Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 73

Memuat...

"Hmm!" dengus Phang Ling Cu dingin.

"Kalian masih belum mau enyah dari sini" Ingin merasakan kelihayan racunku?" Leng Bin Hoatsu, Pek Bin Kui dan Hek Sim Popo saling memandang, kemudian mereka melangkah pergi.

Para anggota Seng Hwee Kauw segera mengikuti mereka meninggalkan tempat itu.

Phang Ling Cu tertawa dingin.

Yo Suan Hiang menghampirinya sambil memberi hormat.

"Terimakasih atas bantuanmu, Ngo Tok Kauw-cu!" ucapnya.

"Tidak usah mengucapkan terimakasih," sahut Phang Ling Cu sambil tersenyum ramah.

"Panggil saja namaku!

Aku bernama Phang Ling Cu, dan engkau pasti Yo Suan Hiang.

Aku pun harus memanggil bibi." "Ling Cu____" Yo Suan Hiang tertegun.

"Kok engkau tahu namaku?" "Siapa tidak kenal ketua Tiong Ngie Pay yang selalu menentang Hiat Ih Hwe" Lagipula...." Phang Ling Cu tersenyum lagi.

"Aku berhutang budi kepada adik Bun Yang." "Engkau kenal Tio Bun Yang?" Yo Suan Hiang terbelalak.

"Kenal." Phang Ling Cu mengangguk.

"Dia yang menyembuhkan wajahku." "Oooh!" Yo Suan Hiang manggut-manggut.

"Ling Cu, mari kita masuk!" "Terimakasih!" ucap Phang Ling Cu.

"Cepat kalian obati anggota-anggota yang terluka" ujar Yo Suan Hiang pada Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him.

"Ya, Ketua," sahut mereka bertiga dan segera mengobati anggota-anggota yang terluka.

Sementara Yo Suan Hiang dan Phang Ling Cu telah berada di dalam markas dan mereka duduk berhadapan.

"Tiong Ngie Pay berhutang budi padamu, Ling Cu," ujar Yo Suan Hiang.

"Kalau engkau tidak segera muncul, Tiong Ngie Pay pasti hancur." "Jangan berkata begitu, Bibi Suan Hiang!" sahut Phang Ling Cu.

"Tadi aku sudah bilang, Adik Bun Yang yang menyembuhkan wajahku.

Kalau tidak, aku masih memakai cadar dan wajahku sangat menyeramkan." "Oh ya!" Yo Suan Hiang menatapnya seraya bertanya.

"Di mana engkau bertemu Bun Yang"* "Di kota Kang Shi..." jawab Phang Ling Cu dan menutur tentang kejadian itu sambil tersenyum.

"Adik Bun Yang berhati bajik, luhur dan mulia.

Aku kagum dan salut padanya." "Setelah itu, dia ke mana?" "Entahlah." "Aaaah!" Yo Suan Hiang menghela nafas panjang.

"Sudah lama aku tidak bertemu dia, aku sudah rindu sekali kepadanya!" "Dia memang pemuda yang baik, berkepandaian tinggi tapi tidak menyombongkan diri." "Benar," Yo Suan Hiang manggut-manggut.

''Oh ya, engkau sengaja ke mari atau kebetulan...." "Boleh dikatakan sengaja ke mari, tapi juga boleh dikatakan kebetulan," sahut Phang Ling Cu.

'"Justru malah membantu Bibi Suan Hiang." "Ling Cu!" Yo Suan Hiang memandangnya.

"Karena engkau membantu kami, Seng Hwee Kauw pasti mendendam padamu." "Aku memang mempunyai dendam pada Seng Hwee Sin Kun," ujar Phang Ling Cu memberitahukan.

"Karena Seng Hwee Sin Kun membunuh ayahku, maka aku harus menuntut balas." "Ayahmu dibunuh oleh Seng Hwee Sin Kun?" "Ya," Phang Ling Cu mengangguk sambil menghela nafas.

"Padahal ayahku teman baiknya." "Oh?" Yo Suan Hiang terbelalak.

"Lalu kenapa Seng Hwee Sin Kun membunuh ayahmu?" "Dia ingin menyerakahi kitab Seng Hwee Cin Keng.

Oleh karena itu, dia membunuh ayahku demi memperoleh kitab itu.

Akhirnya dia berhasil, bahkan berhasil pula menguasai semua ilmu yang tercantum di dalam kitab itu." "Ooooh!" Yo Suan Hiang manggut-manggut.

"Ternyata begitu!

Tapi...

apakah engkau mampu melawan Seng Hwee Sin Kun?" "Aku bukan lawannya, namun aku mahir racun." Phang Ling Cu memberitahukan.

