Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 132

Memuat...

Han Han yang tidak mengerti, apa hubungannya nenek ini dengan Toat-beng Ciu-sian-li yang disebut Bu Ci Goat itu, mengangguk.

"Sudah tahu bahwa engkau telah menjadi murid kami bertiga, masih dia berani mengganggu? Apakah engkau kalah olehnya?"

Nenek itu membentak, agaknya penasaran dan marah. Mendengar itu, giranglah hati Han Han. Kiranya nenek yang aneh ini telah menganggapnya sebagai murid. Jelas bahwa nenek itu tidak mempunyai niat buruk terhadap dirinya, maka ia cepat berkata.

"Teecu (Murid) melawan sekuatnya, akan tetapi selain Toat-beng Ciu-sian-li amat lihai, juga Kang-thouw-kwi Gak Liat membantunya sehingga teecu tertawan dan kaki teecu dibuntungi oleh Toat-beng Ciu-sian-li."

"Biar dikeroyok dengan Si Setan Botak sekalipun, sebagai murid Istana Pulau Es, amat memalukan kalau engkau sampai kalah."

Nenek itu berkata penasaran.

"Maafkan atas kebodohan teecu, locianpwe. Teecu telah beruntung sekali menemukan kitab-kitab rahasia Pulau Es dan mempelajarinya, akan tetapi karena teecu tidak menerima petunjuk langsung dari locianpwe bertiga, bagaimana teecu dapat mewarisi ilmu kepandaian tinggi? Mohon petunjuk locianpwe."

Sejenak nenek itu memandang Han Han, kemudian menghela napas panjang.

"Hemmm, setelah menemukan Pulau Es dan mempelajari kitab-kitab di sana, berarti engkau telah menjadi murid kami bertiga. Kemudian engkau dengan setia membawa surat-surat peninggalan suhengku dan menyampaikannya kepadaku, berarti engkau adalah orang sendiri yang patut mendengar riwayat kami. Sekarang kakimu buntung, sama dengan kakiku, padahal selama delapan puluh tahun aku menciptakan ilmu silat yang khusus untuk seorang yang sebelah kakinya buntung, kalau tidak kuajarkan kepadamu, habis kepada siapa lagi? Akan tetapi sebelum itu engkau sebagai murid tunggal harus mengenal siapakah sebetulnya guru-gurumu, siapakah penghuni-penghuni Pulau Es yang selama ini menjadi rahasia dan tidak dikenal, sungguhpun setiap orang kang-ouw mengharapkan kemurahan penghuni-penghuni Pulau Es untuk mengulurkan tangan memberi satu dua ilmu pukulan kepada mereka. Dari manakah tokoh-tokoh macam Setan Botak mendapatkan Hwi-yang Sin-ciang, Si Muka Kuda mendapatkan Swat-im Sin-ciang kalau tidak dari Pulau Es."

Han Han terkejut.

"Teecu mendengar mereka itu menerima petunjuk dari seorang manusia dewa bernama Koai-lojin...."

"Dialah suhumu yang pertama, Sie Han. Koai-lojin adalah suhengku, adalah penulis surat-surat yang kau sampaikan kepadaku."

"Ahhhhh....."

Han Han makin terkejut dan terheran-heran.

"Dengariah baik-baik, muridku. Akan kuceritakan secara singkat kepadamu rahasia besar itu. Guru kami, manusia dewa Bu Kek Siansu pada akhir kali muncul sebagai manusia, menggembleng kami bertiga di Pulau Es. Hanya tiga orang murid beliau, pertama adalah Kam Han Ki yang menjadi keponakan pendekar sakti Suling Emas. Kedua adalah seorang puteri suku bangsa Khitan yang cantik jelita bernama Maya, masih keturunan dari Ratu Khitan sendiri. Adapun orang ketiga yang menjadi murid manusia dewa itu adalah aku sendiri, Khu Siauw Bwee."

