Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 78

Memuat...

"Jangan panggil aku Nona, panggil saja____" "Adik Goat Nio," sela Lie Ai Ling dan menambahkan.

"Engkau pun harus panggil dia Kakak Bun Yang, lho!" "Eh" Engkau____" Wajah Siang Koan Goat Nio berubah menjadi merah dan menunduk dalam-dalam.

"Ai Ling, engkau jangan menggodaku!" "Aku berkata sesungguhnya, tidak menggoda sama sekali," sahut Lie Ai Ling sambil tertawa kecil, kemudian menatap Tio Bun Yang dengan penuh perhatian dan berseru tak tertahan, "Wuaaah!" "Adik Ai Ling!" Tio Bun Yang tercengang.

"Kenapa engkau?" "Kakak Bun Yang," sahut Lie Ai Ling.

"Engkau bertambah tampan, memang serasi sekali dengan Goat Nio." "Oh?" Tio Bun Yang tersenyum.

"Ai Ling!" Siang Koan Goat Nio menatapnya.

"Jangan omong yang bukan-bukan, tidak baik lho!" tegurnya.

"Hi hi hi!" Lie Ai Ling tertawa geli.

"Jangan pura-pura, padahal engkau girang sekali dalam hati!

Engkau kira aku tidak tahu ya?" "Engkau____" Wajah Siang Koan Goat Nio memerah lagi.

"Adik Ai Ling!" Tio Bun Yang menatapnya seraya bertanya.

"Kenapa kalian berada di lembah ini?" "Kakak Bun Yang, kami bertiga sedang menuju Gunung Hek Ciok San." Lie Ai Ling memberitahukan.

"Untuk apa kalian ke sana?" tanya Tio Bun Yang.

"Menyusul Kam Hay Thian," ujar Lie Ai Ling dan menutur semua itu.

"...

maka kami bertiga berangkat ke sana." "Adik Ai Ling____" Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Tidak seharusnya engkau membohongi kakekku, lagi pula Seng Hwee Sin Kun berkepandaian tinggi sekali.

Belum tentu kalian mampu melawannya, kenapa kalian tidak berpikir panjang?" "Aku____" Lie Ai Ling menundukkan kepala.

"Jangan mempersalahkan Ai Ling!" ujar Lu Hui San mendadak.

"Aku yang mendesaknya untuk berangkat ke Gunung Hek Ciok San." "Oh?" Tio Bun Yang memandangnya.

Tiba-tiba ia terbelalak karena melihat sebuah tanda di leher gadis itu.

"Kakak Bun Yang____" Lie Ai Ling mengerutkan kening.

"Kenapa engkau?" "Adik Ai Ling, siapa nona ini" Engkau belum memperkenalkannya," sahut Tio Bun Yang, yang tetap memandang Lu Hui San, tentunya membuat gadis itu tersipu.

"Dia bernama Lu Hui San." Lie Ai Ling memberitahukan dengan wajah tak sedap dipandang, karena mengira Tio Bun Yang tertarik pada gadis itu.

"Lu Hui San..." gumam Tio Bun Yang.

Ternyata ia teringat akan penuturan Sie Kuang Han, orang tua yang ditolongnya itu.

"Hui San!

Hui San...." "Kakak Bun Yang!" Lie Ai Ling melotot.

"Kenapa sih engkau" Kenapa terus bergumam menyebut nama Hui San?" "Aku____" Tio Bun Yang agak tergagap.

"Aku...

teringat sesuatu.

Oh ya, siapa orang tua Hui San?" "Ayahku bernama Lu Kam Thay," sahut Lu Hui San memberitahukan.

"Lu Kam Thay..." gumam Tio Bun Yang lagi dengan kening berkerut.

"Lu Kam Thay...

Lu Thay Kam____" Wajah Lu Hui San tampak berubah ketika mendengar gumaman itu, sehingga langsung menatap Tio Bun Yang dengan kening berkerut-kerut.

"Eeeh?" Lie Ai Ling tercengang.

"Kenapa sih kalian berdua" Kok terus saling memandang?" "Tidak ada apa-apa," sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum, kemudian mengalihkan pembicaraan.

"Jadi kalian tetap akan berangkat ke Gunung Hek Ciok San?" "Ya." Lie Ai Ling mengangguk.

"Karena markas Seng Hwee Kauw berada di Lembah Kabut Hitam di gunung itu, maka kami harus ke sana." "Kalau begitu..." ujar Tio Bun Yang setelah berpikir sejenak, aku ikut kalian ke sana." "Oh?" Lie Ai Ling girang bukan main.

