engkau berada di Pulau Es?"
"Kurang lebih enam tahun, subo."
"Apa saja yang kau pelajari selama itu?"
"Maaf, subo. Teecu memang bodoh. Kitab-kitab di sana terlalu tinggi bagi teecu, bahkan setiap kali teecu berusaha melatih diri dengan petunjuk kitab di sana, teecu jatuh sakit dan peredaran darah teecu menjadi kacau. Yang cocok hanya kitab-kitab peninggalan Ma-bin Lo-mo dan kitab-kitab Siang-mo-kiam."
"Eh, Siang-mo-kiam? Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa? Kau ketemu denggn mereka dan menerima warisan kitab mereka pula? Mereka adalah murid-murid pendekar sakti wanita Mutiara Hitam?"
Khu Siauw Bwee, nenek itu, makin heran dan terkejut saja mendengar pengakuan Han Han tadi. Secara singkat Han Han lalu menuturkan pengalamannya ketika bertemu dengan Sepasang Pedang Iblis yang saling bunuh dan yang menyerahkan kitab kepadanya, kemudian menceritakan pula betapa selama enam tahun di Pulau Es, dia hanya mencurahkan tenaga dan perhatiannya untuk melatih sin-kang, sedangkan dalam hal ilmu silat, biarpun ia membaca banyak kitab-kitab di situ, namun karena tidak ada yang membimbing, dia tidak dapat memetik hasilnya. Mendengar ini, nenek itu menggeleng-geleng kepala penuh takjub.
"Dan tanpa kepandaian silat, hanya mengandalkan sin-kang saja, engkau berani menentang orang-orang macam Kang-thouw-kwi, Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li? Gila benar. Akan tetapi ada untungnya bagimu, Sie Han. Ilmu ciptaanku ini adalah khusus untuk orang buntung sehingga orang yang berkaki dua tidak akan mungkin dapat mempelajarinya dengan sempurna. Andaikata engkau sebelum buntung sudah mempelajari banyak ilmu silat, tentu saja ilmu silat biasa bukan untuk orang buntung, agaknya tidak akan mudah bagimu untuk mempelajari ilmuku ini, karena engkau akan terpengaruh oleh ilmu-ilmu silat biasa. Aku sendiri, karena sebelum buntung telah menjadi seorang ahli silat yang sukar dicari bandingnya, baru setelah delapan puluh tahun dapat menciptakan ilmu ini. Engkau masih kosong dan telah memiliki dasar sin-kang yang kuat. Bagus sekali. Engkau akan cocok sekali dan dapat jauh lebih mudah mempelajarinya dari siapapun juga. Nah, sekarang aku hendak mencoba dulu kekuatan sin-kangmu. Engkau telah kuat menangkis pukulanku, akan tetapi aku masih belum yakin akan ukuran kekuatanmu, apakah perlu ditambah atau tidak. Masukkan tanganmu di dalam air ini dan kerahkan sin-kangmu melawanku."
Han Han meniru gurunya yang duduk di atas batu. Gurunya telah memasukkan tangan kirinya ke dalam air, sebatas siku. Ia pun lalu mengulur tangan kanannya, dimasukkan ke dalam air telaga di dekat batu yang didudukinya itu. Terkejutlah ia ketika merasa betapa air itu amat dinginnya. Tadinya, ia mengira bahwa memang air telaga itu dingin, akan tetapi ketika merasa betapa air itu makin lama makin dingin, tahulah dia bahwa rasa dingin itu adalah akibat pengerahan tenaga sakti Im-kang dari gurunya yang lihai.
"Pertahankan dan lawanlah."
Gurunya berkata dan tiba-tiba air itu menjadi begitu dinginnya sampai membeku dan berubah menjadi es sehingga tangan Han Han tidak dapat dicabut kembali. Han Han terkejut dan cepat ia mengerahkan tenaga sin-kangnya.