Sampai di sini nenek itu menghela napas dan pandang matanya merenung jauh. Han Han merasa betapa jantungnya berdebar-debar. Nama-nama yang disebutkan itu membuat ia kaget, heran, kagum dan mengkirik karena nama-nama itu pernah ia dengar dari murid-murid Ma-bin Lo-mo, dan dianggap sebagai nama tokoh-tokoh dalam dongeng.

"Kami bertiga menerima gemblengan Bu Kek Siansu guru kami, tidak hanya dalam ilmu silat, melainkan juga ilmu sastra dan ilmu batin. Tentu saja aku tidak dapat menandingi kelihaian suciku Maya, apalagi suhengku Kam Han Ki. Akhirnya tiba saatnya guru kami meninggalkan kami dengan pesan agar kami bertiga meninggalkan Pulau Es dan hidup berpencar, berpisahan karena kalau kami bertiga berkumpul, akan timbul bencana di antara kami, bencana yang ditimbulkan oleh nafsu."

"Ahhhhh, teecu ingat akan bunyi syair yang diukir pada dinding istana Pulau Es....."

Tanpa disadarinya Han Han berseru karena memang ia teringat akan syair itu, ditimbulkan oleh ucapan nenek buntung tentang malapetaka yang ditimbulkan nafsu.

"Syair apa? Ketika aku pergi, tidak ada terdapat syair di dinding. Bagaimana bunyinya?"

"Betapa ingin mata memandang mesra

betapa ingin jari tangan membelai sayang

betapa ingin hati menjeritkan cinta

namun Siansu berkata: bebaskan dirimu

daripada ikatan nafsu

Mungkinkah pria dipisahkan dari wanita?

Tanpa adanya perpaduan Im dan Yang

dunia takkan pernah tercipta

betapapun juga,

cinta segi tiga tak membahagiakan

menyenangkan yang satu

menyusahkan yang lain

akibatnya hanya perpecahan dan permusuhan

ikatan persaudaraan dilupakan

akhirnya yang ada hanyalah duka dan sengsara.

Kesimpulannya, benarlah pesan Siansu bahwa

sengsaralah buah daripada nafsu"

Ketika Han Han mengucapkan syair ini dengan suara lantang dan jelas, nenek itu memandangnya dengan bengong dan menggantungkan pandang mata pada bibir Han Han yang bergerak-gerak. Kemudian, setelah Han Han menghabiskan syair, keadaan menjadi sunyi dan nenek itu kembali menarik napas panjang.

"Ahhh, seolah-olah aku mendengar dia sendiri membacakan tulisan syairnya. Dialah yang menulis itu, Sie Han dan dapat kubayangkan betapa dia menulisnya dengan hati bercucuran darah. Kasihan Han Ki suheng."

"Apakah yang terjadi di antara subo bertiga?"

Han Han yang makin terseret dan tertarik kini merasa dirinya dekat dengan nenek itu dan otomatis ia tidak lagi menyebut locianpwe melainkan menyebut subo.

"Apa yang terjadi? Telah tersurat dalam syair Koai-lojin Kam Han Ki tadi. Engkau tidak perlu tahu, muridku, urusan itu adalah urusan yang menyangkut kepribadian dan akan tetap menjadi rahasia kami." (Baca: ISTANA PULAU ES).

"Ahhhh....."

Han Han tak dapat menahan seruan kecewa ini. Nenek itu tersenyum dan makin jelaslah kini persamaan antara wajah keriputan ini dengan wajah cantik jelita dari patung di dalam Istana Pulau Es.

"Asmara gagal hanya merupakan cerita sedih. Engkau yang masih bersih dan hatimu belum disentuh tangan asmara yang jahil perlu apa tahu akan hal itu? Pendeknya, terjadi kekusutan dalam pertalian saudara kami bertiga, atau lebih tepat, antara Maya Suci dan aku. Dari dua orang kakak beradik seperguruan yang saling mencinta, kami berubah menjadi dua orang musuh, seperti dua ekor harimau memperebutkan kelinci. Kami bertanding dan aku lengah, sebelah kakiku buntung...."

