Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 61

Memuat...

Kami diam karena memikirkan musuh." "Musuh dalam selimut?" tanya Lie Ai Ling sambil tertawa.

"Jangan lho!

Itu akan membuat kita celaka...." Belum juga Lie Ai Ling selesai berbicara, mendadak terdengar suara tawa kemudian melayang turun belasan orang berpakaian hijau.

Mereka ternyata para anggota Seng Hwee Kauw, yang dikepalai oleh Pat Pie Lo Koay dan Tok Chiu Ong.

"Ha-ha-ha!" Tok Chiu Ong tertawa gelak.

"Sungguh kebetulan bertemu kalian disini!" "Hmm!" dengus Kam Hay Thian dingin.

"Memang sungguh kebetulan sekali, jadi kami pun tidak perlu mencari kalian!" "Oh?" Tok Chiu Ong mengerutkan kening.

"Siapa engkau?" "Chu Ok Hiap!" "Apa?" Tok Chiu Ong tampak tersentak.

"Jadi engkau yang membunuh para anggota kami?" "Tidak salah!" sahut Kam Hay Thian sambil tertawa dingin.

"Aku pun akan membunuh kalian semua hari ini!" "He-he-he!" Tok Chiu Ong tertawa terkekeh.

"Jangan sok omong besar, sebentar lagi engkau akan terkapar jadi mayat!" "Jangan banyak omong!" bentak Kam Hay Thian.

"Mari kita bertarung, lihat siapa yang akan terkapar jadi mayat!" "He-he-he!" Tok Chiu Ong terus tertawa terkekeh.

Sedangkan Kam Hay Thian sudah menghunus pedangnya, begitu pula yang lain, mereka sudah siap bertarung.

"Serang mereka!" Tok Chiu Ong memberi perintah kepada para anggota Seng Hwee Kauw itu.

Seketika juga belasan anggota tersebut menyerang Kam Hay Thian dan lainnya, dan terjadilah pertarungan sengit.

Tok Chiu Ong dan Pat Pie Lo Koay terus memperhatikan pertarungan itu, dengan kening berkerut-kerut.

Belasan jurus kemudian, Kam Hay Thian telah berhasil membunuh dua anggota Seng Hwee Kauw, sedangkan Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan, Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling juga telah berhasil melukai beberapa anggota Seng Hwee Kauw lainnya, begitu pula Lu Hui San.

"Kalian mundur!" bentak Tok Chiu Ong.

Para anggota Seng Hwee Kauw segera mundur.

Tok Chiu Ong dan Pat Pie Lo Koay melesat ke depan sambil mengeluarkan senjata masing-masing.

Tok Chiu Ong bersenjata aneh berbentuk seperti clurit, sedangkan Pat Pie Lo Koay bersenjata pedang bergerigi.

"Hm!" dengus Tok Chiu Ong dingin.

"Kepandaian kalian cukup tinggi, tapi kami berdua pasti dapat membunuh kalian!" "Kalian berdua yang akan mati!" sahut Kam Hay Thian.

"He-he-he!" Tok Chiu Ong tertawa terkekeh dan mendadak menyerangnya laksana kilat.

Kam Hay Thian berkelit dan balas menyerangnya menggunakan Pak Kek Kiam Hoat.

Tok Chiu Ong terkejut karena merasa ada hawa dingin menyerangnya.

"Pantas engkau berani omong besar, ternyata kepandaianmu tinggi j?ga!" "Sebentar lagi engkau akan terkapar jadi mayat!" sahut Kam Hay Thian dan langsung menyerangnya.

Lie Ai Ling dan Lam Kiong Soat Lan segera membantu Kam Hay Thian, sementara Pat Pie Lo Koay juga sudah mulai menyerang Toan Beng Kiat, Siang Koan Goat Nio dan Lu Hui San.

Terjadilah pertarungan yang amat seru dan dahsyat.

Tok Chiu Ong mengeluarkan ilmu andalannya.

Sedangkan Kam Hay Thian menggunakan Pak Kek Kiam Hoat, Lie Ai Ling menggunakan Hong Hoang Kiam Hoat, dan Lam Kiong Soat Lan menggunakan Thian Liong Kiam Hoat.

Puluhan jurus kemudian, Tok Chiu Ong mulai berada di bawah angin, itu sungguh mengejutkannya.

Toan Beng Kiat menyerang Pat Pie Lo Koay dengan Thian Liong Kiam Hoat, Siang Koan Goat Nio menggunakan Giok Li Kiam Hoat, dan Lu Hui San menggunakan Ie Hoa Ciap Bok Kiam Hoat.

Puluhan jurus kemudian, Pat Pie Lo Koay juga mulai berada di bawah angin.

