Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 66

Memuat...

"Anak muda..." sahut orang tua itu lemah.

"Kakiku terpagut ular beracun." "Oh?" Tio Bun Yang cepat-cepat memeriksa kaki orang tua itu.

Memang terdapat bekas pagutan ular di betisnya.

Tio Bun Yang segera menotok beberapa jalan darah di dada orang tua itu, agar racun ular tidak menjalar ke jantung.

Setelah itu, ia mengeluarkan jarum peraknya, kemudian mengorek bekas pagutan ular.

Sementara orang tua itu terus menatapnya dengan mata redup.

Usai mengorek bekas pagutan ular itu, Tio Bun Yang memasukkan sebutir obat pemunah racun ke dalain mulut si orang tua.

Tak seberapa lama, tampak darah hitam mengalir ke luar dan bekas pagutan ular.

Berselang sesaat, yang keluar berganti darah merah, Tio Bun Yang segera menotok jalan darah di kaki orang tua itu.

Seketika darah merah berhenti mengalir dan Tio Bun Yang menarik nafas lega.

Nafas orang tua itu tidak memburu lagi, dan wajahnya pun tampak agak segar.

Betapa gembiranya orang tua itu, kemudian ucapnya.

"Terimakasih anak muda, engkau telah menyelamatkan nyawaku!" "Paman . . . ." Tio Bun Yang tersenyum "Dimana rumah Paman" Aku akan mengantar Paman pulang." "Tidak jauh dan sini," sahut orang tua itu sambil menunjuk ke arah timur.

Tio Bun Yang menggendong orang tua itu, lalu melesat ke arah timur menuju rumah orang tua tersebut.

Tak seberapa lama, sampailah ia di rumah orang tua itu.

Ditaruhnya orang tua itu ke tempat duduk, kemudian ia pun duduk di hadapannya".

"Kenapa Paman berada di hutan itu?" "Aku mencari daun obat-obatan, tapi tanpa sengaja aku menginjak ular beracun, dan kemudian ular itu memagut betisku." "Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Paman seorang diri tinggal di rumah ini?" "Ya." Orang tua itu mengangguk lalu bertanya.

"Anak muda, bolehkah aku tahu siapa engkau?" "Namaku Tio Bun Yang, Paman." "Aku Sie Kuang Han!" Orang tua itu memberitahukan.

"Aku mempunyai seorang anak, namanya Sie Keng Hauw." "Kok tidak kelihatan anak paman itu?" "Dia berada di tempat gurunya, mungkin tidak lama lagi akan pulang." Sie Kuang Han menatapnya.

"Anak muda, terimakasih atas pertolonganmu." "Tidak usah berterimakasih, Paman!" Tio Bun Yang tersenyum.

"Kebetulan aku lewat di hutan itu, dan mendengar suara rintihan Paman." "Oooh?" Sie Kuang Han manggut-manggut, "Engkau masih muda, tapi mahir ilmu pengobatan.

Aku yakin, engkau pasti berkepandaian tinggi." Tio Bun Yang hanya tersenyum.

Mendadak Sie Kuang Han menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Paman kenapa?" tanya Tio Bun Yang heran.

"Sudah belasan tahun aku tinggal di sini, tidak sangka hari ini engkau yang menyelamatkan nyawaku." "Selama belasan tahun, Paman tidak pernah meninggalkan tempat ini?" "Tidak pernah." Sie Kuang Han menghela napas panjang lagi "Aku memang mengasingkan diri disini Karena di luar sana sudah tidak karuan." "Tidak karuan" Maksud paman?" "Kerajaan kacau balau, Thay Kam yang berkuasa di istana.

Kelihatannya Dinasti Beng tidak bertahan lebih lama lagi" "Paman mantan pembesar?" -oo0dw0oo- Jilid 6 "Aku memang mantan pengawal seorang jenderal," sahut Sie Kuang Han sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Jenderal itu saudara Kandungku, namanya Sie Kuang Weng.

Belasan tahun lalu, Lu Thay Kam memfitnah saudaraku.

Karena itu, kaisar langsung menghukum mati kami sekeluarga.

Aku membawa putraku melarikan diri, namun saudaraku sekeluarga...." "Dihukum mati semua?" sambung Tio Bun Yang.

"Ya." Sie Kuang Han mengangguk dengan mata basah.

"Saudaraku mempunyai seorang putri bernama Sie Hui San, entah bagaimana nasibnya" mudah-mudahan ada orang menolongnya!" "Kalau Sie Hui San selamat, kira-kira berapa usianya sekarang?" tanya Tio Bun Yang.

