Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 65

Memuat...

Berselang beberapa saat kemudian, Ngo Tok Kauwcu pun berhenti, lalu memandang Tio Bun Yang sambil menarik nafas dalam-dalam.

Tio Bun Yang pun berhenti meniup suling pualamnya, lalu memandang Ngo Tok Kauwcu sambil tersenyum lembut.

"Terima kasih Tio siauwhiap!" ucapnya sambil memberi hormat.

"Kauwcu," ujar Tio Bun Yang berpesan.

"Jangan sembarangan memetik tali senar ke empat itu, sangat membahayakan dirimu." "Aku terlampau penasaran," sahut Ngo Tok Kauwcu sambil menundukkan kepala.

"Karena itu aku lalu nekat." "Tiada artinya kan?" Tio Bun Yang tersenyum lagi.

"Untung aku memiliki suling pualam ini.

Kalau tidak, bukankah Kauwcu akan celaka?" "Ya," Ngo Tok Kauwcu manggut-manggut.

"Tio siauwhiap, engkau memang merupakan pendekar yang berhati bajik.

Aku kagum sekali kepadamu." "Terima kasih!" ucap Tio Bun Yang sambil menyimpan suling pualamnya kedalam bajunya.

"Oh ya!

Kenapa Kauwcu memakai cadar?" "Karena...." Ngo Tok Kauwcu menghela nafas panjang.

"Karena wajahku telah rusak oleh racun.

Sedangkan aku dan Hek Pek Siang Sat tak dapat membuat obat pemunahnya." "Oh?" Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Kauwcu, bolehkah aku melihat wajahmu?" "Jangan!" Ngo Tok Kauwcu menggelengkan kepala.

"Karena akan mengejutkan Tio siauw hiap, wajahku...

sungguh menakutkan." "Tidak apa-apa," ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh.

"Aku ingin memeriksa wajah Kauwcu." "Tapi...." Ngo Tok Kauwcu tampak ragu.

"Jangan ragu, Kauwcu!" desak Tio Bun Yang.

"Mudahmudahan aku bisa mengobati wajahmu." "Baiklah" Perlahan-lahan Ngo Tok Kauwcu melepaskan kain cadarnya.

Tio Bun Yang terbelalak sebab wajah Ngo Tok Kauwcu memang sungguh menakutkan.

Membengkak dan bernanah, bahkan berlubang-lubang kecil.

"Kenapa wajah Kauwcu bisa jadi begitu?" "Aaaah " Ngo Tok Kauwcu menghela nafas panjang, "Aku meramu semacam racun, khususnya untuk membunuh Seng Hwee Sin Kun.

Namun ak?

tidak berhasil meramu racun itu, sebaliknya malah membuat wajahku jadi keracunan begini." "Ooooh!" Tio Bun Yang manggut-manggUt.

"Kauwcu, bolehkah aku memerika wajahmu?" "Silakan!" sahut Ngo Tok Kauwcu, Namun wanita itu tidak yakin Tio Bun Yang dapat menyembuhkan wajahnya.

Tio Bun Yang mengeluarkan sebatang jarum perak, setelah itu mulailah memeriksa wajah Ngo Tok Kauwcu dengan jarum perak itu secara intensif sekali.

Berselang beberapa saat kemudian, barulah ia manggutmanggut, sambil membersihkan jarum perak itu, yang lalu disimpan ke dalam bajunya.

"Bagaimana" Bisakah engkau mengobati Wajahku?" tanya Ngo Tok Kauwcu sambil memandangnya.

"Mudah-mudahan!" sahut Tio Bun Yang dengan tersenyum lalu bertanya.

"Oh ya, disini tersimpan Coa Cih Cauw (Daun Lidah Ular) dan...?" "Ada!" Ngo Tok Kauwcu mengangguk.

Ia memang menyimpan beberapa macam daun dan rumput obat tersebut.

"Tolong ambilkan!" ujar Tio Bun Yang.

Ngo Tok Kauwcu menepuk tangan tiga kali, kemudian muncullah Hek Pek Siang Sat, yang lalu memberi hormat kepada Ngo Tok Kauwcu.

"Ada perintah apa, Kauwcu?" "Ambilkan daun dan rumput obat...." Ngo Tok Kauwcu menyuruh mereka mengambil daun dan rumput obat tersebut.

"Ya, Kauwcu." Hek Pek Siang Sat segera pergi mengambil daun dan rumput obat itu.

Tak seberapa lama, mereka sudah kembali kesitu dengan membawa daun dan rumput obat itu, yang lalu ditaruhnya di atas meja.