Ada satu hal yang tidak dimengerti Toan Beng Kiat, yakni Pat Pie Lo Koay tidak begitu bersungguh-sungguh menyerangnya.

Sudah barang tentu hal itu membuat pemuda itu terheran-heran.

Oleh karena itu ia pun tidak begitu menyerangnya.

Sementara pertarungan antara Tok Chiu Ong dengan Kam Hay Thian, Lie Ai Ling dan Lam Kiong Soat Lan semakin dahsyat.

Lam Kiong Soat Lan menyerangnya dengan jurus Thian Liong Cioh Cu (Naga Kahyangan Merebut Mutiara), Lie Ai Ling mengeluarkan jurus Hong Hoan Seng Thian (Burung Phoenix Terbang ke Langit), sedangkan Kam Hay Thian mengeluarkan jurus Hoan Thian Liak Te (Membalikkan Langit Meretakkan Bumi).

Betapa terkejutnya Tok Chiu Ong menghadapi ketiga serangan itu.

Ia cepat-cepat memutarkan senjatanya untuk menangkis, tetapi....

Crass!

Cesss....

Bahunya telah tersabet pedang Lam Kiong Soat Lan, pahanya tertusuk pedang Kam Hay Thian, sedangkan pedang Lie Ai Ling merobek bajunya, dan darahnya pun mulai mengucur.

"Ha-ha!" Kam Hay Thian tertawa dingin.

"Kini ajalmu telah tiba!" Ketika Kam Hay Thian baru mau menyerangnya, mendadak Tok Chiu Ong melempar sesuatu ke bawah, dan seketika tampak asap mengepul membuat mata mereka merasa pedas sekali.

"Cepat tahan nafas!" seru Lam Kiong Soat Lan, yang khawatir kalau-kalau asap tersebut mengandung racun.

Tapi tidak, ternyata asap itu tidak mengandung racun.

Setelah asap itu buyar, Tok Chiu Ong, Pat Pie Lo Koay dan para anggota Seng Hwee Kauw itu sudah tidak tampak lagi.

Ternyata mereka melarikan diri di saat asap mengepul.

Akan kukejar mereka," ujar Kam Hay Thian.

"Jangan!" cegah Toan Beng Kiat.

"Percuma, mereka sudah jauh sekali." "Hm!" dengus Kam Hay Thian.

"Aku penasaran kalau tidak dapat membunuh mereka." "Sudahlah!" kata Toan Beng Kiat.

"Mari kita melanjutkan perjalanan!" Mereka berenam melanjutkan perjalanan lagi menuju markas pusat Kay Pang, namun Kam Hay Thian masih tampak penasaran karena tidak berhasil membunuh Tok Chiu Ong, Pat Pie Lo Koay dan para anggota Seng Hwee Kauw itu.

"Sudahlah!" ujar Lu Hui San.

"Kenapa masih terus penasaran?" "Aku..." Kam Hay Thian menggeleng-gelengkan kepala.

"Tenang!" Lie Ai Ling tersenyum.

"Masih ada kesempatan lain.

Para anggota Seng Hwee Kauw begitu banyak, tidak akan habis dibunuh." Kam Hay Thian diam, sementara Toan Beng Kiat bergumam dengan kening berkerut-kerut.

"Heran" Kenapa orang tua berpedang gerigi itu tidak begitu bersungguh-sunggUh menyerangku?" "Benar." Lu Hui San manggut-manggut.

"Diapun tidak begitu bersungguh-sunggUh menyerangku." "Sama," sambung Siang Koan Goat Nio.

"Kenapa begitu?" "Memang mengherankan," ujar Toan Beng Kiat.

"Mungkinkah dia kenal orang tua kita, maka tidak bersungguhsungguh menyerang kita?" "Mungkin," Siang Koan Goat Nio mengangguk.

"Aku yakin dia tidak kenal orang tuaku, kenapa...." Lu Hui San tidak habis berpikir.

"Mungkin karena...

engkau bersama kami," sahut Siang Koan Goat Nio.

"Memang mungkin begitu," Lu Hui San manggut-manggut.

"Sebaliknya orang tua bersenjata aneh itu malah matimatian menyerang kami, kelihatannya dia sangat bernafsu melukai kami, padahal aku dan Soat Nio tidak kenal orang tua itu," ujar Lie Ai Ling.

"Mungkin karena kalian berdua membantuku," sahut Kam Hay Thian.

"Mungkin," Lie Ai Ling manggut-manggut.

"Tidak mungkin," sela Lam Kiong Soat Lan.

"Sebab para anggota Seng Hwee Kauw pernah menyerangku dan Beng Kiat." "Oh?" Lie Ai Ling terbelalak.

"Kenapa mereka menyerang kalian?" "Hingga saat ini, kami masih tidak habis pikir tentang itu," sahut Lam Kiong Soat Lan.

