"Kelihatannya engkau mengkhawatirkan sesuatu, bukan?" "Ng!" Lie Ai Ling mengangguk.
"Apa yang engkau khawatirkan?" "Kam Hay Thian," Lie Ai Ling menggeleng-gelengkan kepala.
"Dia sangat emosionil.
Kelihatannya dia sangat menyukai Goat Nio, namun Goat Nio bersikap acuh tak acuh kepadanya." "Ya," Toan Beng Kiat manggut-manggut.
"Sedangkan Soat Lan dan Lu Hui San menyukai Kam Hay Thian, itu____" Lie Ai Ling menghela nafas panjang.
"Ai Ling!" Toan Beng Kiat tersenyum.
"Engkau tidak usah khawatir, tidak akan terjadi suatu apa pun.
Percayalah!" "Engkau yakin itu?" "Yakin." "Syukurlah!" Sementara di balik sebuah pohon, tampak Siang Koan Goat Nio duduk bersandar, dan Kam Hay Thian berdiri di sampingnya.
"Goat Nio!" panggil Kam Hay Thian dengan suara rendah.
"Hay Thian!" sahut Siang Koan Goat Nio.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu, namun____" "Kenapa?" Kam Hay Thian duduk sambil memandangnya.
"Terus terang, aku merasa tidak cocok denganmu," ujar Siang Koan Goat Nio perlahan.
"Dari pada berlarut-larut dan memberikanmu harapan, lebih baik aku berterus terang." "Engkau...
engkau...." Kam Hay Thian menghela nafas panjang.
"Engkau sama sekali tidak menaruh hati kepadaku?" "Ya." Siang Koan Goat Nio mengangguk.
"Apakah dikarenakan Bun Yang, yang belum engkau ketemukan itu?" tanya Kam Hay Thian dengan wajah berubah.
"Bukan," sahut Siang Koan Goat Nio.
"Kalau begitu karena apa?" tanya Kam Hay Thian penasaran.
"Aku harap engkau mau menjelaskannya!" "Sudah kukatakan tadi, aku merasa tidak cocok denganmu.
Jadi engkau harus mengerti," sahut Siang Koan Goat Nio dan menambahkan.
"Kita semua sebagai teman baik, jangan karena ini lalu kita semua terpecah belah!" "Baik." Kam Hay Thian manggut-manggut "Aku memang harus mengerti, terimakasih atas penjelasanmu!" "Aku mohon maaf!" ucap Siang Koan Goat Nio.
Kam Hay Thian menghela nafas panjang, lalu melangkah pergi dengan kepala tertunduk.
"Hay Thian!" panggil Lam Kiong Soat Lan sambil menghampirinya.
"Oh, Soat Nio!" Kam Hay Thian memandangnya.
"Kok engkau belum tidur?" "Aku tidak bisa tidur," sahut Lam Kiong Soat Lan.
"Hay Thian, bagaimana kalau kita mengobrol sebentar?" Kam Hay Thian mengangguk, lalu mereka duduk di situ.
Lam Kiong Soat Lan menengadahkan kepalanya memandang ke langit seraya berkata.
"Aku melihat engkau bersama Goat Nio.
Kalian berdua membicarakan sesuatu yang penting?" "Ya." Kam Hay Thian mengangguk.
"Aku mencurahkan isi hatiku, namun dia menolak." "Apa alasannya?" "Dia mengatakan tidak cocok denganku." "Oooh!" Lam Kiong Soat Lan manggut-mang-Igut.
"Kelihatannya kalian berdua memang tidak cocok, maka janganlah engkau memaksakan diri." "Tentu tidak." Kam Hay Thian tertawa getir.
"Aku tidak akan memaksakan diri dan harus tahu diri, dan mulai sekarang aku tidak akan mendekatinya lagi." "Hay Thian," ujar Lam Kiong Soat Lan lembut.
"Kita semua adalah teman baik.
Jangan dikarenakan itu kita semua lalu terpecah belah." "Jangan khawatir!" Kam Hay Thian tertawa.
"Aku bukan pemuda yang berhati begitu sempit." "Syukurlah!" ucap Lam Kiong Soat Lan.
Sementara Lu Hui San terus berdiri seorang diri, sosok bayangan mendekatinya lalu memegang bahunya.
"Jangan terus melamun di sini, tidak baik!" Terdengar suara yang amat lembut, yang ternyata suara Toan Beng Kiat.
"Oh, Beng Kiat!" Lu Hui San tersenyum.
"Aku tidak melamun, melainkan sedang memikirkan sesuatu." "Apa yang sedang kau pikirkan?" "Aku sedang memikirkan diriku sendiri." "Kenapa dirimu?" "Aaaah...!" Lu Hui San menghela nafas panjang.
"Itu urusanku, percuma kuberitahukan kepadamu." "Hui San," ujar Toan Beng Kiat sambil tersenyum.
"Kita adalah teman baik, jadi harus membagi rasa dan pikiran yang memberatkan, agar pikiranmu tidak tertekan." "Beng Kiat!" Lu Hui San terharu.
"Terima-kasih atas kebaikanmu, namun____" "Aku tahu____" Toan Beng Kiat menggeleng-gelengkan kepala.
"Engkau jatuh hati kepada Kam Hay Thian, tapi Kam Hay Thian malah jatuh hati kepada Goat Nio.
Itu yang membuat pikiranmu tertekan, bukan?" "Tidak juga," Lu Hui San tersenyum.
"Pikiranku tidak akan tertekan oleh masalah itu." "Syukurlah!" ucap Toan Beng Kiat.
"Hui San, di sini sangat dingin, lebih baik ke dalam saja." Lu Hui San manggut-manggut, kemudian berjalan ke dalam dan diikuti Toan Beng Kiat.
Sementara Siang Koan Goat Nio tetap duduk di situ, sosok bayangan mendekatinya, yang tidak lain Lie Ai Ling.
"Goat Nio..." panggilnya dengan suara rendah, "Ai Ling!" sahut Siang Koan Goat Nio.
"Duduklah!" "Aku memang ingin duduk di sini," kata Lie Ai Ling dengan tersenyum lalu duduk.
"Tadi Kam Hay Thian duduk di sini, bukan?" Siang Koan Goat Nio mengangguk.
"Kalian membicarakan apa?" "Dia mencurahkan isi hatinya, namun kutolak angsung," jawab Siang Koan Goat Nio dan menambahkan.
"Itu agar tidak terus berlarut-larut.
Kalau aku tidak menolak, tentu dia masih berharap." "Betul." Lie Ai Ling mengangguk, kemudian menghela nafas panjang.
"Aaah!
Janganlah kita dibutakan cinta, itu sangat berbahaya!" "Aku tahu, maka aku harus berterus terang kepadanya.
Kalau tidak, tentu akan kacau balau." "Aku yang menyaksikannya pun jadi pusing, sebab kelihatannya Soat Lan dan Hui San jatuh hati kepada Kam Hay Thian, sedangkan Toan Beng Kiat justru jatuh hati kepada Lu Hui San." "Lalu engkau jatuh hati kepada siapa?" tanya Siang Koan Goat Nio setengah bergurau.
"Pemuda idaman hatiku belum muncul," sahut Lie Ai Ling sambil tersenyum.
"Maka aku tidak memikirkan soal cinta!" "Tidak memikirkan tapi membayangkannya, bukan?" "Itu kadang-kadang." Lie Ai Ling mengangguk.
"Kita merupakan gadis dewasa, tentu akan membayangkan itu, bukan?" "Yaaah!" Siang Koan Goat Nio menghela nafas.