Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 67

Memuat...

Itu sungguh di luar dugaan dan mengagumkan!

Ha..ha..ha!" "Paman!" Tio Bun Yang memandangnya.

"Ada sesuatu penting Paman mengundangku kemari?" "Begini, kini kerajaan sudah bobrok.

Para Thay Kam dan menteri saling merebut kekuasaan, sedangkan kaisar cuma tahu bersenang-senang, sehingga membuat rakyat menderita sekali.

Tio Sauw hiap berkepandaian begitu tinggi, bagaimana kalau bergabung dengan kami?" "Maaf, Paman!" Tio Bun Yang menggelengkan kepala.

"Aku tidak mau mencampuri urusan politik kerajaan." "Aaaah...." Lie Tsu Seng menghela nafas panjang "Sungguh sayang sekali!

Padahal saat ini tenagamu sangat dibutuhkan rakyat." "Maaf, Paman!" ucap Tio Bun Yang sambil bangkit berdiri.

"Aku tidak mau mencampuri urusan pemberontakan." "Tio siauw hiap...." Lie Tsu Seng tampak kecewa sekali.

"Paman, banyak pemberontakan di sana sini.

Paman harus menyatukan mereka, agar kuat.

Kalau tidak.

Paman tidak akan berhasil," ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh.

"Usul yang tepat!" Lie Tsu Seng tertawa gernbira.

"Aku pasti berupaya menyatukan mereka!!

"Oh ya!" Tio Bun Yang memberitahukan.

"Kalau aku bertemu Bibi Suan Hiang, aku akan berunding dengan dia supaya dia mau bergabung dengan Paman." "Siapa dia?" tanya Lie Tsu Seng tertarik.

"Bibi Suan Hiang adalah ketua Tiong Ngie Pay." Tio Bun Yang memberitahukan.

"Mungkin Bibi Suan Hiang akan bergabung dengan Paman" "Ketua Tiong Ngie Pay?" Wajah Lie Tsu berseri.

"Perkumpulan itu khususnya menentang Hiat Ih Hwe, kan"' "Betul." "Bagus, bagus!" Lie Tsu Seng tertawa gelak.

"Sudah lama aku ingin menemui ketua Tiong Ngie Pay itu, namun tidak mempunyai waktu.

Kebetulan engkau ingin bicara kepadanya, itu sungguh bagus sekali.

Tolong sampaikan salamku kepadanya, dan semoga mereka bersedia bergabung dengan kami!" "Pasti kuusahakan," ujar Tio Bun Yang berjanji.

"Terimakasih!" ucap Lie Tsu Seng sambil tertawa gembira.

"Ha ha ha...!" "Paman, aku mohon pamit!" "Baiklah." Lie Tsu Seng mengangguk, lain mengantar Tio Bun Yang sampai di luar tenda.

"Sampai jumpa, Paman!" ucap Tio Bun Yang ambil memberi hormat, kemudian melesat pergi laksana kilat, "Bukan main!" seru Lie Tsu Seng kagum.

"Masih begitu muda tapi berkepandaian begitu tinggi" ---ooo0dw0ooo--Tio Bun Yang terus melanjutkan perjalanan.

Di saat saat memasuki sebuah rimba, mendadak muncul belasan orang berpakaian hijau dengan berbagai macam senjata di tangan.

Belasan orang berpakaian hijau itu langsung mengurungnya, dan Tio Bun Yang memandang mereka dengan kening berkerut.

"Siapa kalian?" tanyanya.

"Kenapa mengurungku?" "Engkau adalah Giok Siauw Sin Hiap - Tio Bun Yang, bukan?" tanya salah seorang, yang rupanya pemimpin belasan orang berpakaian hijau itu.

"Betul." Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Kami para anggota Seng Hwee Kauw!

Hari ini engkau harus mampus di tangan kami!" "Oh?" Tio Bun Yang tersenyum.

"Kita tidak bermusuhan, kenapa kalian ingin membunuhku?" "Ini perintah dari ketua kami!" "Siapa ketua kalian?" "Seng Hwee Sin Kun!" "Apakah Seng Hwee Sin Kun punya dendam denganku?" "Kami tidak tahu!

Yang jelas ketua perintahkan kami membunuhmu!

Bersiap-siaplah engkau untuk mati!" "Aaaah...!" Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Kenapa kalian mematuhi perintahnya yang bukan-bukan ini?" "Seng Hwee Sin Kun adalah ketua kami sudah barang tentu kami harus mematuhi semua perintahnya!" "Sudahlah!" Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Lebih baik kalian membiarkan aku pergi." 'Tidak bisa!