"Kauwcu," ujar Tio Bun Yang.

"Tolong tumbuk sampai halus daun dan rumput obat itu!" Ngo Tok Kauwcu mengangguk, lalu menumbuk daun dan rumput obat itu sampai halus, setelah itu ditaruh ke dalam sebuah mangkok tembaga.

Tio Bun Yang mengambil dua butir obat pemunah racun, lalu dihancurkannya sekaligus dimasukkan ke dalam mangkok tembaga itu, dan diaduknya.

Sementara Hek Pek Siang Sat saling memandang.

Mereka berdua tahu Tio Bun Yang mencoba mengobati wajah Kauwcu mereka.

Namun mereka berdua tidak yakin Tio Bun Yang akan berhasil.

"Maaf!" ucap Tio Bun Yang.

"Aku akan mengoleskan obat ini diwajahmu, boleh kan?" Ngo Tok Kauwcu manggut..manggut.

Dengan hati-hati sekali Tio Bun Yang mengoleskan obat itu di wajah Ngo Tok Kauwcu.

Itu membuat Ngo Tok Kauwcu berterima kasih dan terharu.

"Harus tunggu sebentar," ujar Tio Bun Yang sambil tersenyum.

Mudah-mudahan wajahmu akan sembuh!" Ngo Tok Kauwcu manggut-manggut, Tio Bun Yang duduk diam, sedangkan Hek Pek Siang Sat berdiri mematung di sisi kiri kanan Ngo Tok Kauwcu, mereka berdua berharap wajah Kauwcu bisa sembuh.

Tak lama kemudian, Tio Bun Yang menyuruh Hek Sat mengambil sebaskom air hangat.

Hek Sat mengangguk dan segera pergi mengambil sebaskom air hangat lalu ditaruh di atas meja.

"Terima kasih!" ucap Tio Bun Yang.

Kemudian ia memandang Ngo Tok Kauwcu seraya berkata.

"Silakan Kauwcu mencuci muka sekarang!" "Mencuci muka?" Ngo Tok Kauwcu tertegun.

"Tapi . . . " "Jangan ragu, cucilah mukamu!" sahut Tio Bun Yang mendesaknya sambil tersenyum lembut.

Ngo Tok Kauwcu menatapnya sejenak, setelah itu barulah mulai mencuci mukanya.

Berselang sesaat, Ia mendongakkan kepalanya.

Seketika Hek Pek Siang Sat berseru kaget dengan mata terbelalak lebar.

"Haaah . . . ?" "Kenapa?" tanya Ngo Tok Kauwcu dengan rasa heran.

"Wajah Kauwcu!

Wajah Kauwcu!" "Kenapa wajahku?" tanya Ngo Tok Kauwcu tegang.

"Wajah Kauwcu sudah sembuh," sahut Hek Pek Siang Sat serentak dengan wajah berseri.

"Wajah Kauwcu sudah sembuh." "Apa"!" Ngo Tok Kauwcu kurang percaya.

"Wajahku telah sembuh?" "Benar." Tio Bun Yang manggut-manggut sambil tersenyum.

"Cobalah Kauwcu raba!" Dengan tangan agak bergemetar Ngo Tok Kauwcu merabaraba wajahnya Ternyata wajahnya sudah berubah halus.

Betapa terkejut dan gembiranya Ngo Tok Kauwcu.

Mulut ternganga lebar dan matanya terbelalak menatap Tio Bun Yang.

"Wajahku . . . .

wajahku . . . " Tio Bun Yang hanya tersenyum.

Sedangkan Hek Sat segera mengambil sebuah kaca, lalu diberikan kepada Ngo Tok Kauwcu.

Ngo Tok Kauwcu langsung mengaca, dan begitu melihat wajahnya ?a langsung menangis terisak-isak.

Memang sungguh di luar dugaan, karena wajahnya sudah sembuh, sehingga tampak cantik.

"Selamat, Kauwcu!" ucap Tio Bun Yang.

"Tio siauwhiap...." Gadis berusia dua puluhan itu langsung berlutut di hadapan Tio Bun Yang.

Ketika melihat Ngo Tok Kauwcu berlutut, Hek Pek Siang Sat pun ikut berlutut di hadapan Tio Bun Yang.

"Bangunlah!" Tio Bun Yang mengangkat bangun Ngo Tok Kauwcu.

"Tidak usah begini!" Ngo Tok Kauwcu terus menangis terisak-isak sambil bangkit berdiri, begitu pula Hek Pek Siang Sat.

