Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 83

Memuat...

Sungguh lak terduga.

Seng Hwee Sin Kun tahu kitab pusaka itu jatuh ke tangan ayahmu...." "Ooooh!" Kam Hay Thian manggut-manggut.

"Ternyata begitu!

Namun kenapa Seng Hwee Sin Kun bisa tahu ayahmu memperoleh kitab pusaka itu?" "Sebetulnya dia dan ayahku merupakan kawan akrab.

Dia memperoleh Seng Hwee Tan (Pil Mujarab Api Suci), sedangkan ayahku memperoleh kitab pusaka Seng Hwee Cin Keng.

Akan tetapi, dia berhati serakah dan berupaya membunuh ayahku demi memperoleh kitab pusaka itu." "Ooohl Kam Hay Thian menghela nafas.

"Gara-gara kitab pusaka itu, kawan pun jadi lawan, bahkan ayahku mati lantaran kitab pusaka tersebut." "Karena Itu, dia musuh kita berdua," ujar Ngo tok Kauwcu dengan mata membara.

"Kita harus membunuhnya." "Kalau begitu, mari kita ke Lembah Kabul Hitami" ajak Kam Hay Thian dan memberitahukan, "Markas Seng Hwee Kauw berada di lembah itu." "Baik." Ngo Tok Kauwcu mengangguk.

Mereka berdua lalu melesat ke arah lembah tersebut.

-oo0dw0oo- Sementara itu, di dalam markas Seng Hwee Kauw terdengar suara tawa terbahak-bahak, ternyata Seng Hwee Sin Kun yang tertawa.

"Ha ha ha!

Chu Ok Hiap (Pendekar Pembasmi Penjahat) dan Ngo Tok Kauwcu sedang menuju ke mari!

Berarti mereka mengantar diri, bagus Bagus sekali!" "Kauwcu, apa rencanamu sekarang?" tanya Leng Bin Hoatsu "Aku akan membunuh Chu Ok Hiap, sedang kan kalian berlima menghadapi Ngo Tok Kauwcu tapi harus berhati-hati terhadap racunnya!" sahut Seng Hwee Sin Kun dan melanjutkan.

"Mengingat almarhum ayahnya adalah kawan baikku, maka kalian tidak usah membunuhnya, cukup menahan nya saja." "Menahannya?" Lcng Bin Hoatsu tidak mengerti.

"Maksud Kauwcu?" "Maksudku kalian menahannya agar dia tidak ikut menyerangku, sebab aku tidak ingin melukainya." Seng Hwee Sin Kun menjelaskan.

"Kalian mengerti?" "Ya." Leng Bin Hoatsu dan lainnya mengangguk.

"Ha ha ha!" Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak sambil bangkit dari tempat duduknya.

"Mari kita ke mulut lembah menyambut kedatangan merekal Hari ini aku harus turun tangan membunuh Chu Ok Hiap." Mereka berenam menlngalkan ruang itu.

Begitu sampai di luar markas, mereka mengerahkan ginkang menuju mulut lembah.

Sementara itu, Kam Hay Thian dan Ngo Tok Kauwcu teiah sampai di mulut lembah tersebut.

Mereka berdua tidak langsung masuk, melainkan cuma berdiri di mulut lembah itu.

"Mungkinkah di dalam lembah terdapat jebakan?" tanya Kam Hay Thian dengan kening berkerut.

"Mungkin." Ngo Tok Kauwcu mengangguk.

"Maka kita harus berhati-hati, jangan bergerak scmbaranganl" "Biar bagaimana pun, kita harus memasuki lembah ini.

Aku...." Ucapan Kam Hay Thian di putuskan oleh suara tawa keras.

"Ha ha hal Chu Ok Hiap, sungguh besar nyalimu untuk ke mani" Melayang turun Seng Hwee Sin Kun di hadapan Kam Hay Thian.

Setelah itu, melayang turun lagi Leng Bin Hoatsu dan lainnya, yang langsung mengurung Ngo Tok Kauwcu.

"Engkaukah Seng Hwee Sin Kun?" tanya Kam Hay Thian dingin sambil menatapnya dengan mata berapi-api.

"Betul!" sahut Seng Hwee Sin Kun.

"Hari ini engkau barus mampus!

Ha hal" "Seng Hwee Sin Kun!" bentak Kam Hay Thian mengguntur.

"Aku ke mari untuk membalas dendam!

Bersiap-siaplah untuk mati!" "Anak muda!" Seng Hwee Sin Kun tertawa terkekeh.

"He he he!

Kematianmu sudah berada di ambang pintu, namun masih berani omong besari" "Hmm!" dengus Kam Hay Thian sambil mengerahkan Pak Kek Sin Kang (Tenaga Sakti Kutub Utara).

