Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 76

Memuat...

Mendadak salah seorang tua berseru.

"Dia telah memperkosa anak gadisku, sehingga anak gadisku gantung diri.

Karena itu, mari kita lemparkan dia ke dalam jurang!" "Setuju!" sahut yang lain.

Beberapa orang langsung menyeret Kwee Teng An, sedangkan Kepala Desa cuma menggeleng-gelengkan kepala.

Kwee Teng An terus berkertak gigi dengan mata membara.

Tak seberapa lama kemudian, ia telah diseret sampai di pinggir jurang, lalu orang-orang desa itu melemparnya ke jurang yang menganga lebar.

"Aaaakh...!" Terdengar suara jeritan panjang.

Badan Kwee Teng An terus melayang ke bawah jurang yang ribuan kaki dalamnya.

Tak lama setelah Tio Bun Yang meninggalkan desa itu, hari mulai terang.

Tio Bun Yang melanjutkan perjalanan, dan mengambil arah timur karena ingin ke markas Tiong Ngie Pay yang ada di pinggir Kota Hay Hong.

Dua hari kemudian, ia telah tiba di marka tersebut.

Betapa gembiranya Yo Suan Hiang, Ta Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him.

Merek menyambutnya dengan penuh kehangatan, lalu mengajaknya bersulang sambil bercakap-cakap.

"Bibi," Tio Bun Yang menatap Yo Suan Hiang.

"Bagaimana keadaan Tiong Ngie Pay belakangan ini?" tanyanya.

"Bertambah maju, tapi____" Yo Suan Hiang mengerutkan kening.

"Kenapa?" Tio Bun Yang heran.

"Telah terjadi sesuatu?" "Seng Hwee Kauw dua kali menyerang ke mari." Yo Suan Hiang memberitahukan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Oh?" Tio Bun Yang tertegun.

"Bukankah Tiong Ngie Pay tidak bermusuhan dengan Seng Hwee Kauw" Kenapa Seng Hwee Kauw menyerang ke mari?" "Seng Hwee Kauw dan Hiat Ih Hwe telah bekerja sama, maka Seng Hwee Kauw menyerang kami," sahut Tan Ju Liang.

"Namun untung...." "Kebetulan Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan, Lie Ai Ling, Siang Koan Goat Nio dan lainnya berada di sini.

Mereka membantu kami, sehingga pihak Seng Hwee Kauw melarikan diri." Yo Suan Hiang memberitahukan.

"Oh!" Wajah Tio Bun Yang berseri.

"Jadi mereka berada di sini?" "Sudah berangkat ke markas pusat Kay Pang," ujar Yo Suan Hiang dan menambahkan.

"Beberapa hari kemudian setelah mereka pergi, mendadak Seng Hwee Kauw menyerang lagi." "Oh?" Kening Tio Bun Yang berkerut.

"Tentunya pihak Bibi banyak yang menjadi korban." "Tidak." Yo Suan Hiang tersenyum.

"Sebaliknya malah pihak Seng Hwee Kauw yang menjadi korban." "Kok begitu?" Tio Bun Yang bingung.

"Karena muncul seorang gadis membantui kami," ujar Yo Suan Hiang memberitahukan.

"Siapa gadis itu?" "Phang Ling Cu." "Apa?" Tio Bun Yang terbelalak.

"Kakak Ling Cu" Maksud Bibi Ngo Tok Kauwcu?" "Betul," Yo Suan Hiang mengangguk.

"Dia ke mari mencarimu, justru malah menyelamatkan Tiong Ngie Pay." "Oooh!" Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku tak menyangka dia ke mari mencariku, tapi secara tidak langsung malah menyelamatkan Tiong Ngie Pay." "Oh ya!" Yo Suan Hiang menatapnya.

"Eng-kaukah yang mengobati mukanya?" "Ya." Tio Bun Yang mengangguk lalu sekaligus menutur tentang kejadian itu, kemudian bertanya.

"Kenapa dia ke mari mencariku?" "Katanya ingin berunding denganmu, sebab musuh besarnya berkepandaian tinggi sekali." "Maksudnya Seng Hwee Sin Kun?" "Ya." Yo Suan Hiang mengangguk.

"Oh ya, ada seorang gadis berada di sini, mungkin engkau tidak dapat menerka siapa dia." "Oh?" Tio Bun Yang tercengang.

"Apakah dia Phang Ling Cu?" "Phang Ling Cu sudah pergi," sahut Yo Suan Hiang sambil tersenyum.

