"Jangan ragu!" "Tadi aku melihat Goat Nio duduk melamun di bawah pohon, wajahnya murung sekali____" "Lho" Kenapa?" Lim Peng Hang memandang Siang Koan Goat Nio, dan gadis itu segera menundukkan kepala.
"Oooh!" Gouw Han Tiong tertawa.
"Jangan-jangan dia sedang memikirkan cucumu itu!" "Bun Yang?" Lim Peng Hang terbelalak.
"Siapa lagi kalau bukan cucumu yang tampan itu?" sahut Gouw Han Tiong, kemudian tertawa sambil memandang Lie Ai Ling.
"Betulkah Goa Nio terus-menerus memikirkan Bun Yang?" "BetuL" Lie Ai Ling mengangguk.
"Bahkan kadangkadang...." "Kenapa?" tanya Lim Peng Hang cepat.
"Goat Nio sering menangis seorang diri," sahut Lie Ai Ling sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Dan bergumam memanggil nama Kakak Bun Yang." "Oh?" Lim Peng Hang tersentak.
"Kok bisa begitu" Padahal Goat Nio belum bertemu Bun Yang." "Itu gara-garaku juga." Lie Ai Ling menghela nafas panjang.
"Sebab aku sering memuji Kakak Bun Yang di hadapannya, maka dia sangat tertarik sehingga?" "Ingin sekali bertemu dia?" tanya Gouw Hai Tiong.
"Ya." Lie Ai Ling mengangguk.
"Oleh karena itu, aku pikir...." "Kalian bermaksud pergi mencari Bun Yang?" tanya Lim Peng Hang dan merasa kasihan pada Siang Koan Goat Nio.
"Kami memang bermaksud begitu, tapi...." Lil Ai Ling menggelengkan kepala.
"Belum tentu kami diijinkan pergi.
Ya, kan?" "Tidak salah," sahut Lim Peng Hang.
"Kalau begitu____" Lie Ai Ling menghela nafas panjang.
"Pasti celaka." "Kenapa celaka?" tanya Lim Peng Hang dengan kening berkerut.
"Goat Nio____Goat Nio pasti sakit rindu, yang tiada obatnya." sahut Lie Ai Ling.
"Benar." sela Gouw Han Tiong.
"Sakit rindu memang tiada obatnya, kecuali bisa bertemu orang yang dirindukannya." "Kalau begitu harus bagaimana?" Lim Peng liang menggeleng-gelengkan kepala.
"Kita harus mengijinkan mereka pergi mencari Bun Yang.
Kalau tidak, Goat Nio pasti celaka," sahut Gouw Han Tiong.
"Mereka berdua belum pernah bertemu, kenapa bisa jadi begitu?" Lim Peng Hang merasa heran.
"Bisa saja begitu." Gouw Han Tiong tertawa.
Bukankah kita pernah dengar, ada seorang pemuda jatuh hati kepada Sang Bidadari yang di dalam lukisan, akhirnya sakit rindu dan kemudian meninggal!" "Ngmmm!" Lim Peng Hang manggut-manggut.
"Baiklah.
Aku mengijinkan mereka pergi mencari Bun Yang." "Terimakasih, Kakek Lim!" ucap Lie Ai Ling dengan wajah berseri.
"Kapan kalian akan berangkat pergi mencari Bun Yang?" tanya Lim Peng Hang sambil memandang mereka bertiga.
"Sekarang," sahut ketiga gadis itu serentak.
"Apa?" Lim Peng Hang tertegun.
"Sekarang?" "Ya." Ketiga gadis itu mengangguk.
"Bagaimana kalau besok saja?" tanya Lir Peng Hang.
"Bagaimana mungkin Goat Nio bisa menunggu sampai besok?" Gouw Han Tiong tertawa "Sudahlah, biar mereka berangkat sekarang saja!
"Baik." Lim Peng Hang manggut-manggut lalu memandang mereka bertiga seraya berpesan "Kalian harus berhati-hati, jangan sampai bertemu Seng Hwee Kauw atau Hiat Ih Hwe!" "Kami pasti berhati-hati," ujar Lie Ai Lin berjanji.
"Kami pergi mencari kakak Bun Yan bukan pergi mencari gara-gara dengan pihak Sen Hwee Kauw atau Hiat Ih Hwe." "Mudah-mudahan kali ini kalian akan bertemu Bun Yang, cucuku itu!" ucap Lim Peng Hang dan menambahkan.
"Kalau bertemu dia, kalian harus ajaklah ke mari!" "Ya." Ketiga gadis itu mengangguk, lalu berangkat dengan wajah berseri-seri, dan yang paling gembira adalah Lu Hui San.
