Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 71

Memuat...

"Alangkah baiknya kita tidak memikirkan dan tidak membayangkannya, agar tidak pusing." "Goat Nio!" Lie Ai Ling tersenyum.

"Ayohlah, kita masuk di sini sangat dingin!" "Baik," Siang Koan Goat Nio mengangguk kemudian mereka bangkit berdiri lalu berjalan memasuki markas.

Malam itu mereka semua tidak bisa tidur, karena perasaan masing-masing tercekam oleh sesuatu.

-ooo0dw0ooo- Kegusaran Seng Hwee Sin Kun telah memuncak, entah sudah berapa kali ia memukul meja dengan wajah merah padam.

"Jadi kalian gagal membasmi Tiong Ngie Pay?" "Ya." Tok Chiu Ong mengangguk dan memberitahukan, "Itu dikarenakan kehadiran beberapa orang di markas itu." "Oh?" Seng Hwee Sin Kun mengerutkan kening.

"Siapa mereka?" "Chu Ok Hiap, Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan dan lain-lainnya." Pat Pie Lo Koay memberitahukan.

"Karena itu, kami gagal membasmi Tiong Ngie Pay." "Hmm!" dengus Seng Hwee Sin Kun dingin.

"Mereka semua betul-betul merupakan duri dalam mata!

Kita harus membasmi mereka dulu!" "Itu tidak perlu," sahut Pat Pie Lo Koay.

"Sebab mereka merupakan suatu umpan bagi kita.

setelah mereka meninggalkan markas Tiong Ngie way, barulah kami pergi menyerang Tiong Ngie Way lagi." "Bagus!" Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak.

"Tidak mungkin mereka tidak akan meninggalkan larkas Tiong Ngie Pay itu!

Ha ha ha...!" Memang benar apa yang dikatakan Seng Hwee Sin Kun, keesokan harinya Toan Beng Kiat dan lainnya meninggalkan markas Tiong Ngie Pay menuju markas pusat Kay Pang.

Akan tetapi, di tengah jalan telah terjadi sesuatu, ternyata Kam Hay Thian meninggalkan mereka secara diam-diam.

Hal itu sangat mengelisahkan Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan, Lie mi Ling, Siang Koan Goat Nio dan Lu Hui San.

"Aaaah...." Toan Beng Kiat menghela nafas "anjang.

"Tak disangka Kam Hay Thian begitu keras hati!" "Bukan keras hati, melainkan tidak mau ber-aul," sahut Lie Ai Ling sambil menggeleng-[ clengkan kepala.

"Bukan karena tidak mau bergaul, aku yakin Ada masalah lain," ujar Lam Kiong Soat Lan.

[ Tentunya karena Goat Nio." "Mungkin karena aku," sahut Siang Koan I ioat Nio dengan kening berkerut-kerut.

"Malam itu kalian berdua duduk di balik pohon," ujar Lam Kiong Soat Lan sambil memandang Siang Koan Goat Nio.

"Apa yang kalian bicarakan?" "Dia mencurahkan isi hatinya, tapi aku menolak," sahut Siang Koan Goat Nio.

"Mungkin karena itu, maka dia memisahkan diri dengan kita." "Ngmm!" Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut.

"Itu memang masuk akal, namun kepergian-nya itu akan membahayakan dirinya pula." "Maksudmu dia akan pergi ke Lembah Kabut Hitam?" tanya Lie Ai Ling dengan hati tersentak "Mungkin." Lam Kiong Soat Lan mengangguk.

"Sebab dia telah bertekad ingin membunuh Seng Hwee Sin Kun." "Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi menyusulnya?" tanya Lu Hui San seakan mengusulkan.

"Jangan!" Toan Beng Kiat menggelengkan kepala.

"Lebih baik kita ke markas pusat Kay Pang saja.

Kita berunding dulu dengan kakekku dan kakek Lim." "Jadi engkau membiarkan Kam Hay Thian pergi menempuh bahaya seorang diri?" tanya Lu Hui San tidak senang.

"Jangan salah paham!" sahut Toan Beng Kiai sambil tersenyum.

"Dia memang meninggalkan kita, namun belum tentu dia pergi ke lembah itu Lagi pula dia bukan pemuda bodoh yang akan bertindak tanpa suatu perhitungan matang." "Benar," sela Lam Kiong Soat Lan.

"Lebih baik kita melanjutkan perjalanan ke markas pusat Kay Pang saja.