"Eh?" Seng Hwee Sin Kun mengerutkan kening.

Ternyata ia merasa ada hawa dingin.

Seketika juga ia menghimpun Seng Hwee Sin Kang (Tenaga Sakti Api Suci).

Kam Hay Thian tampak terkejut, karena merasa ada hawa panas.

Mereka berdua saling menatap, kemudian mendadak Kam Hay Thian mulai menyerang.

"Ha ha ha!" Seng Hwee Sin Kun tertawa.

"Bagus, bagus!" Seng Hwee Sin Kun berkelit sekaligus balas menyerang, maka terjadilah pertarungan sengit.

Mereka bertarung dengan tangan kosong.

Ngo Tok Kauwcu menyaksikan pertarungan itu dengan penuh perhatian, begitu pula Leng Bin Hoatsu dan lainnya.

Tak terasa pertarungan sudah melewati belasan jurus.

Kam Hay Thian tampak mulai berada di bawah angin.

Karena itu, ia mulai mengeluarkan jurus-jurus andalannya.

Sekonyong-konyong ia menyerang Seng Hwee Sin Kun dengan jurus Han Thian Soh Swat (Menyapu Salju Hari Dingin).

Menyaksikan serangan itu, Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak.

"Ha ha ha!

Serangan yang bagus!

Nah, bersiap-siaplah menghadapi jurusku!" serunya sambil berkelit, kemudian mendadak balas menyerang dengan jurus Seng Hwee Sauh Thian (Api Suci Membakar Langit).

Bukan main lihay dan dahsyatnya jurus terbut karena sepasang telapak tangan Seng Hwee Sin Kun memancarkan cahaya kehijau-hijauan yang mengandung api.

Kam Hay Thian tidak bisa berkelit, maka terpaksa menangkis dengan jurus Leng Swat Teng Hai (Salju Menutupi Laut), sekaligus mengerahkan Pak Kek Sin Kang sepenuhnya.

Sepasang telapak tangannya mengeluarkan hawa dingin.

Daaar!

Terdengar suara benturan dahsyat.

Kam Hay Thian terhuyung-huyung beberapa langkah ke belalang, pakaiannya telah hangus.

Sedangkan Seng Hwee Sin Kun tetap berdiri di tempat, keningnya tampak berkerut-kerut.

"Hebat juga engkaul" ujar Seng Hwee Sin Kun.

"Mampu menangkis serangankul" "Hmml" dengus Kam Hay Thian.

Wajahnya pucat pias, ternyata dadanya terkena pukulan itu.

Mendadak ia membentak keras sambil menyerang dengan mengeluarkan jurus Swat Hoa Phiau Phiau (Bunga Sarju Berterbangan).

Seng Hwee Sin Kun tidak berkelit, melainkan menangkis dengan jurus Seng Hwee Jip Te (Api Suci Masuk Ke Bumi).

Daaaarl Terdengar suara benturan yang amat dahsyat memekakkan telinga, disusul suara jeritan Kam Hay Thian.

"Aaaakh...!" Badannya terpental belasan depa, kemudian roboh telentang dengan dada hangus dan nafasnya tampak lemah sekali.

"Ha ha hal" Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak.

"Chu Ok Hiap, ajalmu telah tibal Ha ha ha...l" Seng Hwee Sin Kun mendekati Kam Hay Thian selangkah demi selangkah.

Sementara wajah Ngo Tok Kauwcu tampak memucat, kemudian perlahan-lahan menggerakkan tangannya.

"Jangan bergerak sembaranganl" bentak Pat Pie Lo Koay melotot sambil menyerangnya, sekalgus berbisik kepadanya menggunakan ilmu menyampaikan suara.

"Nona Phang, cepat kabur!" Ngo Tok Kauwcu berkelit meloncat ke belakang.

Sungguh mengherankanl Ngo Tok Kauwcu tidak tampak terkejut sama sekali akan suara bisikan itu, sepertinya mereka berdua punya suatu hubungan.

Sementara Seng Hwee Sin Kun terus mendekati Kam Hay Thian, kelihatannya ia ingin menghabisi nyawa pemuda itu.

Namun di saat bersamaan, terdengarlah suara bentakan keras.

"Berhenti!" Tampak seseorang melayang turun di hadapan Seng Hwee Sin Kun, yang ternyata Tio Bun Yang bersama monyet bulu putih yang duduk di bahunya.

"Haah"!" Seng Hwee Sin Kun tertegun ketika metibat kemunculan Tio Bun Yang, yang mendadak itu, ialu tertawa gelak.

"Ha ha ha!

Tak disangka Giok Siauw Sin Hiap yang muncull Bagus, bagus!" "Seng Hwee Sin Kun!" Tio Bun Yang menggelenggelengkan kepala.