"Kalau engkau ikut, kita pasti dapat melawan Seng Hwee Sin Kun." "Mari kita berangkat sekarang!" ajak Lu Hui San.

"Baik." Tio Bun Yang mengangguk.

Mereka berempat lalu berangkat menuju Gunung Hek Ciok San.

Dalam perjalanan tak henti-hentinya Tio Bun Yang memperhatikan Lu Hui San.

Itu tidak terlepas dari mata Siang Koan Goat Nio, sehingga membuat gadis itu menjadi kecewa sekali dan tidak habis pikir, kenapa Tio Bun Yang bersifat mata keranjang" --oo0dw0oo- Malam harinya, mereka berempat terpaksa bermalam di dalam sebuah rimba.

Lie Ai Ling menyalakan ranting dan dahan yang ditumpukkan jadi satu, sedangkan Lu Hui San berjalan pergi, kemudian duduk di bawah sebuah pohon.

Berselang sesaat, muncul sosok bayangan mendekatinya, yang tidak lain Tio Bun Yang.

"Maaf!" ucapnya sambil duduk.

"Bolehkah kita bercakapcakap sejenak?" "Tentu saja boleh," sahut Lu Hui San sambil tersenyum.

"Mau bercakap-cakap mengenai apa?" "Mengenai dirimu." "Oh?" Lu Hui San mengerutkan kening.

"Ada apa diriku?" "Ayahmu adalah Lu Thay Kam?" tanya Tio Bun Yang mendadak sambil menatapnya tajam.

"Nama ayahku adalah Lu Kam Thay," sahut Lu Hui San seakan menegaskan.

"Bukan Lu Thay Kam." "Nona Hui San____" Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku harap engkau jangan membohongiku, sebab menyangkut riwayat hidupmu." "Maksudmu?" Lu Hui San mengerutkan kening.

"Engkau harus menjawab sejujurnya, benarkah Lu Thay Kam adalah ayahmu?" tanya Tio Bun Yang lagi.

"Itu____" Lu Hui San menundukkan kepala.

"Lu Thay Kam adalah ayah angkatmu, kan?" Tio Bun Yang menatapnya.

"Engkau harus menjawab dengan jujur, karena aku akan menyampaikan sesuatu yang berkaitan dengan asalusulmu." "Engkau tahu asal usulku?" Lu Hui San tersentak.

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk.

"Namun engkau harus memberitahukan dengan jujur, barulah aku berani memastikan asal usulmu." "Terus terang...." Lu Hui San mulai memberitahukan.

"Lu Thay Kam memang ayah angkatku____" "Jadi engkau tidak tahu siapa ayah kandungmu?" "Tidak tahu, sebab ayah angkatku itu tidak pernah memberitahukan." "Nona Hui San, sebetulnya engkau bermarga Sie." Tio Bun Yang memberitahukan.

"Aku telah bertemu pamanmu, yang bernama Sie Kuang Han...." Tio Bun Yang menutur tentang itu, dan Lu Hui San mendengar dengan penuh perhatian, kemudian air matanya meleleh.

"Jadi____" Gadis itu terisak-isak.

"Lu Thay Kam yang membunuh kedua orang tuaku?" "Menurut pamanmu, Lu Thay Kam memfitnah ayahmu," ujar Tio Bun Yang sambil menghela nafas panjang.

"Karena itu, kaisar menurunkan perintah menghukum mati kalian sekeluarga termasuk keluarga pamanmu." "Aaaah...!" keluh Lu Hui San.

"Aku sama sekali tidak tahu, Lu Thay Kam begitu jahat!" "Nona Hui San____" Tio Bun Yang menatapnya.

"...

engkau tidak usah berduka, karena kini engkau masih punya seorang paman." "Aku...

aku sangat berterimakasih kepadamu!

Kalau tidak bertemu engkau, tentunya aku tidak akan tahu asal-usulku?" "Nona Hui San, aku bersedia mengantarmu pergi menemui pamanmu.

Maukah engkau pergi menemui pamanmu itu?" "Bukankah akan merepotkanmu?" "Tidak." Tio Bun Yang tersenyum.

"Bagaimana kalau kita berangkat esok?" "Baik.

Tapi...." "Kenapa?" "Bagaimana Goat Nio dan Ai Ling?" "Tentunya mereka harus ikut," ujar Tio Bun I Yang dan menambahkan.

"Setelah engkau bertemu pamanmu itu, barulah kita berangkat ke Gunung Hek Ciok San." "Baik." Lu Hui San mengangguk, kemudian mereka berdua bercakap-cakap lagi.