Kita berunding bersama di sana, tidak perlu berdebat di sini membuang-buang waktu." "Aaaah...." Lu Hui San menghela nafas panjang dan tidak mau banyak bicara lagi, kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju markas pusat Kay Pang.

-ooo0dw0ooo- Dua hari kemudian, mereka sudah tiba di markas pusat Kay Pang.

Dapat dibayangkan betapa gembiranya Gouw Han Tiong dan Lim Peng Hang.

"Kakek!

Kakek Lim..." panggil Toan Beng Kiat sambil memberi hormat.

"Kalian...." Gouw Han Tiong tertawa gembira.

"Duduklah!" Mereka duduk.

Gouw Han Tiong memandang Toan Beng Kiat seraya berkata.

"Kalian dari mana?" "Kami____" Toan Beng Kiat menutur semua kejadian itu, kemudian menambahkan sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Sungguh sayang sekali Kam Hay Thian memisahkan diri dengan kami!" "Pemuda itu____" Gouw Han Tiong menghela nafas.

"Terlampau terbawa oleh emosinya sendiri." "Aku yakin..." ujar Lim Peng Hang sambil menatap mereka.

"Pasti ada suatu masalah d antara kalian.

Ya, kan?" "Ya," Lam Kiong Soat Lan mengangguk.

"Masalah apa itu?" tanya Lim Peng Hang sambil mengerutkan kening.

"Jangan ditutup-tutupi, jelaskan saja!" "Itu dikarenakan____" Lam Kiong Soat Lan memberitahukan.

"Maka dia memisahkan diri dengan kami." "Aaaah...." Lim Peng Hang menghela nafas lagi.

"Di saat begitu malah timbul masalah yang tak menyenangkan!" "Kakek Lim," sela Lie Ai Ling.

"Memang ada baiknya Goat Nio menolak langsung.

Kalau tidak, lama-kelamaan akan bertambah gawat." "Ngmm!" Lim Peng Hang manggut-manggut, kemudian berkata dengan kening berkerut.

"Aku justru tidak habis pikir, kenapa Seng Hwee Kauw menyerang Tiong Ngie Pay?" "Mungkin...." ujar Gouw Han Tiong setelah berpikir sejenak.

Seng Hwee Kauw telah bekerja sama dengan Hiat Ih Hwe, maka Seng Hwee Kau menyerang Tiong Ngie Pay dengan maksud membantu Hiat Ih Hwe." "Benar." Lim Peng Hang mengangguk.

"Kita pun harus berhati-hati, karena kemungkinan besar Seng Hwee Kauw juga akan menyerang ke mari." "Apakah kejadian itu, perlu kita beritahukan kepada Sam Gan Sin Kay?" tanya Gouw Han Tiong.

"Memang seharusnya, tapi____" Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.

"Ayahku sudah tidak mau mencampuri urusan rimba persilatan." "Cuma memberitahukan, bukan berarti Sam Gan Sin Kay harus ke mari," ujar Gouw Han Tiong dan menambahkan.

"Kalau kita tidak memberitahukan, aku khawatir kita pula yang akan dipersalahkannya." "Benar." Lim Peng Hang mengangguk.

"Kalau begitu, siapa yang akan berangkat ke Pulau Hong Hoang To?" "Bagaimana, kalau Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan saja?" usul Gouw Han Tiong sambil tersenyum.

"Ngmm!" Lim Peng Hang manggut-manggut.

"Itu memang baik, jadi mereka bisa tahu pulau itu." "Beng Kiat!" Gouw Han Tiong menatapnya.

"Bagaimana kalau engkau dan Soat Lan yang berangkat ke pulau Hong Hoang To?" "Baik, Kakek." Toan Beng Kiat mengangguk, kemudian memandang Lu Hui San seraya bertanya, "Engkau mau ikut dengan kami ke Pulau Hong Hoang To?" "Aku____" Lu Hui San menggelengkan kepala.

Toan Beng Kiat tampak kecewa, dan iti membuat Gouw Han Tiong mengerutkan kenin lalu memandang Lim Peng Hang.

"Kapan mereka berangkat?" "Besok juga boleh," sahut Lim Peng Hang.

"Beng Kiat, besok kalian berdua berangkatlah ke Pulau Hong Hoang To!

Jangan menunda waktu, sebab keadaan telah gawat!" ujar Gouw Han Tiong sungguh-sungguh dan berpesan.

"Ingat, jangan menimbulkan urusan dalam perjalanan!" "Ya, Kakek." Toan Beng Kiat mengangguk.!

