"Kita bakar saja markas Tiong Ngie Pay ini." "Usul ini harus diterima," sahut Pek Bin Kui sambil tertawa gelak.
"Kita tidak berhasil membasmi para anggota Tiong Ngie Pay, namun berhasil membumi hanguskan markas ini, tentunya Seng Hwee Sin Kun akan merasa puas." "Ha ha ha!" Leng Bin Hoatsu juga tertawa terbahak-bahak, dan setelah itu ia pun perintahkan para anggota untuk membakar markas Tiong Ngie Pay.
Berselang beberapa saat, tampak api mulai berkobar-kobar melalap markas Tiong Ngie Pay itu.
Para anggota Seng Hwee Kauw pun bersorak sorai penuh kegembiraan, Leng Bin Hoatsu dan lainnya tersenyum-senyum.
Setelah api yang berkobarkobar itu menjalar ke seluruh markas tersebut, barulah mereka meninggalkan tempat itu untuk kembali ke markas Seng Hwee Kauw.
Betapa gembiranya Lie Tsu Seng ketika mengetahui kedatangan Yo Suan Hiang bersama para anggotanya.
Ia segera keluar dari tendanya untuk menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang.
Ketua Yo!" ucap Lie Tsu Seng sembari memberi hormat.
"Selamat bertemu, Paman Lie!" sahut Yo Suan Hiang dan sekaligus balas memberi hormat.
"Maaf, kedatangan kami telah mengganggumu!" "Sama sekali tidak mengganggu, malah aku merasa gembira sekali," ujar Lie Tsu Seng sambil tertawa gelak.
"Ha ha ha!
Mari silakan masuk!" "Terimakasih!" ucap Yo Suan Hiang lalu melangkah ke dalam tenda.
Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him mengikutinya dari belakang.
"Silakan duduk!" Lie Tsu Seng mempersilakan mereka duduk, dan salah seorang anak buahnya langsung menyuguhkan arak wangi.
Mereka duduk, kemudian Yo Suan Hiang memperkenalkan Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him.
Lie Tsu Seng dan mereka bertiga saling memberi hormat, setelah itu Lie Tsu Seng mengangkat minumannya.
"Mari kita bersulang!" ucapnya sambil tertawa.
"Ha ha ha...!" Mereka mulai bersulang sambil mengobrol.
Berselang beberapa saat barulah Lie Tsu Seng bertanya dengan serius.
"Apakah ada sesuatu penting, maka Ketua Yo ke mari?" "Ya." Yo Suan Hiang mengangguk.
"Tio Bun Yang ke markasku, dan mengusulkan agar kami bergabung denganmu." "Oh?" Wajah Lie Tsu Seng berseri.
"Apakah engkau bersedia bergabung dengan kami?" "Kami datang ke mari justru ingin bergabung," sahut Yo Suan Hiang memberitahukan.
"Kami telah bersepakat untuk itu." "Bagus, bagus!
Ha ha ha!" Lie Tsu Seng tertawa gembira.
"Terimakasih atas kesediaan kalian bergabung dengan kami!
Mari kita bersulang lagi!" "Mari!" Yo Suan Hiang, Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him bersulang lagi dengan Lie Tsu Seng, sehingga suasana di dalam tenda itu menjadi semarak.
Di saat itulah melangkah ke dalam dua lelaki gagah, lalu memberi hormat kepada Lie Tsu Seng.
"Bagus, bagus!" Lie Tsu Seng tertawa.
"Kalian berdua sudah kembali, mari kuperkenalkan!" Lie Tsu Seng memperkenalkan Yo Suan Hiang dan lainnya kepada dua lelaki itu, kemudian menambahkan.
"Mereka berdua adalah pembantu handalku bernama Lie Sih Beng dan Lie Sih Heng, yang keduanya berkepandaian cukup tinggi." Lie Sih Beng dan Lie Sih Heng segera memberi hormat kepada Yo Suan Hiang dan lainnya, setelah itu barulah mereka duduk.
"Bagaimana tugas kalian?" tanya Lie Tsu Seng mendadak.
"Apakah sudah dilaksanakan dengan baik?" "Ya." Lie Sih Beng mengangguk.
"Hanya kurang memuaskan, karena...." "Kenapa?" Lie Tsu Seng menatap mereka.
"Jelaskanlah!" "Ada beberapa kelompok pemberontak tidak bersedia bergabung dengan kita.