"Aku akan berusaha membunuhnya dengan racun." "Itu akan berhasil?" "Belum tentu," Phang Ling Cu menggeleng kan kepala.

"Oleh karena itu, aku harus berunding dengan Adik Bun Yang." "Sayang sekali, Bun Yang tidak berada di sini, ujar Yo Suan Hiang dan memberitahukan.

"Tapi belum lama ini justru muncul Toan Beng Kiat Kam Hay Thian dan lainnya ke mari.

Pada waktu itu, pihak Seng Hwee Kauw pun menyerang namun pihak Seng Hwee Kauw tidak pmelawan mereka, dan akhirnya kabur." "Kalau begitu, Seng Hwee Sin Kun sangat licik," ujar Phang Ling Cu dingin dan melanjutkan "Setelah mereka pergi, dia perintahkan para anak buahnya menyerang lagi." "Karena itu, aku harus berterimakasih kepadamu," ucap Yo Suan Hiang setulus hati.

"Bibi Suan Hiang!" Phang Ling Cu tersenyum "Jangan mengucapkan terimakasih kepadaku, karena aku memang mempunyai dendam dengan Seng Hwee Sin Kun!

Oh ya, aku mau mohon pamit!" "Kenapa begitu cepat?" "Aku akan pergi mencari Adik Bun Yang." "Ling Cu, cobalah engkau ke markas pusa Kay Pang, siapa tahu Bun Yang berada di sana!" "Baiklah.

Aku akan ke sana." Phang Ling Cu bangkit berdiri.

"Bibi Suan Hiang, sampai jumpa!' "Sampai jumpa, Ling Cu!" sahut Yo Suan Hiang dan berpesan.

"Kalau bertemu Bun Yang, tolong beritahukan bahwa aku sangat rindu kepadanya." "Ya, Bibi Suan Hiang," Phang Ling Cu mengangguk, lalu melesat pergi.

-ooo0dw0ooo- Sementara itu, di dalam markas Seng Hwee Kauw, tampak Seng Hwee Sin Kun marah-marah sambil memukul meja.

"Kenapa kalian bertiga, bisa gagal membasmi Tiong Ngie Pay?" "Kauwcu!" Leng Bin Hoatsu memberitahukan.

"Sebetulnya kami hampir berhasil membasmi Tiong Ngie Pay, tapi?" "Kenapa?" tanya Seng Hwee Sin Kun sambil mengerutkan kening.

"Mendadak muncul seorang gadis bernama Phang Ling Cu, yang mengaku dirinya adalah Ngo Tok Kauwcu.

Gadis itu mahir menggunakan racun, sehingga belasan anggota kita mati keracunan," sahut Leng Bin Hoatsu.

"Phang Ling Cu" Dia sudah muncul?" gumam Seng Hwee Sin Kun.

"Kauwcu kenal gadis itu?" tanya Pek Bin Kui.

"Kenal," Seng Hwee Sin Kun mengangguk.

"Dia putri teman baikku itu.

Tak disangka dia pun mahir menggunakan racun!" "Racun yang digunakannya sungguh lihay sekali!" ujar Hek Sim Popo.

"Belasan anggota kita itu mati dengan daging mencair, sungguh menakutkan!" "Hmm!" dengus Seng Hwee Sin Kun dingin.

"Dia pasti akan menuntut balas atas kematian, ayahnya, maka kalian harus hati-hati menghadapinya." "Ya!" sahut mereka serentak.

"Dia mahir menggunakan racun, namun aku tidak takut akan racunnya," ujar Seng Hwee Si Kun sambil tertawa.

"Ha ha ha...!" "Kenapa begitu?" tanya Pat Pie Lo Koay.

"Aku memiliki Seng Hwee Sin Kang, maka, aku kebal terhadap racun apa pun." Seng Hwee Sin Kun memberitahukan.

"Karena itu, dia tidak bisa membunuhku dengan racun." "Oooh!" Pat Pie Lo Koay manggut-manggut.

"Kauwcu!" ujar Leng Bin Hoatsu mendadak dengan wajah serius.

"Aku punya suatu usul." "Usul apa" Beritahukanlah!" sahut Seng Hwee Sin Kun sambil menatapnya.

"Mudah-mudahan usul yang dapat dipakai!" "Tentu usul yang dapat dipakai." Leng Bin Hoatsu tertawa.

"Usulku yakni kita harus melatih dan sekaligus mengajar ilmu silat kepada para anggota kita, sebab mereka masih agak kacau di saat bertempur, dan kepandaian mereka masih rendah!" "Ngmmm!" Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut.

"Usulmu kuterima." "Terimakasih, Kauwcu!" ucap Leng Bin Hoatsu sambil memberi hormat.