"Ai Ling, Goat Nio dan Hui San!

Kalian bertiga tinggal di sini beberapa hari!" tegas Lim Peng Hang.

"Jangan pergi secara diam-diam!" "Ya." Ketiga gadis itu menyahut serentak.

Keesokan harinya, berangkatlah Toan Beng Kiat bersama Lam Kiong Soat Lan ke Pulau Hong Hoang To.

-ooo0dw0ooo- Lie Ai Ling, Siang Koan Goat Nio dan Lu Hui San duduk di halaman markas pusat Kay Pang.

Wajah Lu Hui San tampak murung, kelihatannya sedang memikirkan sesuatu.

"Hui San!" Lie Ai Ling tersenyum.

"Engkau sedang memikirkan apa?" "Terus terang, aku sedang memikirkan Kam Hay Thian," sahut Lu Hui San jujur.

"Aku khawatir akan terjadi sesuatu atas dirinya.

Sebab dia begitu keras hati, maka pasti ke lembah itu." "Jangan khawatir!" ujar Siang Koan Goat Nio . . . "Walau dia keras hati, namun tidak bodoh.

Kalaupun dia berangkat ke lembah itu, tentu dia sudah berpikir matang sekali." "Memang, namun...." Lu Hui San menggeleng-gelengkan kepala.

"Bagaimana mungkin dia seorang diri mampu melawan Seng Hwee Sin Kun?" "Kalau begitu, kita harus bagaimana?" tanya "Lie Ai Ling.

"Kita harus pergi membantunya," sahut Lu Hui San sungguh-sungguh.

"Dia teman baik kita, apakah kita tega membiarkan dia seorang diri menempuh bahaya?" "Itu____" Lie Ai Ling menghela nafas panjang.

"Kalau kalian berdua tidak mau pergi membantunya, biar aku seorang diri yang pergi." "Hui San!" Siang Koan Goat Nio menatapnya.

"Kami juga mempunyai rasa solidaritas, hanya saja...." "Kenapa?" tanya Lu Hui San.

"Bukankah lebih baik kita tunggu Beng Kiat dan Soat Lan pulang dulu, barulah kita pergi kelembah itu?" sahut Siang Koan Goat Nio.

Lu Hui San tersenyum getir, kemudian menghela nafas panjang.

"Tentunya Kam Hay Thian sudah jadi mayat di lembah itu," ujar Lu Hui San dengan mata basah.

"Hui San____" Lie Ai Ling tersentak.

"Engkau...." "Aku memang jatuh hati kepadanya, tapi dia Lu Hui San menggeleng-gelengkan kepala.

"Dia acuh tak acuh terhadapku, namun aku tidak mempermasalahkan itu, sebab aku merasa kasihan dan simpati kepadanya." "Hui San," tanya Siang Koan Goat Nio mendadak.

"Engkau mencintainya?" "Ya." Lu Hui San mengangguk.

"Tapi aku tahu dia tidak mencintaiku.

Namun...

aku tetap merasa kasihan dan simpati kepadanya.

Karena itu, aku harus pergi membantunya." "Baiklah." Siang Koan Goat Nio manggut "Mari kita pergi bersama, tapi kita tidak boleh berterus terang kepada kedua kakek itu.

Karena mereka pasti tidak mengijinkan." "Lalu kita harus bagaimana?" tanya Lu San.

"Aku mempunyai akal," sahut Lie Ai Ling dengan wajah berseri.

"Alasan kita pergi mencari Kakak Bun Yang." "Benar." Siang Koan Goat Nio mengangguk.

Jadi kita pasti diijinkan pergi mencari Bun Yang." "Kalau begitu, mari kita menemui kedua kakek itu!" ajak Lie Ai Ling sambil tersenyum.

Mereka bertiga memasuki markas, kebetulan Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong sedang duduk di ruang depan.

"Kakek Lim, Kakek Gouw..." panggil Lie Ai Ling sambil mendekati mereka.

"Ada apa?" tanya Lim Peng Hang.

"Yaaah____" Lie Ai Ling menghela nafas panjang, kemudian menggeleng-gelengkan kepala sambil duduk.

"Lho?" Lim Peng Hang tercengang.

"Ai ling, apa engkau menghela nafas panjang?" "Tadi..." Lie Ai Ling menghela nafas panjang lagi.

"Ada apa, beritahukanlah!" desak Lim Peng liang sambil menatapnya.

Post a Comment