Padahal kami telah menjelaskan, bahwa apabila kita semua tidak bersatu, sulit sekali untuk sukses," jawab Lie Sih Beng memberitahukan.
"Ngmm!" Lie Tsu Seng manggut-manggut.
"Siapa kepala kelompok pemberontak itu?" Lie Sih Beng memberitahukan.
Wajah Tan Ju Liang berseri ketika mendengar nama-nama yang disebutkan Lie Sih Beng.
"Aku kenal mereka," ujar Tan Ju Liang sambil tertawa gembira.
"Mereka adalah teman-teman akrabku, hanya saja sudah belasan tahun kami tidak bertemu." "Kalau begitu____" Lie Tsu Seng memandangnya dalamdalam seraya berkata.
"Tentunya Sau-dara Tan bersedia membantu dalam hal ini." "Ha ha ha!" Tan Ju Liang tertawa gelak.
"Itu sudah pasti, Saudara Lie.
Sebab kini kita sudah bergabung, maka tugas kalian adalah tugas kami pula." "Terimakasih, Saudara Tan!" ucap Lie Tsu Seng sambil manggut-manggut gembira dan menambah-kan.
"Mulai sekarang kita semua adalah saudara seperjuangan, suka dan duka harus pikul bersama." "Benar." Lim Cin An mengangguk.
"Karena itu, kita pun harus membagi tugas sesuai dengan kemahiran masingmasing." "Tidak salah." Lie Tsu Seng manggut-manggut, kemudian memandang Lie Sih Beng dan Lie Sih Heng seraya bertanya.
"Kalian berdua punya suatu ide?" "Begini..." sahut Lie Sih Beng.
"Setahu kami, Ketua Yo berkepandaian tinggi, maka alangkah baiknya dia diangkat menjadi pengawal pribadi." "Ngmm!" Lie Tsu Seng mengangguk.
"Itu memang tepat sekali." "Sedangkan Saudara Tan mahir mengenai siasat perang, karena itu dia harus diangkat menjadi penasihat," ujar Lie Sih Beng sungguh-sungguh.
"Benar." Lie Tsu Seng mengangguk lagi, lalu memandang Tan Ju Liang seraya bertanya.
"Saudara Tan, tidak berkeberatan, bukan?" "Tentu tidak.
Hanya saja____" Kening Tan Ju Liang berkerut.
"...
aku khawatir tidak dapat melaksanakan tugas itu dengan baik." "Ha ha ha!" Lie Tsu Seng tertawa gelak.
"Saudara Tan, jangan merendahkan diri lho!" "Aku tidak merendahkan diri, melainkan berkata sesungguhnya," sahut Tan Ju Liang.
"Apa tugas Lim Cin An dan Cu Tiang Him?" "Kami berempat akan melatih para anggota berperang," jawab Lie Sih Beng sungguh-sungguh.
"Bagus!" Lie Tsu Seng manggut-manggut, kemudian tertawa gelak seraya berkata.
"Ha ha ha!
Mari kita bersulang lagi!" -oo0dw0oo- Bagian ke tiga puluh satu Berpadu Suara Suling Sementara itu, Siang Koan Goat Nio, Lie Ai Ling dan Lu Hui San telah tiba di sebuah lembah yang sangat indah.
Mereka bertiga lalu duduk beristirahat di bawah sebuah pohon.
"Kalau kita terus beristirahat, kapan akan tiba di Gunung Hek Ciok San?" ujar Lu Hui San sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Tenanglah!" sahut Lie Ai Ling.
"Kita tidak perlu tergesagesa, sebab belum tentu Kam Hay Thian langsung menuju ke sana." "Dia sangat keras hati, aku yakin dia pasti menuju ke sana," Lu Hui San menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau kita terlambat menyusulnya, aku khawatir...." "Jangan khawatir!" Lie Ai Ling tersenyum.
"Tidak akan terjadi suatu apa pun atas dirinya, percayalah!" "Aaaah!" Lu Hui San menghela nafas panjang.
"Aku tahu, engkau cuma menghiburku." "Hui San!" Siang Koan Goat Nio menatapnya lembut.
"Kam Hay Thian cukup cerdik, tentunya dia tidak akan bertindak ceroboh, pasti memperhitungkan langkah-langkahnya.
Oleh karena itu, engkau tidak perlu terlampau cemas." "Goat Nio...." Lu Hui San menggeleng-gelengkan kepala.