"Bahkan mereka pun kenal kami.

Bukankah sangat mengherankan?" "Jangan-jangan..." ujar Lie Ai Ling setelah berpikir sejenak.

"Ketua Seng Hwee Kauw punya dendam terhadap orang tua kita." "Aku dan Soat Nio memang berpikir demikian," ujar Toan Beng Kiat.

"Karena itu, kami ingin menyelidikinya.

"Memang penasaran sekali," ujar Kam Hay Thian sambil mengepal tinju.

"Aku tidak berhasil membunuh mereka.

-oo0dw0oo- Seng Hwee Sin Kun duduk dengan kening berkerut-kerut, kemudian menatap Tok Chiu Ong dan Pat Pie La Koay seraya bertanya.

"Betulkah kalian berdua tidak sanggup melawan mereka berenam?" "Betul," Tok Chiu Ong dan Pat Pie LoKoay mengangguk.

"Kepandaian mereka berenam sungguh tinggi, bahkan mampu melukaiku." "Bagaimana lukamu?" tanya Seng Hwee Sin Kun.

"Tidak apa-apa," sahut Tok Chiu Ong.

"Hanya luka luar, dan tadi sudah kuobati." "Hmm!" dengus Seng Hwee Sin Kun.

"Kelihatannya harus aku yang turun tangan sendiri." "Tidak perlu," Pat Pie Lo Koay menggelengkan kepala.

"Bukankah masih ada Leng Bin Hoatsu, Pek Bin Kui dan Hek Sim Popo" Kami berlima pasti dapat melukai mereka." "Betul," Hek Sim Popo mengangguk.

"Kauwcu tidak perlu turun tangan, biar kami saja yang turun tangan." "Ngmmm!" Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut dan berkata.

"Kepandaian Tio Cie Hiong paling tinggi, tapi...

aku masih sanggup melawannya.

Bahkan kemungkinan besar aku pun dapat mengalahkannya." "Kami tahu..." ujar Pat Pie Lo Koay sambil tertawa.

"Kepandaian Kauwcu memang tinggi sekali, tentunya dapat mengalahkan Tio Cie Hiong." "Ha-ha-ha!" Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak.

"Aku tidak omong besar, namun yakin itu!" "Tapi...." Pek Bin Kui mengerutkan kening.

"Masih ada Sam Gan Sin Kay, Kim Siauw Suseng, Kou Hun Bijin dan Tio Tay Seng, majikan Pulau Hong Hoang To.

Mereka semua berkepandaian sangat tinggi, terutama Kou Hun Bijin." "Ha ha ha!" Seng Hwee Sin Kun tertawa, kemudian berkata sungguh-sungguh.

"Pokoknya aku sanggup melawan mereka, kalian tidak perlu khawatir tentang itu." "Oh?" Pat Pie Lo Koay dan lainnya kelihatan kurang percaya.

Mereka saling memandang dengan kening berkerutkerut.

"Tentu kalian tidak percaya," ujar Seng Hwee Sin Kun.

"Namun perlu kalian ketahui, aku masih menyimpan sebutir Seng Hwee Tan (Pil Api Suci).

Apabila aku makan Seng Hwee Tan yang tersisa sebutir itu, maka lweekangku akan bertambah tinggi, dan diriku pun akan menjadi jago tanpa tanding di kolong langit." "Kalau begitu, kenapa Kauwcu tidak memakannya sekarang?" tanya Pek Bin Kui mendadak.

"Belum waktunya," sahut Seng Hwee Sin Kun.

"Kalau sudah waktunya, aku pasti memakannya." "Kauwcu!" Wajah Pek Bin Kui berseri.

"Kalau begitu, Seng Hwee Kauw pasti bisa merajai rimba persilatan." "Itu sudah pasti," sahut Seng Hwee Sin Kun sambil tertawa terbahak-bahak, "Ha ha ha...!" -oo0dw0oo0\- Bagian 25 Agama Lima Racun Tio Bun Yang telah kembali ke Tionggoan.

Beberapa hari kemudian, ia tiba di kota Kang Shi, lalu memasuki sebuah kedai teh untuk melepaskan dahaga.

Setelah duduk, ia memesan teh pada pelayan.

Kedai teh itu cukup ramai.

Tampak para tamu sedang membicarakan sesuatu dengan wajah Serius.

"Sungguh tak disangka, para hartawan akan terkena penyakit aneh itu.

Muncul pula seorang tabib sakti menyembuhkan penyakit mereka, tapi biayanya mahal bukan main." "Betul.

Kalau mereka sanggup membayar lima ratus tael, tabib sakti itu baru mengobati mereka." "Kini yang kasihan adalah hartawan Kwee.

Post a Comment