"Toan Beng Kiat dan lainnya yang membawa gadis itu ke mari, kini dia tinggal di sini." "Siapa gadis itu?" tanya Tio Bun Yang.

"Dia Tan Giok Lan!" Yo Suan Hiang memberitahukan.

"Siapa?" Tio Bun Yang tertegun.

"Kenapa dia berada di sini" Bukankah dia dan kedua orang tuanya berada di kampung halamannya?" "Kedua orang tuanya telah dibunuh oleh para anggota Hiat Ih Hwe, dan diapun dikejar-kejar." "Toan Beng Kiat yang menolongnya?" "Ya." "Bibi, di mana Kakak Giok Lan?" "Tiang Him!

Panggil Giok Lan ke mari!" ujar Yo Suan Hiang kepada Cu Tiang Him.

"Ya." Cu Tiang Him masuk ke dalam.

Berselang sesaat ia sudah kembali bersama Tan Giok Lan.

"Adik Bun Yang!" seru Tan Giok Lan girang.

"Adik Bun Yang...." "Kakak Giok Lan!" Tio Bun Yang memandangnya sambil tersenyum.

"Aku tak menyangka, engkau tinggal di sini." "Adik Bun Yang!" Mata Tan Giok Lan mulai basah.

"Kedua orang tuaku mati di bunuh para anggota Hiat Ih Hwe." "Bibi Suan Hiang telah memberitahukan kepadaku.

Syukurlah engkau dapat meloloskan diri!" ujar Tio Bun Yang sambil menarik nafas.

"Kalau engkau tidak mengajarku ilmu silat, aku pasti sudah mati." Tan Giok Lan terisak-isak.

"Sudahlah, jangan menangis!

Engkau aman di sini." Tio Bun Yang tersenyum.

"Oh ya, bagaimana kepandaianmu" Sudah maju pesat?" tanyanya.

"Ya." Tan Giok Lan mengangguk.

"Bibi Suan Hiang terus mengajarku, maka kepandaianku menjadi maju pesat." "Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut, kemudian memandang Yo Suan Hiang seraya berkata.

"Aku sudah bertemu Lie Tsu Seng." "Apa"!" Yo Suan Hiang, Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him terbelalak.

"Engkau bertemu Lie Tsu Seng, yang gagah berani itu?" "Ya." Tio Bun Yang mengangguk lalu menutur tentang kejadian itu.

"Oleh karena itu, aku ingin berunding dengan Bibi," tambahnya.

"Mengenai apa?" "Kini Hiat Ih Hwe telah bekerja sama dengan Seng Hwee Kauw, mungkin Seng Hwee Kauw akan menyerang lagi," ujar Tio Bun Yang.

"Itu sungguh membahayakan Tiong Ngie Pay, maka alangkah baiknya kalau Tiong Ngie Pay bergabung dengan Lie Tsu Seng." "Aku memang sudah berpikir begitu, tapi____" Yo Suan Hiang menggeleng-gelengkan kepala.

"Belum tentu Lie Tsu Seng akan menerima kami." "Percayalah!" Tio Bun Yang tersenyum.

"Paman Lie pasti senang sekali menerima kalian, sebab aku sudah memberitahukan kepadanya." "Oh?" Wajah Yo Suan Hiang berseri, kemudian bertanya kepada Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him.

"Bagaimana menurut kalian?" "Setuju!" sahut mereka serentak.

"Memang sudah waktunya kita bergabung dengan Lie Tsu Seng, yang sudah barang tentu akan menambah kekuatan kita." "Baik." Yo Suan Hiang manggut-manggut.

"Kalau begitu, mari kita bergabung dengan Lie Tsu Seng!" "Bibi Suan Hiang," usul Tio Bun Yang.

"Kini semuanya telah setuju, maka Tiong Ngie Pay harus segera berangkat ke markas Lie Tsu Seng.

Kalau tidak, aku khawatir Seng Hwee Kauw akan menyerang ke mari lagi." "Baik." Yo Suan Hiang mengangguk.

"Besok pagi kami akan berangkat ke sana." "Kalau begitu, aku mau mohon diri." Tio Bun Yang bangkit dari tempat duduknya.

"Bun Yang...." Yo Suan Hiang terbelalak.

"Kenapa begitu cepat engkau berpamit?" "Aku harus segera berangkat ke markas pusat Kay Pang." Tio Bun Yang memberitahukan.

