"Terima kasih, Kauwcu!" ucap kedua orang itu dengan wajah berseri.
"Sekarang kalian boleh kembali ke tempat." ujar Ngo Tok Kauwcu sambil mengibaskan tangannya.
"Ya" Kedua orang itu memberi hormat, lalu meninggalkan ruang itu.
Sementara Tio Bun Yang menengok ke sana ke mari, dan melihat begitu banyak binatang beracun merayap di ruang itu, yaitu ular, kalajengking, laba-laba dan lain sebagainya.
"Silakan duduk, siauwhiap!" ucap Ngo Tok Kauwcu.
Tio Bun Yang duduk.
"Aku adalah Ngo Tok Kauwcu (Ketua Agama Lima Racun)!" Wanita bercadar itu memberitahukan.
"Bolehkah aku tahu siapa siauwhiap?" "Namaku Tio Bun Yang," sahut pemuda itu, lalu bertanya.
"Ada keperluan apa Kauwcu mengundangku ke mari?" "Aku tidak menyangka, engkaupun kebal terhadap berbagai macam racun," ujar Ngo Tok Kauwcu sambil menatapnya.
Bagaimana perubahan wajah Ngo Tok Kauwcu, Tio Bun Yang tidak mengetahuinya, karena berada di balik cadar.
"Bahkan telah memunahkan racun yang mengidap di tubuh hartawan Kwee.
Secara tidak langsung, engkau telah merusak semua rencanaku." "Kauwcu!" Tio Bun Yang mengerutkan kening.
"Aku tidak tahu Kauwcu mempunyai rencana apa pun.
Yang kuketahui Kauwcu telah melakukan kejahatan, karena menyebarkan racun yang jahat itu." "Tio siauwhiap, engkau harus tahu.
Aku berbuat begitu karena sangat membutuhkan uang.
Dalam hal ini aku harap siauw hiap maklum," ujar Ngo Tok Kauwcu memberitahukan.
"Tapi itu merupakan perbuatan yang tak terpuji, karena menyangkut nyawa orang.
Kauwcu tidak memikirkan itu" Kalau aku terlambat sampai di rumah hartawan Kwee, nyawanya pasti melayang." "Benar." Ngo Tok Kauwcu mengangguk sambil tertawa.
Merdu dan nyaring suara tawanya, membuktikan bahwa wanita itu masih muda.
"Seandainya engkau tidak ke sana, Hek Sat (Algojo Hitam) pasti ke sana menyembuhkannya." "Oh?" Tio Bun Yang tertegun.
"Kami cuma membutuhkan uang, sama sekali tidak ingin membunuh orang," ujar Ngo Tok Kauwcu dan menambahkan.
"Karena kelancanganmu mengobati hartawan Kwee, kami menderita kerugian besar." "Kauwcu, bolehkah aku bertanya sesuatu?" "Silakan!" "Kenapa Kauwcu begitu membutuhkan uang?" "Sebetulnya itu merupakan rahasia perkumpul?n kami, tapi siauwhiap yang bertanya, maka akan kujawab agar siauw hiap tidak menganggap kami sebagai penjahat," sahut Ngo Tok Kauwcu.
"Belasan tabun yang lalu, ayahku mati dibunuh teman baiknya.
Pada waktu itu, aku sedang belajar ilmu silat di tempat guruku.
Setahun lalu, aku pulang dan barulah mengetahui bahwa ayahku telah mati dibunuh teman baiknya, otomatis Ngo Tok Kauw pun bubar.
Cuma tersisa beberapa anggota dan Hek Pek Siang Sat yang amat setia kepada almarhum.
Oleh karena itu, aku bersumpah mencari pembunuh ayahku, sekaligus membangun kembali Ngo Tok Kauw.
Tapi aku membutuhkan biaya yang cukup besar...." "Jadi dengan.
cara itu engkau memeras para hartawan" tanya Tio Bun Yang sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Apa boleh buat." Ngo Tok Kauwcu menghela nafas panjang.
"Karena tiada jalan lain untuk memperoleh uang, lagi pula para hartawan itu sangat kaya.
Akan tetapi aku tidak akan membuat mereka habis-habisan." "Kalau begitu, mengapa engkau minta pembayaran seribu tael emas kepada hartawan Kwee" Pada hal hartawan lain cuma membayar lima ratus tael emas, itu dikarenakan apa?" "Karena aku hanya membutuhkan seribu tael emas lagi, maka aku meminta pembayaran sebesar itu.
Siauwhiap harus tahu, tidak mungkin aku akan minta kepada hartawan yang telah kami sembuhkan.