"Sekitar tujuh belas." Sie Kuang Han memberitahukan.

"Di lehernya terdapat sebuah tanda merah.

Akan tetapi, bagaimana mungkin dia bisa selamat?" "Oh ya!

Sudah berapa lama putra Paman berada di tempat gurunya?" "Sudah hampir sepuluh tahun.

Apabila dia berhasil menguasai kepandaian tinggi, dia harus pergi membunuh Lu Thay Kam itu." "Paman...." Tio Bun Yang menggeleng-geleng kan kepala.

"Apa gunanya bunuh-membunuh" Tiada artinya sama sekali." "Anak muda!" Sie Kuang Han menatapnya "Lu Thay Kam itu memfitnah saudaraku ingin memberontak, akhirnya kaisar menghukum mati saudaraku sekeluarga, bahkan isteriku pun di hukum mati.

Itu merupakan dendam kesumat, maka Lu Thay Kam harus dibunuh!" "Paman...." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala lagi, kemudian bangkit berdiri.

"Paman, aku mohon pamit!" "Kenapa begitu cepat?" "Aku masih harus meneruskan perjalanan Sampai jumpa, Paman!" "Anak muda...." Sie Kuang Han menghela nafas panjang.

Sedangkan Tio Bun Yang terus berjalan meninggalkan rumah itu.

-oo0dw0ooTiraikasih Ketika matahari mulai condong ke ufuk barat, Bun Yang telah sampai di sebuah kota kecil, mendadak ia mendengar suara pertempuran, dan segera melesat ke tempat itu.

Ternyata pasukan kerajaan sedang bertempur dengan para pemberontak, korban pun berjatuhan.

Menyaksikan pertempuran itu, Tio Bun Yang menggelenggelengkan kepala.

Para pemberontak bertempur mati matian, dan pasukan kerajaan yang berjumlah ratusan orang itu terus menyerang para pemberontak yang tersisa puluhan orang, sebab sudah banyak vang mati dan terluka.

"Habiskan mereka semua!" seru pemimpin pasukan kerajaan.

"Jangan sampai ada yang meloloskan diri!" Sebetulnya Tio Bun Yang tidak mau mencampuri urusan itu.

Namun ia merasa tidak tega melihat para pemberontak dibantai oleh pasukan kerajaan.

"Kauw heng, aku terpaksa harus menolong para pemberontak itu," ujarnya kepada monyet putih yang duduk di bahunya.

Monyet bulu putih bercuit sambil manggut-manggut, seakan menyetujuinya.

Tio Bun Yang menarik nafas dalam dalam, setelah itu mendadak melesat ke depan, lalu beijungkir balik ke arah pemimpin pasukan kerajaan itu.

Betapa terkejutnya pemimpin pasukan kerajaan ketika melihat sosok bayangan melesat ke ....

Jilid 6 Halaman 6-7 ga ada .....

itu sambil memberi hormat.

"Silakan masukk!." Tio Bun Yang memandang kedua orang yang mengantarnya, dan kedua orang itu segera berkata "Silakan masuk, siauw hiap!

Kami menunggu di luar saja." Tio Bun Yang manggut-manggut, lalu melangkah memasuki tenda itu.

Dilihatnya seorang lelaki berusia empat puluh, yang gagah dan berwibawa duduk di situ.

"Oh, siauw hiap!" Lelaki itu tertawa gembira sambil bangkit berdiri.

"Silakan duduk!" "Terimakasih!" ucap Tio Bun Yang lalu duduk "Siauw hiap!" Lelaki itu memandangnya sambil memperkenalkan diri.

"Aku Lie Tsu Seng, terima kasih atas pertolonganmu!".

"Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut" Ternyata Paman adalah Lie Tsu Seng yang di sanjung rakyat!

Kebetulan aku lewat di kota kecil itu.

Karena menyaksikan pertempuran yang tak seimbang maka aku turun tangan menolong para pemberontak itu." "Mereka para anak buahku" Lie Tsu Seng memberitahukan.

"Kalau siauw hiap tidak segera muncul, mereka pasti mati.

Sekali lagi kuucapkan terimakasih kepada siauw hiap!" "Paman tidak usah mengucapkan terima kasih kepadaku.

Paman ingin membebaskan penderitaan rakyat, maka wajar aku membantu mereka" ujar Tio Bun sambil tersenyum.

"Oh ya, nama siauw hiap ?" "Namaku Tio Bun Yang " "Tio siauw hiap masih sangat muda, tapi berkepandaian begitu tinggi.

Itu sungguh di luar dugaan dan mengagumkan!

Ha..ha..ha!" "Paman!" Tio Bun Yang memandangnya.

