"Goat Nio, ada apa?" tanya Tio Bun Yang.
"Kakak Bun Yang tidak melihat Hui San?" Siang Koan Goat Nio balik bertanya dengan kening berkerut.
"Bukankah dia tidur bersama kalian" Kenapa...." "Dia tidak berada di tempat tidur," sahut Lie Ai Ling.
"Kami kira dia sudah bangun, tapi dia tidak berada di sini." "Apa"!" Sie Kuang Han terkejut.
"Dia tidak berada di dalam kamar?" "Tidak ada." Lie ai ling menggelengkan kepala.
"Janganjangan...." "Ah, celaka!" Sie Kuang Han bangkit berdiri lalu berjalan mondar-mandir.
"Kemungkinan besar dia telah berangkat ke ibu kota.
Aku telah bersalah semalam karena mendesaknya harus membalas dendam." "Kalau begitu kita harus bagaimana?" Lie Ai Ling mengerutkan kening, kemudian memandang Tio Bun Yang seraya bertanya.
"Kakak Bun Yang, apakah kita harus berangkat ke ibu kota juga?" "Memang harus." Tio Bun Yang mengangguk, lalu membelai monyet bulu putih yang duduk di bahunya.
Kauw heng, kita harus berangkat ke ibu kota." Monyet bulu putih bercuit manggut-manggut.
Sedangkan Sie Kuang Han terus menghela nafas panjang.
"Bagaimana Paman, mau ikut kami ke ibu kota?" tanya Tio Bun Yang.
"Tidak." Sie Kuang Han menggelengkan kepala.
"Aku telah bersumpah tidak akan kembali ke ibu kota Kalian saja yang berangkat." "Ya." Tio Bun Yang mengangguk.
"Bun Yang," ujar Sie Kuang Han bermohon" Tolong selamatkan Hui San!" "Paman Sie," sahut Lie Ai Ling.
"Kami pasti berusaha menyelamatkannya, Paman tak usah khawatir." Terimakasih!" ucap Sie Kuang Han.
"Terima-kasih...." -ooo0dw0ooo- Tio Bun Yang, Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling sudah tiba di ibu kota.
Mereka mencari rumah penginapan karena hari sudah mulai gelap.
Lie Ai Ling berjalan sambil menengok ke sana ke mari, ternyata ia mengagumi gedung-gedung mewah yang berdiri tegak di ibu kota "Wuah sungguh mewah dan indah gedung-gedung itu!" seru Lie Ai Ling sambil menunjuk kian ke mari.
"Ai Ling," bisik Siang Koan Goat Nio.
"Kita ke mari bukan untuk menikmati keindahan ibu kota, melainkan untuk mencari Hui San." "Aku tahu." Lie Ai Ling tersenyum.
"Namun memang indah sekali ibu kota ini." "Memang indah." Siang Koan Goat Nio mengangguk.
"Tapi kita tidak punya waktu untuk menikmati keindahannya." Tak seberapa !ama kemudian, mereka sudah sampai di sebuah rumah penginapan mewah.
Seorang pelayan menyambut mereka dengan hormat sekali.
"Tuan dan Nona membutuhkan kamar yang besar?" tanya pelayan itu dengan ramah.
"Ya." Tio Bun Yang mengangguk.
"Mari ikut aku masuk!" ujar pelayan sambil berjalan masuk, Tio Bun Yang, Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling mengikutinya..
"Kakak Bun Yang," bisik Lie Ai Ling.
"Kita cukup satu kamar saja?" Tio Bun Yang mengangguk.
Lie Ai Ling dan Siang Koan Goat Nio saling memandang.
Berselang sesaat, mereka sudah sampai di depan sebuah kamar.
"Kamar ini cukup besar dan mewah, kalian merasa cocok?" tanya pelayan sambil menunjuk kamar tersebut.
"Cocok." Tio Bun Yang manggut manggut, lalu melangkah ke dalam diikuti Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling.
"Tuan mau pesan makanan atau minuman?" "Tolong ambilkan tehl" sahut Tio Bun Yang.
"Ya." Pelayan itu segera melangkah pergi, tapi tak lama telah kembali dengan membawa sebuah teko dan tiga buah cangkir.
"Tuan, ini teh wangi." "Terimakasih!" ucap Tio Bun Yang.
Pelayan itu menaruh apa yang dibawanya di atas meja, lalu menuang teh wangi itu ke dalam cangkir.
"Siiakan minum!" ucap pelayan.