Pokoknya kami harus membunuhmu!" sahut orang itu.

"Kalian semua betul-betul cari penyakit," ujar Tio Bun Yang sambil mengeluarkan suling pualam nya.

Sedangkan monyet bulu putih tetap duduk di bahunya.

"Serang dia!" seru pemimpin para anggota Seng Hwee Kauw itu.

Orang-orang itu langsung menyerang Tio Bun Yang dengan berbagai macam senjata.

Tio Bun Yang segera berkelit menggunakan Kiu Kiong San Tian Pou, kemudian balas menyerang dengan ilmu Giok Siauw Bit Ciat Kang Khi dan mengeluarkan jurus Hai Lang Thau Thau (Ombak Laut Menderu-Deru), Hoan Thian Coan Te (Membalikkan Langit Memutarkan Bumi) dan jurus Han In Giok Siauw (Ribuan Bayangan Suling Kumala).

Ketiga jurus itu berhasil memutuskan urat para anggota Seng Hwee Kauw, sehingga kepandaian mereka musnah.

Mereka terkapar sambil merintih-rintih dengan mulut mengeluarkan darah segar.

"Engkau...

engkau...." Pemimpin para anggota Seng Hwee Kauw menunjuknya dengan tangan bergemetar.

"Kalian yang cari penyakit, bukan aku berhati kejam," ujar Tio Bun Yang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Kini kepandaian kalian telah musnah, aku harap kalian menjadi orang baik-baik!" "Hmm!" dengus pemimpin para anggota Seng Hwee Kauw.

"Ketua kami pasti mencarimu untuk menuntut balas!" "Oh?" Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku memang ingin bertemu ketua kalian.

Di mana markas kalian?" "Di Lembah Kabut Hitam!" "Di mana Lembah itu?" "Dekat kaki Gunung Batu Hitam!" "Terimakasih atas kesediaanmu memberitahukan kepadaku, sampai jumpa!" ucap Tio Bun Yang lalu melesat pergi ---ooo0dw0ooo--Bagian ke dua puluh tujuh Hiat Ih Hwe dan Seng Hwee Kauw bekerja sama.

Seng Hwee Sin Kun memukul meja dengan wajah merah padam.

Dia sangat gusar setelah menerima laporan bahwa belasan anggotanya gagal membunuh Tio Bun Yang, dan sebaliknya kepandaian mereka malah musnah.

"Aku harus membunuh Tio Bun Yang!" ujar Seng Hwee Sin Kun sambil mengepal tinju.

"Jangan gusar, Ketua!" ujar Leng Bin Hoatsu.

"Sebab para anggota kita itu berkepandaian rendah, tentunya tidak bisa melawan Giok Siauw Sin Hiap." "Kalau begitu, perlukah aku yang turun tangan membunuh Giok Siauw Sin Hiap, Chu Ok Hiap dan lainnya?" "Tidak perlu, Ketua," sahut Pek Bin Kui dan menambahkan.

"Apabila perlu, kami akan turun tangan." "Betul," sambung Pat Pie Lo Koay.

"Biar kami yang turun tangan, dan itu sudah cukup." Mendadak terdengar suara seruan di luar, yang susulmenyusul, dan seketika mereka pun berhenti berbicara.

"Gak Cong Heng, wakil ketua Hiat Ih Hwe berkunjung!" "Gak Cong Heng wakil ketua Hiat Ih Hwe berkunjung..'" "Undang dia masuk!" sahut Seng Hwee Sin Kun.

"Undang dia masuk!

"Undang dia masuk...." terdengar suara yang susulmenyusul sampai di luar.

Berselang beberapa saat, tampak seseorang berjalan masuk, yang tidak lain Gak Cong Heng, wakil ketua Hiat Ih Hwe, yang lalu memberi hormat kepada Seng Hwee Sin Kun dan lainnya.

"Selamat datang, Saudara Gak!" ucap Seng Hwee Sin Kun sambil tertawa gembira.

"Ha ha ha...!" "Selamat bertemu, ketua!" sahut Gak Cong Heng sambil tertawa gelak.

"Silakan duduk!" ucap Seng Hwee Sin Kun.

"Terimakasih!" Gak Cong Heng duduk.

"Mari kuperkenalkan!

Ini adalah Leng Bin Hoat, wakil ketua Seng Hwee Kauw dan...." Seng Hwee Sin Kun memperkenalkan mereka satu-persatu.