"Sungguh kejam hatimu!" "Ha ha ha!" Seng Hwee Sin Kun tertawa lagi.

"Aku memang kejam, karena akan membunuhmu juga!" Sementara Ngo Tok Kauwcu tampak gembira sekali, tapi juga merasa cemas karena tidak begitu yakin Tio Bun Yang mampu mengalahkan Seng Hwee Sin Kun.

"Adik Bun Yang, hali-hatil" serunya mengingatkan.

"Terimakasih atas perhatian Kakak Ling Cui" sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum.

"Oooh" Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut.

"Ternyata kalian adalah teman, bagus.

Aku akan membunuh kalian semual" Pada waktu bersamaan, berkelebat tiga sosol bayangan ke sisi Tio Bun Yang.

Tiga sosok bayangan itu ternyata Siang Koan Goat Nio, Lie A Ling dan Lu Hui San.

"Goat Nio, Adik Ai Ling" bisik Tio Bun Yang "Kalian bantu Ngo Tok Kauwcu!

Hui San menjaga pemuda itul" "Tapi engkau..." Lie Ai Ling mengerutkan kening.

"Jangan khawatir!" sahut Tio Bun Yang.

"Aki mampu melawan Seng Hwee Sin Kun, percaya lahl" "Bun Yang, hati-hati!" pesan Siang Koan Coa Nin, lalu bersama Lie Ai Ling mendekati Ng Tok Kauwcu.

Sedangkan Lu Hui San segera berlari menghampiri Kam Hay Thian.

"Kakak Hay Thian!" panggil gadis itu terisak isak.

"Bagaimana keadaanmu?" "Hui San, aku...

aku____" Suara Kam Hay TTiia lemah sekali.

"Aku telah terluka parah, mungkin...

mungkin tidak hisa hidup lama lagi...." "Kakak Hay Thian, engkau jangan berkata begitu!" Air mata Lu Hui San berderai-derai.

"Engkau...

engkau tidak akan mati...." "Hui San...." Kam Hay Thian menatapnya dengan mata redup.

"Aku...

aku sudah tidak tahan.

Aku,..." "Bertahanlah Kakak Hay Thian!

Bertalianlah!" Lu Hui San memeluknya erat-erat.

Menyaksikan Itu, Seng Hwee Sin Kun justru tertawa terkekeh-kekeh, kelihatan gembira sekali.

"He he hel Chu Ok Hiap, nasibmu sungguh tragis.

Di saat akan menemui ajal, malah muncul gadis cantik menemanimu!" "Diam!" bentak Lu Hui San mendadak sambil nrenghunus pedang Han Kong Kiam Begitu melihat pedang tersebut, kening Seng Hwee Sin Kun berkerut.

"Pedang apa itu?" tanyanya.

"Pedang Han Kong Kiam." "Kalau begitu...." Seng Hwee Sin Kun menatapnya tajam.

"Engkau adalah putri Lu Thay Kam.

Ya, kan?" "Ya." Lu Hui San mengangguk.

"Ngmm" Seng Hwee Sin Kun manggul-mang-nt.

"Aku tidak akan membunuhmu, lebih baik engkau segera meninggalkan tempat inil" "Aku tidak akan pergi!" sahut Lu Hui San.

"Engkau boleh membunuhku, pokoknya aku tidak akan pergi!" "Oh?" Seng Hwee Sin Kun tertawa, kemudian menatap Tio Bun Yang dengan dingin sekali.

"Kecuali Lu Hui San, kalian semua harus mampus hari mil" "Belum tentu," sahut Tio Bun Yang.

Sedangkan monyet bulu putih bercuit-cuit dan menyeringai, kelihatan marah sekali.

"He he he" Seng Hwee Sin Kun tertawa terkekeh.

"Monyet bulu putih itu pun harus mampus!" "Oh?" Tio Bun Yang tertawa dingin.

Ia mengeluarkan suling pualamnya sekaligus menghimpun Pan Yok Hian Thian Sin Kang untuk melindungi diri, karena tahu Seng Hwee Sin Kun pasti menyerangnya.

"Ha ha hal" Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak sambil mengerahkan Iweekangnya, kelihatannya sudah siap bertarung.

Suasana di tempat itu mulai mencekam.

Leng Bin Hoatsu dan lainnya langsung mengarah pada mereka, begitu pula Siang Koan Goat Nio, Lie Ai Ung, Ngn Tok Kauwcu dan Lu Hui San Sementara Kam Hay Thian diam saja, temyata pemuda itu telah pingsan.

"Giok Siauw Sin Hiap!" seru Seng Hwee Sin Kun.

"Berhatihatilah!

Post a Comment