"Ada sesuatu penting Paman mengundangku kemari?" "Begini, kini kerajaan sudah bobrok.

Para Thay Kam dan menteri saling merebut kekuasaan, sedangkan kaisar cuma tahu bersenang-senang, sehingga membuat rakyat menderita sekali.

Tio Sauw hiap berkepandaian begitu tinggi, bagaimana kalau bergabung dengan kami?" "Maaf, Paman!" Tio Bun Yang menggelengkan kepala.

"Aku tidak mau mencampuri urusan politik kerajaan." "Aaaah...." Lie Tsu Seng menghela nafas panjang "Sungguh sayang sekali!

Padahal saat ini tenagamu sangat dibutuhkan rakyat." "Maaf, Paman!" ucap Tio Bun Yang sambil bangkit berdiri.

"Aku tidak mau mencampuri urusan pemberontakan." "Tio siauw hiap...." Lie Tsu Seng tampak kecewa sekali.

"Paman, banyak pemberontakan di sana sini.

Paman harus menyatukan mereka, agar kuat.

Kalau tidak.

Paman tidak akan berhasil," ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh.

"Usul yang tepat!" Lie Tsu Seng tertawa gernbira.

"Aku pasti berupaya menyatukan mereka!!

"Oh ya!" Tio Bun Yang memberitahukan.

"Kalau aku bertemu Bibi Suan Hiang, aku akan berunding dengan dia supaya dia mau bergabung dengan Paman." "Siapa dia?" tanya Lie Tsu Seng tertarik.

"Bibi Suan Hiang adalah ketua Tiong Ngie Pay." Tio Bun Yang memberitahukan.

"Mungkin Bibi Suan Hiang akan bergabung dengan Paman" "Ketua Tiong Ngie Pay?" Wajah Lie Tsu berseri.

"Perkumpulan itu khususnya menentang Hiat Ih Hwe, kan"' "Betul." "Bagus, bagus!" Lie Tsu Seng tertawa gelak.

"Sudah lama aku ingin menemui ketua Tiong Ngie Pay itu, namun tidak mempunyai waktu.

Kebetulan engkau ingin bicara kepadanya, itu sungguh bagus sekali.

Tolong sampaikan salamku kepadanya, dan semoga mereka bersedia bergabung dengan kami!" "Pasti kuusahakan," ujar Tio Bun Yang berjanji.

"Terimakasih!" ucap Lie Tsu Seng sambil tertawa gembira.

"Ha ha ha...!" "Paman, aku mohon pamit!" "Baiklah." Lie Tsu Seng mengangguk, lain mengantar Tio Bun Yang sampai di luar tenda.

"Sampai jumpa, Paman!" ucap Tio Bun Yang ambil memberi hormat, kemudian melesat pergi laksana kilat, "Bukan main!" seru Lie Tsu Seng kagum.

"Masih begitu muda tapi berkepandaian begitu tinggi" ---ooo0dw0ooo--.....

itu sambil memberi hormat.

"Silakan masukk!." Tio Bun Yang memandang kedua orang yang mengantarnya, dan kedua orang itu segera berkata "Silakan masuk, siauw hiap!

Kami menunggu di luar saja." Tio Bun Yang manggut-manggut, lalu melangkah memasuki tenda itu.

Dilihatnya seorang lelaki berusia empat puluh, yang gagah dan berwibawa duduk di situ.

"Oh, siauw hiap!" Lelaki itu tertawa gembira sambil bangkit berdiri.

"Silakan duduk!" "Terimakasih!" ucap Tio Bun Yang lalu duduk "Siauw hiap!" Lelaki itu memandangnya sambil memperkenalkan diri.

"Aku Lie Tsu Seng, terima kasih atas pertolonganmu!".

"Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut" Ternyata Paman adalah Lie Tsu Seng yang di sanjung rakyat!

Kebetulan aku lewat di kota kecil itu.

Karena menyaksikan pertempuran yang tak seimbang maka aku turun tangan menolong para pemberontak itu." "Mereka para anak buahku" Lie Tsu Seng memberitahukan.

"Kalau siauw hiap tidak segera muncul, mereka pasti mati.

Sekali lagi kuucapkan terimakasih kepada siauw hiap!" "Paman tidak usah mengucapkan terima kasih kepadaku.

Paman ingin membebaskan penderitaan rakyat, maka wajar aku membantu mereka" ujar Tio Bun sambil tersenyum.

"Oh ya, nama siauw hiap ?" "Namaku Tio Bun Yang " "Tio siauw hiap masih sangat muda, tapi berkepandaian begitu tinggi.

Post a Comment