-ooo0dw0ooo- Bagian ke dua puluh sembilan Muncul Penolong Di dalam markas Tiong Ngie Pay, tampak Yo Suan Hiang sedang bercakap-cakap dengan Tan Ju Liang, Lim Cin An, Cu Tiang Him dan Tan Giok Lan.
"Bagaimana menurut kalian, apakah pihak Seng Hwee Kauw masih akan menyerang ke mari?" tanya Yo Suan Hiang serius.
"Menurutku..." jawab Tan Ju Liang dengan kening berkerutkerut.
"Pihak Seng Hwee Kauw pasti akan menyerang ke mari lagi." "Apa alasanmu?" "Sebab kini Toan Beng Kiat dan lainnya telah meninggalkan markas kita ini, maka pihak Seng Hwee Kauw pasti memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang lagi." "Benar." Yo Suan Hiang manggut-manggut.
'Tapi kita pun sudah siap menyambut penyerangan mereka, lagi pula para anggota kita terlatih, tidak seperti para anggota Seng Hwee Kauw." "Betul." Lim Cin An mengangguk.
"Namun pemimpin mereka pasti berkepandaian tinggi, maka kita harus hati-hati." "Kita semua memang harus hati-hati," ujar Yo Suan Hiang, kemudian memandang Tan Giok Lan seraya berkata.
"Engkau harus baik-baik menjaga diri, sebab kepandaianmu masih rendah." "Ya, Bibi." Tan Giok Lan mengangguk.
"Lapor pada ketua!" seru salah seorang anggota sambil berlari masuk.
"Pihak Seng Hwe Kauw mulai menyerang ke mari." "Demi Tiong Ngie Pay, kita semua harus bertempur matimatian!" sahut Yo Suan Hiang.
"Ya!" sahut para anggota penuh semanga "Kami semua rela mati demi Tiong Ngie Pay!" "Bagus!" Yo Suan Hiang tertawa gembira "Mari kita sambut mereka!" Yo Suan Hiang dan lainnya langsung melesai ke luar.
Setelah sampai di luar markas, mereka melihat tiga orang tua berdiri di situ, dan satu di antaranya seorang wanita tua.
Mereka bertiga adalah Hek Sim Popo, Pek Bin Kui dan Leng Bin Hoatsu.
"Maaf!" ucap Yo Suan Hiang sambil memberi hormat.
"Selama ini, kami tidak bermusuhan dengan pihak kalian, kenapa mendadak kalian menyerang ke mari?" "Ha ha ha!" Pek Bin Kui tertawa.
"Aku adalah Pek Bin Kui, dia adalah Leng Bin Hoatsu dan wanita tua itu adalah Hek Sim Popo.
Kami menyerang ke mari atas perintah Kauwcu." "Kauwcu kalian pasti Seng Hwee Sin Kun." ujar Yo Suan Hiang dan menambahkan, "Kami tidak bermusuhan dengan Seng Hwee Sin Kun kenapa dia memerintah kalian untuk menyerang kami?" "He he he!" Hek Sim Popo tertawa terkekeh.
"Kalian harus tahu, Kauwcu kami dan ketua Hiat Ih Hwe sudah bekerja sama.
Oleh karena itu, kami mewakili Hiat Ih Hwe membasmi kalian.
He he he...!" "Oooh!
Ternyata begitu!" Yo Suan Hiang manggut-manggut sambil tertawa dingin.
"Kalian kira gampang membasmi Tiong Ngie Pay" Sebaliknya mungkin kalian yang akan menjadi mayat di tempat ini." "Serang mereka!" perintah Leng Bin Hoatsu kepada para anak buahnya untuk menyerang para anggota Tiong Ngie Pay.
Begitu perintah itu diturunkan, seketika terjadilah pertempuran dahsyat antara para anggota Seng Hwee Kauw dengan para anggota Tiong Ngie Pay.
Sedangkan Leng Bin Hoatsu, Pek Bin Kui dan Hek Sim Popo juga mulai menyerang mereka.
Yo Suan Hiang melawan Hek Sim Popo, Tan Ju Liang melawan Pek Bin Kui, Lim Cin An dan Cu Tiang Him melawan Leng Bin Hoatsu.
Belasan jurus kemudian, Yo Suan Hiang tampak mulai terdesak.
Oleh karena itu, ia terpaksa menggunakan Cit Loan Kiam Hoat (Ilmu Pedang Pusing Tujuh Keliling), ciptaan Tio Cie Hiong.
Begitu Yo Suan Hiang menggunakan ilmu [pedang tersebut, seketika juga Hek Sim Popo merasa pusing dan matanya berkunang-kunang.