"Entah apa sebabnya, aku terus memikirkannya." "Hui San!" Siang Koan Goat Nio tersenyum.
"Itu pertanda engkau telah jatuh hati padanya, sehingga terus memikirkannya." "Benar," sela Lie Ai Ling sambil tertawa kecil.
"Hui San, engkau memang telah jatuh hati padanya.
Tapi...
kuharap engkau dapat mengendalikan perasaan hatimu, agar tidak menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan." "Aku tahu itu." Lu Hui San manggut-manggut.
"Goat Nio," Lie Ai Ling tersenyum.
"Lembah ini indah sekali, alangkah baiknya engkau meniup suling di sini," ujarnya.
"Eh" Engkau...." Siang Koan Goat Nio menggelenggelengkan kepala.
"Ada-ada saja!
Mana boleh aku meniup suling di saat Hui San sedang risau?" "Justru suara sulingmu akan mengusir kerisauannya," sahut Lie Ai Ling sambil tersenyum.
"Ya, kan Hui San?" "Kira-kira begitulah." Lu Hui San manggut-manggut.
"Memang baik sekali Goat Nio meniup suling di tempat yang sangat indah ini." "Nah, Goat Nio," desak Lie Ai Ling.
"Ayolah!" Siang Koan Goat Nio mengeluarkan suling emasnya, lalu meniupnya sambil memandang jauh ke depan.
Terdengarlah suara suling yang amat merdu dan menggetarkan kalbu.
Lie Ai Ling dan Lu Hui San mendengar dengan penuh perhatian, akhirnya pikiran mereka menerawang.
Memang kebetulan sekali, Tio Bun Yang, yang sedang menuju markas pusat Kay Pang justru melewati lembah itu.
Ketika mendengar suara alunan suling itu, ia langsung berhenti dan tampak tertegun.
Makin lama hatinya makin tertarik, sehingga tanpa sadar ia mengeluarkan suling pualamnya, lalu ditiupnya untuk mengiringi suara suling itu.
Betapa terkejutnya ketiga gadis itu ketika mendengar suara suling tersebut, terutama Lie Ai Ling yang mengenali suara suling itu.
"Haaaah" Kakak Bun Yang?" gumamnya.
Siang Koan Goat Nio meliriknya, namun tidak berhenti meniup sulingnya, kemudian wajahnya tampak berseri.
"Tidak salah," gumam Lie Ai Ling sambil bangkit untuk berdiri.
"Itu pasti Kakak Bun Yang, aku mengenali suara sulingnya." Berselang sesaat, muncullah Tio Bun Yang dan monyet bulu putih, yang duduk di bahunya.
"Kakak Bun Yang!
Kakak Bun Yang...!" seru Lie Ai Ling girang.
Tio Bun Yang tersenyum sambil meniup sulingnya, sedangkan monyet bulu putih bercuit-cuit seakan menyahut.
Pertama kali Siang Koan Goat Nio melihat Tio Bun Yang, justru langsung tertarik padanya.
Begitu pula Tio Bun Yang, ia sangat tertarik pada gadis itu.
Otomatis irama suara suling pualamnya berubah, kedengarannya seperti mencurahkan isi hati Si Peniup Suling itu.
Irama suara suling emas pun berubah, sepertinya menerima curahan hati itu.
Dapat dibayangkan, betapa lembut dan merdunya paduan suara suling tersebut.
Lie Ai Ling dan Lu Hui San mendengarkan dengan mulut ternganga lebar, terpukau dan terkesima.
Sementara Tio Bun Yang mulai mendekati Siang Koan Goat Nio, sedangkan gadis itu pun bangkit berdiri, lalu melangkah ke arah pemuda itu.
Setelah dekat, barulah mereka berhenti meniup suling, berdiri mematung saling memandang dengan mata berbinar-binar.
"Goat Nio," ujar Lie Ai Ling memberitahukan.
"Dia adalah Kakak Bun Yang, yang sering kuceritakan kepadamu." Siang Koan Goat Nio tidak menyahut, namun wajahnya tampak berseri dan agak kemerah-merahan.
"Kakak Bun Yang!" Lie Ai Ling memperkenalkan.
"Dia adalah Siang Koan Goat Nio, putri kesayangan Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin." "Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut.
"Selamat bertemu, Nona Goat Nio!" ucapnya sambil memberi hormat.
"Selamat bertemu!" sahut Siang Koan Goat Nio sambil tersenyum malu-malu.