"Baiklah." Yo Suan Hiang manggut-manggut.

"Oh ya, Bun Yang...." "Ada apa?" Tio Bun Yang tercengang karena melihat Yo Suan Hiang tersenyum serius.

"Apakah engkau sudah punya kekasih?" tanyai Yo Suan Hiang mendadak.

"Belum," sahut Tio Bun Yang dengan wajah agak kemerahmerahan.

"Aku...

tidak memikirkan itu." "Itu____" Yo Suan Hiang tersenyum lagi.

"____Siang Koan Goat Nio sangat cantik, kalem dan lemah lembut.

Dia putri kesayangan Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin.

Alangkah baiknya?" "Bibi Suan Hiang...." Wajah Tio Bun Yang bertambah merah.

"Aku?" "Adik Bun Yang!" Tan Giok Lan memandangnya seraya berkata sungguh-sungguh.

"Siang Koan Goat Nio memang serasi denganmu.

Dia boleh dikatakan secantik bidadari." "Kakak Giok Lan____" Tio Bun Yang menggelenggelengkan kepala.

"Aku?" "Dia juga berada di markas pusat Kay Pang.

Kalau engkau langsung berangkat ke sana, pasti bertemu dia," ujar Yo Suan Hiang.

"Baik." Tio Bun Yang mengangguk.

"Bibi Suan Hiang, Kakak Giok Lan dan paman-paman, aki mohon pamit.

Sampai jumpa!" "Selamat jalan!" sahut mereka serentak, lalu mengantar Tio Bun Yang sampai di luar markas.

Begitu sampai di luar markas, Tio Bun Yang langsung melesat pergi laksana kilat.

"Bun Yang dan Goat Nio memang merupakan pasangan yang serasi, mudah-mudahan mereka berjodoh!" ucap Yo Suan Hiang dengan suara rendah.

"Ha ha ha!" Tan Ju Liang tertawa gelak.

"Mereka berdua pasti berjodoh!" Keesokan harinya, Yo Suan Hiang, Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him bersama para anggota berjumlah seratusan orang berangkat ke markas Lie Tsu Seng.

Mereka justru tidak tahu, setelah mereka berangkat, Seng Hwee Kauw muncul menyerang lagi, namun markas Tiong Ngie Pay telah kosong.

"Heran!" gumam Leng Bin Hoatsu dengan kening berkerut.

"Bagaimana markas Tiong Ngie Pay ini bisa kosong tiada seorang pun?" "Mungkinkah pihak Tiong Ngie Pay telah menduga akan penyerangan ini, maka mengosongkan markas ini?" sahut Pek Bin Kui.

"Mungkin." Hek Sim Popo manggut-manggut.

"Kalau tidak, bagaimana mungkin markas ini kosong begini?" "Lalu apa langkah kita?" tanya Tok Chiu Ong.

"Menurut aku..." sahut Pat Pie Lo Koay.

"Alangkah baiknya kita berpencar mencari mereka." "Baik." Leng Bin Hoatsu mengangguk.

"Jangan!" Pek Bin Kui menggelengkan kepala, wajahnya tampak serius.

"Kita tidak boleh berpencar mencari Tiong Ngie Pay." "Kenapa?" tanya Pat Pie Lo Koay sambil menatapnya.

"Bukankah tugas kita membasmi mereka?" "Benar." Pek Bin Kui mengangguk.

"Tugas kita memang membasmi mereka, tapi kini mereka tidak berada di markas ini, berarti tugas kita telah selesai." "Aku sama sekali tidak mengerti, bolehkah dijelaskan?" Pat Pie Lo Koay menatapnya dalam-dalam.

"Tadi engkau mengusulkan kita berpencar mencari mereka, usul itu tidak dapat diterima," tegas Pek Bin Kui serius.

"Sebab apabila kita berpencar mencari mereka, berarti membahayakan diri kita sendiri." "Oh!" tertegun Pat Pie Lo Koay.

"Lo Koay!" Leng Bin Hoatsu tertawa.

"Memang benar apa yang dikatakan Pek Bin Kui.

Kalau kita berpencar mencari mereka, sudah barang tentu mengurangi kekuatan kita, bahkan amat membahayakan diri kita pula." "Benar." Hek Sim Popo manggut-manggut.

"Kita tidak boleh berpencar mencari mereka." "Kalau begitu...." Pat Pie Lo Koay menengok ke sana ke mari, kemudian mengusulkan.

Post a Comment