"Kuserahkan tugas itu kepada kalian," ujar Seng Hwee Sin Kun sungguh-sungguh dan memandang mereka tajam.

"Setelah itu, kalian boleh pergi menyerang Tiong Ngie Pay lagi." "Ya, Kauwcu," sahut mereka berlima sambil mengangguk.

"Kami pasti melaksanakan tugas itu dengan baik." "Bagus, bagus!" Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak.

"Ha ha ha...!" -ooo0dw0ooo- Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan yang berlayar ke Pulau Hong Hoang To telah tiba di pulau tersebut.

Kedatangan mereka justru membingungkan para penghuni pulau itu, karena tidak kenal Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan.

"Siapa kalian berdua?" tanya Tio Tay Seng dengan kening berkerut.

"Kenapa kalian berani datang di pulau ini?" "Maaf!" ucap Toan Beng Kiat sambil member hormat.

"Namaku Toan Beng Kiat, dan dia ber nama Lam Kiong Soat Lan." "Oooh!" Wajah Tio Tay Seng langsung berseri "Ternyata kalian datang dari Tayli, silakan duduk!

Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lai duduk, Sam Gan Sin Kay menatap mereka serayi bertanya, "Bagaimana kabarnya orang tua kalian" Mereka baik-baik saja?" "Orang tua kami baik-baik saja," jawab Toan Beng Kiat dan memberitahukan.

"Kami ke mari atas perintah Kakek Lim dan Kakek Gouw untuli menyampaikan suatu kabar berita." "Oh?" Tio Tay Seng memandang mereka "Kabar berita apa?" "Pihak Seng Hwee Kauw terus-menerus berupaya membunuh kami, bahkan belum lama in pihak Seng Hwee Kauw menyerang Tiong Ngie Pay," jawab Toan Beng Kiat memberitahukan "Mungkin dalam waktu dekat, pihak Seng Hwee Kauw akan menyerang markas pusat Kay Pang.

"Oh?" Wajah Sam Gan Sin Kay berubah "Kalian tahu siapa ketua Seng Hwee Kauw?" "Ketua Seng Hwee Kauw adalah Seng Hwee Sin Kun.

Dialah pembunuh kakek tua dan Lan Kiong hujin," ujar Toan Beng Kiat.

"Oooh!" Sam Gan Sin Kay manggut-manggut "Kini di rimba persilatan telah muncul seorang Chu Ok Hiap (Pendekar Pembasmi Penjahat), bernama Kam Hay Thian," Toan Beng Kiat memberitahukan.

"Putera Kam Pek Kian dan Lie Siu Sien." "Apa"!" Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im terbelalak.

"Kam Hay Thian itu putra mereka?" "Ya." Toan Beng Kiat mengangguk.

"Tapi...

ayahnya sudah meninggal." "Oh?" Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Kapan ayahnya meninggal?" "Sudah lama.

Ayahnya dibunuh orang karena menolong seorang tua dan memperoleh sebuah kitab Seng Hwee Cin Keng." "Kalau begitu, pembunuh ayahnya adalah Seng Hwee Sin Kun?" Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Ya." Toan Beng Kiat mengangguk.

"Oleh karena itu, Kam Hay Thian bersumpah akan membunuh Seng Hwee Sin Kun.

Ketika kami menuju markas pusat Kay Pang, dia memisahkan diri dengan kami." "Itu...." Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.

"Kami pun bertemu Goat Nio, Ai Ling dan berkenalan dengan seorang gadis bernama Lu Hui San." Toan Beng Kiat memberitahukan.

"Mereka bertiga berada di markas pusat Kay Pang." "Oooh!" Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Nah!" ujar Kou Hun Bijin sambil tertawa.

"Kini giliranku bicara.

Aku ingin bertanya kepada Soat Lan, sebab dari tadi dia diam saja." "Bibi mau tanya apa?" Lam Kiong Soat Lan tersenyum.

"Apakah putriku sudah bertemu Bun Yang?" Ternyata ini yang ditanyakan Kou Hun Bijin.

"Belum." Lam Kiong Soat Lan menggelengkan kepala.

"Apa?" Kou Hun Bijin terbelalak, kemudian memandang Tio Cie Hiong sambil berkata.

"Adik, sebetulnya putramu itu hilang ke mana?" "Aku...

aku mana tahu!" sahut Tio Cie Hiong.

"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.

"Bun Yang sangat tampan, jangan-jangan____" "Apa?" tanya Kou Hun Bijin sambil melotot.

"Ayoh, lanjutkan!" "Jangan-jangan dia dikurung oleh janda cantik," sahut Sam Gan Sin Kay dengan tertawa gelak.

Post a Comment