Mereka justru tidak tahu sama sekali, bahwa ada sepasang mata sedang memandang ke arah mereka, yaitu Siang Koan Goat Nio.

"Aaaah...!" Gadis itu menghela nafas panjang, ia berdiri di balik sebuah pohon dengan mata basah.

"Kenapa dia____" "Goat Nio!" Lie Ai Ling mendekatinya, kemudian memandang ke arah Tio Bun Yang dengan penuh kejengkelan.

"Aku tak menyangka sama sekali kalau dia begitu cepat berubah.

Padaha!

dia tidak bersifat begitu, namun?" "Ai Ling!" Siang Koan Goat Nio tersenyum getir.

"Kelihatannya dia sangat tertarik pada Lu Hui San." "Itu...

tidak boleh." sahut Lie Ai Ling.

"Pokoknya Kakak Bun Yang tidak boleh jatuh hati pada Hui San." "Ai Ling...." Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.

"Engkau tidak berhak melarangnya, sudahlah!" "Hm!" dengus Lie Ai Ling dingin.

"Sebelum bertemu Kakak Bun Yang, Hui San menyatakan telah jatuh hati pada Kam Hay Thian.

Tapi kini dia kelihatan begitu akrab dengan Kakak Bun Yang.

Sungguh keterlaluan!" "Ai Ling, biarkan saja!

Lebih baik kita kembali ke Pulau Hong Hoang To.

Aku ingin mengajak kedua orang tuaku pulang ke tempat tinggal kami di luar perbatasan." "Goat Nio!" Lie Ai Ling mengerutkan kening.

"Itu urusan nanti, yang penting sekarang aku harus pergi mencaci Kakak Bun Yang." katanya.

"Jangan!" cegah Siang Koan Goat Nio.

"Kalau aku tidak mencacinya, rasanya____" "Sudahlah!" potong Siang Koan Goat Nio.

"Jangan menimbulkan masalah lagi!" "Memang sudah terlanjur, maka harus dipermasalahkan," sahut Lie Ai Ling sambil menarik Siang Koan Goat Nio ke tempat Tio Bun Yang.

Kemunculan mereka berdua sama sekali tidak mengejutkan Tio Bun Yang maupun Lu Hui San, sebaliknya malah mempersilakan mereka duduk.

"Adik Ai Ling, Goat Nio, silakan duduk!" ucap Tio Bun Yang dengan tersenyum.

"Mari kita mengobrol bersama!" "Kakak Bun Yang!" Lie Ai Ling langsung menudingnya.

"Aku tak menyangka, ternyata engkau adalah pemuda yang begitu macam.

Aku merasa malu sekali." "Lho?" Tio Bun yang bingung.

"Memangnya kenapa?" "Tanya saja kepada dirimu sendiri!" sahut Lie Ai Ling dingin, lalu memandang Lu Hui San.

"Aku pun tak menyangka, engkau gadis semacam itu." "Ai Ling!" Lu Hui San tertegun.

''Kenapa engkau" Apa salahku sehingga engkau mengatakan begitu?" "Hm!" dengus Lie Ai Ling dingin.

"Engkau mengatakan kepadaku telah jatuh hati pada Kam Hay Thian, namun setelah bertemu Kakak Bun Yang...." "Ai Ling!" Lu Hui San menghela nafas panjang.

"Engkau telah salah paham.

Sebetulnya____" "Sebetulnya apa?" bentak Lie Ai Ling, yang kemudian menuding Tio Bun yang.

"Engkau tak punya perasaan sama sekali.

Goat Nio datang di Tionggoan justru ingin mencarimu.

Aku sering menceritakan kepadanya tentang dirimu, dia sangat tertarik dan berharap cepat-cepat bertemu.

Kini kalian telah bertemu, bahkan mencurahkan isi hati masing-masing pula melalui suara suling.

Tapi engkau malah mendekati Lu Hui San secara diam-diam.

Sungguh keterlaluan!" "Ai Ling!" Wajah Tio Bun Yang berseri.

"Betulkah Goat Nio sangat tertarik kepadaku...?" "Betul." Lie Ai ling mengangguk.

"Tapi engkau justru tak punya perasaan sama sekali.

Sungguh mempermalukan diri sendiri!" "Engkau telah salah paham padaku," ujar Tio Bun Yang sambil tersenyum.

"Aku bukanlah pemuda semacam itu." "Tapi sudah terbukti____" "Bukti yang tidak kuat." Tio Bun Yang tersenyum lagi.

"Sebetulnya kami berdua berada di sini...." "Memadukan cinta kan?" potong Lie Ai Ling dengan melotot dan mendengus dingin.

Post a Comment