"Terimakasih!" Tio Bun Yang memberi setael perak kepada pelayan itu.
Betapa girangnya pelayan tersebut.
"Terimakasih Tuanl Terimakasih..." ucap pelayan itu dengan wajah berseri-seri, lalu meninggalkan kamar tersebut.
Tio Bun Yang segera merapatkan pintu, kemudian duduk seraya berkata kepada Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling.
"Mari kita minuml" Kedua gadis itu mengangguk.
Mereka bertiga lalu menghirup teh yang masih bangat itu.
"Kakak Bun Yang, apa rencanamu sekarang?" tanya Lie Ai Ling mendadak sambil menatapnya.
"Rencanaku____" Tio Bun Yang memberitahukan.
"Setelah larut malam, aku akan ke tempat tinggal Lu Thay Kam " "Seorang diri?" Lie Ai Ling terbelalak.
"Ya." Tio Bun Yang mengangguk.
"Kakak Bun Yang...." Lie Ai Ling mengerutkan kening.
"Itu sangat membahayakan dirimu." 'Tidak akan membahayakan diriku, percayalah!" Tio Bun Yang tersenyum.
"Menurut aku..." pikir Lie Ai Ung sejenak dan melanjutkan.
"Lebih baik kami Ikut." "Itu tidak perlu." Tio Bun Yang menggelengkan kepala.
"Sebab kalau kalian ikut, justru akan merepotkan aku." "Bagaimana mungkin kami akan merepotkan-mu?" sahut Lie Ai Ling.
"Kami bisa menjaga diri." "Tapi...." Tio Bun Yang mengerutkan kening seraya berkata, "aku akan kurang leluasa bergerak." "Kakak Bun Yang...." "Ai Ling," ujar Siang Koan Goat Nio.
"Memang lebih baik kita tidak ikut agar perhatian Kakak Bun Yang tidak terpecahkan." "Goat Niol" Lie Ai Ling tidak mengerti.
"Kita ikut dengan tujuan membantu, bukan untuk memecahkan perhatiannya." "Benar." Siang Koan Goat Nio manggut manggut.
"Namun secara tidak langsung akan memecahkan perhatiannya, maka engkau harus mengerti." "Tapi...." "Adik Al Ling!" Tio Bun Yang memandangnya sambil tersenyum.
"Engkau jangan bandel!" "Aku...." "Ai Ling, kita tunggu di da!am kamar ini aja, biar Bun Yang pergi seorang diri!" Siang Koan Goat Nio memegang bahunya.
"Engkau harus mengerti" "Goat Niol" Lie Ai Ling menatapnya dalam-dalam.
"Engkau bisa berlega hati membiarkannya pergi seorang din?" "Kenapa tidak?" Siang Koan Goat Nio tersenyum, kemudian wajahnya berubah serius.
Tapi kalau hingga pagi belum kembali, kita harus menyusul ke tempat tinggal Lu Thay Kam " "Baiklah." Lie Ai Ling mengangguk.
Setelah larut malam, barulah Tio Bun Yang pergi ke istana tempat tinggal Lu Thay Kam, sedangkan Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling tetap menunggu di dalam kamar penginapan Sementara itu.
Lu Hui San telah tiba duluan di istana bagian barat tempat tinggal Lu Thay Kam.
Akan tetapi.
Lu Thay Kam tidak ada di tempat.
"Ayahku pergi ke mana?" tanyanya pada salah seorang dayang.
"Lu Kong Kong pergi semalam.
Nona," jawab dayang memberitahukan.
"Hingga saat ini masih belum pulang." "Kira-kira pergi ke mana ayahku?" "Maaf Nona, aku tidak tahu!" "Hmm!" dengus Lu Hui San sambil melangkah ke ruang khusus.
Dayang itu terbelalak menyaksikan sikap Lu Hui San yang kaku dan dingin, kemudian ia pun segera meninggalkan tempat itu.
Lu Hui San duduk di ruang khusus dengan wajah dingin.
Setelah larut malam, tampak sosok bayangan berkelebat memasuki ruang khusus itu, yang ternyata Lu Thay Kam.
"San Sanl" seru Lu Thay Kam girang.
"Anakku, kapan engkau kembali?" Lu Hui San tetap duduk diam, matanya menatap Lu Thay Kam dengan dingin sekali.
"San San!" Lu Thay Kam tertegun menyaksikan sikap Lu Hui San yang bermusuhan itu.