Lagi pula sudah tiada lagi hartawan lain yang mampu membayar lima ratus tael emas, maka kami minta pembayaran seribu tael emas pada hartawan Kwee," "Ka1ian memang agak keterlaluan" Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.
"Siauwhiap, sesungguhnya kami tidak keterlaluan." sahut Ngo Tok Kauwcu.
"Ka1au kami memeras orang miskin, itu baru boleh dikatakan keterlaluan." "Kalian membutuhkan uang untuk membangun kembali Ngo Tok Kauw, tapi telah menyusahkan para hartawan." ujar Tio Bun Yang, dan menambahkan, "Bukankah sementara ini, Ngo Tok Kauw tidak dibangun kembali dulu?" "Siauwhiap harus tahu, pembunuh ayahku itu kini telah mendirikan Seng Hwee Kauw.
Kalau aku tidak membangun kembali Ngo Tok Kauw, tentunya sulit bagiku menuntut balas." Ngo Tok Kauwcu memberitahukan.
"Maka aku harap Siauwhiap mengerti!" "Aaaah...!" Tio Bun Yang menghela nafas panjang.
"Balas membalas, bunuh membunuh dan dendam mendendam!
Kenapa harus begitu" Kapan akan berakhir semuanya itu?" "Siauwhiap tergolong kaum rimba persilatan, tentunya tahu di rimba persilatan tidak akan terlepas dan semua itu," ujar Ngo Tok Kauwcu.
"Yang sangat kusesalkan adalah pembunuh itu, karena dia adalah teman baik almarhum!" "Oh ya!
Kenapa ayahmu bisa dibunuh teman baiknya?" tanya Tio Bun Yang mendadak.
"Belasan tahun yang lalu, ayahku memperoleh sebuah peta penyimpanan kitab Pusaka Seng Hwee Cin Keng Ayahku terlampau baik hati.
Ketika mau berangkat, ayahku mengajak teman baiknya itu.
Ayahku memperoleh kitab pusaka tersebut, sedangkan teman baik ayahku memperoleh pil Seng Hwee Tan Karena itu, timbulah niat jahat dalam hati teman baik ayahku itu.
Dia mengusulkan lebih baik bersama mempelajari kitab pusaka itu, dan ayahku setuju!
Akan tetapi, disaat itulah dia turun tangan jahat terhadap ayahku.
Ayahku masih berhasil meloloskan diri, namun akhirnya mati juga di tangan orang itu.
Bahkan orang itu pun membunuh seseorang yang menolong ayahku, maka kitab pusaka itu jatuh ketangannya.
Kini orang itu telah mendirikan Seng Hwee Kauw, dia adalah Seng Hwee Sin Kun" "Ooooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut.
"Kok engkau begitu jelas tentang kejadian itu?" "Hek Pek Siang Sat yang memberitahukan kepadaku," sahut Ngo Tok Kauwcu, "Oleh karena itu, aku harus membangun kembali Ngo Tok Kauw agar dapat melawan Seng Hwee Kauw." "Ternyata begitu..." Tio Bun Yang manggut-manggut, kemudian menaruh bungkusan yang dibawanya ke atas meja seraya berkata.
"ini hadiah dari hartawan Kwee.
Sebetulnya aku tidak mau terima, tapi hartawan Kwee terus mendesak, maka aku terpaksa menerimanya dengan maksud dipergunakan untuk menolong orang miskin.
Berhubung Kauwcu sangat membutuhkan uang, jadi kuberikan kepada Kauwcu saja.
Isinya berupa uang perak atau uang emas, aku sama sekali tidak tahu karena tidak memeriksanya." "Oh?" Ngo Tok Kauwcu kelihatan tertegun.
Begitu pula Hek Pek Siang Sat, yang berdiri di sisi kiri kanannya.
Mereka sama sekali tidak menyangka, Tio Bun Yang akan memberikan uang itu.
"Nah!" Tio Bun Yang bangkit berdiri seraya berkata.
"Sekarang aku mohon diri!" "Terimakasih atas kebaikan siauwhiap, tapi...?" "Kenapa?" "Peraturan Ngo Tok Kauw, apabila ada tamu yang diundang, sebelum pergi harus dijajal kepandaiannya?" "Kauwcu!" Tio Bun Yang menggelengkan kepala.
"Itu tidak perlu." "Harus," sahut Ngo Tok Kauwcu.
Sesungguhnya tidak ada peraturan tersebut, tapi wanita itu ingin menjajal kepandalan Tio Bun Yang.
"Kalau tidak, siauwhiap tidak bisa meninggalkan tempat ini." "Kauwcu!" Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa harus merusak suasana?" "Itu sudah merupakan peraturan." sahut Ngo Tok Kauwcu sambil tertawa, kemudian berkata kepada Hek Sat.