Hal itu membuatnya terkejut sekali.
Ia pun segera mengeluarkan ilmu andalannya, sehingga pertarungan mereka menjadi bertambah sengit.
Sementara Tan Ju Liang juga sudah mulai berada di bawah angin, bahkan lengannya telah terluka oleh senjata lawan.
Begitu pula Lim Cin An dan Cu Tiang Him.
Mereka mulai terdesak dan paha mereka telah terluka.
"Ha ha ha!" Pek Bin Kui dan Leng Bin Hoatsi tertawa gelak sambil menyerang mereka dengar jurus-jurus yang mematikan.
Di sisi lain, yaitu Hek Sim Popo, nenek itu tampak terdesak oleh Yo Suan Hiang yang menggunakan Cit Loan Kiam Hoat.
Namun Yo Suar Hiang terkejut ketika melihat Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him yang dalam keadaan bahaya.
Mendadak ia membentak keras sambil menyerang Hek Sim Popo dengan jurus Ban Kiam Hi Thian (Selaksa Pedang Terbang Ke Langit), namun cepat-cepat Hek Sim Popo menangkis dengan jurus Heng Soh Cian Kun (Menyapu Ribuan Prajurit).
Trang!
Terdengar suara benturan senjata.
Yo Suan Hiang tetap berdiri di tempat, tetapi Hek Sim Popo terpental beberapa depa.
Untung nenek itu memiliki lweekang tinggi, kalau tidak, ia pasti sudah terluka dalam.
Hek Sim Popo terkejut bukan kepalang, namun mendadak balas menyerang Yo Suan Hiang dengan senjata rahasia.
Serr!
Serrr!
Serrrr!
Yo Suan Hiang cepat-cepat memutar pedangnya untuk menangkis senjata-senjata rahasia itu, sehingga membuatnya tidak sempat membantu Tan Ju Liang dan Lim Cin An maupun Cu Tiang Him.
Sementara para anggotanya sudah banyak yang mati.
Namun sisanya masih melawan secara mati-matian.
Sedangkan Tan Ju Liang, Lim Cin An, dan Cu Tiang Him sudah tak mampu balas menyerang.
Mereka bertiga hanya bertahan mati-matian.
Tampaknya tidak lama lagi, ketiga-tiganya pasti akan mati di ujung senjata Pek Bin Kui dan Leng Bin Hoatsu.
Akan tetapi, di saat bersamaan terdengarlah suara siulan yang amat nyaring kemudian melayang turun seorang gadis berusia dua puluhan, berparas cantik tapi tampak dingin sekali.
Ketika melayang turun, gadis itu mengibaskan tangannya menaburkan racun ke arah para anggota Seng Hwee Kauw.
"Aaaakh!
Aaaakh!
Aaaakh...!" Terdengar suara jeritan yang menyayat hati.
Belasan anggota Seng Hwee Kauw roboh sambil menggeliat-geliat, dan berselang sesaat tubuh mereka mengeluarkan asap.
Ternyata mereka telah mati dengan daging mencair.
Betapa terkejutnya para anggota Seng Hwee Kauw lain.
Mereka segera mundur dengan wajah pucat pias.
Leng Bin Hoatsu, Pek Bin Kui dan Hek Sim1 Popo juga terkejut bukan main.
Mereka memandang gadis itu sambil mundur beberapa langkah.
"Siapa engkau?" bentak Leng Bin Hoatsu.
"Kenapa mencampuri urusan kami?" "Kalian memang tidak kenal aku, tapi aku kenal kalian semua!" sahut gadis itu sambil tersenyum dingin.
"Aku ke mari justru ingin mencampuri urusan kalian.
Karena kalau bertarung aku pasti kalah, maka aku menggunakan racun!" "Beritahukan!" bentak Hek Sim Popo.
"Siapa engkau?" "Aku bernama Phang Ling Cu, juga adalah Ngo Tok Kauwcu," sahut gadis itu.
"Haaah...!" Leng Bin Hoatsu, Pek Bin Kui dan Hek Sim Popo tersentak.
Mereka tersentak bukan dikarenakan Ngo Tok Kauwcu itu berkepandaian tinggi, melainkan Ngo Tok Kauw sangat terkenal racunnya.
"Engkau...
engkau Ngo Tok Kauwcu?" "Kalau kalian tidak percaya, boleh coba racunku!" Phang Ling Cu mengangkat sebelah tangannya.
Seketika juga Leng Bin Hoatsu, Pek Bin Kui dan Hek Sim Popo meloncat ke belakang dengan wajah pucat pias.