"Kenapa engkau?" Perlahan-lahan Lu Hui San bangkit dari tempat duduknya, lalu menuding Lu Thay Kam seraya membentak, "Engkau penjahat!" "San San...." Lu Thay Kam terbelalak.
"Aku ayahmu, kenapa engkau mengataiku penjahat?" 'Hrnml' dengus Lu Hui San dingin.
"Engkau pembunuh kedua orang tuaku!" "San San!" Lu Thay Kam tersentak.
"Siapa yang bilang begitu?" "Aku sudah bertemu Sie Kuang Han, pamanku!
Dia yang memberitahukan kepadaku tentang kematian kedua orang tuaku!" sahut Lu Hui San sambil mendekati Lu Thay Kam.
"Aku tak menyangka sama sekali, ternyata engkau yang membunuh kedua orang tuaku!" "Pamanmu itu sungguh tak tahu diri!" ujar Lu Thay Kam sengit.
"Tidak seharusnya dia memberitahukan hal itu kepadamu." "Kenapa?" "Karena____" Lu Thay Kam mengerutkan kening.
"Sudahlah Kini engkau sudah tahu tentang itu, lalu apa kehendakmu?" "Aku harus membunuhmu!" sahut Lu Hui San dengan mata berapi-api.
"Aku harus membunuhmu!" "San San!" Lu Thay Kam menghela nafas panjang.
"Selama belasan tahun, aku membesarkanmu dengan penuh kasih sayang.
Namun kini...." "Engkau pembunuh kedua orang tuaku!" landas Lu Hui San.
"Maka aku harus membalaskan dendamnya!" "Aaaah.
!" Lu Thay Kam menghela nafas panjang lagi.
"San San, engkau harus tahu.
Kedua orang tuamu mati dikarenakan politik dalam istana, jadi____" "Engkau yang membunuh kedua orang tuaku, kan?" "Benar." "Kalau begitu, malam ini pun aku harus membunuhmu!" bentak Lu Hui San sambil menghunus pedang pusaka Han Kong Kiam "San Sanl" Lu Thay Kam menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku sangat menyayangimu.
Kalau engkau ingin membunuhku, silakan!" "Aku memang harus membunuhmu!" sahut Lu Hui San dan sekaligus mendekati Lu Thay Kam dengan menggenggam erat-erat pedang pusaka tersebut, kelihatannya gadis itu memang ingin membunuhnya.
Sedangkan Lu Thay Kam tetap berdiri di tempat lak bergerak, sepasang matanya memandang Lu Hui San dengan penuh kasih sayang.
Tersentuh juga hati gadis iiu, namun ia mengeraskan hatinya, kemudian mendadak diayunkannya pedang pusaka itu ke arah Lu Thay Kam.
Sementara Lu Thay Kam tetap berdiri di tempat dengan wajah berduka.
Kelihatannya ia tidak mau menangkis pedang pusaka itu.
Di saat pedang pusaka itu sedang menyambar ke arah leher Lu Thay Kam, tiba-tiba meluncur satu benda secepat kilat ke arah pedang pusaka itu.
Trang!
Benda itu menghantam pedang Lu Hui San.
Bukan main terkejutnya Lu Hui San, karena merasa tangannya semutan sehmgga pedang pusaka itu terlepas dari tangannya.
Pedang pusaka itu meluncur ke arah dinding dan menancap di sana.
Kejadian yang tak terduga itu membuat Lu Thay Kam tertebak, bahkan sangat terperanjat.
Sebab benda yang menghantam pedang pusaka itu adalah sebutir kerikil, namun dapat membuat pedang pusaka itu terlepas dari tangan Lu Hui San dan menancap di dinding.
Dapat dibayangkan, betapa tingginya lweekang orang yang menyambitkan kerikil itu.
Di saat itulah melesat ke dalam sosok bayangan melalui jendela, yang ternyata Tio Bun Yang.
"Bun Yang!" seru Lu Hui San dengan kening berkerut.
"Engkau____" "Hui San!" Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala, ia berdiri di hadapan gadis itu.
"Engkau tidak boleh membunuh Lu Tliay Kam, sebab biar bagaimana pun dia tetap ayah angkatmu." "Dia pembunuh kedua orang tuaku, aku harus membunuhnya!" sahut Lu Hui San dengan mata bersimbah air.
"Tadi Lu Thay Kam telah memberitahukan, bahwa kedua orang tuamu mati dikarenakan politik dai istana.
Maka, engkau harus mengerti.
Lagi pula tadi Lu Thay Kam sama sekali tidak melawan.