"Yang mana, subo? Teecu tidak dapat membedakan, yang kanan ataukah yang kiri?"

Kembali nenek itu tersenyum dan kini Han Han merasa yakin bahwa sesungguhnya nenek buntung yang mengaku bernama Khu Siauw Bwee ini sesungguhnya merupakan seorang yang amat halus budi dan peramah, hanya menjadi "beku"

Di luarnya, mungkin karena penderitaan batin yang hebat.

"Yang kiri, Sie Han. Kelak kalau engkau sudah mempelajari ilmu ciptaanku, engkau pun akan dapat mengubah kaki buntung menjadi kaki tunggal. Setelah kakiku buntung sebelah, Maya Suci menjadi menyesal seperti gila, lalu membunuh diri."

"Membunuh diri?"

Han Han terbelalak, teringat ia akan patung wanita yang luar biasa cantiknya, yang telah mendatangkan perasaan aneh di dadanya ketika memandang patung itu, perasaan cinta dan tergila-gila.

"Begitulah agaknya, dia melempar dirinya ke dalam jurang yang amat curam. Dan demikianlah, kami tiga murid Bu Kek Siansu yang tadinya rukun dan setia penuh kasih sayang, menjadi terpecah-pecah. Maya suci mungkin mati mungkin tidak, akan tetapi selama delapan puluh tahun aku tidak lagi mendengar tentang dia. Juga aku tidak pernah tentang mendengar tentang dia.... ah, surat-suratnya...."

Sepasang mata itu menjadi basah akan tetapi mulutnya tersenyum bahagia. Han Han termenung. Teringat ia akan segala penuturan Im-yang Seng-cu tentang nenek-moyangnya. Dia adalah cucu Jai-hwa-sian Suma Hoat, Si Dewa Pemerkosa Wanita, manusia cabul dan sesat. Dalam darahnya mengalir darah Suma yang terkutuk dan jahat.

Akan tetapi, juga mengalir darah keturunan keluarga Kam, keluarga pendekar sakti Suling Emas. Dan kini, penghuni Pulau Es yang merupakan manusia setengah dewa, manusia rahasia yang disebut oleh orang-orang kang-ouw dengan sebutan Koai-lojin, ternyata bernama Kam Han Ki, keponakan Suling Emas, jadi ada hubungan darah dengan dia sendiri. Dorongan perasaan Han Han membuat ia menggerak-gerakkan bibir hendak memperkenalkan diri, akan tetapi ia teringat bahwa hal itu adalah urusan pribadi dan tidak ada sangkut pautnya dengan nenek yang menjadi gurunya ini. Pula, dia sudah mengambil keputusan, untuk selanjutnya menggunakan she Sie tidak mau memakai she Suma yang amat dibencinya itu. Lebih baik dia tidak mengaku kepada siapapun juga bahwa dia masih keturunan keluarga Suma yang sama sekali tidak boleh dibanggakan. Nenek itu kini tersenyum lagi.

"Orang-orang di dunia kang-ouw tidak ada yang mengenalku dan tentu menganggap aku telah tewas karena selama delapan puluh tahun aku bersembunyi di sini. Demikian pula dengan Maya Suci, mungkin dia sudah mati karena tidak pernah muncul di dunia. Hanya suheng yang melanjutkan sepak terjang guru kami. Dahulu, guru kami Bu Kek Siansu selalu merantau dan melakukan hal-hal yang luar biasa, melindungi yang benar dan menyadarkan yang salah. Dahulu, nama Bu Kek Siansu kadang-kadang disebut Koai-lojin, dan sekarang pun suheng disebut orang Koai-lojin sehingga tidak ada yang tahu siapa sebenarnya Koai-lojin. Mungkin juga suhu, mungkin juga suheng."

Post a Comment