"Tio siauwhiap," ujar gadis itu dengan air mata berderaiderai sambil duduk.

"Namaku Phang Ling Cu.

Aku...

aku telah berhutang budi kepadamu." "Jangan berkata begitu!" Tio Bun Yang tersenyum.

"ini cuma kebetulan saja.." "Tio siauwhiap, bolehkah aku tahu siapa ayahmu?" tanya Ngo Tok Kauwcu mendadak.

"Ayahku bernama Tio Cie Hiong." "Hah" Apa?" Phang Ling Cu dan Hek Pek Siang Sat tampak terkejut sekali.

"Pek Ih Sin Hiap adalah ayahmu?" "Ya." "Aaaah . . . " Ngo Tok Kauwcu Phang Ling Cu menghela nafas panjang,"Pantas engkau dapat menyembuhkan wajahku, karena Sok Beng Yok Ong adalah guru ayahmu" "Kok Kauwcu tahu?" tanya Tio Bun Yang "Hek Peng Siang Sat yang memberitahukan," sahut Ngo Tok Kauwcu Phang Ling Cu.

"Sungguh beruntung aku bertemu engkau!" "Tao siauwhiap," ujar Hek Sat, "Kami sama sekali tidak menyangka, bahwa engkau adalah putera Pek Ih Sin Hiap yang sangat kesohor itu.

Maafkan kami, yang telah berlaku kurang hormat terhadapmu, Tio siauwhiap!" "Jangan berkata begitu," ujar Tao Bun Yang "Sesungguhnya kalian sangat baik terhadapku." "Tio siauwhiap!" Ngo Tok Kauwcu tersenyum.

"Usiaku lebih tua darimu, bagaimana kalau aku memanggilmu adik, dan engkau memanggilku kakak?" "Baik."Tio Bun Yang tersenyum.

"Adik Bun Yang." Ngo Tok Kauwcu tertawa gembira, begitu pula Hek Pek Siang Sat.

"Kakak Ling Cu, aku sudah harus mohon diri." Tio Bun Yang bangkit berdiri.

"Karena harus meneruskan perjalanan." "Adik Bun Yang...." Wajah Ngo Tok Kauwcu berubah muram.

"Bagaimana kalau engkau tinggal di sini beberapa hari?" "Maaf Kakak Ling Cu!" ucap Tio Bun Yang.

"Aku harus segera meneruskan perjalanan, lain kali aku akan ke mari lagi.

"Baiklah," Ngo Tok Kauwcu manggut-manggut, lalu menyerahkan bungkusan yang diambilnya di atas meja kepada Tio Bun Yang.

"Jangan lupa membawa bungkusan ini!" "Kakak Ling Cu!" Tio Bun Yang tersenyum.

"Engkau sangat membutuhkan uang, jadi itu untukmu saja." "Adik Bun Yang...." "Kakak Ling Cu, sampai jumpa!" Tio Bun Yang melangkah pergi.

Ngo Tok Kauwcu dan Hek Pek Siang Sat mengantarnya sampai di depan, dan setelah Tio Bun Yang hilang dan pandangan mereka, barulah mereka kembali masuk.

"Aaaah...." Ngo Tok Kauwcu menghela nafas panjang.

"Sungguh tak disangka, dia malah menyembuhkan wajahku!" "Ternyata Pek Ih Sin Hiap Tio Cie Hiong adalah ayahnya!" ujar Hek Sat memberitahukan.

"Ketika ayahmu masih hidup, ingin sekali ayahmu bertemu Pek Ih Sin Hiap, namun...." "Ayahmu keburu mati," sambung Pek Sat sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Kini malah putranya yang menyembuhkan wajahmu.

Sungguh hebat ilmu pengobatannya!" "Maklum," ujar Hek Sat.

"Ayahnya pernah ikut Sok Beng Yok Ong, maka Bun Yang pun mahir ilmu pengobatan." "Aaaah....!" Ngo Tok Kauwcu menghela nafas lagi.

"Yang jelas Ngo Tok Kauw telah berhutang budi padanya." -oo0dw0oo- Bagian 26 Menolong seorang Tua Tio Bun Yang telah meninggalkan kota Kang Shi, dan kini memasuki sebuah hutan.

Tiba-tiba ia mendengar suara rintihan.

Segeralah ia melesat ke sana.

Dilihatnya seorang tua berusia enam puluhan duduk bersandar di sebuah pohon sambil merintih-rintih.

Nafasny?

memburu, dan wajahnya pucat pias.

"Paman...." Tio Bun Yang mendekatinya.

Post a Comment