Dia maklum bahwa gurunya mempergunakan Im-kang dan untuk melawannya ia lalu mengerahkan sin-kangnya, menggunakan tenaga Yang-kang. Seperti telah diketahui, dahulu Han Han melatih Yang-kang menurut ilmu Hwi-yang Sin-ciang dari Si Kepala Botak Gak Liat dengan merendam tangan di air masakan batu bintang yang mendidih, bahkan di dalam api, kemudian ia memperdalam dan memperkuat sin-kangnya di Pulau Es. Biarpun bertahun-tahun melatih diri dengan sin-kang, kiranya tingkat Han Han tidak akan mungkin dapat melawan tingkat Khu Siauw Bwee murid Bu Kek Siansu ke tiga ini kalau tidak terjadi ketidakwajaran dalam tubuh Han Han sebagai akibat malam terkutuk ketika ibu dan encinya diperkosa para perwira Mancu itu.
Karena ia dibenturkan ke dinding pada saat ia dalam keadaan marah, mendendam dan batinnya tertekan, terjadi kekacauan susunan syaraf dalam tubuhnya yang mendatangkan kekuatan-kekuatan mukjizat. Air yang tadinya membeku dan amat dingin itu, kini makin lama makin mencair dan hawa dingin perlahan-lahan berubah menjadi hangat, bahkan tak lama kemudian, setelah mengerahkan seluruh tenaga sehingga mukanya berubah merah, air itu mulai mendidih. Hanya air di sekitar kedua tangan mereka saja, yaitu yang dekat batu, yang terpengaruh sin-kang Han Han yang amat hebat. Khu Siauw Bwee diam-diam menjadi kaget, heran dan kagum sekali. Akan tetapi nenek ini masih belum puas dan tiba-tiba ia mengubah sin-kangnya, mengerahkan Yang-kang sehingga air itu menjadi makin panas mendidih yang takkan tertahankan oleh kulit manusia biasa.
"Lawanlah yang ini."
Serunya dengan pandang mata berseri saking girangnya. Ketika merasa betapa air itu menjadi amat panas dan wajah gurunya yang tadi agak pucat kehijauan ketika mengerahkan Im-kang kini berubah menjadi merah, tahulah Han Han bahwa gurunya sudah mengubah sin-kangnya, menjadi Yang-kang. Maka dia pun cepat mengubah sin-kangnya, menjadi tenaga dingin yang amat kuat untuk melawan tenaga panas gurunya. Pertandingan adu tenaga sakti ini berjalan amat lama, namun akhirnya nenek itu merasa puas dan harus mengakui bahwa muridnya ini memiliki dasar kekuatan sin-kang yang tidak lumrah. Ia menghentikan ujiannya lalu berkata.
"Sekarang kau lihatlah baik-baik. Inilah ilmu silat yang kuciptakan semenjak kakiku buntung."
Nenek itu tiba-tiba mengeluarkan suara melengking dan.... lenyaplah dia dari atas batu di depan Han Han. Pemuda ini terkejut dan cepat memandang ke depan.
"Aihhhhh....."
Ia melongo dan matanya terbelalak, mulutnya ternganga ketika akhirnya ia dapat menemukan gurunya dengan pandang matanya.
Akan tetapi tetap saja ia tidak dapat melihat dengan jelas dan hanya melihat sinar dan bayangan berkelebatan dari batu ke batu, cepatnya bukan main, seperti kilat menyambar. Bayangan gurunya itu seperti sebuah mainan bola yang dilontarkan kian kemari, dari sebuah batu melayang ke batu lain, akan tetapi tidak ada sedetik lamanya hinggap di sebuah batu karena begitu menotolkan kaki turun terus mencelat lagi ke jurusan lain, kadang-kadang ke belakang, ke depan, ke kiri dan ada kalanya ke atas. Kecepatannya melebihi gerakan seekor burung walet. Makin dipandang, makin pening dan berkunang pandang mata Han Han. Tiba-tiba sinar berkelabatan lenyap dan gurunya telah berdiri kembali di sampingnya, di atas batu sambil tersenyum, sedikit pun tidak kelihatan lelah.
"Bagaimana pendapatmu?"