Gak Cong Heng dan mereka saling memberi hormat sambil tertawa-tawa, setelah itu Seng Hwe Sin Kun bertanya.

"Ada sesuatu penting Saudara Gak ke mari?" "Ya," Gak Cong Heng mengangguk.

"Ketua mengutusku ke mari untuk mengundang Hwee Sin Kun ke markas kami." "Oh?" Seng Hwee Sin Kun menatapnya sambil tertawa.

"Ketua Hiat Ih Hwe ingin merundingkan sesuatu denganku?" "Betul." Gak Cong Heng mengangguk.

"Kalau begitu...." Seng Hwee Sin Kun diam sejenak, kemudian barulah manggut-manggut.

"Baik, aku akan ke sana." "Terimakasih, Sin Kun!" ucap Gak Cong Heng gembira.

"Harap Sin Kun bersedia ikut aku kesana" "Sekarang?" ujar Seng Hwee Sin Kun.

"Ya." Baiklah," Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut.

"Mari kita berangkat, jadi tidak usah membuang-buang waktu." "Betul," Lu Thay Kam manggut-manggut.

"Terimakasih!" ucap Gak Cong Heng, dan mereka berdua lalu berangkat Wajah Gak Cong Heng tampak berseri, karena berhasil mengundang Seng Hwee Sin Kun ke markasnya.

---ooo0dw0ooo--Di dalam markas Hiat Ih Hwe, tampak beberapa orang sedang duduk sambil tertawa gembira, dan terus bersulang dengan wajah berseri-seri.

"Ketua "Ha ha ha!" Ketua Hiat Ih Hwe tertawa gembira.

"Sin Kun mau ke mari, sungguh merupakan suatu kehormatan bagi Hiat Ih Hwe." "Sama-sama," sahut Seng Hwee Sin Kun sambil tertawa gelak.

"Lu Kong Kong mengundangku kemari, juga merupakan kehormatan bagiku." "Ha ha ha!" Ketua Hiat Ih Hwe atau Lu Thay Kam tertawa terbahak-bahak.

"Mari kita bersulang lagi!" Mereka bersulang, setelah itu mulailah mereka mengarah pada pokok pembicaraan, "Lu Kong Kong mengundangku ke mari, tentunya ada sesuatu penting.

Silakan terbuka saja!" ujar Seng Hwee Sin Kun "Betul" Lu Thay Kam manggut-manggut "Terus terang, aku ingin berunding dengan Sin Kun." "Mengenai apa?" "Maksudku, Hiat Ih Hwe ingin bekerja sama dengan Seng Hwee Kauw.

Bagaimana menurut.

Sin Kun?" "Ha ha ha!" Seng Hwee Sin Kun tertawa.

"Itu memang baik sekali.

Tentunya aku setuju." "Bagus, bagus!

Ha ha ha...!" Lu Thay Kam tertawa gembira.

"Namun hal ini sudah pasti ada persyaratannya, bukan?" "Betul." Seng Hwee Sin Kun mengangguk "Kira-kira apa persyaratannya?" "Bagaimana kalau Sin Kun yang mengajukannya dulu?" "Lu Kong Kong tentunya tahu bahwa Se Hwee Kauw kian hari kian bertambah besar dan kuat, namun____" Lanjut Seng Hwee Sin Kun sambil memandangnya.

"Mengenai keuangan Seng Hwe Kauw, otomatis mengalami kesulitan." "Maksud Sin Kun ingin minta bantuanku!

tanya Lu Thay Kam.

"Ya." Seng Hwee Sin Kun mengangguk.

"Itu gampang.

Kapan Sin Kun membutuhkan, aku pasti menyediakannya," ujar Lu Thay Kan sambil tertawa.

"Terimakasih, Lu Kong Kong!" Seng Hwei Kam Sin Kun juga tertawa.

"Lalu bagaimana syarat Lu Kong Kiam- Kong Kong?" "Tentunya Sin Kun tahu, kini yang berani menentang Hiat Ih Hwe adalah Tiong Ngie Pay Jadi syaratku hanya menghendaki agar Seng Kauw membasmi Tiong Ngie Pay Apakah Sin Kun sanggup" "Sanggup," Seng Hwee Sin Kun manggul-manggut.

"Kalau begitu, mari kita bersulang atas kc sepakatan kita untuk bekerja sama!

Ha ha ha...!" Lu Thay Kam tertawa gembira.

"Mari!" Seng Hwee Sin Kun juga tertawa terbahak-bahak.

Post a Comment