"Ambilkan kecapiku!" "Kauwcu...." Hek Sat tampak ragu.
"Cepat ambilkan!" bentak Ngo Tok Kauwcu.
"Ya, Kauwcu." Hek Sat segera pergi mengambil kecapi tersebut, kemudian ditaruh di atas meja.
"Kalian semua boleh meninggalkan ruang ini," ujar Ngo Tok Kauwcu dan berpesan.
"Bawa juga semua binatang beracun yang ada di ruang ini!" "Ya, Kauwcu." Hek Pek Siang Sat mengangguk, lalu mengibaskan tangannya.
Para anggota Ngo Tok Kauw yang berdiri di situ langsung meninggalkan ruang itu.
Barulah Hek Pek Siang Sat berjalan pergi sambil bersiul dan seketika semua binatang beracun yang ada di situ merayap pergi mengikuti mereka.
"Tio siauwhiap!" Ngo Tok Kauwcu memandang monyet bulu putih yang duduk diam dibahu Tio Bun Yang.
"Bagaimana monyet itu?" "Tidak apa-apa." Tio Bun Yang tersenyum.
"Biar kauw-heng tetap duduk di bahuku." "Baiklah." Ngo Tok Kauwcu mengangguk.
Ketika Tio Bun Yang berada di rumah hartawan Kwee, monyet bulu putih tetap duduk dibahunya.
Begitu pula di saat Tio Bun Yang mengobati hartawan Kwee dan putrinya.
Hartawan Kwee dan isterinya memang tahu aturan, sama sekali tidak bertanya tentang monyet bulu putih itu.
"Kauwcu ingin memainkan kecapi itu?" tanya Tio Bun Yang sambil memandang alat musik yang ada di atas meja.
"Betul Sahut Ngo Tok Kauwcu "Tio siauwhiap harus tahu, aku akan memainkan Mi Hun Mo Im (Suara Iblis Menyesatkan Sukma), maka Siauwhiap harus berhati-hati Kalau tidak kuat bertahan, jangan memaksa diri karena siauwhiap akan terluka dalam." "Ya." Tio Bun Yang mengangguk.
"Kalau begitu..." Jari tangan Ngo Tok Kauwcu menyentuh tali senar kecapi itu.
"Aku akan mulai." Cring!
Cring!
Cring...!
Jari tangan Ngo Tok Kauw mulai bergerak memetik tali senar alat musik itu.
Perlu diketahui, tali senar itu berjumlah empat.
Kini Ngo Tok Kauwcu hanya memetik dua di antaranya, namun cukup mengejutkan Tio Bun Yang, sebab ia m?lai terpengaruh oleh Mi Hun Mo Im itu.
Segeralah ia mengerahkan ilmu PenakLuk Iblis.
Barulah ia terbebas dan pengaruh itu, otomatis wajahnya berseri.
Bukan main kagumnya Ngo Tok Kauwcu, tapi juga merasa penasaran karena Tio Bun Yang tidak terpengaruh Karena itu, ia mulai memetik tali senar ke tiga, sehingga suara kecapi itu semakin tajam dan meninggi.
Akan tetapi, Tio Bun Yang tetap tidak terpengaruh, sebaliknya wajahnya malah bertambah berseri.
Ngo Tok Kauwcu semakin kagum, namun juga semakin penasaran dan membuatnya jadi nekat.
Ia mulai memetik tali senar ke empat.
Itu sungguh mengejutkan Tio Bun Yang, sebab pemuda itu tahu akhirnya Ngo Tok Kauwcu akan mengalami luka dalam, apabila ia kuat bertahan.
Oleh karena itu, Ia cepat-cepat mengeluarkan suling pualamnya, sekaligus meniupnya.
Terdengarlah suara suling yang amat halus menekan suara kecapi itu.
Tio Bun Yang memang menggunakan suara suling pualamnya untuk menekan suara kecapi agar Ngo Tok Kauwcu akan berhenti memainkan kecapinya jadi tidak akan mengalami luka dalam.
Itu memang benar.
Ngo Tok Kauwcu telah memetik tali senar ke empat, maka tidak bisa berhenti mendadak.
Apabila ia berhenti mendadak, pasti mati terserang oleh Mi Hun Mo Im itu.
Di saat ia dalam keadaan gugup dan panik, dilihatnya Tio Bun Yang mengeluarkan suling pualamnya.
Tak lama terdengarlah suara suling pualam yang amat halus, dan seketika dadanya jadi lega.
Suara suling pualam itu berhasil menekan suara kecapi, karena Tio Bun Yang mengerahkan Pan Yok Hian Thian Sin Kang untuk meniup suling pualamnya itu.